<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724</id><updated>2012-01-21T07:31:40.808+07:00</updated><category term='creative people'/><category term='festival lima gunung'/><category term='Tourism'/><category term='networking'/><category term='Event and News'/><category term='art and culture'/><title type='text'>BorobudurLinks</title><subtitle type='html'>Adalah blog komunitas yang meliput alam, seni dan budaya, manusia kreatif, dan pariwisata kota Magelang Indonesia. Self-empowering based community concerns on tourism, art and culture, creative people, and networking in Magelang Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>256</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3062360837672894809</id><published>2012-01-20T14:10:00.010+07:00</published><updated>2012-01-21T07:31:40.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='networking'/><title type='text'>KRITIK MEDIA ALA GRABAG-TV.</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--ZxHOu4NlY8/TxoEen2BMdI/AAAAAAAABN4/0S69uOY-LNo/s1600/GTV%2BFoto%2B02.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--ZxHOu4NlY8/TxoEen2BMdI/AAAAAAAABN4/0S69uOY-LNo/s400/GTV%2BFoto%2B02.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699873202528924114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yudha Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 19 Januari 2012. Diawali dengan minimnya penerimaan saluran pemancar televisi di wilayah Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tahun 2004, membuat Hartanto yang telah pensiun dari kesibuannya bergabung dengan sebuah rumah produksi film di Jakarta, berkeinginan mengembangkan televisi Komunitas di Grabag yang merupakan kampung halamannya.&lt;br /&gt;Ide tersebut langsung ia kembangkan sendiri di tengah kesibukannya menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), baik dari proses shooting, reportase hingga editing digarap sendiri. Bahkan penyiarannya pun ia kerjakan sendiri.&lt;br /&gt;Laki-laki yang pernah memperoleh penghargaan berupa penata suara film terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) ini mengatakan, memang saat awal mengudara sempat mengalamikendala perijinan di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng karena juklak dan juknis tentang perundang-undangan TV komunitas saat itu belum ada. “Akhirnya kita dipersilakan mengudara namun jangan sampai mengganggu siaran lain,” ujarnya.&lt;br /&gt;Kebetulan, lanjutnya, di kantor kecamatan Grabag terdapat pemancar yang bisa menerima mareley stasiun TVRI. Sehingga kita diberikan ijin pihak kecamatan untuk memanfaatkannya,” kata Hartanto.&lt;br /&gt;Setelah siaran perdana di tahun 2004, kata Hartanto, secara terus menerus setiap hari dari pukul 06.00 hingga 07.00 ternyata banyak warga yang tertarik dan ikut bergabung dengan Grabag TV. Namun karena banyaknya kesibukan, akhirnya dilakukan evaluasi bahwa siaran hanya dilakukan dua jam pada pukul 15.00-17.00.&lt;br /&gt;Penentuan jam tersebut juga didasarkan pada jadwal aktifitas masyarakat. Yakni memberikan hiburan sekaligus pengetahuan yang mendidik di tengah kerinduan masyarakat akan oase, kesenian dan nuansa bebas dari komersil, dan murni dari masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam jangkauannya, lanjutnya, Grabag TV memang hanya mampu memancar jernih hingga radius 2,5 kilometer. Namun, setidaknya pancaran tersebut mampu menyerap sekitar 50 persen dari wilayah Kecamatan Grabag.&lt;br /&gt;Hartanto mengatakan, bahwa tujuan didirikannya Grabag TV adalah memiliki tiga kepentingan. Pertama sebagai literasi media atau memberikan sikap kritis pada media televisi, kedua untuk memberikan hiburan dan edukasi yang bermutu pada masyarakat , dan ketiga untuk membatasi waktu menonton TV yang cenderung membuang waktu untuk hiburan yang kurang mendidik dan mengurangi waktu untuk sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-yBNzsjNOQ9Y/TxoHExF3LGI/AAAAAAAABOc/78gd8-1yZOc/s1600/Foto%2BGrabagTV%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-yBNzsjNOQ9Y/TxoHExF3LGI/AAAAAAAABOc/78gd8-1yZOc/s320/Foto%2BGrabagTV%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699876056869579874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, lanjutnya, kenyataannya saat ini pemerintah pusat kurang menyetujui keberadaan TV komunitas dengan alasan memboroskan frekuensi. Dan dihawatirkan TV ini menjadi media yang mampu menimbulkan provokasi dan kerusuhan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;“Yang menjadi masalah adalah masyarakat masih menganggap bahwa TV komunitas tidak memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, padahal TV ini adalah milik warga,” katanya.&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 2008, telah dialihkan dari saluran VHF ke UHF, karena VHF akan digunakan untuk TV digital. Setahun kemudian, tepatnya tahun 2009, digelarlah kongres Asosiasi Televisi Komunitas yang dihadiri sebanyak 27 komunitas dari Jawa dan Aceh dan tokoh-tokoh dunia broadcasting di Indonesia. &lt;br /&gt;Secara bersamaan, ia juga mendapatkan bantuan secara swadaya dari masyarakat berupa bangunan studio yang terbuat dari bambu seluas 6x9 meter beserta control room seluas 3x6 meter yang berdiri di atas tanah pribadi miliknya di Dusun Ponggol, Desa Grabag, Kecamatan Grabag. Peralatan broadcasting juga mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Ia juga ditetapkan sebagai Komisiaris Utama atau Ketua Dewan Penyiaran Grabag TV.&lt;br /&gt;Dalam reportasenya, kata Hartanto, Grabag TV menitik beratkan pada bidang kearifan lokal di sekitar Grabag berupa kesenian, pendidikan, dan pertanian. Pada tahun 2009, Grabag TV juga masuk nominator dalam ajang Eagle Awards dengan judul Dunia Kecil Dalam Kotak yang diselenggarakan Metro TV.&lt;br /&gt;Memang sejak tahun 2011, mengalami kendala penyiaran karena ada pembatasan dari pemerintah. Untuk kegiatan perharinya, lebih diisi oleh para siswa SMK jurusan multimedia dari berbagai daerah di Indonesia yang melakukan Prakter Kerja Lapangan (PKL) dan belajar di studio tersebut.&lt;br /&gt;“Namun mulai awal 2012, kita sudah mendapatkan ijin lagi, dan nanti akan kembali mengudara seperti sebelumnya. Kita juga memiliki agenda akan membuat video magazine agar masyarakat bisa melihat lebih luas tentang Grabag,” katanya.&lt;br /&gt;Grabag TV, hampir seluruh crew yang berkecimpung di dalamnya adalah masyarakat sekitar yang bergabung dengan sukarela. Mereka berasal dari kalangan buruh, petani, dan pedagang. Hanya ada 10 orang yang menjadi crew tetap.&lt;br /&gt;Ke depan, lanjutnya, ia berharap Grabag TV benar-benar mampu menyajikan hiburan yang mengandung edukasi yang diambil dari sekitar masyarakat Grabag dan dikemablikan lagi untuk masyarakat Grabag.&lt;br /&gt;“Harapan utama saya sebenarnya ke depan adalah Grabag TV mampu mengimbangi TV swasta yang berkembang melalui komersialisasi dan cenderung minim nilai edukasi,” harap Hartanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LhmEj0pTlrI/TxoFEMLFflI/AAAAAAAABOE/o60OHKRRidc/s1600/GrabagTV.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LhmEj0pTlrI/TxoFEMLFflI/AAAAAAAABOE/o60OHKRRidc/s320/GrabagTV.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699873847936122450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekdes Grabag, Ibnu Budi Sutopo mengatakan, keberadaan Grabag TV sudah dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat sejak lama. Dibuktikan pada tahun 2007 telah dimanfaatkan untuk media informasi pemilihan kepala desa (pilkades) secara langsung (Live). Mulai dari pendaftaran peserta, tes seleksi, masa kampanye, hingga saat pemilihan berlangsung.&lt;br /&gt;Sehingga masyarakat sekitar Grabag sudah bisa melihat langsung siaran televisi tanpa mendatangi lokasi. Bahkan, para calon Kades juga tidak datang langgsung ke lokasi pemilihan, melainkan bisa menyaksikannya di rumah.&lt;br /&gt;“Masyarakat tidak perlu berbondong-bondong melihat langsung, sehingga keamanan bisa terjamin. Karena pada saat pemilihan Kades sebelumnya sempat ada aksi masa hingga merusak gerbang Balai Desa Grabag,” katanya.&lt;br /&gt;Sampai sekarang lanjutnya, juga setiap ada acara-acara desa dan di kecamatan juga disiarkan langsung, seperti upacara bendera, dan lain-lain. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan pengumuman pada warga tentang pemilu, pertanian, dan pembuatan KTP.&lt;br /&gt;Ibnu mengatakan, saat ini untuk produksinya lebih dijalankan oleh para peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari berbagai SMK jurusan Multimedia dari berbagai daerah di Indonesia. Karena para peserta biasanya mengikuti PKL selama tiga hingga enam bulan, dan menginap di komplek Grabag TV yang memang telah disediakan penginapan.&lt;br /&gt;“Biasanya juga sering anak-anak PKL yang lalu-lalang di sekitar kantor kecamatan dan balaidesa untuk melakukan praktek broadcasting,” ujarnya.&lt;br /&gt;Untuk pengembangan Grabag TV, pihaknya juga pernah mengajukan ke pemerintah daerah untuk pengembangannnya. Namun tidak pernah ada respon.&lt;br /&gt;“Pernah diusulkan ke pemerintah daerah agar diberi anggaran untuk pengembangan tapi tidak pernah ada tanggapan. Kebetulan yang ikut di sana atau crewnya adalah relawan yang tidak dibaya. Sehingga untuk produksi pastinya membutuhkan biaya,” kata Ibnu.(Dikutip dari http://www.reportaseoriginal.blogspot.com).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-3062360837672894809?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/3062360837672894809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2012/01/kritik-media-ala-grabag-tv.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3062360837672894809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3062360837672894809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2012/01/kritik-media-ala-grabag-tv.html' title='KRITIK MEDIA ALA GRABAG-TV.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--ZxHOu4NlY8/TxoEen2BMdI/AAAAAAAABN4/0S69uOY-LNo/s72-c/GTV%2BFoto%2B02.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5974060564427105649</id><published>2011-11-15T18:01:00.002+07:00</published><updated>2011-11-15T18:07:26.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>PASAR REJOWINANGUN: SEBUAH KISAH KLASIK*.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6AXu5mwsVs0/TsJHR1nUTSI/AAAAAAAABNU/ZHQLDR35i9M/s1600/Psr%2Btempo%2Bdulu%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6AXu5mwsVs0/TsJHR1nUTSI/AAAAAAAABNU/ZHQLDR35i9M/s320/Psr%2Btempo%2Bdulu%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675176852215581986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 14 November 2011. &lt;/span&gt;Ada banyak kenangan tentang masa lalu. Dari banyak kenangan yang saya miliki, ada satu kenangan yang belum bisa saya lupakan. Saya pernah tersesat di suatu pasar, di kota tempat saya tinggal. Menariknya kenangan itu tidak hanya terletak pada kejadian tersesatnya semata, tapi juga bahwa pasar tempat saya tersesat itu merupakan pasar yang memberi arti cukup besar baik bagi keluarga saya maupun masyarakat di kota saya tinggal. Kenangan itu menjadi semakin mahal tatkala pada tahun 2008 pasar itu terbakar dan selanjutnya tak bisa lagi dijumpai dalam wujud yang sama. Dalam tulisan ini saya akan mengurai memori saya dengan pasar itu, Pasar Rejowinangun namanya.&lt;br /&gt;Saya masih mengenakan seragam TK saat tersesat di Pasar Rejowinangun Kota Magelang -kota di mana saya tinggal sebelum berhijrah ke Yogyakarta. Sebenarnya saat itu saya hanya perlu berjalan lurus dari kios ‘A’ ke kios ‘B’ yang jaraknya tak lebih dari lima puluh meter, tapi saya kehilangan arah. Saya yang masih berusia lima tahun merasa sangat ketakutan. Dalam benak saya, lorong-lorong pasar menjelma labirin yang membingungkan.&lt;br /&gt;Hari itu, saya pergi ke pasar bersama ibu saya. Saya memang sering diajak beliau ke pasar untuk berbelanja atau sekedar menemui Nenek yang kebetulan juga berdagang di sana. Ketika itu, kami hendak pulang. Ibu meminta saya berpamitan dengan Nenek sementara beliau menunggu di kios Nenek yang lain (ada dua orang Nenek yang berjualan di Pasar Rejowinangun). Hanya dari kios roti ke kios gerabah yang bertetangga, saya tersesat sampai deretan kios ikan asin yang lumayan jauh jaraknya.&lt;br /&gt;Cukup lama saya berputar-putar dalam pasar. Saya bingung harus bertanya pada siapa. Pun jika saya bertanya, saya yakin tak kan ada yang bisa membantu saya, sebab saya tidak tahu nama lengkap kedua Nenek saya itu, yang saya tahu, saya memanggilnya dengan sebutan Mbah Uti dan Mbah Ndut. Lama kelamaan, kaki saya letih berjalan tanpa arah. Saya ingin menangis, tapi syukurlah, sebelum itu terjadi, Mbah Ndut telah datang tergopoh-gopoh menemukan saya. Kami pun berpelukan.&lt;br /&gt;Seperti banyak orang Magelang lainnya, sebagian keluarga saya menggantungkan hidupnya di Pasar Rejowinangun. Pasar Rejowinangun adalah pasar tradisional yang terbilang cukup besar. Ia dapat menampung ribuan pedagang berikut menjadi sarana transaksi yang selalu ramai tiap harinya. Lebih jauh lagi, saya akan bercerita tentang sejarah dan perkembangan Pasar Rejowinangun serta artinya bagi keluarga saya khususnya dan masyarakat Magelang pada umumnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal Berdiri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari obrolan dengan salah seorang anggota Komunitas Kota Toea, saya mendapatkan informasi bahwa pernah ada jalur kereta api di Magelang yang resmi dioperasikan oleh perusahaan kereta api Nederlansch Indische Spoorweg Maatshappij (NIS) pada tanggal 1 Juli 1899. Kereta tersebut mengangkut hasil-hasil bumi berupa tembakau, kopi, sayuran, jagung, beras dan ubi-ubian ke kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Semarang.&lt;br /&gt;Berdirinya Pasar Rejowinangun berkaitan erat dengan keberadaan stasiun kereta di Kelurahan Rejowinangun. Saat itu, sambil menunggu ‘spoor kluthuk’ atau  kereta api berbahan bakar jati datang, para penumpang yang membawa hasil bumi menjajakan dagangannya. Hal ini dilakukan karena mereka khawatir dagangan segera membusuk. Jual beli dilakukan baik dengan uang maupun barter. Lambat laun, moda-moda transportasi pun bermunculan di sana, membuat situasi semakin ramai. Stasiun kereta pun berkembang menjadi sebuah pasar.&lt;br /&gt;Tidak ada data valid kapan secara resmi Pasar Rejowinangun dibentuk. Namun, dari peta kuno tahun 1923, tampak Rejowinangun telah berdiri sebagai pasar modern pada masanya. Barangkali gambarannya mirip pasar desa dengan konstruksi kayu, atap genting, dan lincak bambu sebagai tempat berjualan.&lt;br /&gt;Perbaikan dan pengembangan fisik kota yang agak besar dimulai pada tahun 1964-1965. Kios-kios dan kantor pasar dibangun di Rejowinangun. Wujud Rejowinangun pun menjadi jauh lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arti Rejowinangun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berawal dari rutinitas membantu orang tuanya di pasar, tahun 1930-an kakek buyut saya mendirikan usaha sendiri berupa kios buah di Pasar Rejowinangun. Karena pertimbangan mudah busuk dan seringnya terjadi paceklik, pada tahun 1965 beliau melakukan manuver mengganti komoditas dagangnya dengan tembakau, roti kering dan berbagai macam emping.&lt;br /&gt;Tahun 1979, adik nenek saya, Musyarofi Zarkasyi dan istrinya Mulyati Musyarofi -yang selanjutnya saya panggil Mbah Ndut, mewarisi kios kakek buyut saya. Tak jauh dari kios mereka, nenek kandung saya, Munirah Zarkasyi –yang biasa saya sebut Mbah Uti, membeli sebuah kios dan berjualan gerabah serta peralatan rumah tangga. Dari kios itulah beliau menghidupi sembilan anaknya, salah satunya Nur Hasanah, ibu saya.&lt;br /&gt;Tahun 1993 saya lahir. Di masa kecil, saya sering sekali berkunjung ke pasar. Di antara kunjungan-kunjungan ke pasar itulah kemudian terjadi peristiwa tersesat yang hingga kini masih membekas dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nURBlGcdnWQ/TsJHmj1sJ7I/AAAAAAAABNg/NEYQON44AYs/s1600/Stanplat%2Bdulu%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 221px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nURBlGcdnWQ/TsJHmj1sJ7I/AAAAAAAABNg/NEYQON44AYs/s320/Stanplat%2Bdulu%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675177208221280178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seiring saya tumbuh besar, semakin jarang saya pergi ke pasar. Hingga suatu hari, di suatu malam akhir bulan Juni 2008 (saat itu saya berusia 15 tahun), langit Magelang tampak membara. Api melahap pasar yang konon terbesar se-eks Karesidenan Kedu itu. Kota Magelang yang tenang pun gempar.&lt;br /&gt;Berbagai usaha memadamkan api dilakukan, mulai dari menggunakan jasa pemadam kebakaran hingga cara konservatif dengan bergotong royong mengambil air dari selokan terdekat. Tapi hampir tak ada yang bisa diselamatkan. Dalam sekejap, 1500-an pedagang kehilangan kios berikut barang dagangan mereka. Sebuah musibah yang luar biasa. Melihat kejadian itu, Nenek dan keluarga besar saya hanya bisa ikhlas.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, relokasi pasar ke Sentra Ekonomi Lembah Tidar (kaki Bukit Tidar Magelang) dilakukan. Namun agaknya relokasi itu gagal lantaran lokasinya kurang strategis dan tidak didukung dengan sarana transportasi yang memadai.&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, tahun 2010, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam sebuah komunitas pelajar berinsiatif membuat suatu video dokumenter tentang Pasar Rejowinangun. Kami melakukan survei langsung ke pasar, wawancara dengan para pedagang dan pihak-pihak terkait. Dari situlah saya bisa merasakan betapa berartinya Pasar Rejowinangun bagi masyarakat Magelang.&lt;br /&gt;Menurut data yang berhasil kami kumpulkan, hampir semua unsur masyarakat Magelang mengharapkan Pasar Rejowinangun segera dibangun kembali. Para pedagang mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah atas ketidaksigapan mereka dalam membangun kembali Pasar Rejowinangun. Pemerintah dianggap lamban dan membiarkan para pedagang terkatung-katung dalam nasib tak tentu dengan kerugian yang tak mampu diatasi.&lt;br /&gt;Para pedagang pun berasosiasi dalam kelompok-kelompok kepentingan yang melakukan upaya mempercepat pembangunan pasar. P3RM (Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang) salah satunya. Mereka melakukan berbagai usaha diplomasi dengan pemerintah untuk mencari solusi percepatan pembangunan pasar. Tak ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa lokal juga tergerak untuk melakukan aksi. Beberapa kali sudah mereka melakukan demonstrasi. Para seniman menunjukkan kepedulian mereka dengan melakukan ritual yang mereka sebut sebagai ‘Ruwatan Pasar’ dengan tujuan untuk membersihkan Rejowinangun dari anasir-anasir negatif.&lt;br /&gt;Namun hingga tiga tahun pasca terbakarnya, Rejowinangun tak kunjung dibangun. Janji-janji pembangunan pasar yang digunakan sebagai slogan politik dalam kampanye pemilihan Walikota Juli 2010 lalu, tak lebih dari sekedar retorika belaka. Tuan Walikota Terpilih yang menjanjikan pembangunan pasar di 100 hari pemerintahannya ingkar janji. Hingga kini, para pedagang terus berusaha secara mandiri untuk tetap bertahan hidup di atas semua polemik itu.&lt;br /&gt;Kehilangan Rejowinangun adalah kehilangan satu mata rantai penting dari roda perekonomian Magelang yang telah mapan selama seratusan tahun. Kini, masyarakat harus menghadapi pola-pola ekonomi baru dengan segala konsekuensinya. Di sisi lain, Rejowinangun sebagai bagian hidup yang tumbuh berkembang bersama masyarakat menorehkan arti tersendiri bagi tiap-tiap wong Magelang. Bagi saya, kenangan serta emosi yang tercipta dari sana akan senantiasa menjadi sebuah kisah klasik yang tak mudah dilupa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Krapyak, 11 November 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*Penulis anggota ‘borobudur MOVIE links’, unit kegiatan film borobudurlinks.com. Tulisan ini adalah tugas MK Sejarah Sospol Indonesia, Jurusan Sospol UGM).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-5974060564427105649?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/5974060564427105649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/pasar-rejowinangun-sebuah-kisah-klasik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5974060564427105649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5974060564427105649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/pasar-rejowinangun-sebuah-kisah-klasik.html' title='PASAR REJOWINANGUN: SEBUAH KISAH KLASIK*.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6AXu5mwsVs0/TsJHR1nUTSI/AAAAAAAABNU/ZHQLDR35i9M/s72-c/Psr%2Btempo%2Bdulu%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1599653095543524110</id><published>2011-11-08T22:18:00.009+07:00</published><updated>2011-11-12T14:01:45.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>BERIKAN YANG TERBAIK, RESEP ROY GENGGAM.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KHl0bGoD3TM/TrlQa1CM3PI/AAAAAAAABMY/xIaSfzFOhj0/s1600/Profil%2BRG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KHl0bGoD3TM/TrlQa1CM3PI/AAAAAAAABMY/xIaSfzFOhj0/s320/Profil%2BRG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672653627492982002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Sakya Suu Kyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 8 November 2011.&lt;/span&gt; Roy Genggam nampak terpana di depan beberapa lukisan Affandy. Dengan serius sambil sesekali memotret, fotografer kondang, itu mengamati ratusan koleksi senirupa di Museum OHD (Oei Hong Djien) Magelang. “Saya sampai keluar keringat dingin menyaksikan lukisan-lukisan ini, “ katanya. Yang pasti fotografer yang dulu bercita-cita menjadi pelukis ini sangat terkesan oleh karya senirupa  koleksi Museum OHD yang dianggap terbaik di Indonesia itu. &lt;br /&gt;Memang sebelum memulai acara ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’, 29 Oktober 2011, panitia dari ‘borobudur MOVIE links’ (BML) sempat membawa rombongan Roy bersama tim Nikon   mengunjungi museum yang bisa jadi ikon baru kota Magelang itu. “Kami sengaja membawanya ke Museum OHD. Untuk menunjukkan bahwa Magelang layak disebut kota kebudayaan, bukan hanya kota militer, “ kata Mualim Sukethi, Pembina BML, yang pagi itu berfungsi sebagai pemandu.&lt;br /&gt;Kekaguman yang sama nampak pada wajah sekitar 100 hadirin yang memenuhi lantai 2 Syang ArtSpace, Magelang, yang jadi lokasi ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’. Khususnya saat fotografer jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menampilkan karya-karyanya lewat proyeksi OHP. &lt;br /&gt;“Ternyata hampir semua iklan yang terpampang di media cetak mau pun out-door itu hasil jepretan Roy Genggam, “ kata Kusumawardhani, interior-designer, yang khusus datang dari Bandung untuk mengikuti acara ini.  Terlihat di layar OHP deretan produk dan bintang iklan terkenal tampil satu persatu. &lt;br /&gt;Tak hanya terhadap karya-karyanya, peserta juga sangat terkesan terhadap penampilan Roy sebagai seminaris. Ia membeber banyak persoalan fotografi dan menjawab pertanyaan dengan fasih. “Roy sangat menguasai masalah fotografi hingga ke detailnya, baik  teknik mau pun estetik, “ tambah Kusumawardhani, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah belajar fotografi pada seorang fotografer terkenal di Bandung.&lt;br /&gt;Dalam sarasehan sepanjang 5 jam (13.30-18-30) itu berbagai persoalan fotografi dibahas secara tuntas, dari masalah teknis, estetik, manajemen, hingga personalitas, yang dianggap sebagai factor yang harus dikuasai bagi seseorang yang ingin berkarir sebagai fotografer professional. Sungkono, fotografer senior Magelang, misalnya, mempertanyakan teknik pemotretan high-light. Ia menunjuk contoh foto-art ‘Mercy C-300’ karya Roy, dimana semua obyek, latar belakang, serta asesorisnya berwarna putih. Roy pun menjelaskan teknik pemotretan ‘white on white’ dengan gamblang dan detail.&lt;br /&gt; “Sebetulnya saya sudah lama mengenal nama Roy Genggam, sejak ia banyak memotret interior. Tapi baru kali ini bisa jumpa secara langsung. Dan saya puas atas penjelasannya yang gamblang tadi, “ kata fotografer berambut perak itu. “Yang pasti, saya berterimakasih pada borobudurlinks yang telah mendatangkan fotografer sekelas Roy ke Magelang, “ sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-D2-yroigSv4/TrnHyvsH2BI/AAAAAAAABMw/9bk1kBarTDQ/s1600/Suasana%2Bseminar%2BRoy%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-D2-yroigSv4/TrnHyvsH2BI/AAAAAAAABMw/9bk1kBarTDQ/s320/Suasana%2Bseminar%2BRoy%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672784880258766866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan untuk kasus sebaliknya, ‘black on black’, Roy memeragakannya lewat workshop. Ia dibantu Solihin dan Eko, 2 asistennya, membuat ruang sedehana lewat sekat-sekat kain hitam-puitih. Di tengahnya di atas meja yang juga dialasi kain hitam diletakkan beberapa botol berbagai jenis, yang juga dicat hitam. Dengan hanya menggunakan dua lampu flash sederhana, maka bisa dihasilkan foto konfigurasi berbagai botol hitam yang bentuk botolnya tergaris melalui cahaya tipis. Sederhana namun tetap artistic.&lt;br /&gt;“Kuncinya pada light-meter. Kendati kamera digital saat ini banyak menawarkan menu pengaturan cahaya, tapi aku lebih percaya pada akurasi yang dihasilkan light-meter, “ kata Roy sembari mengukur beberapa sudut cahaya menggunakan pengukur intensitas cahaya itu. “Sekarang ini setiap seminar selalu kutanya siapa peserta yang memiliki lightmeter. Jawabnya hanya satu-dua. Padahal semestinya fotografer professional memiliki alat ini “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PORTOFOLIO.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy juga berbagi lewat pengalamannya dari mulai sebagai fotografer majalah hingga menduduki posisi sebagai fotografer papan atas. Selepas menempuh studi di IKJ, Roy sempat menjadi fotografer tetap di majalah ASRI dan Laras, keduanya majalah interior. Masing-masing selama 2 tahun.&lt;br /&gt;“Setelah cukup dikenal, saya memutuskan keluar dari dunia press, dan membangun karir sebagai fotografer professional, “ cerita Roy, yang terkenal perfeksionis ini. Roy memulainya lewat studio kecil "Genggam Photography' yang dikelolanya di rumah kontrakan di daerah Tebet, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;Kehadiran Roy di dunia fotografi komersial cukup mengejutkan. Dibantu seorang desainer grafis yang cukup ternama, Roy menerbitkan sebuah kalender 6 halaman yang menampilkan karya-karya awalnya, baik berupa foto produk mau pun art-foto.  Mengejutkan karena saat itu belum pernah ada seorang fotografer membuat kalender pribadi. Apalagi karya-karya yang terpampang cukup meyakinkan sebagai fotografer professional.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gvfeJ68QVxc/TrnIYSKcTxI/AAAAAAAABNI/9Xj_1-PGc1I/s1600/Roy%2Bn%2BAkbar%2Bdpn%2BAfandi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gvfeJ68QVxc/TrnIYSKcTxI/AAAAAAAABNI/9Xj_1-PGc1I/s320/Roy%2Bn%2BAkbar%2Bdpn%2BAfandi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672785525167902482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak creative dan art-director biro iklan yang menyambut kehadiran Roy. Order memotret pun mengalir. “Tapi mereka juga kaget. Ternyata karya-karya fotografi itu dihasilkan dari studio kecil yang terletak di gang sempit, “ kenangnya. Bahkan, cerita Roy, para pelanggan di awal karirnya itu mau berjalan kaki masuk gang menuju studionya, karena mobil mereka harus parkir di pinggir jalan raya.&lt;br /&gt;Sejak itu Roy merasa PD untuk ‘menawarkan’ dirinya lewat portofolio. Maka setiap tahun mengalirlah portofolio dirinya, yang selalu dikerjakannya bersama desainer ternama. Setiap tahun nama dan karyanya juga selalu tercantum dalam ‘Art Director Index of Photography’, sebuah buku yang berisi nama-nama fotografer komersial kelas dunia.&lt;br /&gt;Beberapa karya fotonya dimuat dalam buku-buku ‘Pro Lighting’ terbitan Rotovisio Switzerland. Foto-foto  karya Roy juga digunakan untuk presentasi ‘Hasselblad 50 th’, di Cologne Fotokina 1998. Pada tahun yang sama pula, salah satu fotonya memenangkan sayembara foto Hasselblad International, yang memberinya hadiah berupa kamera medium Hasselblad berlapis emas.&lt;br /&gt;“Tanpa banyak bicara, lewat portofolio atau buku semacam itu, client mengetahui kualitas karya kita, “ tegas Roy. Selain itu agar namanya tetap berkibar, sesekali  Roy juga masih bersedia memotret untuk kepentingan media cetak. Terutama majalah interior, gaya hidup, dan kuliner, dengan alasan media-media itu masih mengandalkan foto-foto bagus sebagai kekuatan visualnya.&lt;br /&gt;Beberapa grup media besar seperti KKG (Kelompok Kompas Gramedia) juga memanfaatkan Roy untuk memberikan pembekalan bagi para fotografer muda yang baru bergabung. Dan kini Nikon, salah satu merk  yang mengendalikan pasar kamera di Indonesia, tak mau ketinggalan memanfaatkan keahliannya untuk memberikan seminar di beberapa kota.&lt;br /&gt;Pencapaian Roy itu ternyata tak mengagetkan bagi Mualim Sukethi, sahabat karibnya sejak kuliah di IKJ. Menurut Pembina BML ini, Roy sudah menunjukkan bakatnya yang kuat di bidang fotografi. “Ketika kuliah dulu Garin Nugroho selalu memercayai Roy sebagai cameraman film-filmnya, “ kata Mualim, yang dulu juga satu kelompok kerja praktek dengan Roy dan Garin.&lt;br /&gt;Roy juga dikenal sebagai fotografer yang tak gampang puas. Upayanya untuk mengembangkan diri kiranya pantas menjadi suri tauladan. "Saya pernah nonton pameran yang diadakan APPI (Asosiasi Photographer Profesional Indonesia), yang anggotanya fotografer top di Jakarta seperti Darwis Triadi, Artli, Kayus Mulia, dll. Ketika yang lain masih asyik motret model atau lanskap, Roy sudah memamerkan art-foto dengan teknik air-brush.  Sesuatu yang baru bagi dunia fotografi di Indonesia. Karena saat itu belum ada teknik digital, masih analog, " ungkap Mualim tentang kelebihan sahabatnya itu.&lt;br /&gt;Dan ketika teknologi digital masuk Indonesia, Roy berusaha mempelajarinya secara otodidak. "Hampir tiap pagi saya mendahului datang ke studio. Sedikitnya 1-2 jam saya mempelajari photoshop dan lain-lain teknologi digital photography, " cerita Roy tentang kerja kerasnya saat itu.&lt;br /&gt;Bagi Mualim, pencapaian yang pantas diketahui dari seorang Roy Genggam adalah posisinya sebagai satu diantara fotografer komersial termahal dan terlaris di Indonesia. Yang unik, banyak produk atau brand besar yang sebenarnya satu jenis usaha, tapi mereka bisa mempercayai pemotretan iklannya pada satu fotografer. &lt;br /&gt;"Tak ada conflict of interest di situ, " papar Mualim, semebari menyebut beberapa contoh brand atau produk seperti: Bank Mandiri, Bank BNI, hingga Citibank.&lt;br /&gt;Apalagi yang harus dimiliki dan disiapkan seorang fotografer agar bisa mencapai kelas professional seperti Roy Genggam ?&lt;br /&gt;“Dukungan tim manajemen yang juga professional, “ jawab Roy yakin, sembari menyebut istrinya yang bernama Artie R Genggam sebagai manajernya yang handal. Selain istrinya, di dalam tim manajemen ‘Genggam Photography’ juga bergabung beberapa tenaga kerja yang professional di bidangnya, seperti desainer grafis, art-director, hair stylish, penata busana, asisten, dll. Dengan jajaran tim pendukung yang professional itu Roy bisa lebih focus dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas.&lt;br /&gt;Selain itu pencapaian Roy juga didukung oleh perangkat fotografi terbaik yang ia gunakan. Beberapa distributor kamera atau lighting-system merk  terkemuka berlomba-lomba mendekati Roy agar menggunakan perangkat yang mereka pasarkan. Ada yang sekedar meminjami agar mendapat kesan bahwa produknya sudah digunakan Roy Genggam, dan imej perangkat itu diharapkan terangkat di mata fotografer lainnya. Ada juga yang memberikan diskon besar agar Roy membelinya.&lt;br /&gt;“Sekarang ini di Jakarta studio kami dianggap yang terbesar dan terlengkap untuk keperluan foto komersial, “ jelas Roy ketika memperlihatkan beberapa kesibukan ‘behind the camera’ di studionya kepada peserta sarasehan. Beberapa peserta sempat terhenyak mendengar kehebatan perangkat yang dimiliki Roy serta berapa harganya.&lt;br /&gt;“Dengan semua ini kami bisa memberikan kualitas karya terbaik, sekaligus juga pelayanan terbaik, “ tegas Roy tentang resep terpenting keberhasilannya sebagai fotografer professional. Kualitas karya terbaik, menurut ayah 3 anak, ini tidak hanya meningkatkan tarif dirinya sebagai fotografer. Tapi juga kebanggan dan kehormatan. “Saya termasuk sedikit fotografer yang tak mau menurunkan harga, di tengah persaingan harga dengan banyaknya fotografer muda yang pasang harga murah, “ imbuh Roy.&lt;br /&gt;Tentang pelayanan ‘Genggam Photography’, seorang AE (Account Executive) dari agensi iklan terkemuka yang tak mau disebut namanya memberikan kesaksian “Bekerja di studio Roy bagi saya terasa berekreasi atau bermain-main. Selain tempatnya nyaman, di situ tersedia berbagai permainan seperti meja bilyar, mini-soccer, dan mainan anak-anak. Jadi selama menunggu camera set-up, kami bisa memuaskan naluri rekreasi kami, “ kata perempuan manis, yang kebetulan juga dibesarkan di Magelang itu.&lt;br /&gt;Masalahnya bagi fotografer di daerah, perangkat terbaik itu tidak tersedia. Apakah dengan perangkat sederhana bisa menghasilkan karya berkualitas ?&lt;br /&gt;“Bisa ! Kuncinya yaitu prinsip untuk memberikan yang terbaik bagi client, “ tegas Roy. Hal itu diperlihatkan lewat workshop sederhana yang diberikan Roy menjelang akhir sarasehan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1599653095543524110?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1599653095543524110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/berikan-yang-terbaik-resep-roy-genggam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1599653095543524110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1599653095543524110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/berikan-yang-terbaik-resep-roy-genggam.html' title='BERIKAN YANG TERBAIK, RESEP ROY GENGGAM.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-KHl0bGoD3TM/TrlQa1CM3PI/AAAAAAAABMY/xIaSfzFOhj0/s72-c/Profil%2BRG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4709874531923956324</id><published>2011-11-07T05:09:00.003+07:00</published><updated>2011-11-07T05:14:36.628+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>DIBALIK MITOS PARA MAESTRO.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1FH_FWv5lYw/TrcF_FYmAtI/AAAAAAAABMA/XbS0K46mqEk/s1600/Foto%2Bbersama%2Bdiskusi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1FH_FWv5lYw/TrcF_FYmAtI/AAAAAAAABMA/XbS0K46mqEk/s320/Foto%2Bbersama%2Bdiskusi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672008837031658194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: MyAsa Poetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks.com, 6 November 2011. &lt;/span&gt; Anton Larenz merasa terganggu oleh beberapa film para maestro senirupa yang lebih banyak dibumbui dengan mitos-mitos sehingga bisa menyesatkan penontonnya. Sementara Deddy PAW meminta pada pihak-pihak yang berkompetan untuk secepatnya mendokumentasikan para maestro senirupa Indonesia yang kini sudah mendekati uzur. Sedangkan Ridwan Muljosudarmo meminta agar perupa muda di Magelang tak hanya meniru gaya hidup eksentrik para maestro, tapi lebih mengutamakan untuk meniru perjuangan para maestro itu.&lt;br /&gt;Demikian pokok-pokok pikiran yang mengemuka selama diskusi ‘Menyimak Maestro’, yang berlangsung sebagai penutup ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’, 28 Oktober 2011, di Syang ArtSpace, Magelang. Diskusi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu dihadiri oleh sekitar 20 orang. Hadirin yang mengikuti berasal dari kalangan yang cukup beragam: guru, fotografer, ibu rumah tangga, pelajar dan mahasiswa. Dari kalangan senirupa Magelang sendiri tak banyak yang hadir.&lt;br /&gt;“Teman-teman KSBI (Komunitas Seni Borobudur Indonesia, yang anggotanya kebanyakan perupa, Red.) tak bisa datang karena sedang mengerjakan borongan ratusan lukisan pesanan hotel, “ kata Serli, salah satu anggota KSBI, yang datang ke acara diskusi bersama Piyu, onthelis yang juga hobi menggambar.  “Soalnya ‘kejar tayang’ mas, akhir bulan ini mesti kelar…he he, “ tambah Serli.&lt;br /&gt;Pekan film yang berlangsung sejak 25 Oktober 2011, itu memutar beberapa film tentang kehidupan para maestro senirupa dunia, seperti Picasso, Rembrant, Frida Kahlo, Mondigliani, dan Basquiat. “Sebetulnya kami juga ingin menyaksikan film tentang maestro dari Indonesia. Tapi setahu kami belum ada film maestro senirupa Indonesia, “ kata Gilang Riski Habibullah, koordinator acara, dengan nada menyesal.&lt;br /&gt;Tentang acara pekan film ini, Anton Larenz memuji. “Acara ini cukup menarik. Apalagi diadakan di kota kecil Magelang. Setahuku acara semacam ini bahkan belum pernah diadakan di Indonesia, “ kata kurator berkebangsaan Jerman itu. &lt;br /&gt;Menurut Larenz, belajar dari film tentulah menarik. Karena lewat film kehidupan para maestro itu bisa dilihat secara utuh. Tak hanya ketika para maestro itu berada di panggung sukses, tapi juga ketika mengawali kehidupannya sebagai perupa tak dikenal yang penuh penderitaan. Namun kurator sekaligus anthropolog itu memperingatkan agar para penonton mencermati sejauh mana film-film itu menyodorkan fakta-fakta seputar kehidupan para maestro. &lt;br /&gt;“Karena disajikan lewat film secara dramatic, maka bumbu-bumbu dan mitos-mitos seringkali menjadi lebih penting dari fakta kehidupan para maestro itu, “ kata anthropolog yang lama bermukim di Sumatera Barat itu, sehingga cukup fasih berbahasa Indonesia. Larenz menunjuk pada film cerita tentang Basquiat dan Frida Kahlo, yang cukup banyak mengungkap kehidupan di luar karir ke dua perupa itu. Khususnya kehidupan liar kedua perupa, seperti pengungkapan kehidupan seks dan keterlibatan mereka dengan narkoba.&lt;br /&gt;Tentang film Picasso, Larenz justru memuji keterlibatan pelukis itu dalam pergolakan politik Spanyol. Film documenter tentang Picasso yang diputar memang mengungkap keterlibatan pelukis yang terkenal dengan gaya kubisme itu sebagai anggota partai komunis. Picasso juga terlibat dalam berbagai gerakan perdamaian dunia. Karya-karyanya yang terkenal seperti ‘Guernica’, ‘’Pembantaian di Korea’, hingga ‘Dove of Peace’, dengan jelas memperlihatkan sikap Picasso dalam mengangkat problem kemasyarakatan dan politik.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-SJXbLAOeS-Y/TrcGNqvuKBI/AAAAAAAABMM/efvJaVqE8VU/s1600/nONTON%2BTRAILLER%2BFILM.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SJXbLAOeS-Y/TrcGNqvuKBI/AAAAAAAABMM/efvJaVqE8VU/s320/nONTON%2BTRAILLER%2BFILM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672009087578941458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Di awal kemerdekaan dulu, banyak pelukis Indonesia yang terlibat dalam politik. Bukan kebetulan kalau mereka juga memilih bergabung dengan partai komunisatau gerakan sosialis, karena keberpihakan mereka pada penderitaan rakyat, “ kata Larenz sembari menyebut nama-nama pelukis terkenal seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandy, hingga Joko Pekik. Sedangkan Mualim Sukethi, Pembina BML, yang saat itu menjadi moderator diskusi, menambahkan nama Semsar Siahaan, perupa yang aktif dalam gerakan politik jalanan saat orde baru berkuasa.&lt;br /&gt;Namun banyak juga perupa yang sekedar meniru gaya hidup nyentrik seniman dunia itu. “Misalnya sekedar berambut gondrong, bertato, berpakaian aneh-aneh, atau memakai narkoba, “ kata Ridwan Muljosudarmo, kolektor dan pemilik Syang ArtSpace. &lt;br /&gt;Ridwan menceritakan pengalamannya bergaul dengan berbagai kalangan senirupa, khususnya di Jogyakarta. Para perupa itu seringkali menemui dirinya dan mengeluh kalau tidak punya uang buat beli cat atau kanvas saat ditanya mana karyanya. “Tapi kalau diberi uang, bukannya dibelikan kanvas atau cat untuk melukis. Justru buat mabuk-mabukan, “ kisah pengusaha konstruksi itu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;YAYASAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan untuk mendokumentasikan maestro senirupa Indonesia dirasakan sangat mendesak. Hal itu diungkapkan oleh perupa Magelang yang eksis secara nasional, Deddy PAW. “Saat ini ada beberapa perupa Indonesia yang usianya di atas 70 th, seperti Edi Sunarso (pematung, red) dan Srihadi Sudarsono.  Peranan mereka yang cukup penting dalam sejarah senirupa Indonesia mestinya mendapat perhatian pemerintah dan kalangan senirupa dengan mendokumentasikannya dalam bentuk film, “ ujar perupa lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.&lt;br /&gt;Sementara Mualim menambahkan, tak hanya dari kalangan perupa yang pantas didokumentasikan. Pribadi atau orang-orang yang berjasa bagi pengembangan senirupa Indonesia juga layak didokumentasikan. “Seperti Oei Hong Djien (OHD) yang usianya juga melebihi 70 th kiranya pantas didokumentasikan, mengingat peranannya yang penting bagi dunia senirupa. Khusus untuk OHD, pemerintah kota Magelang layak untuk member ipenghargaan dalam bentuk pendokumentasian itu, “ usul Mualim. &lt;br /&gt;Nurfuad, perupa Magelang, mengusulkan agar para kolektor besar dan perupa yang sudah mapan mempelopori upaya pendokumentasian itu. “Orang-orang seperti Pak Ridwan atau Mas Deddy mungkin bisa memulai untuk memulai pembuatan proyek  dokumentasi itu, “ kata perupa yang kini juga terlibat dalam proyek borongan pesanan hotel itu. &lt;br /&gt;Menanggapi hal itu, Mualim mengusulkan untuk membuat sebuah lembaga berbentuk yayasan yang khusus bertugas melakukan proyek pendokumentasian itu. Menurut produser film/TV yang dulu pernah membuat dokumentasi video perupa Hardi dan salah satu instalasi Semsar Siahaan, melalui yayasan bisa dilakukan penggalangan dana bagi keperluan itu.&lt;br /&gt;“Yayasan bisa melakukan pameran atau lelang senirupa karya perupa yang bersimpati dengan upaya ini. Hasilnya bisa digunakan untuk membiayai proyek pendokumentasian ini, “ tambah Mualim. Mantan aktivis Dewan Kesenian Jakarta, itu juga menambahkan kalau kalangan perupa juga bisa membiayai pendokumentasian dirinya. Caranya ?&lt;br /&gt;“Saya dulu mendokumentasikan Hardi dan Semsar. Saya tidak dibayar dalam bentuk uang, tapi dibayar dengan lukisan, “ cerita Mualim, yang merasa menyesal proyek idealis itu tak dilanjutkan. Di akhir diskusi, Mualim mengusulkan agar kalangan senirupa Magelang memulai upaya itu, dengan proyek awal pendokumentasian OHD. Semoga ! &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4709874531923956324?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4709874531923956324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/dibalik-mitos-para-maestro.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4709874531923956324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4709874531923956324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/dibalik-mitos-para-maestro.html' title='DIBALIK MITOS PARA MAESTRO.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1FH_FWv5lYw/TrcF_FYmAtI/AAAAAAAABMA/XbS0K46mqEk/s72-c/Foto%2Bbersama%2Bdiskusi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1422581389552974604</id><published>2011-11-07T04:20:00.003+07:00</published><updated>2011-11-07T04:44:26.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>OHD: “JADIKAN MAGELANG KOTA KEBUDAYAAN !”.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-e19l_QrszQo/Trb7J8-CxWI/AAAAAAAABLc/k9gTyP50SJc/s1600/OHD%2Bnikmati%2BLL.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-e19l_QrszQo/Trb7J8-CxWI/AAAAAAAABLc/k9gTyP50SJc/s320/OHD%2Bnikmati%2BLL.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671996929123468642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: MyAsa Poetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 6 November 2011.&lt;/span&gt; “Pekan Film Senirupa Magelang 2011” telah terlaksana dengan baik dan  lancar. Hajatan budaya yang berlangsung antara tanggal 25-28 Oktober 2011, itu relative menarik banyak kalangan. Pada malam pembukaan misalnya, sekitar 100 pengunjung memenuhi lantai atas Syang Art Space Magelang, tempat berlangsungnya acara yang diadakan oleh ‘borobudur MOVIE links’ (BML) ini. Tampak seniman dan tokoh-tokoh masyarakat menikmati jalannya acara, antara lain: Oey Hong Djien (kolektor), Sutrisman (Akademi Magelang), Tanto Mendut (K5G), Deddy PAW (perupa), Umar Khusaini (KSBI), Edi Wahyanto (Ka.Disporabudpar), serta Mualim Sukethi (borobudurlinks.com).&lt;br /&gt;Dalam sambutannya Oey Hong Djien alias OHD  kembali mengingatkan tentang posisi Magelang sebagai kekuatan yang diperhitungkan kalangan senirupa Indonesia, bahkan dunia. “Tahun depan, sekitar 70 kolektor dunia akan mengunjungi Magelang, khususnya ke museum saya, “ kata pemilik ‘Museum OHD’, sebuah museum senirupa Indonesia yang dianggap terbesar dan terbaik di dunia.&lt;br /&gt;OHD juga bercerita, ia pernah mengunjungi beberapa museum di Amerika dan memborong beberapa kaset video/film senirupa. Tapi ketika diputar di Indonesia ternyata tidak bisa. “Ternyata kasest-kaset itu tidak bisa diputar karena beda system antara Amerika (NTSC) dan Indonesia (PAL), “ tambah dokter yang hampir tak pernah berpraktek itu.&lt;br /&gt;Tentang penyelenggaraan pekan film senirupa, OHD sempat memuji. Selain bermanfaat sebagai media pembelajaran bagi kalangan senirupa Magelang, acara semacam ini juga bisa jadi alternative hiburan bagi masyarakat. “Mualim itu kreatif.  Saat Magelang tidak punya gedung bioskop, ia mengadakan pekan film. Penonton yang rindu nonton film bisa nonton di sini. Sekaligus nonton film bagus dan menikmati  lukisan bagus…gratis pula, “ imbuhnya.&lt;br /&gt;Bagi Mualim Sukethi, produser film/TV nasional yang jadi pembina BML, pekan film kali ini memiliki arti lain karena diadakan sebagai rangkaian 4 program dalam satu bulan. Seperti diketahui, selain ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011”, di bulan September-Oktober 2011, ini BML juga mengadakan ‘Workshop dan Diskusi Film Bersama Mustafa Davis’, “Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam”, dan ‘Pameran Fotografi oleh Fotografer Magelang’.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-XgaPgynYzYM/Trb-LRJWoKI/AAAAAAAABLo/x-bwx8FIX84/s1600/Deddy%2BPAW%2Bdkk.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XgaPgynYzYM/Trb-LRJWoKI/AAAAAAAABLo/x-bwx8FIX84/s320/Deddy%2BPAW%2Bdkk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672000250254368930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Saya perlu memberikan apresiasi khusus kepada teman-teman muda Magelang yang bergabung di BML. Komunitas yang sebagian besar siswa/I SMU itu telah berhasil menyelenggarakan beberapa event bertaraf nasional, bahkan internasional, “ kata jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang kini sedang mempersiapkan seri documenter sejarah Islam di Indonesia berjudul ‘Wali Songo’ dan ‘Para Kyai’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RUWATAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pembukaan yang berlangsung dari jam 19.30 hingga 23.30 itu juga dimeriahkan oleh ‘Lepizt Legits’, grup music reggae dari Magelang yang sedang naik daun. Kumpulan 8 pemuda/I yang dikomandani Fiena (vocal) itu mampu membius pengunjung hingga akhir acara. Bahkan, setelah tokoh-tokoh Magelang meninggalkan arena, sebagian besar penonton muda berjoget ala ‘anak pantai’ mengiringi lagu-lagu berirama reggae namun berlirik Indonesia dan Jawa itu.&lt;br /&gt;“Anak-anak muda itu adalah penggemar fanatic kami. Mereka selalu hadir ke manapun kami manggung, “ kata Fiena, vokalis cewek yang juga laris sebagai MC di sekitar Magelang itu.&lt;br /&gt;Keterlibatan grup music reggae itu merupakan salah satu bukti keberhasilan BML menyatukan berbagai potensi budaya yang dimiliki Magelang. Ketika pekan film pendek yang lalu, BML menampilkan sajian music jazz, sumbangan komunitas ‘Magelang Jazz Community’ (MJC). Sebelumnya Eka Pradaning menampilkan tarian tunggal saat pembukaan pekan film documenter. &lt;br /&gt;“Dalam setiap event yang kami adakan, kami berusaha merangkul komunitas atau warga Magelang yang memiliki potensi. Mereka pun rela bergabung di acara kami, kendati tidak kami beri imbalan semestinya, “ kata Gilang Riski Habibullah, Koordinator Utama program pekan film ini. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Lq0FzyCEujA/Trb-xSAt7KI/AAAAAAAABL0/DBN1AV-fsfw/s1600/Perform%2BAndri%2Bcs%2Bdpn%2Bpatung%2B03.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Lq0FzyCEujA/Trb-xSAt7KI/AAAAAAAABL0/DBN1AV-fsfw/s320/Perform%2BAndri%2Bcs%2Bdpn%2Bpatung%2B03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672000903321611426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang program dibuka secara resmi, yang rencananya akan dilakukan oleh Widodo (79), seniman patung asli Magelang, penonton dikejutkan oleh bunyi semacam sangkakala. Bunyi lenguhan panjang itu menandai keluarnya dua orang performer dari pintu belakang Syang ArtSpace. &lt;br /&gt;Seorang lelaki yang membunyikan terompet dari tanduk kerbau jantan, wajahnya beroles bedak warna hijau, mengenakan baju loreng tentara berselempang kain dan asesoris lainnya, bergerak melintas ruang acara. Di belakangnya, seorang  perempuan berbalut kain putih dengan beberapa asesoris, berlenggang lenggok sambil mendendangkan bait-bait tembang Jawa.&lt;br /&gt;Andri Topo dan Aning Purwa, sejoli performer, itu rupanya sedang memerankan kesatria dan dewi kebudayaan. Di tangan mereka juga tertenteng dua buku besar yang terbuka. Dari dalam buku, Andri dan Aning mengambil selebaran dan membagikannya kepada penonton. Selebaran itu berisi narasi tentang perjuangan para kesatria dalam menegakkan kebudayaan sebagai bagian paling penting sejarah kemanusiaan.&lt;br /&gt;Dua performer itu seakan menjadi ‘pucuk lampah’, diiringi seluruh penonton keluar meninggalkan ruang acara. Rupanya mereka menuju taman tempat berdirinya patung Tentara Pelajar yang tepat berada di depan Syang ArtSpace. Sesampai di taman, kedua performer itu meneruskan gerak-gerak teateral di sekeliling patung. Tubuh mereka meliuk-liuk, memeluk dan memanjat tatakan dan tubuh patung. Kadang meloncat menghentak diiringi bunyi perkusi yang ditabuh satu-satu oleh seseorang.&lt;br /&gt;Lampu taman dimatikan, sehingga cahaya beberapa obor yang mengelilingi patung menimbulkan bayangan yang bergerak membalut patung yang  biasanya tampak berdiri angkuh dan mengesankan kekerasan itu. Sementara Andri menggeliat teateral sambil sesekali meniup terompetnya, Aning menaiki tatakan patung dan satu persatu menempelkan replica bunga pada sekujur patung yang bisa dijangkaunya. Sesekali Aning juga berteriak yang menyiratkan suatu puisi sedang dibacakan.&lt;br /&gt;Setelah sekitar 10 menit gerak-gerak teateral itu dipersembahkan kedua performer, tibalah saatnya orasi budaya yang akan disampaikan oleh Widodo, sekaligus membuka secara resmi ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’. Namun setelah dipanggil berkali-kali, kakek yang mengaku sebagai kreator patung Tentara Pelajar itu tak muncul. Panitia pun sibuk mencari ke sekitar patung, tapi tak menemui sosok lelaki kurus berambut putih itu.&lt;br /&gt;Akhirnya panitia memutuskan meminta OHD untuk memberikan orasi dan membuka program, menggantikan Widodo. OHD maju dan berdiri di bawah patung didampingi Andri dan Aning. “Aksi teateral ini menggambarkan bahwa kekerasan yang menjadi karakter tentara telah diperlembut dengan tempelan dan taburan bunga. Mari kita ubah kesan Magelang hanya sebagai kota tentara, tapi jadikan Magelang sebagai kota kebudayaan, “ teriak OHD menggunakan speaker TOA yang disediakan pantia.&lt;br /&gt;Saat itu dari arah selatan muncul Widodo diiringi seorang panitia. Rupanya laki-laki tua itu ditemukan sedang menikmati gorengan di sebuah warung di dekat bekas bioskop Bayeman. Ia langsung digelandang ke depan patung, berdiri di samping OHD. Kolektor legendaries itu langsung meminta Widodo menceritakan proses pembuatan patung dan keterlibatan dirinya.&lt;br /&gt;“Saya mau berkata jujur. Saya ingin membuat pengakuan. Saya bukan pembuat patung ini. Patung ini dibuat oleh tim dari Jogya. Saya hanya menyiapkan tatakannya, yang kini telah diubah, dan menyiapkan tamannya, “ kata Widodo dengan muka menunduk. Pengakuan ini sempat mengejutkan sebagian pengunjung yang mendengarnya.&lt;br /&gt;Mualim Sukethi yang punya gagasan menampilkan sosok Widodo tak kurang terkejutnya. Pemilik portal borobudurlinks.com itu mengaku bertemu dengan Widodo sekitar 2 bulan sebelum program pekan film diadakan. “Ketika bertemu dengan Pak Widodo di rumah seorang guru SMK, ia diperkenalkan sebagai pembuat patung Tentara Pelajar. Ia juga menceritakan perjalanan karirnya sebagai seniman patung, hingga dipanggil oleh Bagus Panuntun (Walikota Magelang saat itu, red) untuk membuat patung ini, “ cerita Mualim.&lt;br /&gt;Menurut produser Didi Kempot itu, cerita Widodo cukup dramatis sehingga memunculkan gagasan untuk mengangkat kisah patung itu serta memperkenalkan siapa pembuatnya bagi warga Magelang. “Tadinya kami bermaksud menjadikan acara ini  semacam tribute buat seniman senior yang telah berjasa bagi Magelang, seperti ketika kami meminta Ki Sambi (pencipta wayang gethuk, Red) membuka pekan film documenter beberapa bulan lalu, “ lanjut Mualim dengan muka kecut menahan malu. &lt;br /&gt;“Tapi hal ini cukup manusiawi. Bagian dari manusia yang berusaha menampilkan eksistensinya. Kendati dengan cara yang keliru….., “ lanjut pembina BML, sembari berjanji untuk menelusuri siapa sesungguhnya pembuat patung yang kini menjadi ikon jalan Tentara Pelajar (d/h. Bayeman) itu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2001).&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1422581389552974604?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1422581389552974604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/ohd-jadikan-magelang-kota-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1422581389552974604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1422581389552974604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/11/ohd-jadikan-magelang-kota-kebudayaan.html' title='OHD: “JADIKAN MAGELANG KOTA KEBUDAYAAN !”.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-e19l_QrszQo/Trb7J8-CxWI/AAAAAAAABLc/k9gTyP50SJc/s72-c/OHD%2Bnikmati%2BLL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1594868268974494612</id><published>2011-10-25T17:57:00.005+07:00</published><updated>2011-10-25T18:07:49.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>SARASEHAN FOTOGRAFI BERSAMA ROY GENGGAM.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KT4U-v_wH3I/TqaW9NtqRCI/AAAAAAAABKQ/OVpfaZlHFgs/s1600/Roy%2Bn%2Bular.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KT4U-v_wH3I/TqaW9NtqRCI/AAAAAAAABKQ/OVpfaZlHFgs/s320/Roy%2Bn%2Bular.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667383159489709090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 Oktober 2011.&lt;/span&gt; Atas undangan Borobudur Movie Links (BML), Roy Genggam akan hadir di Syang Art Space Jalan MT Haryono 2 Magelang pada Sabtu (29/10) dalam acara yang bertajuk “Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam”. Dalam acara tersebut akan diberikan sebuah workshop bertema “Foto Produk dengan Peralatan Sederhana &amp; Art Photography” serta diskusi dengan topik “Fotografi Bukan Hanya Gaya Hidup, tapi Jalan Hidup”. Pada intinya, Roy yang dianggap fotografer professional papan atas itu akan berbagi ilmu dengan para fotografer dan orang-orang yang tertarik belajar fotografi di Magelang.&lt;br /&gt; Acara ini diselenggarakan tepat setelah acara “Pekan Film Seni Rupa Magelang 2011” yang digelar BML pada 25-28 Oktober di tempat yang sama. Sebetulnya acara ini tidak teragendakan sebagai kegiatan BML, tapi peluang untuk ‘berbagi’ dengan seorang fotografer sekelas Roy Genggam amat saying untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;“Kendati harus bekerja keras tapi kami tidak mau kehilangan kesempatan itu, “ kata Andrie Trismanto, yang kali ini kebagian peran sebagai coordinator panitia. “Selain kami memetik manfaat, teman-teman fotografer Magelang bisa sekalian menimba ilmu, khususnya bagaimana menjadi fotografer professional, “ tambah mahasiswa IT-UMM itu.&lt;br /&gt;Mendengar kabar tersebut, sahabat-sahabat BML atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blinkers&lt;/span&gt; terutama mereka yang memiliki hobi di bidang fotografi langsung menyambutnya dengan antusias. Antusiasme tersebut kemudian mendapat tanggapan positif dari DKKM (Dewan Kesenian Kota Magelang). Dukungan positif itu berupa kesepakatan antara DKKM dan BML untuk menyelenggarakan pameran foto gratis demi menyemarakkan kehadiran Roy Genggam. Rencananya, pameran tersebut akan dilangsungkan selama tiga hari, yaitu 28-30 Oktober di Syang Art Space.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-03QC_ox-Z2A/TqaXW0Y_-MI/AAAAAAAABKc/4FIo-jchU8s/s1600/Bank-Mandiri.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-03QC_ox-Z2A/TqaXW0Y_-MI/AAAAAAAABKc/4FIo-jchU8s/s200/Bank-Mandiri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667383599368763586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah MBilung Sarawita (Ketua DKKM) dan Begawan Prabu  (anggota BML) yang bertindak sebagai eksekutor pameran tersebut. Mereka mengundang fotografer-fotografer asli Magelang (Kota maupun Kabupaten) untuk mengirimkan karya-karya terbaiknya. Ajang ini tentunya akan menjadi sarana ekspresi dan apresiasi terhadap karya-karya fotografer Magelang -yang jumlahnya relatif banyak, dan lebih luas lagi, diharapkan bisa merangkum kebersamaan antara insan film, fotografi dan seni-budaya pada umumnya, -seperti yang dituturkan oleh Mbilung Sarawita.&lt;br /&gt; Diakui bagi BML, -komunitas yang memiliki basis film, acara ini menjadi sebuah kesempatan untuk mempelajari ‘dunia lain’ yaitu fotografi, sekaligus meluaskan jaringan baik lokal maupun nasional. Setelah sebelumnya berbagi dengan teman-teman perupa dan pemerhati senirupa lewat  ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-GLYiP8M9-yw/TqaXwy60g5I/AAAAAAAABKo/X4V2PasrrY8/s1600/Ultra-Mimi-pantai-FINAL-FINAL.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-GLYiP8M9-yw/TqaXwy60g5I/AAAAAAAABKo/X4V2PasrrY8/s200/Ultra-Mimi-pantai-FINAL-FINAL.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667384045650346898" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KENAPA ROY GENGGAM ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang tak tahu Roy Genggam? Fotografer kondang ini cukup tersohor namanya setelah banyak malang melintang di dunia forografi. Ia yang merupakan jebolan Sinematografi IKJ  ini telah menciptakan banyak karya fotografi yang luar biasa. Sejak ia memutuskan menjadi freelance fotografer pada 1989 dan mendirikan studio kecil ‘GENGGAM’ setahun kemudian, banyak penghargaan berhasil ia peroleh. Beberapa karya fotonya dimuat dalam buku-buku Pro Lighting terbitan Rotovisio Switzerland. Beberapa foto karya Roy juga digunakan untuk presentasi Hasselblad 50 th di Cologne Fotokina thn 1998. Pada tahun yang sama pula, salah satu fotonya memenangkan sayembara foto Hasselblad Indonesia. Kini, ia masih setia di ranah yang sama dengan melayani fotografi komersil yang sangat variatif, mulai dari arsitektur, automotif, food dan still life hingga belakangan ini lebih banyak people fotografi.&lt;br /&gt;Mualim M Sukethi, Pembina BML yang sekaligus teman kuliah Roy di IKJ punya pandangan khusus tentang sahabatnya ini. “Sejak kuliah bakat fotografi Roy memang menonjol. Jadi ketika memutuskan menjadi fotografer maka ia berhasil menempatkan dirinya menjadi salah satu fotografer terbaik untuk commercial-photography di Indonesia, “ komentar Mualim. “Yang juga unik, selain dianggap fotografer termahal untuk iklan, tapi Roy juga tergolong paling laris. Banyak produk atau brand kelas nasional dan internasional yang menjadi kliennya, “ tambah Mualim, yang ketika kuliah di IKJ dulu, satu kelomppok kerja dengan Roy dan Garin Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nRtAJzor66Q/TqaYKs_F2CI/AAAAAAAABK0/Uh480z9syUk/s1600/-Vitazone-fs.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nRtAJzor66Q/TqaYKs_F2CI/AAAAAAAABK0/Uh480z9syUk/s200/-Vitazone-fs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667384490734245922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini Roy dikontrak oleh Nikon Indonesia sebagai instruktur dalam berbagai seminar dan workshop fotografi yang diadakan di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogyakarta, Malang, dll.  Tadinya Nikon tidak ada niat menjadwalkan workshop di Magelang. Namun Mualim memaksa sahabatnya untuk mampir dan mengadakan sarasehan di Magelang.&lt;br /&gt;“Sebetulnya sudah lama saya ingin mengundang Roy. Tapi terbentur waktu, karena jadwal pemotretan dia sangat padat. Jadi begitu tahu ia akan mengadakan  seminar di Semarang, saya tawarkan untuk mampir ke Magelang. Dan iya menyetujuinya, “ cerita Mualim tentang proses kedatangan Roy yang akan membawa rombongan sekitar 8 orang, termasuk tim Nikon.&lt;br /&gt;Yang pantas diketahui, di kota-kota lain untuk mengikuti seminar yang diadakan Nikon harus membayar. Setidaknya peserta harus merogoh kocek sebesar Rp 150 – 250 ribu untuk menjaring ilmu dari fotografer yang juga pehobi reptile itu. Di rumahnya Roy memelihara ratusan ular dan berbagai jenis reptile lainnya seperti kura-kura, buaya, dll.&lt;br /&gt;“Khusus untuk Magelang tak dipungut biaya alias gratis. Maka manfaatkanlah kesempatan ini, “ kata Andrie Trismanto memungkasi perbincangannya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1594868268974494612?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1594868268974494612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/sarasehan-fotografi-bersama-roy-genggam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1594868268974494612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1594868268974494612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/sarasehan-fotografi-bersama-roy-genggam.html' title='SARASEHAN FOTOGRAFI BERSAMA ROY GENGGAM.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-KT4U-v_wH3I/TqaW9NtqRCI/AAAAAAAABKQ/OVpfaZlHFgs/s72-c/Roy%2Bn%2Bular.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2727195632262835202</id><published>2011-10-22T08:38:00.003+07:00</published><updated>2011-10-22T08:47:47.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>PEKAN FILM SENIRUPA MAGELANG 2011.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2EREJeUb9EQ/TqIgDRr01lI/AAAAAAAABKE/KrQGShEwRnE/s1600/Poster%2BPekan%2BSenirupa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2EREJeUb9EQ/TqIgDRr01lI/AAAAAAAABKE/KrQGShEwRnE/s400/Poster%2BPekan%2BSenirupa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666126521844422226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 22 Oktober 2011.&lt;/span&gt; Tidak mau berhenti pada kesuksesan tiga acara sebelumnya (“Pekan Film Dokumenter Magelang”, “Pekan Film Fiksi Magelang” dan “Workshop, Discussion and Screening with Mustafa Davis”), Borobudur Movie Links (BML) – unit kegiatan film www.borobudurlinks.com kembali menghelat acara yang tak kalah menarik. Acara kali ini bertajuk “Pekan Film Seni Rupa Magelang”. Selama empat hari berturut-turut (25-28/10) akan digelar pembukaan, pemutaran dan diskusi film-film seni rupa, di Syang Art Space Jalan MT Haryono 2 Magelang.&lt;br /&gt; Munculnya ide pembuatan acara ini berawal dari kenyataan banyak ditemuinya kolektor dan art-dealer kelas kakap yang tinggal atau berasal dari Magelang, yang, otomatis, insfrastruktur senirupa juga tumbuh lumayan subur di sana. Setidaknya ada belasan galeri dan studio senirupa eksis di kota Magelang dan sekitar Borobudur. Salah satu yang paling spektakuler adalah keberadaan museum senirupa Indonesia yg terbesar di dunia (Museum Oeng Hong Djien). Dari situlah kemudian acara ini dipilih sebagai bentuk apresiasi terhadap geliat keberadaan seni rupa di Magelang.&lt;br /&gt; Tema pekan film kali ini adalah “MENYIMAK MAESTRO”. Lewat tema ini para pegiat senirupa dan film Magelang bisa menikmati film-film sejarah dan kehidupan tokoh-tokoh atau maestro senirupa dunia, seperti Van Gogh, Rembrandt, Picasso, Frida Kahlo, Jackson Pollock, dll, baik lewat film cerita maupun dokumenter.&lt;br /&gt;“Ini adalah suatu media pembelajaran bagi perupa dan pemerhati seni di Magelang. Belajar kan tidak harus lewat bangku sekolah, tapi bisa lewat kehidupan para maestro. Kita bisa menyimak kehidupan mereka hingga bisa mencapai level maestro senirupa itu, “ kata Deddy PAW, perupa Magelang yang eksis di kancah senirupa nasional, yang ikut menggagas acara ini.&lt;br /&gt; Acara ini akan diawali dengan sebuah pembukaan pada Selasa malam (25/8). Widodo (kreator patung tentara pelajar), akan secara langsung membuka acara tersebut. Pembukaan itu akan dimeriahkan dengan penampilan band reggae ternama di Magelang: Lapiezt Legiet.&lt;br /&gt;“Acara ini juga bisa dikatakan sebagai tribute bagi Pak Widodo, pematung otodidak yang telah menghasilkan patung-patung monument di berbagai tempat di tanah air, termasuk patung Tentara Pelajar yang kebetulan berada tepat di depan Syang Art . Seniman-seniman sepuh seperti beliau ini sering kali dilupakan. Dengan cara kami ini mengingatkan kembali keberadaan beliau dan karyanya, “ ujar Mualim Sukethi, Pembina BML, menimpali.&lt;br /&gt; Selanjutnya, selama tiga hari berturut-turut (26-28/10) akan diadakan pemutaran film-film –baik fiksi maupun dokumenter seputar para maestro seni rupa dunia. Acara yang terbuka untuk umum ini akan ditutup dengan diskusi bersama Anton Larenz (kurator dan kritikus seni rupa asal Jerman), Deddy PAW (perupa asal Magelang), dan Ridwan Muljosudarmo (Kolektor/pemilik galeri SYANG art space) pada Jumat (28/10) sore.&lt;br /&gt; Melalui acara ini diharapkan, pegiat senirupa dan film Magelang khususnya, serta masyarakat Magelang pada umumnya, bisa memetik pelajaran mengenai kreativitas dan perjuangan dalam perjalanan hidup para maestro itu melalui kacamata sinema.&lt;br /&gt; Pekan film semacam ini diharapkan dapat terselenggara secara berkala serta mampu menjalin jaringan kuat antara pelaku film dengan pelaku seni dan budaya daerah, lembaga akademis, masyarakat luas, dan lebih-lebih pemerintah sehingga mampu menjadi stimulan untuk tumbuhnya motivasi berkarya di bidang senirupa dan perfilman.&lt;br /&gt;“Ini pengalaman baru bagi kami. Dalam 2 bulan mengadakan acara yang skalanya nasional bahkan internasional. Selain sebagai ajang pembelajaran bagi kami generasi muda, ini semua juga demi komitmen untuk menghidupkan senibudaya di Magelang tercinta., “ kata Gilang Riski Habibullah, mahasiswa sastra Inggris UTM, yang menjadi coordinator acara ini. &lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri pembicaraan, Gilang mengingatkan bahwa BML juga akan mengadakan ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’, tanggal 29 Oktober 2011. “InsyaAllah, karena diniati dengan baik, semoga semua berjalan dengan baik dan sukses, “ tegasnya. Semoga !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAFTAR ACARA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut rangkaian kegiatan secara rinci ‘Pekan Film Seni Rupa Magelang 2011‘&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selasa, 25 Oktober 2011&lt;br /&gt;19.00 – 21.00 : Pembukaan ‘Pekan Film Seni Rupa Magelang‘ oleh Widodo (kreator patung Tentara Pelajar), Dimeriahkan oleh ‘Lapiezt Legiet’, grup reggae dari Magelang yang sedang naik daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Oktober 2011&lt;br /&gt;15.00 - 17.00 : Pemutaran Film Fiksi dan Dokumenter&lt;br /&gt;• “Frida” (Frida Kahlo/fiksi)&lt;br /&gt;• “Picasso” (dokumenter)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamis, 27 Oktober 2011&lt;br /&gt;15.00 – 17.00 : Pemutaran Film Fiksi dan Dokumenter&lt;br /&gt;• “Pollock” (Jackson Pollock/fiksi)&lt;br /&gt;• “Rembrandt” (dokumenter)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jumat, 28 Oktober 2011&lt;br /&gt;13.00 – 17.00 :&lt;br /&gt;Pemutaran Film Fiksi dan Dokumenter&lt;br /&gt;• “Basquiat” (Jean Michel Basquiat/fiksi)&lt;br /&gt;Diskusi dengan menghadirkan narasumber,: Anton Larenz (Kurator dan Kritikus Seni Rupa asal Jerman), Ridwan Muljosudarmo (Pemilik Galeri SYANG art space).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2727195632262835202?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2727195632262835202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/pekan-film-senirupa-magelang-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2727195632262835202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2727195632262835202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/pekan-film-senirupa-magelang-2011.html' title='PEKAN FILM SENIRUPA MAGELANG 2011.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2EREJeUb9EQ/TqIgDRr01lI/AAAAAAAABKE/KrQGShEwRnE/s72-c/Poster%2BPekan%2BSenirupa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1943699840132406405</id><published>2011-10-07T18:46:00.005+07:00</published><updated>2011-10-07T19:02:29.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>MUSTAFA BERBAGI TENTANG ISLAM AMERIKA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-d5zIp83bPUY/To7nLPxS3wI/AAAAAAAABJk/kptiy5IG8Lo/s1600/Profil%2BMustafa%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-d5zIp83bPUY/To7nLPxS3wI/AAAAAAAABJk/kptiy5IG8Lo/s320/Profil%2BMustafa%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660715962049158914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Myasa Poetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 7 Oktober 2011.&lt;/span&gt; Bermain skateboard atau menyanyikan hip-hop bukanlah sesuatu yang asing bagi remaja Indonesia. Tak hanya di kota besar yang dengan cepat menyerap budaya barat ini. Di kota kecil semisal Magelang pun dengan mudah kita jumpai para remaja memainkan produk budaya khas anak gaul itu.&lt;br /&gt;Namun di Amerika, negeri tempat kelahiran budaya pop itu, perkembangan skateboard dan hip-hop bukannya tanpa masalah. Khususnya bagi remaja yang dibesarkan dalam budaya atau komunitas muslim. Ada perbedaan bahkan mungkin benturan kultur antara Islam yang dianut para remaja itu, dengan budaya barat yang mendasari terciptanya skateboard dan hip hop.&lt;br /&gt;Setidaknya persoalan  itulah yang tergambar pada film ‘Wayward Son’ dan ‘Deen Tight’  karya Mustafa Davis dari Amerika, yang diputar dalam acara ‘Workshop, Discussions, and Screening with Mustafa Davis, tanggal 28 September 2011, di Syang Art Space, Kota Magelang. Sutradara muslim Amerika itu didatangkan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (US Embassy) ke Indonesia dalam rangka program ‘Cultural Envoy’. Di Indonesia ia mengunjungi dan bertemu dengan komunitas film di Jakarta, Palembang, Jogyakarta, dan Magelang.&lt;br /&gt;Di Magelang, US Embassy menggandeng ‘Borobudur Movie Links’ (BML) dan Syang-Art Space untuk mengadakan workshop dan diskusi setengah hari, antara jam 13.30 s/d 18.00, yang diikuti sekitar 75 pelajar/mahasiswa dan pegiat film dari wilayah Magelang Raya. Dalam diskusi bertema ‘Multiculturism in American Art’, itu sutradara yang karya-karyanya sempat dinominasikan merebut piala Oscar, itu membeberkan fenomena mutakhir kebudayaan Amerika yang sangat beragam. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5HTWfknDlX4/To7ntvZ2SjI/AAAAAAAABJs/G_hCNHed4c4/s1600/Suasana%2Bdiskusi%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5HTWfknDlX4/To7ntvZ2SjI/AAAAAAAABJs/G_hCNHed4c4/s320/Suasana%2Bdiskusi%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660716554656303666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melalui film dan paparan sutradara kelahiran California, itu peserta diskusi menyadari bahwa di negara sebebas Amerika pun pengembangan seni-budaya bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu pemahaman dan toleransi antar pemilik dan pelaku budaya, serta kebudayaan popular yang berkembang di tengah masyarakat. &lt;br /&gt;“Dari diskusi ini saya bisa menarik kesimpulan, agama dan senibudaya tak harus dipertentangkan. Bahkan seni film, music (hip-hop), grafiti,  ternyata bisa menjadi bahasa yang komunikatif antar berbagai kultur, “ kata Untung KS, seorang pelukis yang aktif mengikuti beberapa pekan film yang diadakan BML.&lt;br /&gt;Sebelum diskusi, Mustafa yang didamping Muhammad Reiza, staf Cultural Affairs US Embassy, memberikan workshop bagaimana membuat film (documenter) serta upaya memasyarakatkan film yang telah dibuat itu. Bahkan ia menjanjikan untuk membantu memperkenalkan film-film yang dibuat peserta ke dunia internasional.&lt;br /&gt;Bagi Bambang Hengky, seorang pembuat film senior, workshop yang diberikan Mustafa menjadi penting karena bisa menunjukkan bagaimana seorang pemula memulai membuat film. “Bagi pemula, workshop ini menjadi penting. Karena mampu memberi penyadaran bahwa cerita film bisa berangkat dari persoalan sehari-hari, “ katanya. &lt;br /&gt;Bambang menunjuk pada cerita ‘Waynard Son’ yang mengangkat cerita tentang remaja penggila skateboard, dan ‘Deen Tight’ yang mengungkap gejala music hip-hop di kalangan remaja AS. ‘Di AS, skateboard dan hip-hop adalah permainan sehari-hari yang bisa dijumpai di mana saja, “ imbuh  sutradara film semi-dokumenter ‘Babad Wonosobo’ itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-AbpvTiD0Uxg/To7n_v1xgeI/AAAAAAAABJ0/JLtdhfhHX3Q/s1600/Layar%2BDeenTight.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-AbpvTiD0Uxg/To7n_v1xgeI/AAAAAAAABJ0/JLtdhfhHX3Q/s320/Layar%2BDeenTight.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660716864011076066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HERO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyemangati para pembuat film pemula, Mustafa tidak mensyaratkan peralatan yang canggih ketika membuat film. Film bisa dibuat dengan peralatan sederhana, bahkan dari kamera HP. Mustafa mencontohkan, beberapa bagian dari filmnya direkam menggunakan kamera HP. &lt;br /&gt;“Bukan kamera apa yang dipake membuat film. Tapi, kamu bisa berbuat apa dengan kamera yang kamu punya” tegas sutradara yang awalnya belajar foto jurnalistik itu. Atau dengan kata lain, bukan peralatan atau biaya, tapi kreatifitas yang akan menentukan keberhasilan sebuah film.&lt;br /&gt;Dari pengalamannya sebagai pembuat film documenter, Mustafa berani menyimpulkan bahwa film yang baik semestinya mengandung tiga unsure, antara lain: 1. Hero. 2. Evil. 3. The Goal of the Hero. Jadi, dalam sebuah cerita harus ada elemen pahlawan, pengganggu dan sebuah tujuan yang akan dicapai. Secara garis besar sebuah cerita itu menggambarkan keadaan dimana seorang lakon berusaha mencapai tujuannya di tengah gangguan-gangguan yang ada. &lt;br /&gt;“Saya menemukan ketiga hal itu setelah berkali-kali melakukan kesalahan. Untuk itu, kita harus terus mencoba dan jangan pernah takut salah. Kesalahan akan membawa pelajaran bagi kita,” kata Mustafa.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, Mustafa juga menilai keberadaan film-film documenter Indonesia. Menurutnya, film documenter Indonesia tergolong sebagai karya jurnalislik, karena hanya mengumpulkan fakta-fakta dan merangkaikannya menjadi cerita atau fakta baru.&lt;br /&gt;Perbedaan yang mendasar dari keduanya adalah bahwa di dalam film dokumenter subjektivitas itu diperbolehkan dan bahkan dikedepankan, sementara dalam jurnalistik, seseorang dituntut untuk menjadi obyektif. “Dengan kata lain, dokumenter itu merupakan gambaran dari sudut pandang sang sutradara,” kata Mustafa.&lt;br /&gt;Kendati subyek yang diangkat adalah sesuatu yang bersifat sehari-hari, seperti masalah skateboard dan music hip-hop. Tapi hal itu membutuhkan pengamatan panjang, bahkan sangat diwarnai oleh pengalaman Mustafa sendiri sebgai seorang mualaf.&lt;br /&gt;Mustafa memeluk agama Islam pada tahun 1996. Setelah memeluk dan mempelajari agama barunya, Mustafa menyadari bahwa musik adalah praktek tabu bagi sebagian besar umat Islam. “Tanpa ragu aku hancurkan kaset dan CD saya, berhenti bermain piano dan mendengarkan musik. Aku terfokus pada belajar agama dan ingin meninggalkan latar belakang budaya saya. Ini merupakan cara untuk menunjukkan kepada Allah bahwa aku serius tentang iman saya “ ujar Mustafa.&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian persoalan identitas budaya itu menjadi perjuangan berat bagi Mustafa.  “Dengan tegas saya nyatakan percaya pada agama Islam, dan tidak ada yang bisa menggoyahkan keyakinan saya. Namun saya juga tak mudah melepaskan masa lalu saya yang telah terbentuk oleh budaya yang membesarkan saya, yakni music dan tari.  Aku sempat merasa kekosongan yang jauh, “ cerita Mustafa tentang periode awal sebagai mualaf.&lt;br /&gt;Mustafa ‘akhirnya menyerah’, dan mulai berdamai untuk  mendengarkan musik lagi. Namun ia menghindari  hal-hal yang bersifat negative dari budaya music Amerika. “Bertahun-tahun kemudian, setelah saya memulai karir saya sebagai sutradara film, saya menemukan bahwa banyak dari rekan-rekan saya memiliki pengalaman serupa. Beberapa dari mereka masih berjuang dengan isu seputar musik dan budaya, “ ujar Mustafa, yang kemudian mengangkat isu itu di sebagian filmnya.&lt;br /&gt;Apakah kemudian film-filmnya bisa disebut ‘film dakwah’, dan Mustafa akan menggunakan filmnya sebagai media dakwah ? “Tidak. Saya tak akan menggunakan film sebagai media dakwah. Tapi saya akan menggunakan seluruh hidup saya sebagai muslim menjadi media dakwah…bahwa Islam itu adalah pembawa damai, “ tegas Mustafa menutup diskusi menjelang magrib itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NHqPw2KjaTM/To7ofx9dmsI/AAAAAAAABJ8/m4J9hYmzlRg/s1600/Mus%2Bn%2Bpanitia%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NHqPw2KjaTM/To7ofx9dmsI/AAAAAAAABJ8/m4J9hYmzlRg/s320/Mus%2Bn%2Bpanitia%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660717414336010946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TERKESAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati hanya sehari di Magelang, namun kesan yang mendalam dirasakan oleh Mustafa. Ia terkesan oleh keramahan adan antusiasme peserta diskusi. Apalagi sebagian peserta adalah pelajar dan mahasiswa. &lt;br /&gt;“Awalnya saya canggung. Kawatir kurang bisa diterima. Tapi keramahan panitia dan antusiasme peserta membuat saya nyaman, dan bisa menyelesaikan diskusi dengan baik, “ pungkas Mustafa, sembari bercanda dengan panitia dan berfoto bersama di antara patung-patung besi pengendara sepeda di depan Syang Art Space.&lt;br /&gt;Kesan yang sama juga diutarakan oleh Muhammad Reiza. “Tadinya banyak pihak yang meragukan, kenapa memilih Magelang sebagai tempat acara. Tapi dengan suksesnya acara ini, serta profesionalitas teman-teman BML, maka keraguan itu telah terjawab, “ kata Reiza, yang menemukan situs BML dari pencarian di internet. Reiza juga menyatakan penyesalannya kenapa terlambat berkenalan dengan BML, sehingga acara yang digalang bersama BML hanya workshop dan diskusi.&lt;br /&gt;Kesan positif juga bermunculan dari peserta, baik terhadap sososk Mustafa mau pun terhadap penyelenggaraan acara oleh BML. Riena Qorina  menulis di dinding FB-nya “Hari ini seneng banget, bisa salaman sama Sutradara Muslim Terkenal Amerika -&gt; Mustafa Davis :D Thank's for that and your sharing about your film, Mr Davis :-D…”.&lt;br /&gt;Pak Bayu, yang mengantar anaknya siswa MTs  sebagai peserta, awalnya agak ragu terhadap banyaknya kegiatan anaknya di luar rumah. Tapi setelah mengikuti jalannya diskusi pendapatnya berubah 180 drajat.  "Ada toh perkumpulan kayak gini yang tujuannya positif banget?, " katanya, sambil berpesan untuk ngabari anaknya kalau BML bikin acara lagi.&lt;br /&gt;Sedangkan banyak peserta lain, baik dari kalangan pelajar mau pun mahasiswa, yang ingin bergabung dengan BML. Ada juga yang mengajak bekerjasama membuat kegiatan atau membuat film bersama BML. “Pada dasarnya kami terbuka untuk bekerjasama dengan siapa saja. Selama itu bermanfaat bagi kami dan bagi masyarakat, “ kata Gilang Rizky Habibullah, koordinator utama acara ini mewakili rekan-rekannya yang tergabung di BML.&lt;br /&gt;Gilang juga menegaskan bahwa suksesnya acara ini adalah bukti nyata bahwa kegiatan-kegiatan atau keberadaan BML ternyata diakui dan didukung, tak hanya oleh masyarakat Magelang, tapi juga oleh masyarakat luar bahkan oleh Kedutaan Amerika. “Yang pasti dukungan itu akan kami manfaatkan sebaik mungkin. Ke depan kami akan menyelenggrakan acara yang tak kalah hebohnya…”, canda mahasiswa Sastra Inggris UTM ini menutup pembicaraan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1943699840132406405?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1943699840132406405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/mustafa-berbagi-tentang-islam-amerika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1943699840132406405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1943699840132406405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/mustafa-berbagi-tentang-islam-amerika.html' title='MUSTAFA BERBAGI TENTANG ISLAM AMERIKA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-d5zIp83bPUY/To7nLPxS3wI/AAAAAAAABJk/kptiy5IG8Lo/s72-c/Profil%2BMustafa%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3195608302815167284</id><published>2011-10-02T14:54:00.004+07:00</published><updated>2011-10-02T15:07:46.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>DUA JAM BERSAMA MUSTAFA DAVIS.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qyf7LR2NShc/TogbUHVjRNI/AAAAAAAABJQ/SlXRkmKZMxQ/s1600/WS%2Bin%2BBudur%2B02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qyf7LR2NShc/TogbUHVjRNI/AAAAAAAABJQ/SlXRkmKZMxQ/s320/WS%2Bin%2BBudur%2B02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658802964171801810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : Khalimatu Nisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 1 Oktober 2011. &lt;/span&gt;Sore itu (27/9) pemandangan tak biasa tampak di lantai pertama Candi Borobudur. Belasan muda-mudi dari komunitas Jeda (Magelang) dan Coret (Yogyakarta) membentuk satu lingkaran mengelilingi sebuah camcorder  yang terpasang di atas tripod. Mereka asyik mendengarkan penjelasan seorang narasumber seputar film dokumenter. “Apa tujuan film dokumenter?” tanya narasumber tersebut. Seorang pemuda menjawab, “Tujuannya adalah untuk mengungkapkan suatu realita yang terjadi di sekitar kita.” Sesaat mereka hening sejenak. “Bukan,” kata sang narasumber, “yang kamu katakan adalah jurnalistik. Tujuan film dokumenter adalah untuk mengungkapkan suatu cerita.”&lt;br /&gt;Adalah Mustafa Davis, seorang sinematografer, filmmaker, sekaligus fotografer muslim asal Amerika yang bertindak sebagai narasumber dalam workshop sederhana sore itu. Kedutaan Besar Amerika, bekerja sama dengan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) memfasilitasi para aktivis komunitas muda untuk belajar membuat film dokumenter secara singkat bersama Mustafa Davis dan asistennya, Mohammad Reiza.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Mustafa mengungkapkan bahwa kebanyakan film dokumenter di Indonesia masih tergolong  jurnalistik. Perbedaan yang mendasar dari keduanya adalah bahwa di dalam film dokumenter subjektivitas itu diperbolehkan dan bahkan dikedepankan, sementara dalam jurnalistik, seseorang dituntut untuk menjadi obyektif. “Dengan kata lain, dokumenter itu merupakan gambaran dari sudut pandang sang sutradara,” kata Mustafa.&lt;br /&gt;“Lalu, bagaimanakah film dokumenter yang baik, itu?” tanya seorang peserta workshop. Dokumenter yang baik, menurut Mustafa tergantung pada kemampuan narasumbernya untuk bercerita. “Yang terpenting dalam dokumenter adalah emosi. Ketika saya membuat sebuah dokumenter, saya memilih subjek yang bisa menyalurkan emosi,” ungkap Mustafa.&lt;br /&gt;Untuk membuat seorang narasumber dapat menyalurkan emosinya dan bercerita secara jujur serta apa adanya diperlukan suatu teknik. Yaitu dengan memperlakukan si narasumber se-rileks mungkin. Sebelum memulai interview, terlebih dahulu pewawancara perlu mengakrabkan diri dengan sang narasumber. Sementara bersamaan dengan itu, kamera, sound dan lighting dipersiapkan di tempat yang berbeda. Saat semuanya telah siap, narasumber dan pewawncara memasuki area pengambilan gambar secara bersamaan. Tujuannya, agar si narasumber  tidak merasa grogi. Dan jumlah kru yang ada di dalam area itu, paling banyak adalah dua, terang Mustafa.&lt;br /&gt;Mustafa pun mengaku selalu menutup lampu LED pada kamera agar narasumber tak mengetahui bahwa kamera berada dalam keadaan on sejak pertama mereka masuk ruangan. Narasumber didudukkan di depan kamera menatap sang pewawancara. Kepada narasumber Mustafa akan mengatakan bahwa itu bukanlah suatu wawancara melainkan hanya obrolan di antara mereka. “Saya biasa mengawali wawancara dengan pertanyaan mudah,” kata Mustafa. “Jika saya melakukannya di pagi hari, saya akan berkata ‘Maaf, saya masih mengantuk. Saya bukanlah orang  yang biasa bangun pagi,’ setelah itu saya akan mengambil dua cangkir kopi untuk kami berdua.” Setelah itu Mustafa akan menanyakan beberapa hal dengan santai. Ia tidak membaca daftar pertanyaan dari buku catatan atau sejenisnya, karena hal itu akan membuat kontak mata tak terfokus pada narasumber.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8nhuY-rSj2g/Togbp6nIezI/AAAAAAAABJY/qcsyDMNnoK0/s1600/WS%2Bin%2BBudur%2B03.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8nhuY-rSj2g/Togbp6nIezI/AAAAAAAABJY/qcsyDMNnoK0/s320/WS%2Bin%2BBudur%2B03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658803338713004850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Setelah 30 menit biasanya para narasumber menanyakan kapan wawancara akan dimulai,” jelas Mustafa, “dan bagian yang paling saya sukai adalah ketika saya bilang ‘kita telah memulainya 30 menit yang lalu’ atau ‘kita sudah selesai’.” Dalam waktu 30 menit yang santai itu biasanya Mustafa telah mendapatkan semua info yang ia butuhkan. Hal terpenting selanjutnya adalah menanyakan kepada narasumber bagian manakah dalam wawancara tadi yang ia akan merasa keberatan jika ditampilkan dalam film. “Dan saya tidak akan menampilkannya,” tegas Mustafa.&lt;br /&gt;Selanjutnya muncul pertanyaan dari salah satu peserta, “Setelah membuat film dokumenter, apa yang kita lakukan?”. “Buatlah satu screening test dengan 15-20 audiens,” jawab Mustafa. Melalui screening test tersebut kita bisa melihat apakah film kita bisa diterima dengan baik atau tidak. Jika audiens tertawa melihat adegan yang lucu atau menangis pada adegan yang mengharukan, berarti film kita telah berhasil. Untuk mendapat respon yang jujur, baiknya kita jangan mengatakan bahwa kita membutuhkan kritik untuk film kita. Karena dengan begitu, mereka akan mencari-cari kesalahan. Kita cukup mengatakan, “Aku punya film baru, mari kita menikmatinya bersama.” Jika film kurang berhasil diterima oleh audiens, kita harus kembali membawanya ke ruang editing. Dan setelah semuanya selesai, kita bisa mengikutsertakan film kita ke segala festival film yang ada di seluruh dunia, dengan catatan film kita masuk dalam kategori persyaratan festival tersebut.  &lt;br /&gt;Puluhan film dan video klip yang telah berhasil Mustafa buat dan beberapa sempat merah penghargaan itu dicapai bukan tanpa kerja keras. Ia mengaku, selama 12 tahun berkarya dalam bidang film, ia selalu menonton film (khususnya dokumenter, baik hanya cuplikan atau keseluruhan) tiap harinya. Dari sana, ia akan mencontoh hal-hal yang ia anggap baik. “Bagi saya, itu merupakan cara terbaik untuk belajar,” kata Mustafa.&lt;br /&gt;Selama 12 tahun itu pula, Mustafa mengaku menemukan satu formula yang ia anggap selalu berlaku dalam penyajian suatu cerita. Formula itu adalah: a hero, a bad guy and a goal. Jadi, dalam sebuah cerita harus ada elemen pahlawan, pengganggu dan sebuah tujuan yang akan dicapai. Secara garis besar sebuah cerita itu menggambarkan keadaan dimana seorang lakon berusaha mencapai tujuannya di tengah gangguan-gangguan yang ada. “Sayamenemukan ketiga hal itu setelah berkali-kali melakukan kesalahan. Untuk itu, kita harus terus mencoba dan jangan pernah takut salah. Kesalahan akan membawa pelajaran bagi kita,” tutup Mustafa sore itu, diiringi tepuk tangan puas dari para audiens &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@211).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-3195608302815167284?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/3195608302815167284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/dua-jam-bersama-mustafa-davis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3195608302815167284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3195608302815167284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/10/dua-jam-bersama-mustafa-davis.html' title='DUA JAM BERSAMA MUSTAFA DAVIS.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qyf7LR2NShc/TogbUHVjRNI/AAAAAAAABJQ/SlXRkmKZMxQ/s72-c/WS%2Bin%2BBudur%2B02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1017124004292616944</id><published>2011-09-20T23:48:00.005+07:00</published><updated>2011-09-21T00:00:00.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>‘Workshop, Discussion and Screening with Mustafa Davis’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-B9YSU637kmw/TnjE27trvYI/AAAAAAAABJA/rDyMygucDyg/s1600/Mustafa%2BDavis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-B9YSU637kmw/TnjE27trvYI/AAAAAAAABJA/rDyMygucDyg/s320/Mustafa%2BDavis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654485780184939906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 20 September 2011.&lt;/span&gt; Setelah dua kali sukses menggelar acara ‘Pekan Film’, Borobudur Movie Links – unit kegiatan film dari www.borobudurlinks.com, dirangkul Kedutaan Besar Amerika Serikat (US Embassy/Cultural Affairs) akan menghelat acara bertajuk ‘Workshop, Discussion and Screening with Mustafa Davis’ pada Rabu (28/9) mendatang. Mustafa Davis, seorang filmmaker muslim dari AS rencananya akan melakukan lawatan ke beberapa kota di Indonesia sebagai seorang ‘cultural envoy’ dari tanggal 22-30 September. Pada kesempatan tersebut, Mustafa akan mengunjungi Jakarta, Yogyakarta, Magelang dan Palembang. Mustafa akan berada di Magelang selama satu setengah hari pada tanggal 27-28/9 mendatang. &lt;br /&gt;Setelah menemukan dan mengamati eksistensi Borobudur Movie Links lewat penelitian di internet, Kedubes AS menawarkan kerjasama untuk membuat serangkaian kegiatan terkait dengan kedatangan Mustafa Davis di Magelang. Rangkaian kegiatan yang dimaksud adalah, workshop singkat mengenai pembuatan film, diskusi dengan topik ‘Multiculturalism in American Arts’ dan pemutaran dua film pendek karya Mustava Davis. &lt;br /&gt;Dua film yang akan diputar berjudul ‘Wayward Son’ dan ‘Deen Tight’. Kedua film tersebut &lt;br /&gt;menyajikan fenomena muslim Amerika di tengah budaya pop Amerika seperti skateboard, musik hip-hop dan rap, breakdance serta graffiti –hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat tradisional Islam. Ada benturan antara idealita agama dan realita modernitas yang menimbulkan dilema di sana. Penyeimbangan antara budaya dan agama pun terus diupayakan. Dari sana, akan didapat berbagai pesan-pesan multikulturalitas yang relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang heterogen.&lt;br /&gt;Acara yang nantinya akan bertempat di Syang Art Space, Jalan MT Haryono 2, Magelang, ini ditujukan bagi para siswa dan filmmaker lokal Magelang (kota/kabupaten). Tujuan acara ini adalah menjadi sarana saling berbagai cerita dan pengalaman seputar fenomena kebudayaan dilihat dari kaca mata sinema. Tujuan tersebut sejalan dengan misi Borobudur Movie Links yang konsisten berupaya memperkenalkan film kepada masyarakat Magelang sebagai suatu proses kreatif yang menarik dan penting.&lt;br /&gt;Bagi Borobudur Movie Links sendiri, acara ini merupakan yang ketiga setelah sebelumnya telah berhasil digelar ‘Pekan Film Dokumenter Magelang’, pada bulan April 2011, dan ‘Pekan Film Pendek Magelang’, pada bulan Juni 2011. &lt;br /&gt;Antusiasme dan dukungan besar yang datang dari acara-acara sebelumnya, ditambah jaringan/ koneksi yang semakin luas dan terpercaya, menambah kepercayadirian Borobudur Movie Links untuk terus berkembang. Dengan dukungan dan bimbingan dari para senior seperti Mualim M. Sukethi (redaktur borobudurlinks.com), Hartanto (GrabagTV), Ridwan Muljosudarmo (Syang ArtSpace), dan Deddy PAW (perupa), komunitas yang beranggotakan para kawula muda ini terus berusaha menemukan inovasi-inovasi sehingga kegiatan positif seperti ini dapat berlangsung secara berkala. &lt;br /&gt;Keterangan lebih lanjut dan pendaftaran peserta, silakan hubungi: Rahita/Sekretaris (085878661101) dan Fatikh/Humas (081915448873). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RINCIAN KEGIATAN: ‘Workshop, Discussion and Screening with Mustafa Davis’.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1:30 – 3:30 p.m.&lt;br /&gt;Film workshop and discussion at Syang Art Space &lt;br /&gt;4 – 6 p.m.&lt;br /&gt;Film screening and discussion at Syang Art Space &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Topic&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Multiculturalism in American Arts&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Audience&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;60-75 local film makers and students&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Venue/Address&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syang Art Space&lt;br /&gt;Jl. MT Haryono No.2, Magelang 56122, Central Java&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Moderator/Interpreter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Team of Borobudur Movie Links&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Handouts&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Will be distributed&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SYNOPSIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wayward Son (38m7s).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ta'Leef Collective presents a Mustafa Davis film. WAYWARD SON - The Jordan Richter Story is the intimate story of professional skateboarder Jordan Richter and his rise and disappearance from the sport of Skateboarding. Jordan embraced the religion of Islam in the mid 90's and out of what he felt was a religious obligation, dropped out of the sport. 15 years later he realizes that skateboarding is not prohibited in Islam and starts competing again. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Deen Tight (1h2m20s).&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Music, considered taboo practice by many traditional Muslims, has also become one of the most prominent methods for Muslims to share their faith internationally through Muslim Hip Hop. Hip Hop is a global phenomenon reaching from the skyscraper laden skies of New York all the way to the deep deserts of Arabia and beyond. It is a subculture that transcends boundaries of language, gender, and religion. Deen Tight brings to the screen the untold story of Western Muslims struggling to find a balance between their culture and their religion.&lt;br /&gt;Filmed on location with Muslim rappers, DJs, slam poets, breakdancers and a graffiti artist in concerts, recording studios, at homes and in the streets. Our story focuses on the perceived conflict between traditional religious ideals and modernity, as well as both the positives and negatives of Western Pop culture on todays’ Muslim youth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;© 2011 Mustafa Davis, Inc&lt;br /&gt;ALL RIGHTS RESERVED&lt;br /&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1017124004292616944?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1017124004292616944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/09/workshop-discussion-and-screening-with.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1017124004292616944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1017124004292616944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/09/workshop-discussion-and-screening-with.html' title='‘Workshop, Discussion and Screening with Mustafa Davis’'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-B9YSU637kmw/TnjE27trvYI/AAAAAAAABJA/rDyMygucDyg/s72-c/Mustafa%2BDavis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1817956813744874266</id><published>2011-09-20T18:06:00.002+07:00</published><updated>2011-09-20T18:13:39.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>ARJUNA WIWAHA VERSI PETANI MAGELANG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-sbIlTBzOStk/Tnh1HAJrpsI/AAAAAAAABI4/XuW8saDqwwA/s1600/Wayang%2BSakral%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-sbIlTBzOStk/Tnh1HAJrpsI/AAAAAAAABI4/XuW8saDqwwA/s400/Wayang%2BSakral%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654398095323801282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 20 September 2011.&lt;/span&gt; Dedaunan di ranting pepohonan bergoyang-goyang diterpa embusan lembut angin malam itu, seakan mengikuti lantunan nyanyian berbahasa Jawa yang dibawakan dua penembang dengan iringan syahdu pukulan gamelan. Suara gemericik dari aliran air Sungai Pabelan Mati tertangkap gendang telinga, seolah-olah menjadi musik alam pengiring lagu berjudul "Kaduk Rena" yang ditembangkan Parwito dan Natalia, dua seniman Padepokan Tjipto Boedoyo dari lereng Gunung Merapi di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Satu-dua daun kering melayang-layang bagaikan mengikuti nada "ketawang", tanda irama halus lagu slendro "patet sanga" itu, melewati sorot lampu aneka warna dari berbagai sudut hingga jatuh di beberapa tempat, di panggung terbuka beralas tanah Studio Mendut, Kabupaten Magelang, sekitar 3,5 kilometer timur Candi Borobudur.&lt;br /&gt;"Ngin angin mangidit milir. Arum-arum lumrang banjaran sadi. Kedhep tesmak myang sekar nedheng umekar. Kaduk rena bermara ngisep sarine. Brengengeng si kumbang iku. Sirnaning lungkrah lan lesu. Kiber e elar ambabar. Laju miber-miberi lumayang ing awang-awang. Mencok ing pang rena anyanding kembang," demikian syair tembang Jawa gubahan komunitas seniman petani itu.&lt;br /&gt;Terjemahan bebas atas syair tembang itu adalah "Ketika angin bertiup, berbau harum karena bunga-bunga di sekitarnya. Harum bunga karena sedang mekar meminta kupu-kupu terbang dan mengisap sari madunya. Kupu-kupu terbang berdesing ketika bersuka hati mendapatkan madu yang bisa menghilangkan kesal dan lesu. Mereka melaju terbang, mengitari sekitar taman bunga. Terbang ke langit yang lebih tinggi dan mencari pohon bunga, lalu hinggap di dekat kembang itu".&lt;br /&gt;Tembang itu melantun ketika adegan empat penari putri menggambarkan bidadari bersuka ria di khayangan, masuk ke panggung pementasan sendratari Arjuna Wiwaha berdurasi sekitar 1,5 jam dengan sutradara Sitras Anjilin (Pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo) yang disuguhkan secara eksklusif kepada sejumlah wisatawan mancanegara.&lt;br /&gt;Sebanyak 18 penari dan 18 penabuh gamelan memainkan pergelaran dengan penata tari Surawan, musik Simon Supriyanto, lampu Becak, instalasi panggung Ismanto dan Riyadi, serta personel pendukung lainnya yakni puluhan seniman petani anggota Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Anding, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh) Magelang. Sitras yang berselempang kain warna hitam di pundaknya, membuka pergelaran melalui performa ritual ditandai pembakaran belasan batang dupa dengan wadah periuk, di bawah patung batu setinggi sekitar 2,5 meter berjudul "Monumen Lima Gunung". Ia kemudian perlahan melangkahkah kakinya, mengitari satu kali panggung terbuka itu dalam balutan iringan tembang Jawa dua bait yang bersyair doa, dibawakan secara bersama-sama oleh para pengrawit.&lt;br /&gt;"Hyang Agung kang murbeng dumadi, tinebihna saking tolak sarik. Hyang Aung ingkang maha mirah, paring berkah rahmat lan hidayah". (Kira-kira terjemahannya "Tuhan pencipta dunia, jauhkan kami dari bahaya. Tuhan Maha Murah, memberi rahmat dan petunjuk", red.).&lt;br /&gt;Lakon Arjuna Wiwaha yang digelar seniman petani itu mengisahkan tentang penolakan Dewi Supraba (Novarina Rahanardei), bidadari dari khayangan Jonggringsaloka yang juga putri bungsu Batara Indra (Eka Ciptaning) terhadap lamaran raja raksasa Prabu Niwatakawaca (Darmawan). Niwatakawaca bersama prajurit raksasa lainnya mengamuk di khayangan dan mengancam keselamatan dunia karena Supraba menolak lamarannya.&lt;br /&gt;Adegan lain bercerita tentang laku tapa Arjuna dalam wujud Begawan Mintaraga (Widyo Sumpeno) di puncak Gunung Indrakila untuk mendapatkan pusaka dari para batara guna menyiapkan diri menghadapi perang Baratayuda. Arjuna menjadi pelaku utama dalam pergelaran ditandai dengan tatanan Studio Mendut yang tampak artistik di berbagai tempat antara lain berproperti puluhan lampu lilin berbedeng bentuk lingkaran dari pelepah pisang dan taburan kembang mawar di mana-mana, serta puluhan lelaki dan perempuan mengenakan pakaian adat Jawa itu.&lt;br /&gt;Terlihat hadir untuk menyaksikan pergelaran sendratari Arjuna Wiwaha itu antara lain pengamat budaya Universitas Akita Jepang, Yoshimi Miyake, General Manager Hotel Amanjiwo Borobudur, Mark Swinton, budayawan Borobudur, Ariswara Sutomo, dua penyair Magelang masing-masing Dorothea Rosa Herliany dan ES Wibowo, pengajar tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Joko Aswoyo, serta koreografer Solo, Eko Supendi.&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa Arjuna lolos dari berbagai godaan yang datang antara lain dari para raksasa dan binatang yang digambarkan sebagai sejumlah pelaku tokoh wayang, cakil (Martejo, Markayun, dan Untung Pribadi), saat bertapa sehingga mendapatkan pusaka berupa panah Pasopati dari Batara Guru. Ia juga diceritakan sempat terlibat perang tanding dengan Prabu Wilatarupa yang penjelmaan Batara Idra, saat secara tidak sengaja mereka bersama-sama membidikkan panah masing-masing untuk memanah celeng (Sumarno).&lt;br /&gt;Batara Indra mengutus Arjuna untuk memerangi Niwalakawaca bersama pasukan raksasanya yang mengancam kerusakan khayangan dan dunia. Arjuna juga dipertemukan dengan Supraba guna mengatur siasat mengalahkan Niwalakawaca. Berkat bantuan Supraba, kelemahan atas kesaktikan Niwalakaca terbaca oleh Arjuna. Ketika Niwalakaca berbicang-bicang dengan Supraba, Arjuna meluncurkan anak panah Pasopati tepat mengenai mulut Niwalakaca, tempat dimana kelemahan raja raksasa itu. Lakon itu digambarkan ditutup dengan pesta perkawinan secara meriah antara Arjuna dengan Supraba.&lt;br /&gt;Para penonton tampaknya menyimak secara tegun, bagaikan mencoba menyerap makna atas setiap adegan pementasan Arjuna Wiwaha, "masterpiece" gubahan Empu Kanwa yang diambil dari epos Mahabharata. Kisah kepahlawanan yang sarat makna itu telah berusia lebih dari 400 tahun. Apalagi, agaknya penonton telah ditarik perhatian renungannya dengan isi pidato singkat budayawan Magelang, Sutanto Mendut, sebelum pementasan itu, yang menyebutkan bahwa lakon Arjuna Wiwaha sebagai kisah perjalanan hidup kalangan ningrat dan identik dengan panggung pementasan di keraton.&lt;br /&gt;Tetapi malam itu, Arjuna Wiwaha digarap dan disuguhkan oleh para petani Gunung Merapi di panggung alam dengan pepohonan di sekeliling yang berhias berbagai karya rupa patung batu, relief, dan beralas tanah bercampur abu vulkanik sisa letusan Gunung Merapi akhir 2010.&lt;br /&gt;"Dalam kisah ini anda bisa melihat, mungkin suatu cerita percintaan atau cinta yang natural, atau sejarah politik. Tetapi kisah ini adalah suatu getaran jiwa psikologis yang dirancang untuk membangun suatu pemikiran ulang tentang pandangan terhadap kehidupan atau kehidupan pribadi," katanya.&lt;br /&gt;Satu ikhwal mungkin menarik pula, lakon Arjuna Wiwaha yang identik dengan pementasan ningrat di keraton, tetapi hingga menjelang tengah malam itu disajikan petani di panggung terbuka beralas tanah. Bagi Sitras yang komunitas seniman petani padepokannya berbasis kesenian wayang orang, lakon Arjuna Wiwaha ditarik menjadi pergelaran perenungan atas suatu perjalanan hidup siapa pun manusia untuk meraih puncak-puncak keberhasilan. "Supaya tidak mudah menyerah," katanya.&lt;br /&gt;Mark Swinton yang warga negara Amerika Serikat itu dengan bahasa Indonesia terdengar terbata-bata mengungkapkan apresiasinya terhadap pentas Arjuna Wiwaha oleh seniman petani gunung setempat. "Terima kasih banyak saya bisa menyaksikan. Ini pementasan dengan 'atmosfer' bagus, natural, dan menyentuh hati," katanya.&lt;br /&gt;Yoshimi Miyake yang pengajar sosio linguistik Jurusan Studi Komunikasi Internastional Universitas Akita Jepang itu bahkan mengaku tak menyangka saat lawatan kembali ke Indonesia kali ini bakal mendapatkan kesempatan menikmati sendratari Arjuna Wiwaha yang disajikan seniman petani. "Saya tidak pikirkan akan ada kesempatan bisa menikmati seperti ini. Saya lihat banyak godaan bisa ditolak Arjuna. Saya tertarik dengan semua gerak tarian yang dimainkan komunitas ini," kata Yoshimi dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Yoshimi yang nampaknya mengerti secara baik tentang cerita Arjuna Wiwaha itu mengapresiasi pergelaran tersebut dengan sebutan "mengharukan". "Mengharukan. Saya bahagia ada unsur yang baru. Saya melihat pemain desa ini. Ini mutu tinggi dari orang desa, bisa mengolaborasi desa dengan kebudayaan keraton dalam cara yang lebih bagus. Situasi yang hangat bagi kebersamaan, natural. Sempurna," katanya.&lt;br /&gt;Meski dengan jumlah penonton terbatas namun tetap bernuansa pergelaran eksklusif, aplaus mereka pada akhir suguhan cengkerama Arjuna Wiwaha dengan petani Gunung Merapi, seakan tak ingin berkesudahan (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ANTARA Jateng.com). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1817956813744874266?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1817956813744874266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/09/arjuna-wiwaha-versi-petani-magelang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1817956813744874266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1817956813744874266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/09/arjuna-wiwaha-versi-petani-magelang.html' title='ARJUNA WIWAHA VERSI PETANI MAGELANG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-sbIlTBzOStk/Tnh1HAJrpsI/AAAAAAAABI4/XuW8saDqwwA/s72-c/Wayang%2BSakral%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-6423986352078647402</id><published>2011-07-13T06:07:00.002+07:00</published><updated>2011-07-13T06:10:48.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>SUGUHAN PETANI DI PUNCAK FESTIVAL 5 GUNUNG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-hmYeCvwOKHQ/ThzURC3CmXI/AAAAAAAABIs/Sq6TaeCMFVc/s1600/Drumband%2Bdi%2BF5g.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hmYeCvwOKHQ/ThzURC3CmXI/AAAAAAAABIs/Sq6TaeCMFVc/s320/Drumband%2Bdi%2BF5g.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628607023596870002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh M. Hari Atmoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 12 Juli 2011.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ciptaningsun mring kang Maha Suci. Tata lahir, donya, lan delahan. Diwaspada piandele, mulyaning kang Maha Agung. Yoden udi kawruhing batin. Ciptaning manungsatama. Tata, titip, tutuk. Dimenkanggo patuladhan. Mula kanca ayo padha amarsudi. Laku tembang kautaman".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syair tembang berbahasa Jawa itu dilantunkan pemimpin peguyuban "Andong Jinawi" salah satu anggota Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Supadi Haryono, saat puncak Festival Lima Gunung ke-10, Minggu (10/7), di Dusun Keron, Desa Krogowanang, Kecamatan Sawangan, kawasan antara Merapi dengan Merbabu.&lt;br /&gt;Lelaki yang sehari-hari bertani dan bakul sayuran antarkota itu mengenakan balutan kain warna hitam dan tutup kepala "iket" dengan beberapa goresan cat hitam di wajahnya menggambarkan sosok kharismatis desa. Ia duduk bersila dikelilingi tiga barisan melingkar 15 pelaku performa drama tari di panggung alam festival dengan instalasi bahan alam dari dedaunan kering membentuk simbol gunung.&lt;br /&gt;"Itu syair tembang Jawa, ’Dhandhang Gula’, mengingatkan manusia ciptakaan Tuhan yang harus selalu waspada dan percaya akan kemuliaan Tuhan, selalu menata diri, teliti, dan mencari ilmu setinggi mungkin, supaya hidupnya menjadi teladan untuk lainnya," katanya.&lt;br /&gt;Festival tahunan ke-10 yang diselenggarakan secara mandiri oleh seniman petani komunitas itu mengangkat tema besar "Tembang Kautaman". Setiap grup kesenian menyuguhkan karya tembang sebagai bagian dari karya mereka baik tarian tradisional, kontemporer, dan kolaborasi.&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, situasi kehidupan masyarakat yang diwarnai dengan berbagai kesulitan dan keprihatinan dalam berbagai aspek mestinya membuka kesadaran semua orang untuk segara mencari jalan keutamaan. "Itu kira-kira maksud tembang tersebut," katanya.&lt;br /&gt;Pementasan dalam bentuk gerak tari dan performa doa itu dimainkan oleh penari laki-laki dan perempuan, mengesankan suguhan elitis orang gunung saat menyampaikan nilai-nilai keutamaan hidup.&lt;br /&gt;Delapan penari perempuan masing-masing mengenakan kain warna kuning gading dengan selendang kuning keemasan, dan tatanan gelung rambut dengan properti bunga-bunga warna kuning. Masing-masing membawa piring dari anyaman rotan berisi berbagai macam bunga dengan aneka warna.&lt;br /&gt;Penari lelaki yang berjumlah delapan masing-masing membawa kendil berisi kemenyan, berbalut kain hitam, dan tutup kepala "belangkon", sedangkan Supadi yang tampil sebagai tokoh spritiual gunung itu membawa bokor berisi air kembang.&lt;br /&gt;Ia menunjukkan gerak tarian sambil memercikkan air dari bokor itu dengan daun pandan kepada ribuan penonton yang memadati panggung utama festival.&lt;br /&gt;Para penari putri dengan gerak lemah gemulai juga menaburkan kembang di tengah panggung terbuka itu, sementara tabuhan musik gamelan beritme takzim terus mengiring pergelaran berdurasi 15 menit tersebut.&lt;br /&gt;Sejumlah konfigurasi gerak mereka diiringi beberapa nomor musik gamelan dari atas panggung bambu dengan instalasi rangkaian dedaunan kering dan batang kering pohon jagung itu mengesankan karya yang khusus mereka ciptakan untuk FLG ke-10 itu menjdi elitis, agung, dan bertutur cerita.&lt;br /&gt;Grup itu terdiri atas para seniman petani holtikultura berasal dari Gunung Andong, Desa Mantran, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.&lt;br /&gt;Saat suasana puncak festival sepanjang Minggu (10/7) siang yang cerah itu, para seniman, budayawan, dan pemerhati seni, serta puluhan fotografer berasal dari berbagai kota hadir menyaksikan dan merekam dengan kamera atas even budaya tersebut.&lt;br /&gt;Mereka antara lain Pemimpin Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori, penari Eko "Madonna" Supriyanto, pengajar Institut Kesenian Jakarta Sal Murgiyanto, dan pengajar tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Joko Aswoyo, Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Khusaeni, pelukis apel, Dedy Paw.&lt;br /&gt;Para petinggi KLG antara lain Sutanto Mendut, Sitras Anjilin, Riyadi, Sumarno, Sarwo Edi, Ki Ipang, Ismanto, Handoko, Timbul, dan Sujono.&lt;br /&gt;"Itu ekspresi yang kami suguhkan saat puncak festival ini. Kami tetap petani desa yang kecil. Kalau kami mementaskan karya itu, bukan supaya bisa terkenal, tetapi hanya mengungkapkan suara hati dan meneruskan tradisi berkesenian," katanya.&lt;br /&gt;Puncak festival itu ditandai pemukulan gong oleh para tokoh KLG dan kirab budaya dipimpin Ismanto yang mengenakan properti alam seakan menggambarkan manusia pedalaman, diiringi dengan puluhan anak mengenakan kain hitam dan properti dari karung goni di pundak, pinggang, dan kaki.&lt;br /&gt;Kirab budaya itu melewati jalan-jalan sempit di kampung berpenduduk sekitar 80 keluarga atau 250 jiwa. Tabuhan aneka musik terdengar sepanjang kirab tersebut. Di beberapa tempat terutama sudut-sudut jalan selebar sekitar 1,5 meter di kampung terpampang instalasi seni beraneka ragam.&lt;br /&gt;Sebelumnya, seniman petani Sanggar Wonolelo, Bandongan, Magelang, menggelar ritual "Terlahir" ditandai dengan pemotongan rambut pemimpin grup itu, Ki Ipang, yang telah dipelihara selama sembilan tahun terakhir.&lt;br /&gt;Para pemimpin KLG satu per satu memotong rambut Ki Ipang yang mengenakan balutan kain hitam dan putih, di tengah panggung dengan menggunakan arit, sedangkan tembang "Madyo Pituturan yang diiringi tabuhan alat musik terbang dan jedor tak henti terdengar selama performa itu.&lt;br /&gt;Ia kemudian didampingi sesepuh masyarakat Keron, Abu Yamin (70), menjalani kirab budaya sebagai pembuka pementasan pucak festival yang terkesan meriah itu.&lt;br /&gt;Pementasan yang mencatatkan kesan karya elitis oleh seniman desa dan gunung setempat juga disuguhkan oleh grup "Wargo Budoyo Sumbing" pimpinan Riyadi, yang juga Kepala Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Magelang, di kawasan Gunung Merbabu.&lt;br /&gt;Saat puncak festival itu mereka mementaskan garapan berlanjut berjudul "Jazz Gladiator Gunung" yang terdiri atas empat tarian baik tradisional maupun kontemporer yakni "Kipas Mega" (delapan penari perempuan), "Geculan Bocah" (delapan anak), "Gupala Gunung" (delapan pemuda), dan "Soreng" (tujuh penari dewasa).&lt;br /&gt;Suguhan tarian itu diiringi sejumlah nomor musik dinamis dari tabuhan alat musik terbang, truntung, kendang, bende, drum, dan gong. Sesekali para pemain meneriakkan yel-yel menguatkan gerakan tarian para seniman.&lt;br /&gt;"Jalan-jalan di kantong ati, lihat orang putih dan kuning, rambut panjang di atas akar gelung tekuk, menjadi ati," demikian salah satu syair tembang mereka.&lt;br /&gt;"Suguhan ini menunjukkan orang gunung sebagai petarung," kata Riyadi.&lt;br /&gt;Lain lagi dengan para seniman petani "Cahya Budoyo Sumbing" pimpinan Juwahir Sarwo Edi. Mereka menyuguhkan performa tarian rakyat "Lengger" yang selama ini terus mereka lestarikan di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Magelang, kawasan Gunung Sumbing.&lt;br /&gt;Performa yang terlihat memikat ribuan penonton itu ditandai dengan seorang seniman, Suwakir yang mengenakan properti berewok di wajahnya dan berbalut kain hitam, diiring dua penari lengger Sumirah dan Sariyatun, membawa kemeyan setumpuk di tengah panggung. Dibakarnya kemenyan itu hingga asapnya mengepul.&lt;br /&gt;Syair tembang berjudul "Ngundang Dewa" (Memanggil desa, red.) terdengar melantun. "Menyan putih sing ngundang dewa. Ono dewa sing ngundang sopo. Widadari angger, sampeyan tumuruna. Ojo suwe mesakake karo dedalahan lengger e".&lt;br /&gt;"Itu tembang yang maksudnya berdoa kepada Tuhan memohon berkah untuk apa yang dikerjakan petani," kata Sarwo Edi.&lt;br /&gt;Tak seberapa lama kemudian tabuhan musik gamelan pengiring tarian masuk ke nomor berikutnya untuk mengiring sajian tarian keprajuritan "Embek" oleh delapan penari laki-laki yang masing-masing membawa sepotong bambu berwarna putih.&lt;br /&gt;Dua pasang penari yakni Sumirah-Pujianto dan Sariyatun-Parjudi" menyuguhkan nomor lengger berjudul "Sontoloyo", tarian sederhana dan riang yang menggambarkan orang desa menggiring bebek.&lt;br /&gt;Sajian lainnya saat puncak festival itu antara lain tarian "Kuda Lumping", "Truntung Jemari Bumi", "Topeng Ireng", "Grasak", "Wayang Orang", dan "Kukilo Gunung".&lt;br /&gt;Seniman petani komunitas itu hingga saat ini telah menggelar karya mereka saat berbagai even baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional di berbagai kota besat.&lt;br /&gt;Eko Supriyanto menyatakan bangga mendapat kesempatan menyaksikan FLG ke-10 yang digelar secara mandiri oleh seniman petani KLG.&lt;br /&gt;"Saya bangga melihat festival ini. Sebagai warga Magelang hingga saat ini masih merasakan kekuatan kesenian di sini. Dulu saya sering main ’Jatilan’, sekarang masih melihat tarian ’soreng’. Terasa kembali ke desa," katanya.&lt;br /&gt;Sal Murgiyanto menyatakan kagum atas penyelenggaraan FLG karena inisiatifnya justru dari kalangan bawah. Berbeda dengan festival di Bali yang megah karena ditopang pemerintah.&lt;br /&gt;"FLG prakarsa sendiri. Sepuluh tahun yang kesepuluh mendatang, apa yang akan terjadi dengan inisiatif dari bawah ini. Ada keakraban yang kuat lewat festival kebudayaan yang menyuguhkan tarian, sastra, musik, dan drama ini," katanya.&lt;br /&gt;Mereka yang para seniman petani gunung itu, katanya, menemukan wadah silaturahim melalui festivalnya.&lt;br /&gt;Suguhan berbagai karya tarian Komunitas Lima Gunung yang terkesan elitis saat puncak festivalnya pada 2011 itu dengan mendapatkan tepukan tangan ribuan penonton dan meraup sanjungan pengamat bukanlah menjadikan mereka bersombong hati.&lt;br /&gt;Usai festival tahunan, mereka kembali ke lahan tanaman sayuran, bergelut dengan sapaan alam gunung, dan menjalani tradisi budaya desa masing-masing. Mereka tetap petani, dengan genggaman keutamaan gunung. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA Jateng.com).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-6423986352078647402?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/6423986352078647402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/07/suguhan-petani-di-puncak-festival-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6423986352078647402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6423986352078647402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/07/suguhan-petani-di-puncak-festival-5.html' title='SUGUHAN PETANI DI PUNCAK FESTIVAL 5 GUNUNG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hmYeCvwOKHQ/ThzURC3CmXI/AAAAAAAABIs/Sq6TaeCMFVc/s72-c/Drumband%2Bdi%2BF5g.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5691427278023457384</id><published>2011-06-30T23:50:00.001+07:00</published><updated>2011-06-30T23:53:31.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>GEREGET FESTIVAL TANPA BEREMBUG DUIT.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_EIlK869FWE/Tgyp60_D1KI/AAAAAAAABIk/UMrtyJkED_o/s1600/Warok%2Bbocah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_EIlK869FWE/Tgyp60_D1KI/AAAAAAAABIk/UMrtyJkED_o/s320/Warok%2Bbocah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624056862799549602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks,  25 Jun 2011.&lt;/span&gt; “Saya mengingatkan bahwa festival ini tidak merembuk duit, sesuai dengan 'janji suci' kita waktu itu," kata Riyadi saat rapat panitia Festival Lima Gunung (FLG) ke-10. Festival mendatang rencananya berpuncak pada 10 Juli 2011, di kawasan antara Gunung Merapi dengan Merbabu, di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Riyadi adalah salah satu pemimpin penting seniman petani Komunitas Lima Gunung (KLG) yang meliputi Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Dia yang juga pengelola padepokan "Wargo Budoyo Gejayan", di lereng Merbabu itu adalah Ketua Panitia FLG ke-9 pada 2010 yang dipusatkan di kawasan Menoreh.&lt;br /&gt;Ketika itu para pemimpin KLG menorehkan tanda tangan di tanah, di panggung terbuka tepi Kali Pabelan Mati, Studio Mendut, sekitar 3,5 kilometer timur Candi Borobudur. Tanda tangan antara lain oleh Sitras Anjilin dan Ismanto (pemimpin komunitas Merapi), Riyadi dan Handoko (Merbabu), Sumarno (Sumbing), Supadi (Andong), dan Sutanto (Menoreh) itu memantapkan komitmen menggelar festival tahunan tanpa bicara duit dan sponsor.&lt;br /&gt;Tak ada yang merespons secara berlebihan ketika Riyadi mengingatkan komitmen festival mandiri mereka itu, ketika pertemuan panitia di Sanggar Wonolelo Bandongan, Kabupaten Magelang, pimpinan Ki Ipang beberapa waktu lalu. Mereka seolah sudah memahami secara mendalam dan bukan menjadikan persoalan yang harus dirembuk, terkait komitmen festival mandiri tanpa berembuk duit. Padahal, andaikan dikalkulasi berdasarkan nominal uang, total biaya festival mereka bisa mencapai puluhan juta rupiah.&lt;br /&gt;"Kesepakatan itu harus terus kita pegang dan jalankan. Itu salah satu ruh dari festival kita," kata Ketua Umum Panitia FLG ke-10, Ismanto. Mereka telah sepakat tidak akan mengedarkan proposal bantuan atau meminta sponsor kepada pihak manapun untuk festival tahunannya.&lt;br /&gt;Sekitar tujuh kali para pemimpin KLG bertemu di tempat berpindah-pindah untuk membicarakan persiapan festival 2011 yang diperkirakan bakal menyedot lima ribu orang baik seniman petani komunitas itu, masyarakat penonton dan penikmat seni budaya, maupun kalangan seniman beberapa kota itu, mereka tidak berbicara masalah duit. Segala pembicaraan fokus kepada pergelaran yang bakal mereka suguhkan termasuk kesiapan teknis tuan rumah, warga petani Dusun Keron, dengan kekuatan seniman petani Sanggar Saujana pimpinan Sujono.&lt;br /&gt;Pembicaraan hangat dengan bumbu kental sendau gurau menyangkut tema festival ke-10 harus mereka lakukan hingga dua kali pertemuan. Setelah Sitras Anjilin yang juga pemimpin Padepokan "Tjipto Boedojo Tutup Ngisor" di lereng Merapi, pengusul pertama atas tema festival, pada pertemuan berikutnya semua pemimpin KLG sepakat mengusung "Tembang Kautaman" sebagai tajuk FLG 2011.&lt;br /&gt;Pemimpin grup "Cahyo Budoyo Sumbing" Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Sumarno, menyebut festival tahunan oleh seniman petani komunitas itu sebagai ajang tertinggi silaturahim mereka. "Festival kita ini sesungguhnya untuk mengungkapkan kegembiraan kita sebagai anggota komunitas. Kesempatan penting kita silaturahmi antarkomunitas. Kita ingin bersenang-senang, kalau ternyata yang lain ikut senang, datang, dan yang menonton banyak, kami pasti tambah senang," kata lelaki tua itu dalam bahasa Jawa.&lt;br /&gt;Saking penginnya petani Keron sebagai tuan rumah festival itu, Sujono pun meyakinkan kepada panitia dengan menyodorkan tanda-tangan seluruh warga setempat yang berjumlah hampir 80 kepala keluarga termasuk di antara mereka beberapa perangkat desa setempat. Bahkan, kata Sujono yang juga pemimpin "Sanggar Saujana Keron" dengan karya utama tarian kontemporer desa "Topeng Suajana" itu, beberapa komunitas kesenian tradisional sekitar dusun setempat berkeinginan kuat turut memeriahkan festival tersebut.&lt;br /&gt;"Ada sekitar lima grup kesenian di sekitar desa kami yang tidak ingin melewatkan kesempatan setiap tahun sekali yang dibuat selama ini oleh teman-teman Lima Gunung (KLG,red.). Kami minta tambahan sehari sebelumnya (9/7) untuk mereka pentas," katanya.&lt;br /&gt;Sejumlah warga setempat, sempat beberapa kali getol bertanya kepada dirinya tentang iuran uang yang harus disetorkan untuk mendukung suksesnya Keron sebagai tuan rumah festival. "Saya tidak menjawab pertanyaan seperti itu, tetapi akhirnya mereka tahu sendiri harus berbuat dan urunan apa. Misalnya warga urunan bambu dan keperluan lainnya untuk membuat properti di desa, kami juga sudah mengatur rencana gorong royong menghias desa, tanpa umbul-umbul perusahaan sponsor," katanya.&lt;br /&gt;Belasan pemuda setempat secara spontan merencanakan performa ritual di tepi dusun itu bertepatan dengan matahari terbit, Jumat (1/7). Mereka akan mengusung tumpeng dari dusun menuju lokasi khusus dengan latar belakang Gunung Merapi dan Merbabu, untuk berdoa sebagai pembuka seluruh warga bergotong royong menyiapkan tempat festival.&lt;br /&gt;"Kalau dipikir-pikir, festival ke-10 yang rencananya sehari (10/7), akan menjadi 10 hari. Kami ingin setiap apa yang kami rencanakan dan lakukan, menjadi bagian dari festival itu sendiri. Ini kelihatannya menarik," katanya.&lt;br /&gt;Pihak panitia telah menyusun agenda festival khususnya pementasan yang bakal diawali dengan kirab budaya seluruh seniman petani KLG melewati jalan desa di Keron dilanjutkan pemukulan gong di arena utama oleh para pemimpin komunitas itu, pembacaan puisi, dan orasi budaya. Empat arena rencananya disiapkan di dusun itu untuk festival tersebut. Setiap anggota KLG, sebelum mementaskan karya seni tradisional, kontemporer, performa, dan kolaborasi, bakal menyuguhkan karya tembang berbahasa Jawa masing-masing, yang berintikan seruan dan nasihat tentang nilai-nilai keutamaan hidup baik sebagai individu dan bersama, pentingnya melestarikan alam, menjaga keutuhan bangsa dan negara, serta keutamaan budaya bangsa.&lt;br /&gt;Berbagai pementasan itu antara lain performa "Terlahir", tembang "Madyo Pitutur", dan tarian "Gojek Bocah" (Sanggar Wonoseni Bandongan), tarian "Lengger Argo Kencono" (Cahyo Budoyo Sumbing), "Grasak" (Lumaras Budoyo Petung). Selain itu, tarian kontemporer "Jazz Gladiator Gunung" dan performa musik "Truntung Jemari Bhumi" (Padepokan Wargo Budoyo Gejayan), drama tari "Andong Jinawi" (Bekso Turonggo Mudo Mantran), tarian tradisional "Kuda Lumping" (Dayugo Merbabu), "Piano Pinggir Kali" (Studio Mendut), "Topeng Ireng" (Sanggar Warangan Merbabu), "Wayang Orang" (Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor), tarian kontemporer desa "Kukilo Gunung" (Sanggar Saujana Keron).&lt;br /&gt;Kalangan wartawan juga menyiapkan pameran foto "Magelang Dalam Bingkai" dan peluncuran buku karya wartawan setempat Solahuddin Al Ahmed berjudul "Jalan Sufi Seniman Merapi", sedangkan Ismanto menggelar pameran tunggal lukisan bertajuk "Ritual". Beberapa kalangan seniman seperti berasal dari Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta juga telah meminta kesempatan kepada panitia untuk bisa tampil pada festival mendatang.&lt;br /&gt;Pemimpin Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), menyatakan pentingnya festival itu sehingga telah menjadwalkan untuk kehadirannya di tengah-tengah seniman petani KLG. "Wajib bagi saya untuk datang, kumpul dengan 'kanca-kanca' (teman-teman, red.) Lima Gunung. Insya Allah saya datang," katanya.&lt;br /&gt;Ia mengemukakan, seniman petani KLG menjadi bagian penting proses kebudayaan di Tanah Air justru karena mereka terus menerus menggali kearifan lokal. Mereka, katanya, secara tekun menelusuri berbagai nilai keutamaan atas kehidupan desa dan gunung yang diungkapkan melalui berbagai karya seni dan penguatan tradisi berkomunitas.&lt;br /&gt;Budayawan Magelang yang juga pemimpin tertinggi KLG, Sutanto Mendut, menyebut manajemen desa sebagai modal mereka secara mandiri membiayai festival. Mereka, katanya, senang berkesenian dan gembira menggeluti kebudayaan gunungnya.&lt;br /&gt;"Mereka juga terus menerus menjalani tradisi bertani. Mereka hidup dari panenan kobis, tembakau, dan lombok. Mereka akrab dengan jejaring sosial 'facebook' dan telepon seluler, tetapi juga melaksanakan warisan lelulur berupa ritual untuk menjaga alam berdasarkan kalender desa masing-masing. Mereka memperkuat jalan hidupnya melalui kebudayaan dan keseniannya," katanya.&lt;br /&gt;Kehidupan mereka sehari-hari, katanya, bukan berarti tidak butuh duit. Mereka adalah individu dan masyarakat desa yang tinggal di kawasan gunung-gunung secara lumrah. "Hanya saja, untuk festivalnya mereka memupuk kebanggaan hati sebagai sosok dan komunitas mandiri," katanya&lt;br /&gt;Maka, tanpa merundingkan masalah uang mereka bergereget atas festivalnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Hari Atmoko/ANTARA  Jateng News). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-5691427278023457384?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/5691427278023457384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/gereget-festival-tanpa-berembug-duit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5691427278023457384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5691427278023457384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/gereget-festival-tanpa-berembug-duit.html' title='GEREGET FESTIVAL TANPA BEREMBUG DUIT.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_EIlK869FWE/Tgyp60_D1KI/AAAAAAAABIk/UMrtyJkED_o/s72-c/Warok%2Bbocah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3284254522648150045</id><published>2011-06-30T23:38:00.003+07:00</published><updated>2011-06-30T23:48:38.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>JADWAL LENGKAP FESTIVAL 5 GUNUNG 2011.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nwKFquNnIHM/TgyoLSd7I9I/AAAAAAAABIU/DsHkxD6hAI0/s1600/Peta%2BDususn%2BKeron..jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nwKFquNnIHM/TgyoLSd7I9I/AAAAAAAABIU/DsHkxD6hAI0/s320/Peta%2BDususn%2BKeron..jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624054946568283090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lokasi Acara: DUSUN KERON, DESA KROGOWANAN, KECAMATAN SAWANGAN, KABUPATEN MAGELANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU, 9 Juli 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.00 – 11.00 “Topeng Ireng Bocah” dari Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;11.00 – 12.00 Pembukaan Pameran Foto dan Peluncuran Buku ''Jalan Sufi Seniman Merapi'' karya Sholahuddin al-Ahmed&lt;br /&gt;12.00 – 13.00 Istirahat, Sholat dan Makan&lt;br /&gt;12.00 – 13.45 “Topeng Ireng Wargo Budoyo” dari Dusun Ngelulang, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;13.50 – 14.20 “Grasak Kebo Giro” dari Dusun Bandongan, Desa Gondosuli, Kec Muntilan&lt;br /&gt;14.25 – 15.20 “Topeng Ireng Jimat Kalimosodo” dari Dusun Bawangan, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;15.15 – 15.45 “Grasak Butho Ijo” dari Dusun. Sewukan, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;15.50 – 16.35 “Jathilan Turonggo Mudo” dari Dusun Gantang, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;16.45 – 16.55 “Smaradana” karya Nungki Nur Cahyani dari Jogjakarta&lt;br /&gt;19.00 – 19.08 “Bajidor Kahot” oleh Sekar Manggala dari Surakarta&lt;br /&gt;19.10 – 20.55 Pemutaran Film “Babat Wonosobo” dan “Lengger Terakhir” Sutradara Hengky Bambang Supriyatno&lt;br /&gt;21.00 – 22.30 Pemutaran Film oleh komunitas Borobudur Movie Links&lt;br /&gt;1. Dunia Kecil Dalam Kotak Sutradara :Ginanjar Teguh Iman / Herlina Ratna Furi 2. Menari Dengan Angin Sutradara :Ginanjar Teguh Iman 3. Slenggrong Sutradara :Risdiyanto/Aris 4. Sekolah Demokrasi Sutradara :Abdul Latip Khoirudi 5.Topeng Kertas Sutradara :Deni Dwi Kurniawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MINGGU, 10 Juli 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-vgnMz8cAETk/Tgyopu08CpI/AAAAAAAABIc/HPfhPf78AgA/s1600/Ismanto%2Bperform%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vgnMz8cAETk/Tgyopu08CpI/AAAAAAAABIc/HPfhPf78AgA/s320/Ismanto%2Bperform%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624055469577079442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10.00 – 10.30 Drum Band SD IT Sawangan&lt;br /&gt;10.30 – 11.30 Drum Band SMP Santa Maria, menghatar ke lokasi Pameran Foto, Ritual dan Pentas Pembukaan ABBAL, Muntilan&lt;br /&gt;11.30 – 13.00 Istirahat, Sholat dan Makan&lt;br /&gt;13.00 – 13.15 Perfomance “TERLAHIR”&lt;br /&gt;13.15 – 14.00 Arak – arakan dan “Madyo Pitutur” dari Dusun Wonolelo, Desa Wonolelo, Kec. Bandongan di arena&lt;br /&gt;14.00 – 14.15 Pembukaan dan Pemukulan Gong oleh pemimpin dari masing-masing Gunung &lt;br /&gt;14.15 – 14.45 “Lengger Argo Kencono” dari Dusun Krandengan, Desa Suko Makmur, Kec. Kajoran&lt;br /&gt;14.55 – 15.15 “Grasak” dari Dusun Petung, Desa Petung, Kec. Pakis&lt;br /&gt;15.25 – 16.00 “Jazz Gladiator Gunung” Dusun Gejayan, Desa Bnyusidi, Kec. Pakis&lt;br /&gt;16.10 – 16.30 “Drama Tari” dari Dususn Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kec. Ngablak&lt;br /&gt;16.40 – 16.55 “Gojek Bocah” dari Dusun Wonolelo, Desa Wonolelo, Kec. Bandongan&lt;br /&gt;17.00 – 17.30 “Kuda Lumping” dari Dusun Dayugo, Desa Banyusidi, Kec. Pakis&lt;br /&gt;17.30 – 19.00 Istirahat, Sholat dan Makan&lt;br /&gt;19.00 – 19.15 “Truntung Jemari Bhumi” Dusun Gejayan, Desa Bnyusidi, Kec. Pakis&lt;br /&gt;19.25 – 19.45 “Topeng Ireng” dari Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kec. Pakis&lt;br /&gt;19.55 – 20.15 “Wayang Orang” dari Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kec. Dukun&lt;br /&gt;20.25 – 20.45 ISI SOLO&lt;br /&gt;20.55 – 21.25 “Kukilo Gunung” dari Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Sumber: Panitia F5G 2011/Ari Kusuma).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-3284254522648150045?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/3284254522648150045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/jadwal-lengkap-festival-5-gunung-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3284254522648150045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3284254522648150045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/jadwal-lengkap-festival-5-gunung-2011.html' title='JADWAL LENGKAP FESTIVAL 5 GUNUNG 2011.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nwKFquNnIHM/TgyoLSd7I9I/AAAAAAAABIU/DsHkxD6hAI0/s72-c/Peta%2BDususn%2BKeron..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7845511077519271744</id><published>2011-06-05T13:15:00.012+07:00</published><updated>2011-06-06T09:33:30.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>MAGELANG MENGGELAR PEKAN FILM PENDEK.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-MSc-xhwQ5BM/TesfjqQ3H3I/AAAAAAAABHs/qFniQYr_SvE/s1600/Foto%2BSyang%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-MSc-xhwQ5BM/TesfjqQ3H3I/AAAAAAAABHs/qFniQYr_SvE/s320/Foto%2BSyang%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614616057948348274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 5 Mei 2011. Kebutuhan masyarakat dan komunitas film di Magelang untuk bersosialisasi ternyata cukup tinggi. Hal itu nampak pada antusiasme penonton film dan peserta diskusi saat diadakan ‘Pekan Film Dokumenter Magelang’, April 2011, lalu.  Menyambung sukses pekan film documenter itu, komunitas yang menyebut diri ‘Borobudur MOVIE Links’, kembali menggelar hajatan serupa. Kali ini mereka akan menggelar berbagai film pendek pada hajatan yang disebut ‘PEKAN FILM PENDEK MAGELANG 2011’.&lt;br /&gt;"Gairah para pembuat film di Magelang harus disalurkan. Kebutuhan untuk saling bertemu dan berinteraksi antar pembuat film dan masyarakat itulah yang mendorong kami meneruskan hajat pekan film ini, " kata Ginanjar Teguh Iman, Ketua Panitia 'Pekan Film Pendek Magelang 2011'.&lt;br /&gt;Hajatan yang akan berlangsung antara tanggal 14-19 Juni 2011, ini dimaksudkan sebagai ajang presentasi pembuat film pendek Magelang. Selain film documenter, keberadaan film pendek ternyata juga cukup banyak di sekitar wilayah Magelang Raya (kota dan kabupaten). Setidaknya sekitar 20 film pendek karya sineas Magelang akan diputar pada pekan film kali ini.&lt;br /&gt;Menurut ginanjar, selain jumlahnya yang lumayan banyak, beragam tema unik ditemukan pada kebanyakan film pendek itu. Karena itulah tema film kali ini adalah 'Ini Filmku, Mana Filmmu'.&lt;br /&gt;"Tak bisa dipungkiri, film pendek adalah semacam pintu masuk bagi para pembuat film pemula dalam memasuki dunia film. Mungkin secara teknis masih jauh dari sempurna, tapi uniknya film pendek justru terletak pada kepolosan dan kejujurannya. Lebih personal...gitu loh, " terang Ginanjar.&lt;br /&gt;Ke-20 judul film itu berasal dari berbagai kalangan. Ada yang dibuat masyarakat umum, mahasiswa, dan siswa/I SMU/SMK. Yang menarik adalah keberadaan ‘Komunitas Anak Matahari’ dari Muntilan, yang menyertakan sedikitnya lima judul film, yaitu ‘Slenggrong’, ‘Sekolah Demokrasi’, ‘Topeng Kertas’, ‘Bintang Buat Bintang’, dan ‘Jangkah Jangkah Tumapak’.  &lt;br /&gt;Selain jumlahnya mendominasi, sehingga perlu dibuat sesi pemutaran secara khusus, kualitas teknis sinematografis maupun tematis karya ‘Anak Matahari’ juga tergolong istimewa. Setidaknya berada di atas rata-rata film-film karya sineas Magelang umumnya. Film-film karya ‘Anak Matahari’ itu juga yang memenangkan beberapa penghargaan ‘Festival Film Pendek Tidar 2010’ tahun lalu.&lt;br /&gt;Sebagai bandingan pada pekan film yang akan berlangsung di ‘SYANG Art-Space’, jalan MT Haryono No. 2, Magelang (samping BRI Bayeman), juga akan diputar beberapa film pendek pemenang penghargaan nasional/internasional. Di antaranya ‘Happy Ending’ karya Harry Dagoe, dan ‘Nyanyian Dalam Kekelaman’ Karya Yusak Kantadjaja.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-obNdFSW1N0c/Tesf3GGM8OI/AAAAAAAABH0/JsWzjYcwzoo/s1600/Foto%2BHARRY%2BDAGOE.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 85px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-obNdFSW1N0c/Tesf3GGM8OI/AAAAAAAABH0/JsWzjYcwzoo/s200/Foto%2BHARRY%2BDAGOE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614616391837348066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;‘Happy Ending’ adalah karya awal Harry Dagoe,  yang memenangkan ‘The Outstanding Short Film from Pusan International Film Festival 1996’.  Selain menyelesaikan studi di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), Harry juga memperoleh beasiswa ke Jepang hingga dua kali, mendalami penyutradaraan, produksi film, dan animasi. Harry juga memenangkan beberapa penghargaan nasional, antara lain sebagai penulis scenario terbaik, dan drama anak-anak terbaik, lewat film ‘Ratu Malu &amp; Jendral Kancil’.&lt;br /&gt;Sedangkan ‘Nyanyian Dalam Kekelaman’ justru film pendek yang berakhir dibuat Yusak Kantadjaja (2011), saat dirinya sudah eksis sebagai sutradara dan penulis film iklan (TVC).Film ini diilhami kisah nyata pembuatnya, yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga koma berbulan-bulan, dan merasa ‘dibangkitkan’ oleh Tuhan untuk memberikan kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Ng2nv6VmbJk/TesgntvZewI/AAAAAAAABH8/mpl37ex2NcU/s1600/Foto%2BYusak.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ng2nv6VmbJk/TesgntvZewI/AAAAAAAABH8/mpl37ex2NcU/s200/Foto%2BYusak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614617227112839938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Harry dan Yusak juga bersedia hadir langsung di Magelang, setidaknya pada acara diskusi besar yang akan diadakan pada tanggal 19 Juni 2011, mulai jam 14.00. Kedua sineas itu bersedia menjawab berbagai pertanyaan seputar ‘keberadaan dan permasalahan film pendek di Indonesia’. “Saya gembira adanya acara semacam ini. Apalagi ini berlangsung di Magelang, di mana saya merasa berakar. Saya berharap akan lahir banyak sineas berbobot dari Magelang, “ kata Harry menegaskan kesanggupannya hadir di Magelang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VdyjtENDRN8/TeshEFVbhCI/AAAAAAAABIE/hePiZFfu_EY/s1600/Foto%2BArmantono.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VdyjtENDRN8/TeshEFVbhCI/AAAAAAAABIE/hePiZFfu_EY/s200/Foto%2BArmantono.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614617714482709538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, tanggal 18 Juni 2011, mulai jam 09.00 hingga jam 17.00, akan dilangsungkan workshop film pendek. Pemrasaran bengkel kerja itu adalah Himawan, Hartanto M Sn, dan Armantono. Himawan adalah dosen sejarah film di APINDO Yogyakarta. Sedangkan Hartanto dan Armantono adalah alumni IKJ yang telah malang melintang di berbagai kancah perfilman nasional. &lt;br /&gt;Hartanto, mantan Dekan IKJ, pendiri Grabag TV, dan pemenang Piala Citra FFI sebagai Penata Suara Terbaik. Sedangkan Armantono adalah pemenang Piala Citra FFI sebagai Penulis Skenario terbaik. Karya-karyanya antara lain ‘Daun Di Atas Bantal’ (Garin Nugroho), dan ‘Heart’ (Hanny Saputra).&lt;br /&gt;Materi workshop terdiri: Sejarah film, pengembangan ide hingga penulisan skenario, serta dasar-dasar pembuatan film. Peserta workshop dikenakan biaya sebesar Rp 30,000,-. "Biaya Rp 30.000,- itu akan digunakan sebagai pengganti snack, makan siang, dan fotocopi modul. Nggak mahal kan, dibandingkan ilmu yang bisa didapat dari para pakar berkelas nasional itu, " kata Nisa, sekretaris panitia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadwal selengkapnya ‘Pekan Film Pendek Magelang 2011’, adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;- 14 Juni 2011, Jam 19.30 - 21.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan Pekan ‘Film Pendek Magelang‘, dimeriahkan Jazz Akustik dari Magelang Jazz Community (JMC).&lt;br /&gt;- 15 Juni 2011, Jam 14.00 - 17.00&lt;br /&gt;Pemutaran dengan Subtema: Karya Umum&lt;br /&gt;- 16 Juni 2011, Jam 14.00 - 17.00&lt;br /&gt;Pemutaran dengan Subtema: Karya Mahasiswa dan Siswa&lt;br /&gt;- 17 Juni 2011, Jam 14.00 - 17.00&lt;br /&gt;Pemutaran dengan Subtema: ‘Anak Matahari’&lt;br /&gt;- 18 Juni 2011, Jam 09.00 - 17.00&lt;br /&gt;Workshop Film oleh Himawan, Hartanto M Sn, dan Armantono.&lt;br /&gt;- 19 Juni 2011, jam 14.00 – 17.00.&lt;br /&gt;Puncak acara Diskusi dengan menghadirkan bintang tamu nasional a.l: Harry Dagoe (sutradara peraih penghargaan internasional), dan Yusak Kantadjaja (penulis/sutradara film iklan/TVC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan acara ini diselenggarakan Borobudur MOVIE Links (komunitas film yang berada di bawah naungan borobudurlinks.com), bekerjasama dengan ‘SYANG Art Space’. Bagi Anda yang berminat mengetahui lebih lanjut tentang acara ini, atau tertarik mengikuti workshop, silakan menghubungi secretariat yang beralamat di JL. Sarwo Edi Wibowo 112, Panca Arga, Magelang Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak: &lt;br /&gt;Ginanjar/Ketua (0817251777), &lt;br /&gt;Nisa/Sekretaris (085729704457), &lt;br /&gt;Fatikh/Humas (081915448873) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Myasa Poetika/bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7845511077519271744?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7845511077519271744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/magelang-menggelar-pekan-film-pendek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7845511077519271744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7845511077519271744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/magelang-menggelar-pekan-film-pendek.html' title='MAGELANG MENGGELAR PEKAN FILM PENDEK.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MSc-xhwQ5BM/TesfjqQ3H3I/AAAAAAAABHs/qFniQYr_SvE/s72-c/Foto%2BSyang%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5371765099433754961</id><published>2011-06-05T10:08:00.002+07:00</published><updated>2011-06-05T10:12:32.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>BOROBUDUR Luncurkan Paket "Tilik Ndeso".</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-zHczL6YVm4s/Ter0Amdf4RI/AAAAAAAABHk/nRmi8uAsT74/s1600/Sunrise%2Bdi%2Bbudur%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-zHczL6YVm4s/Ter0Amdf4RI/AAAAAAAABHk/nRmi8uAsT74/s320/Sunrise%2Bdi%2Bbudur%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614568176632193298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 5 Juni 2011.&lt;/span&gt; PT Taman Wisata Candi Borobudur meluncurkan paket wisata bertajuk "Tilik Ndeso", Rabu, untuk mengajak pengunjung tidak hanya naik ke Candi Borobudur tetapi juga ke desa wisata di sekitarnya. Perusahaan di bawah badan usaha milik negara (BUMN) itu menyiapkan satu unit kereta mini berkapasitas 38 orang dan lima unit andong masing-masing berkapasitas empat orang untuk paket wisata jarak pendek sekitar tiga kilometer dengan waktu sekitar 30 menit.&lt;br /&gt;Kereta Wisata Desa dan Andong Wisata Desa itu mulai beroperasi dari depan Galeri Unik dan Seni (Gusbi) di bawah Bukit Dagi, kompleks TWCB melewati Pintu X TWCB, Dusun Bumisegoro, Sabrangrowo, Gopalan Ngaran II, dan berakir di area parkir TWCB. Tarif kereta mini Rp10 ribu per orang, sedangkan andong Rp50 ribu untuk empat orang. Operasional kereta untuk paket itu setiap hari bisa 15 kali, sedangkan andong 10 kali.&lt;br /&gt;"Kami siapkan juga pemandu wisata kawasan. Sudah ada 20 pemandu yang juga warga sekitar candi yang mengikuti pelatihan pemandu wisata," kata General Manajer PT TWCB Pujo Suwarno.&lt;br /&gt;Jalur yang dilalui paket wisata itu memiliki berbagai potensi kepariwisataan antara lain kerajinan rakyat, kesenian tradisonal, makanan khas, lokasi yang strategis untuk menikmati Candi Borobudur, dan suasana asli desa yang tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Ia menjelaskan, paket "Tilik Ndeso" membawa wisatawan Candi Borobudur berkunjung ke desa sekitar bangunan peninggalan peradaban dunia itu.&lt;br /&gt;Operasional paket itu, katanya, membutuhkan dukungan berbagai kalangan masyarakat sekitar Candi Borobudur untuk membangun suasana senang bagi wisatawan saat menyinggahi desa mereka. Ia mengatakan, peluncuran paket wisata itu juga terkait dengan persiapan TWCB menghadapi keramaian kunjungan musim liburan sekolah 10 Juni hingga 11 Juli 2011. Pihaknya menargetkan sekitar 250 ribu wisatawan saat musim liburan sekolah mendatang.&lt;br /&gt;"Katakanlah ini sebagai uji coba, kalau masih ada kekurangan masih cukup waktu untuk pembenahan," katanya.&lt;br /&gt;Pihaknya juga telah menyiapkan paket "Tilik Ndeso" untuk rute medium sepanjang lima kilometer dan rute panjang untuk tujuh kilometer guna meningkatkan perekonomian masyarakat Borobudur &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA Jateng.com/Pewarta : M Hari Atmoko/Penyunting : Mahmudah). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-5371765099433754961?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/5371765099433754961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/borobudur-luncurkan-paket-tilik-ndeso.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5371765099433754961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5371765099433754961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/borobudur-luncurkan-paket-tilik-ndeso.html' title='BOROBUDUR Luncurkan Paket &quot;Tilik Ndeso&quot;.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zHczL6YVm4s/Ter0Amdf4RI/AAAAAAAABHk/nRmi8uAsT74/s72-c/Sunrise%2Bdi%2Bbudur%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7900145037154644131</id><published>2011-06-04T15:27:00.004+07:00</published><updated>2011-06-04T15:38:08.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>MAGELANG KOTA PALING SEHAT DI INDONESIA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-4I1aIM9H4S4/TentvSUL-RI/AAAAAAAABHc/f33d1zlqOmQ/s1600/Watertorn%2BFG%2BGamelan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4I1aIM9H4S4/TentvSUL-RI/AAAAAAAABHc/f33d1zlqOmQ/s320/Watertorn%2BFG%2BGamelan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614279807120177426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 4 Juni 2011.&lt;/span&gt; Beberapa daerah diketahui memiliki beban masalah kesehatan yang berbeda-beda. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kemenkes diketahui 10 peringkat kabupaten/kota dengan indeks pembangunan kesehatan yang baik dan buruk.&lt;br /&gt;dr Triono Soendoro, PhD selaku staf ahli menteri kesehatan bidang perlindungan faktor risiko kesehatan dalam acara Pencanangan Kegiatan Riset Operasional Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) dan Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) di Gedung Kemenkes, Kamis (21/4/2011) ada 440 kota yang disurvei.&lt;br /&gt;Peringkat 10 kabupaten/kota dengan nilai indeks pembangunan kesehatan teratas dan terbawah adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Kabupaten/kota peringkat kesehatan teratas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kota Magelang&lt;br /&gt;2. Gianyar&lt;br /&gt;3. Kota Salatiga&lt;br /&gt;4. Kota Yogyakarta&lt;br /&gt;5. Bantul&lt;br /&gt;6. Sukoharjo&lt;br /&gt;7. Sleman&lt;br /&gt;8. Balikpapan&lt;br /&gt;9. Kota Denpasar&lt;br /&gt;10. Kota Madiun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Kabupaten/kota peringkat kesehatan terbawah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;431. Mappi&lt;br /&gt;432. Asmat&lt;br /&gt;433. Seram Bagian Timur&lt;br /&gt;434. Yahukimo&lt;br /&gt;435. Nias Selatan&lt;br /&gt;436. Paniai&lt;br /&gt;437. Manggarai&lt;br /&gt;438. Puncak Jaya&lt;br /&gt;439. Gayo Lues&lt;br /&gt;440. Pegunungan Bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat diumumkan 10 peringkat terbawah tidak berarti semuanya setuju, ada satu yang protes dan melakukan riset sendiri. Tentu saja hasilnya berbeda karena metodologi yang digunakan berbeda,” ujar dr Triono Soendoro, PhD.&lt;br /&gt;Penetapan peringkat ini berdasarkan nilai Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). IPKM ini adalah indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan yang dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu Riskesdas (riset kesehatan dasar), PSE (pendataan sosial ekonomi) dan survei podes (potensi desa).&lt;br /&gt;Berdasarkan 3 survei tersebut didapatkan 24 indikator yang masuk dalam IPKM yaitu:&lt;br /&gt;Prevalensi balita gizi buruk dan kurang&lt;br /&gt;Prevalensi balita sangat pendek dan pendek&lt;br /&gt;Prevalensi balita sangat kurus dan kurus&lt;br /&gt;Prevalensi balita gemuk&lt;br /&gt;Prevalensi diare&lt;br /&gt;Prevalensi pnemonia&lt;br /&gt;Prevalensi hipertensi&lt;br /&gt;Prevalensi gangguan mental&lt;br /&gt;Prevalensi asma&lt;br /&gt;Prevalensi penyakit gigi dan mulut&lt;br /&gt;Proporsi perilaku cuci tangan&lt;br /&gt;Proporsi merokok tiap hari&lt;br /&gt;Akses air bersih&lt;br /&gt;Akses sanitasi&lt;br /&gt;Cakupan persalinan oleh nakes&lt;br /&gt;Cakupan pemeriksaan neonatal-1&lt;br /&gt;Cakupan imunisasi lengkap&lt;br /&gt;Cakupan penimbangan balita&lt;br /&gt;Rasio dokter&lt;br /&gt;Rasio bidan&lt;br /&gt;Prevalensi disabilitas&lt;br /&gt;Prevalensi cedera&lt;br /&gt;Prevalensi [enyakit sendi&lt;br /&gt;Prevalensi ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH menuturkan program PDBK dan Rifaskes ini merupakan kombinasi antara pemangku kebijakan di tingkat pusat dan propinsi dengan pengamatan peneliti. “Dengan kombinasi ini diharapkan bisa merumuskan upaya intervensi yang tepat dan efektif sehingga IPKM di daerah tersebut bisa diperbaiki secara bermakna,” ungkap Menkes.&lt;br /&gt;Dalam hal ini daerah yang termasuk peringkat bawah akan dipanggil untuk kumpul bersama dan mencaritahu kenapa hasilnya bisa jelek. Misalnya jika hasil RS dan Puskesmasnya bagus tapi status kesehatannya buruk mungkin karena tidak ada masyarakat yang berkunjung akibat transportasinya yang sulit. “Hasil dari kedua kegiatan ini akan menjadi masukan guna penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan berbasis bukti (evidence base),” ujarnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indojunkers.com).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7900145037154644131?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7900145037154644131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/magelang-kota-paling-sehat-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7900145037154644131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7900145037154644131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/06/magelang-kota-paling-sehat-di-indonesia.html' title='MAGELANG KOTA PALING SEHAT DI INDONESIA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4I1aIM9H4S4/TentvSUL-RI/AAAAAAAABHc/f33d1zlqOmQ/s72-c/Watertorn%2BFG%2BGamelan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2549066789889951944</id><published>2011-05-29T13:41:00.001+07:00</published><updated>2011-05-29T13:44:35.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>'SUMPAH DEWABRATA', Refleksi Utamakan Kepentingan Umum.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-_xQEoLOWVbw/TeHrQH0vSJI/AAAAAAAABHI/SLieA1gLGBU/s1600/Wayang%2BSakral%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_xQEoLOWVbw/TeHrQH0vSJI/AAAAAAAABHI/SLieA1gLGBU/s320/Wayang%2BSakral%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612025272891033746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 28 Mei 2011.&lt;/span&gt; Performa "Sumpah Dewabrata" oleh seniman petani Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, di lereng barat Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merefleksikan pentingnya masyarakat mengutamakan kepentingan umum daripada pribadi atau kelompok. Mereka menggelar performa itu di gedung yang oleh masyarakat dinamai Gubug Selo Merapi (GSPi), di Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, utara alur Kali Senowo, Sabtu (28/5) malam, saat melepas kepindahan tugas Kepala Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Sumber, Romo V. Kirjito, ke Paroki Kebon Arum, Kabupaten Klaten.&lt;br /&gt;Performa itu, kata pimpinan Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, Desa Sumber, Sitras Anjilin, mengutip kisah pewayangan tentang Negeri Astina. "Dewabrata tidak mementingkan dirinya sendiri meskipun sebagai pewaris utama tahta Astina, tetapi memutuskan hidup 'wadat', sehingga bisa berguna bagi lebih banyak orang," katanya.&lt;br /&gt;Seniman petani setempat yang mengenakan pakaian wayang orang itu memainkan performa dalam iringan tabuhan gong dan drum dengan ditonton terutama masyarakat sekitar GSPi.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, perkembangan zaman saat ini mendorong orang cenderung mementingkan kepentingan sendiri. "Sikap-sikap itu harus dikoreksi supaya kebersamaan sebagai warga masyarakat, bangsa, dan negara tetap kuat. Orang tidak bisa hidup sendiri tetapi harus lebih mengutamakan kepentingan umum yang lebih besar," katanya.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, Romo Kirjito selama 11 tahun bertugas memimpin umat Katolik di kawasan itu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat secara luas. "Banyak karya Romo Kirjito di sini, bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi juga untuk masyarakat umum. Kita semua bersyukur karena Gusti membolehkan Romo Kirjito berkarya di sini dengan mengutamakan kepentingan kemanusiaan," katanya.&lt;br /&gt;Ketua Dewan Paroki Sumber, Sutar, mengatakan, Romo Kirjito mengembangkan pastoral budaya di tempat itu sehingga membuat masyarakat umum bahagia. "Membangun persaudaraan, menjadikan masyarakat rukun," katanya.&lt;br /&gt;Sekretaris Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Marwoto, pada kesempatan itu menyampaikan pengalaman masyarakat setempat membangun jembatan penghubung antardesa setempat setelah mendapat bantuan dari Romo Kirjito. "Romo Kirjito mempunyai pemikiran yang lebih tinggi, mementingkan kepada masyarakat, punya jiwa seni tinggi, seperti saya yang beda agama, juga merasa dekat dengan beliau. Jembatan itu bukan hanya jalur antardesa tetapi juga jalur evakuasi warga saat Merapi meletus," katanya.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu masyarakat setempat juga menyaksikan pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Narwoko Hadi Widodo berasal dari Temanggung dengan lakon "Dumadining Keraton Amarta". Komunitas setempat juga meluncurkan buku berjudul "Kriwikan Tuk Mancur, Kenangan 11 Tahun Hidup Menggembala Romo Vincentius Kirjito, Pr. Ing Ereng-Erenging Redi Merapi". Buku setebal 212 halaman itu berupa kumpulan sekitar 80 tulisan anggota komunitas setempat yang umumnya petani holtikultura tersebut tentang catatan kesan mereka terhadap Romo Kirjito selama 11 tahun terakhir.&lt;br /&gt;Jabatan Romo Kirjito yang juga peraih Maarif Award 2010, penghargaan untuk ketokohan seseorang atas pemberdayaan komunitas yang dikeluarkan Maarif Institute Jakarta, sebagai Kepala Paroki Sumber digantikan oleh Romo Luhur Prihadi yang sebelumnya bertugas di Gereja Tanah Mas Kota Semarang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA Jateng.Com/ M Hari Atmoko). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2549066789889951944?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2549066789889951944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/sumpah-dewabrata-refleksi-utamakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2549066789889951944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2549066789889951944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/sumpah-dewabrata-refleksi-utamakan.html' title='&apos;SUMPAH DEWABRATA&apos;, Refleksi Utamakan Kepentingan Umum.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_xQEoLOWVbw/TeHrQH0vSJI/AAAAAAAABHI/SLieA1gLGBU/s72-c/Wayang%2BSakral%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8375973785559468283</id><published>2011-05-29T12:24:00.001+07:00</published><updated>2011-05-29T12:44:17.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>'TLATAH BOCAH' SEGERA DI MERAPI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ftbref4AShE/TeHdF1uSurI/AAAAAAAABHA/wsWmluT0p0A/s1600/Warok%2Bbocah%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ftbref4AShE/TeHdF1uSurI/AAAAAAAABHA/wsWmluT0p0A/s320/Warok%2Bbocah%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612009703070677682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 28 Mei 2011.&lt;/span&gt; Hajat budaya bertajuk "Tlatah Bocah 2011" segera digelar sebagai wujud upaya berbagai komunitas lereng Gunung Merapi di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta membangkitkan kehidupan mereka pascaerupsi melalui pergelaran kesenian oleh anak-anak setempat. "Hal inilah yang dikedepankan dalam hajat budaya 'Tlatah Bocah V' tahun ini, untuk bangkit dan membangun lingkungan kembali setelah erupsi Merapi akhir 2010," kata Ketua Panitia "Tlatah Bocah V", Setyoko, di Magelang, Sabtu.&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, upaya membangkitkan kembali kehidupan masyarakat Merapi pascaerupsi termasuk membangun sikap yang tepat menghadapi ancaman banjir lahar harus terus menerus ditempuh. Jalan kesenian dan kebudayaan, katanya, salah satu langkah penting untuk mewujudkan upaya itu antara lain karena mereka memiliki beragam budaya sebagai kekuatan toleransi dan solidaritas kehidupan bersama masyarakat setempat.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, hajat budaya tersebut akan berlangsung sejak awal Juni hingga pertengahan Juli 2011 di berbagai tempat terutama kawasan lereng Gunung Merapi. Sekitar 900 orang terutama kalangan anak berasal dari berbagai komunitas Merapi di Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten (Jateng), dan Sleman (DIY), katanya, akan terlibat pada kegiatan tersebut. Ia mengatakan, berbagai agenda telah disiapkan antara lain "Merti Jiwo" di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, pentas kesenian tradisional seperti jatilan, grasak, cakar lele, pentas wayang bocah, reog bocah, topeng ireng, jalantur, antara lain di Jumoyo, Kabupaten Magelang, Cangkringan (Sleman), dan Deles (Klaten).&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, latihan berkebun dan beternak, menabuh gamelan, dan tarian tradisional, orasi budaya, diskusi budaya, penanaman pohon, dan padat karya. Ia mengharapkan, kegiatan itu makin menguatkan jaringan antarkomunitas anak Merapi dan mereka dengan komunitas lain berasal dari luar kawasan itu.&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, melestarikan kesenian tradisional setempat, mendorong terwujud area ramah anak baik secara fisik maupun psikologis. "Juga mendorong terpenuhinya hak anak meliputi hak hidup, hak tumbuh kembang, hak pendidikan, dan hak partisipasi," katanya.&lt;br /&gt;Hajat budaya "Tlatah Bocah" secara rutin setiap tahun sejak 2007 hingga saat ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA Jateng.Com/M Hari Atmoko).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8375973785559468283?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8375973785559468283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/tlatah-bocah-segera-di-merapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8375973785559468283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8375973785559468283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/tlatah-bocah-segera-di-merapi.html' title='&apos;TLATAH BOCAH&apos; SEGERA DI MERAPI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ftbref4AShE/TeHdF1uSurI/AAAAAAAABHA/wsWmluT0p0A/s72-c/Warok%2Bbocah%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7854770773394924818</id><published>2011-05-27T06:58:00.002+07:00</published><updated>2011-05-27T07:02:31.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>SISWA SMP MAGELANG MEWAKILI INDONESIA DI KONTES ROBOT.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-bDpvgNA2H2s/Td7qA7zaj1I/AAAAAAAABG4/yoqYiGKMthg/s1600/Robot4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-bDpvgNA2H2s/Td7qA7zaj1I/AAAAAAAABG4/yoqYiGKMthg/s320/Robot4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611179487524458322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 27 Mei 2011.&lt;/span&gt; Tim robotic tingkat SMP dari Kota Magelang, Jawa Tengah, akan mewakili Indonesia dalam kontes robot di Istanbul Turki, pada 5 Juli 2011 mendatang.&lt;br /&gt;Para siswa yang ikut dalam kontes bergengsi tersebut ada empat siswa dari kelas VII dan VIII SMPN 1 Magelang. Mereka adalah Wahyu Aryono Nugroho dan Odiaz Bumma yang meraih juara I Rescue A secondary 2 tim (usia 14-19 tahun). Gelar juara itu diraih dalam kompetisi Robot Imagine Ristek 2011 di Pusat Peragaan (PP) IPTEK Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 18-22 Mei 2011 lalu.&lt;br /&gt;Pemenang lainnya dari kelas VII SMPN 1 Magelang yakni Immanuel Andrew S dan Liwiriyon Sudarso yang meraih juara I di nomor Rule of Robocup Rescue A Primary (usia &lt; 14 tahun) dalam kompetisi serupa.&lt;br /&gt;Para juri kontes terdiri atas Laurenz Wohlfarth (Fischertechnik Jerman), Paulus Ari Yuono (Robotic Sains Club Magelang), Chanam Muklison (BSW Jakarta), Muliadi Ang (Universitas Maranata Bandung), dan Tjio Hok Hoo (Robotic Surabaya).&lt;br /&gt;Para siswa itu nantinya akan menerima piala dan penghargaan yang diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Agustus 2011 di PP Iptek Serpong.&lt;br /&gt;Wakil Kepala SMP Negeri 1 Magelang Bidang Kesiswaan Tohirin mengatakan, pihak sekolah bersama tim RSCM akan melakukan persiapan jelang kompetisi di Turki. “Selain mental dan persiapan teknis, yang juga menjadi perhatian nantinya adalah bahasa Inggris untuk presentasi lebih lancar,” katanya, Kamis, 26 Mei 2011. &lt;br /&gt;Dari pendekatan yang dilakukan, untuk kelas VIII yakni Wahyu Aryono Nugroho dan Odiaz Bumma dinilai sudah cukup baik dalam presentasi robotic lewat bahasa Inggris. Sementara untuk Immanuel dan Liwiriyon masih perlu beberapa latihan pematangan.&lt;br /&gt;Tohirin menambahkan, pihak sekolah akan sangat mendukung persiapan dari para siswa. “Kami puas dengan hasil yang diperoleh para siswa. Ini semua berasal dari terdorongnya minat siswa di bidang robot, yang tersalurkan melalui wadah ekstrakurikuler sekolah,” kata dia. (TEMPO Interaktif/PRIBADI WICAKSONO).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7854770773394924818?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7854770773394924818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/siswa-smp-magelang-mewakili-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7854770773394924818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7854770773394924818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/siswa-smp-magelang-mewakili-indonesia.html' title='SISWA SMP MAGELANG MEWAKILI INDONESIA DI KONTES ROBOT.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bDpvgNA2H2s/Td7qA7zaj1I/AAAAAAAABG4/yoqYiGKMthg/s72-c/Robot4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-6492155011924382401</id><published>2011-05-08T08:45:00.001+07:00</published><updated>2011-05-08T08:47:54.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>RELIEF MISTERIUS DI KAKI BOROBUDUR.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-a9LK7mrGnyE/TcX2PXKAT4I/AAAAAAAABGw/Q-srl1sXElM/s1600/Reliefborobudur%2Bdr%2BTempo%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-a9LK7mrGnyE/TcX2PXKAT4I/AAAAAAAABGw/Q-srl1sXElM/s320/Reliefborobudur%2Bdr%2BTempo%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604156055106899842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : Tole&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 8 Mei 2011.&lt;/span&gt; Siapa tak terpesona menatap keindahan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah?&lt;br /&gt;Dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824, Borobudur terdiri dari 1460 panel relief dan 504 stupa. Namun, panel yang selama ini terlihat ternyata belum lengkap. Ada panel-panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu.&lt;br /&gt;Bagian fondasi tersembunyi itu terdiri dari 160 relief adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat. Panel-panel itu menggambarkan perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, semisal: bergosip, membunuh, menyiksa dan memerkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.&lt;br /&gt;Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia, Edi Sedyawati mengemukakan, relief Karmawibhangga itu menggambarkan kehidupan masyarakat saat candi itu dibangun.&lt;br /&gt;Ada sejumlah pendapat mengapa relief ini ditimbun. Bisa jadi karena kurang pantas dipertontonkan ke publik, tapi ada pula yang menduga penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi — agar tidak amblas.&lt;br /&gt;Terlepas dari perdebatan itu, keseluruhan relief di Borobudur mencerminkan ajaran Budha Mahayana: semakin ke atas semakin mencapai kesempurnaan. Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam.&lt;br /&gt;Bagian tengah (terdiri dari empat tingkat) dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sedangkan bagian teratas — termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah—disebut Arupadhatu, tempat para dewa bersemayam atau nirwana.&lt;br /&gt;Keberadaan Borobudur sesungguhnya telah diketahui penduduk lokal di abad ke-18. Sempat tertimbun material Gunung Merapi, candi ini lalu ditemukan kembali oleh Sir Stanford Raffles pada 1814. Selanjutnya, pada 1885, arkeolog JW Yzerman mendokumentasi dan merekam reliefnya. Saat itulah, timnya menemukan relief tersembunyi di bagian paling bawah.&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula.  Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tak seorangpun bisa melihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka--diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.&lt;br /&gt;Hasil bidikan Chepas kemudian dibukukan pada 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise asli disimpan di Museum Tropen, Amsterdam karena statusnya milik Pemerintah Belanda. Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Artikel ini diunggah dari Yahoo News. Foto: Tempo/Hariyanto/bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-6492155011924382401?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/6492155011924382401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/relief-misterius-di-kaki-borobudur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6492155011924382401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6492155011924382401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/relief-misterius-di-kaki-borobudur.html' title='RELIEF MISTERIUS DI KAKI BOROBUDUR.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-a9LK7mrGnyE/TcX2PXKAT4I/AAAAAAAABGw/Q-srl1sXElM/s72-c/Reliefborobudur%2Bdr%2BTempo%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2588580460586024631</id><published>2011-05-03T06:52:00.003+07:00</published><updated>2011-05-03T07:02:50.219+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>(Kembali) MASALAH PASAR REJOWINANGUN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vxAJRos7GYk/Tb9FRuC7Y3I/AAAAAAAABGg/KfqO7XFxYCg/s1600/Pasar%2Bkobong%2Bby%2BHandoko%2B04.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vxAJRos7GYk/Tb9FRuC7Y3I/AAAAAAAABGg/KfqO7XFxYCg/s320/Pasar%2Bkobong%2Bby%2BHandoko%2B04.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602272632192590706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 3 Mei 2011.&lt;/span&gt; Beberapa waktu lalu (5/4-11) kontrak kerjasama pembangunan Pasar Rejowinangun antara Pemkot Magelang dengan pemenang lelang DIBATALKAN. Alasannya, pemenang lelang yang merupakan konsorsium (PT Reka Konstruksi-PT Rizki Kembar Jaya-PT Bratautama Rodamandiri (JO),  dianggap tak mampu memenuhi beberapa persyaratan. Ini adalah untuk ke 4-5 kali pembatalan (tender atau pemenang lelang) dilakukan oleh Pemkot Magelang, sejak kebakaran pasar 3 tahun lalu. &lt;br /&gt;Kabar mengejutkan itu diterima oleh warga Magelang dengan hati yang beragam. Sedih, kecewa, malu yang campur aduk. Sedih dan kecewa karena harapan untuk bangkitnya ekonomi yang selama tiga tahun porak-poranda terpaksa harus pupus kembali. &lt;br /&gt;Malu karena melihat pemimpin mereka tak mampu memenuhi janji-janjinya sendiri. Bayangkan keputusan itu hanya berjarak beberapa hari setelah Walikota Sigit Widyonindito melakukan peletakan batu pertama pertanda pasar segera dibangun (29/3-11). Bayangkan, dalam waktu 6 hari seorang walikota terpaksa ‘menelan ludahnya kembali’.&lt;br /&gt;Saya sendiri bukanlah ahli hukum yang memiliki pemahaman memadai tentang aspek procedural lelang atau pengadaan barang/jasa yang dilakukan pemerintah. Saya hanyalah warga masyarakat sekedar bermodal akal sehat (common-sense), dan kebetulan nuraninya terusik oleh penderitaan pedagang pasar yang berlarut-larut.&lt;br /&gt;Dengan nalar terbatas itu, tentu saya dan puluhan ribu warga Magelang lainnya susah memahami apa alasan Pemkot Magelang sehingga berkali-kali mementahkan proses pembangunan pasar yang menjadi urat nadi ekonomi ‘kota militer’ itu. Yang harus dimaklumi, kemudian, adalah munculnya kecurigaan di hati sebagian besar warga, ‘ada permainan apa’ sehingga elite Magelang tega terhadap penderitaan warganya itu.&lt;br /&gt;Oke. Kita coba tinggalkan masalah kemelut akibat pembatalan yang berulang-ulang itu. Itu adalah masa  lalu yang pahit bagi seluruh warga Magelang. Kita coba tatap masa depan. Apa yang bisa dan harus dilakukan untuk mempercepat pembangunan pasar, sekaligus tidak memperberat beban para pedagang yang sudah ‘berdarah-darah’ itu ?&lt;br /&gt;Menurut beberapa pihak yang mencermati masalah ini, ada dua langkah yang bisa dilakukan oleh Pemkot sebagai pemegang otoritas. Pertama, melakukan proses lelang kembali. Tentu dengan memanggil semua pihak yang berminat dan memenuhi syarat. Konsekuensinya membutuhkan waktu yang lama apabila langkah ini yang diambil. Ibaratnya mulai dari nol kembali.&lt;br /&gt;Kedua, melakukan penunjukkan langsung. Langkah ini bisa dilakukan, mengingat pembatalan lelang sudah dilakukan berulang-ulang. Namun langkah ini juga tak kurang beresiko. Siapa dan pihak mana yang akan ditunjuk oleh Pemkot, serta apa alasannya sehingga pihak itu yang ditunjuk ? Kalau yang ditunjuk adalah pengembang yang selama ini ikut proses lelang atau pengembang lain yang kualitasnya tak diketahui, tentu akan memancing pihak-pihak lain yang tidak ditunjuk bisa dan akan memperkarakan alasan penunjukkan itu. Selain waktu yang tak bisa diduga, ada resiko hukum yang akan dihadapi Pemkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOPERASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Pemkot memilih pilihan kedua, sesungguh ada pihak yang paling berhak serta kecil resikonya. Pihak yang dimaksud adalah para pedagang sendiri, sebagai salah satu stake-holder Pasar Rejowinangun. Model pembangunan pasar yang melibatkan secara penuh para pedagangnya kiranya sudah dilakukan di beberapa daerah lain, seperti di Jakarta (Taman Puring), di Kebumen atau di Pati. Mengenai model pembangunan berbasis pedagang ini mungkin bisa dijelaskan lebih lanjut oleh para pemerhati yang lebih mengetahuinya.&lt;br /&gt;Saya hanya akan bercerita seputar pembangunan kembali Pasar Taman Puring, di Jakarta, setelah kebakaran yang melandanya di tahun 2006 lalu. Kebetulan saya adalah penulis buku minibiografi Dadang Kafrawi (DK), mantan Walikota Jakarta Selatan (2001-2006). Kebakaran pasar itu terjadi saat DK menjabat, dan menjadi catatan prestasi yang cukup penting di buku minibiografi yang saya tulis.&lt;br /&gt;Saat kebakaran terjadi DK langsung menemui para pedagang di lokasi yang terletak di wilayah Kebayoran Baru, daerah elit di Jakarta Selatan.  Sebelum api sepenuhnya padam DK mengumpulkan perwakilan pedagang yang tergabung dalam ‘Koperasi Pedagang Taman Puring’. &lt;br /&gt;Dalam pertemuan tersebut pedagang meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun kembali pasar yang terkenal sebagai bursa barang bekas itu. Hal ini mengingat letak pasar yang berdiri di atas taman kota atau jalur hijau. Pedagang sendiri menyadari bahwa sesungguhnya mereka tak berhak berdagang di situ.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-IvfGffPeSqA/Tb9F7eOPYgI/AAAAAAAABGo/4sH1_jj9EWc/s1600/Pjj%2Bbuah%2Bdpn%2Bpasar%2Bkini%2B02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-IvfGffPeSqA/Tb9F7eOPYgI/AAAAAAAABGo/4sH1_jj9EWc/s320/Pjj%2Bbuah%2Bdpn%2Bpasar%2Bkini%2B02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602273349499576834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DK langsung merespon dan menelpon Gubernur Sutiyoso, dan meminta bosnya itu menemui para pedagang. Saat itu juga Bang Yos datang dan bertemu langsung dengan warganya yang sedang kesusahan itu. Setelah mendengar aspirasi pedagang, Bang Yos langsung mengijinkan pasar itu dibangun kembali, tapi dengan catatan.&lt;br /&gt;“Pemprov DKI tak punya dana. Kalian usahakan sendiri. Dan yang bertanggungjawab adalah Bang Dadang Kafrawi, “ demikian persyaratan yang diminta Bang Yos, sembari menunjuk DK. Setelah orang nomor satu di DKI itu meninggalkan tempat, DK langsung mendiskusikan persyaratan yang diminta dengan para pedagang.&lt;br /&gt;Sebagai pihak yang ditunjuk bertanggungjawab DK tak kurang akal. Ia mengajukan ide untuk mengajukan pembiayaan pembangunan pasar kepada pihak bank yang selama ini menjadi banknya para pedagang. Ia langsung memanggil Kepala Cabang Bank BNI (KC-BNI) yang berada di depan Taman Puring.&lt;br /&gt;“Apakah para pedagang ini nasabah bank Anda ? Berapa jumlahnya ? “ tanya DK begitu sang KC-BNI  menemui DK bersama para pedagang. “Betul. Jumlah mereka sekitar 300-400 pedagang, “ jawab KC-BNI. &lt;br /&gt;Karena menganggap para pedagang itu nasabah yang bisa dipercaya, bukan seperti nasabah kakap yang justru banyak ngemplang, KC-BNI secara lisan menyetujui ide DK untuk membantu membiayai pembangunan kembali Pasar Taman Puring. Kesepakatan itu merupakan prestasi kerja seorang walikota yang pantas mendapat pujian. Bisa dikatakan masalah terbakarnya Pasar Taman Puring bisa diselesaikan bahkan ketika apinya belum sepenuhnya padam. &lt;br /&gt;DK pun meminta koperasi pedagang membuat proposal. Dalam waktu singkat proposal selesai. DK langsung mengirimkannya kepada Sutiyoso untuk mendapat persetujuan resmi. Namun Bang Yos tidak sepenuhnya menerima proposal itu. Ia punya pendapat lain.&lt;br /&gt;“Kenapa harus bekerjasama dengan BNI ?. Kita sendiri kan punya bank, “ tanya Bang Yos. Akhirnya Bang Yos menyetujui proposal itu dan menunjuk Bank DKI sebagai penyandang dananya. &lt;br /&gt;Secepatnya pasar dibangun. Karena hanya menggunakan kontraktor pelaksana bukan pengembang yang pamrihnya memperoleh keuntungan sebesarnya. Maka harga kios pun menjadi murah dan terjangkau oleh pedagang.&lt;br /&gt;“Harga per kiosnya sekitar 15-20 juta. Itu pun bisa dicicil 10-15 tahun “ urai DK mengenang. Dalam waktu singkat Pasar dua lantai itu segera terbangun, berdiri dengan megah. Bersandingan dengan Taman Puring yang juga ditata secara asri. Pedagang pun segera mengisinya dengan aneka dagangan, terutama barang bekas seperti semula.&lt;br /&gt;Tampak dari luar Pasar Taman Puring terlihat moncer dengan didominasi kios-kios pedagang hand-phone. Tak semuanya bekas memang. Banyak barang baru berkualitas BM (black-market) bisa didapat di pasar yang jadi salah satu tujuan wisata DKI itu. &lt;br /&gt;Pedagang pun merasa senang. Selain mereka tak lagi berdagang di pasar kumuh, harga kios pun melejit tak terduga.&lt;br /&gt;“Dulu kami membeli seharga 15-20 juta. Itu pun kredit. Kini hanya dalam waktu 3 tahun kios kami dihargai 100-150 juta, “ ujar seorang pedagang.  Padahal kreditnya pun belum lunas, tambah pedagang sepatu bekas tapi bermerk itu. Perlu diketahui, saya mewawancarai pedagang itu pertengahan tahun 2009, sebagai bahan penulisan minibiografi DK.&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kisah menarik tentang bagaimana seorang pemimpin membuat kebijakan yang sepenuhnya demi rakyatnya yang sedang menderita. Langkah-langkah DK ini seharusnya bisa menjadi contoh bagi pemimpin dan elite politik di Kota Magelang dalam menghadapi masalah Pasar Rejowinangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSATU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang wajib mencontoh kiranya bukan hanya elitenya, tapi juga para pedagangnya. Kalau pedagang  Pasar Taman Puring kompak, bersatu menghadapi musibah, mestinya pedagang Pasar Rejowinangun demikian pula. Tidak terpecah-pecah menjadi beberapa faksi seperti sekarang ini. Apalagi kemudian berkembang isu tak sedap kalau masing-masing faksi pedagang ditunggangi kepentingan para  pengembang. &lt;br /&gt;Saya sendiri tidak tahu apakah para pedagang Pasar Rejowinangun memiliki koperasi. Setahu saya hanya ada beberapa organisasi semacam paguyuban yang tak mengikat. Sesungguhnya apa susahnya membikin koperasi, yang bisa bertindak selaku badan hukum untuk menerima dan melaksanakan sendiri proyek pembangunan pasar ?.&lt;br /&gt;Mendirikan koperasi memang mudah. Bersatunya pedagang, itu yang susah, kata sementara warga yang pesimis melihat berlarut-larutnya masalah Pasar Rejowinangun ini. Apakah sudah sedemikian parahnya nurani para pedagang menghadapi masalah yang membuat penderitaan bagi mereka sendiri ?&lt;br /&gt;Saya sendiri mencoba optimis. Lewat tulisan ini saya menghimbau para pedagang untuk kembali bersatu padu. Hanya dengan persatuan posisi tawar para pedagang menjadi lebih baik. Lewat persatuan kita bisa kembali menumbuhkan harapan, pasar segera dibangun, dan ekonomi pulih seperti sedia kala. &lt;br /&gt;Ayo kita duduk bersama kembali. Benamkan ego masing-masing, sisihkan perbedaan (yang tidak substansial), satukan tekad bahwa KITA BISA (saya sengaja menggunakan kata KITA bukan KAMI). Ingat, masadepan anak cucu kita. &lt;br /&gt;AYO BERDIALOG !!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*). Penulis adalah pendiri dan pengelola grup ‘RAKYAT PEDULI PEMBANGUNAN PASAR REJOWINANGUN’  (on FB).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2588580460586024631?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2588580460586024631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/kembali-masalah-pasar-rejowinangun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2588580460586024631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2588580460586024631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/05/kembali-masalah-pasar-rejowinangun.html' title='(Kembali) MASALAH PASAR REJOWINANGUN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vxAJRos7GYk/Tb9FRuC7Y3I/AAAAAAAABGg/KfqO7XFxYCg/s72-c/Pasar%2Bkobong%2Bby%2BHandoko%2B04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7351215870001331169</id><published>2011-04-29T03:40:00.007+07:00</published><updated>2011-04-29T03:59:26.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>FILM DOKUMENTER &amp; PERMASALAHANNYA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-IkTNQHB80f0/TbnRptgqTLI/AAAAAAAABGQ/DJNn2CSLE7E/s1600/Foto%2Bpasar%2Bkobong%2Bdr%2BNisa%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IkTNQHB80f0/TbnRptgqTLI/AAAAAAAABGQ/DJNn2CSLE7E/s320/Foto%2Bpasar%2Bkobong%2Bdr%2BNisa%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600738126133349554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salah satu adegan dari film 'Langit Merah Bulan Juni', produksi Komunitas Jeda, yg mengangkat situasi Pasar Rejowinangun pasca kebakaran 3 tahun lalu (foto 01).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Khalimatu Nisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 29 Desember 2011.&lt;/span&gt; Beberapa masalah yang sering muncul terkait dunia perfilman dokumenter diangkat menjadi bahan diskusi ‘Film Dokumenter dan Permasalahannya’ dalam Pekan Film Dokumenter Magelang (PFDM), Minggu (24/4) lalu. Diskusi diikuti sekitar 30 kaum muda yang berasal dari wilayah Kabupaten Magelang. Ada juga dari Medan, Banjarmasin, Semarang, dan Klaten. Mereka adalah pelajar SMK yang sedang PKL di GrabagTV. Seniman dan kaum muda Kota Magelang justru tak terlihat memanfaatkan forum yang cukup menarik ini.&lt;br /&gt;Seorang peserta mengajukan sebuah pertanyaan fundamental tentang sisi unik film dokumenter ketimbang film fiksi. Film fiksi ia akui lebih mencuri minatnya karena memiliki peluang kreativitas tak terbatas sebagai sebuah produk imajinasi. Sedangkan film dokumenter, menurut dia, terbatas sebagai suatu upaya menyampaikan pesan-pesan tertentu lewat realita yang ada. &lt;br /&gt;Ginanjar Teguh Iman, salah satu finalis Eagle Award 2009, pembuat film ‘Dunia Kecil Dalam Kotak’ menyatakan bahwa di luar subjektivitas individu, film dokumenter menjadi unik justru berkat realitasnya. “Dalam film fiksi, ketika kita menjumpai adegan seseorang menangis,” ungkapnya, “itu adalah akting. Sedangkan dalam film dokumenter, tangisan itu nyata.” Disamping alasan umum itu, Ginanjar menambahkan bahwa tiap-tiap film dokumenter memiliki spesifikasi keunikan masing-masing. Hal itu, tergantung dari proses kreatifnya.&lt;br /&gt;Tentang upaya membuat film dokumenter menjadi unik, Yohannes Aditya, Pemenang Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2005, mengemukakan pendapatnya bahwa ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama adalah dengan mencari kasus yang spesifik dan memiliki keunikan tertentu. Misalnya seperti dalam film finalis Eagle Award 2010 lalu yang berjudul ‘Kepala Sekolahku Pemulung’. Seorang Kepala Sekolah yang merangkap sebagai seorang pemulung bukanlah hal yang wajar, sebab itulah, ia menjadi unik. &lt;br /&gt;Cara yang kedua adalah dengan menggunakan sudut pandang yang unik dalam melihat suatu kasus yang sifatnya umum. Dalam hal ini, Hartanto, pengasuh Grabag TV, yang juga seorang dosen IKJ, memberi contoh misalnya dengan membuat film tentang kesalahkaprahan masyarakat tentang penggunaan kata ‘kami’ dan ‘kita’. Fenomena itu telah membudaya dalam masyarakat Indonesia sebagai suatu bentuk kecacatan berbahasa, akan tetapi, melalui dokumenter, kita bisa melihatnya dari sudut pandang psikologis bahwa kini, dalam alam bawah sadar masyarakat Indonesia, mereka mengasumsikan orang lain sebagai bagian dari dirinya juga. Melalui sudut pandang yang berbeda itulah, suatu film dokumenter bisa digolongkan sebagai suatu karya unik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VbaKbGlM_NM/TbnTDl21B2I/AAAAAAAABGY/Li7KtGR2nsQ/s1600/Foto%2Badit%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VbaKbGlM_NM/TbnTDl21B2I/AAAAAAAABGY/Li7KtGR2nsQ/s320/Foto%2Badit%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600739670267070306" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sisi-sisi kehidupan tunanetra yang diangkat Johanes Aditya dalam film "Againts Incapable" (foto 02).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme pembuatan film dokumenter, turut dibahas pula dalam diskusi tersebut. Berbagi pengalaman yang didapatnya dari Metro TV, Ginanjar mengemukakan bahwa alur yang digunakannya setelah mendapatkan ide untuk membuat film dokumenter dengan tema tertentu adalah dengan membuat skenario, mengumpulkan informasi melalui pengambilan shot, membuat transkrip dari shot-shot yang ada, menyusun alur akhir dengan mengombinasikan skenario awal dan informasi/shot yang didapat hingga akhirnya masuk ke tahap finishing. &lt;br /&gt;Diakuinya seringkali skenario yang telah dibuat tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, “Memang, itulah dokumenter. Sebenarnya kita bukan membuat skenario, melainkan sekedar storyline atau gambaran umumnya saja ,” jelas Ginanjar. &lt;br /&gt;Pembuat film dokumenter sering pula mengalami kesulitan dalam menentukan narasumber yang tepat dan bisa merepresentasikan keadaan yang sesungguhnya dengan sesuai. Adapun narasumber bisa digolongkan menjadi dua, yang pertama adalah narasumber individu sedangkan yang lain adalah narasumber komunal, misalnya suatu komunitas. Tidak ditemui kesulitan yang berarti ketika yang kita hadapi adalah narasumber individu. Seperti dalam film ‘Kepala Sekolahku Pemulung’, subjek yang menjadi tokoh sentral sudah jelas, yaitu kepala sekolah. &lt;br /&gt;Sedangkan dalam kasus kelompok, Mualim M. Sukethi memaparkan teknik yang pernah digunakannya dalam pembuatan film ‘Ecofish, Case From Buleleng’, sebuah film pesanan LEAD Indonesia yang berkisah tentang upaya pemulihan terumbu karang yang selama ini hancur akibat perburuan ikan hias yang dilakukan para nelayan di Buleleng, suatu wilayah di bagian utara Pulau Bali. Trik yang ia pakai adalah dengan memilih tokoh sentral yang dapat mewakili kehidupan suatu komunitas. &lt;br /&gt;Salah seorang nelayan ia ikuti kegiatannya sejak pagi hingga petang, sehingga kemudian tampak interaksi dengan nelayan-nelayan yang lain (one day in the life…). Selanjutnya, dalam film tersebut, tiap pernyataan dari si tokoh sentral ia konfrontir dengan pihak-pihak yang terkait akan hal itu. Sehingga keterlibatan mereka, misalnya LSM, Pemerintah, dll akan terlihat di dalam film.&lt;br /&gt;Masalah muncul ketika seorang filmmaker harus menciptakan tokoh sentral dengan memilih satu dari sekian banyak orang yang mungkin. Dalam hal ini, pendekatan yang dilakukan Mualim adalah daerah asal dan pengaruh dalam komunitas. Ketika di Buleleng ia menjumpai kebanyakan nelayan adalah mereka yang bermigrasi dari Madura. Tapi ia tidak memilih tokoh utama dari etnis Madura. Ia memilih  seorang nelayan pribumi Bali dan tentu saja, termasuk artikulatif dalam kelompoknya. “Rasanya kurang fair kalau kita pilih nelayan Madura, padahal kita mengangkat kehidupan nelayan di pulau Bali, “ alasan Mualim.&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Yohannes Aditya, filmnya yang membanggakan, ‘Against Incapable’, dalam menentukan tokoh sentralnya ia menggunakan pendekatan kemampuan interaksi dan tingkat intelektualitas. Dalam film yang berkisah tentang kehidupan sosial kaum tunanetra itu, ia memilih seorang tokoh sentral yang mampu bercerita dengan fasih dan memiliki bakat-bakat tertentu yang unggul dibanding sesamanya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*). Khalimatu Nisa adalah siswi SMUN 1 Magelang. Ia adalah pembuat film ‘Langit Merah Bulan Juni’, yang bercerita tentang Pasar Rejowinangun pasca kebakaran Juni 2008. Dalam acara ‘Pekan Film Dokumenter Magelang 2011’, Nisa ikut menjadi panitia sebagai seksi diskus sekaligus MC.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7351215870001331169?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7351215870001331169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/film-dokumenter-permasalahannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7351215870001331169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7351215870001331169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/film-dokumenter-permasalahannya.html' title='FILM DOKUMENTER &amp; PERMASALAHANNYA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IkTNQHB80f0/TbnRptgqTLI/AAAAAAAABGQ/DJNn2CSLE7E/s72-c/Foto%2Bpasar%2Bkobong%2Bdr%2BNisa%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1832680447883695358</id><published>2011-04-25T19:29:00.008+07:00</published><updated>2011-04-25T20:12:30.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>MENUJU KOTA FILM (Laporan dari ‘Pekan Film Dokumenter Magelang 2011’).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-TK0LM2P2K7k/TbVuDGjAfOI/AAAAAAAABFg/rqGZkJaxxjQ/s1600/Nonton%2Bfilm%2B08.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-TK0LM2P2K7k/TbVuDGjAfOI/AAAAAAAABFg/rqGZkJaxxjQ/s320/Nonton%2Bfilm%2B08.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599502711281188066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Myasa Poetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 April 2011.&lt;/span&gt; Banyak kalangan yang kurang percaya kalau film-film yang mereka saksikan malam itu adalah buatan siswa/I SMU dan SMP.  Begitulah suasana yang terekam dari beberapa orang yang hadir pada pembukaan ‘PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011’,  ketika dua film berjudul ‘Langit Merah Bulan Juni’ dan ‘Kotaku Kota Patung’ selesai diputar.&lt;br /&gt;“Benar film itu buatan anak SMP ? “, tanya Bambang Eka Prasetya, seorang deklamator sekalgus pengusaha property, yang malam itu datang bersama istrinya, Mbak Nies, mantan anggota DPRD Kabupaten Magelang. “Gambar-gambarnya bagus ya…”, sergah Mami Kato, warga Jepang pemilik Studio Mendut.&lt;br /&gt;“Film ‘Kotaku Kota Patung’  memang dibikin oleh Dini dkk, siswa/i sebuah SMP di kota Muntilan. Film itu dibuat dalam rangka lomba Kid Witness News yang diadakan sebuah merk produk elektronik, “ jelas Mualim M Sukethi, penggagas acara yang sekaligus Pemred borobudurlinks.com. Mendengar penjelasan itu, kedua aktivis kebudayaan Magelang itu nampak kagum.&lt;br /&gt;Mualim juga menjelasakan kalau dari kawasan Muntilan muncul beberapa karya film yang bagus. Setidaknya pada pekan film kali ini, selain ‘Kotaku Kota Patung’, juga diputar ‘Againts Incapable’, karya Johanes Aditya yang memenangkan predikat film terbaik pada ‘Festival Film Dokumenter Jogyakarta 2005’.&lt;br /&gt;“Mungkin suatu ketika Muntilan bisa mewakili Magelang Raya sebagai kota film, “ ujar Mualim, seraya menyebut beberapa judul film pendek karya beberapa komunitas film di kota ‘tape ketan’ itu, yang memenangkan beberapa penghargaan saat ‘Festival Film Pendek Tidar 2010’ lalu. “Yang jelas kualitas teknisnya jauh lebih bagus dari rata-rata film yang dibuat ‘saudaranya’ dari kota Magelang, “ puji Mualim lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cP3GnjZmCCs/TbVvN48HhYI/AAAAAAAABFw/8U4dCJd-TRM/s1600/Acara%2Bpembukaan%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cP3GnjZmCCs/TbVvN48HhYI/AAAAAAAABFw/8U4dCJd-TRM/s320/Acara%2Bpembukaan%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599503996118599042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan harapan memang bermunculan dari para hadirin yang jumlahnya cukup banyak pada pembukaan pecan film ini. “Lewat pengalaman mengelola forum seperti ini, kami berharap suatu ketika kami bisa mengadakan festival film yang bertaraf nasional bahkan internasional di Magelang, “ kata Ginanjar Teguh Iman, Koordinator Acara, dalam sambutannya. Ginanjar yang masuk final ‘Eagle Award 2009’ lewat filmnya “Dunia Kecil Dalam Kotak’, adalah penyelenggara ‘Festival Film Pendek Tidar 2010’.&lt;br /&gt;“Semoga acara semacam ini mampu mendorong seniman film dari Magelang berkarya lebih baik lagi. Sehingga kehidupan senibudaya Magelang makin dinamis, “ sambut Edi Wahyanto, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) kota Magelang.  Selain Edi, nampak hadir Catur Sawahyo (Sekretaris Disporabudpar), Hartanto (mantan dekan FFTV-IKJ dan pendiri GrabagTV), Sutanto (Komunitas 5 Gunung), Sutrisman MSc (Akademi Magelang), Mbilung Sarawita (DKKM), Gepeng Nugroho (sutradara teater), dan Dorothea Rosa Herliany (penyair, Pengelola Rumah Buku Dunia Tera).&lt;br /&gt;Sementara beberapa perupa Magelang ikut meramaikan perhelatan malam itu, antara lain: Deddy PAW, Damtoz Andreas, Kaji Habib, Untung Laluna, dan Wahudi. Tiga nama terakhir adalah pengelola ‘Magelang Art Pop-pourri’, yang menjadi mitra borobudurlinks sebagai penyelenggara hajatan budaya ini.&lt;br /&gt;Selain memutar film, acara pembukaan malam itu juga diramaikan oleh performing-art Eka Pradaning, seorang penari pemimpin Padepokan ‘Tapak Liman’ Candimulyo, kabupaten Magelang. Selain menembangkan sinom yang menggambarkan kegundahan hati para pedagang pasar Rejowinangun, Eka dengan cerdik dan plastis memainkan enam buah lilin, yang berfungsi menjadi tatacahaya tariannya sekaligus menjadi idium api yang meluluhlantakan pasar legendaries bagi warga Magelang yang terbakar 3 tahun lalu itu.&lt;br /&gt;Sedangkan Ki Sambi, seniman ketoprak/wayang wong, yang membuka pekan film ini juga menembangkan peristiwa terbakarnya pasar 3 tahun lalu itu, melengkapi sambutannya yang disampaikan dalam bahasa Jawa alusan. Salah satu penemu watang gethuk, yang juga pedagang barang antic atau klithikan di pasar penampungan, itu dengan tepat menggambarkan dirinya dan para pedagang lainnya yang cukup lama menantikan kepastian pembangunan pasar yang menjadi urat nadi kehidupan keluarganya itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jUt-rl7_0Cs/TbVv1zcCmhI/AAAAAAAABF4/ibEcwVNB7vA/s1600/Diskusi%2B08.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jUt-rl7_0Cs/TbVv1zcCmhI/AAAAAAAABF4/ibEcwVNB7vA/s320/Diskusi%2B08.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599504681836648978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Kami memang mendedikasikan malam pembukaan ini bagi Ki Sambi dan pedagang pasar Rejowinangun. Kami ingin malam ini menjadi kegembiraan sekaligus renungan bagi nasib pedagang yang lama menderita ini, “ ungkap Mualim tentang kandungan kritik terhadap elite politik kota Magelang, yang disampaikan dengan bahasa seni itu. Menurut Mualim, ide ini muncul scara spontan, ketika mereka mendengar tentang pembatalan kontrak antara pemkot Magelang dengan pengembang yang memenangkan lelang. Seperti kita ketahui, pembatalan ini yang ke-5 kalinya selama hampir 3 tahun proses lelang pembangunan pasar yang dianggap pusat ekonomi Magelang raya itu.&lt;br /&gt;Berbeda dengan malam pembukaan yang dipenuhi tokoh-tokoh kota Magelang, pemutaran film dan diskusi yang berlangsung sore harinya, selama 3 hari, tak banyak kalangan seniman dari kota gethuk itu yang nampak hadir. Yang nampak menikmati pemutaran film dan diskusi yang berlangsung setiap hari antara jam 15.00 – 17.30, itu adalah anak-anak muda dari beberapa wilayah di luar kota Magelang. Ada yang dari Muntilan, Secang, Glagah, dan Grabag. Bahkan sebagian berasal dari Medan, Banjarmasin, Semarang, dan Klaten. Mereka adalah siswa/I SMK jurusan broadcast, peserta PKL di GrabagTV.&lt;br /&gt;Hampir tiap hari mereka, anak-anak muda, itu dengan setia menonton dan berdiskusi dengan para pembicara yang notabene adalah pembuat film-film yang diputar. Mereka merasa mendapat ilmu yang sangat bermanfaat bagi pengembangan keahlian yang mereka butuhkan sebagai calon pembuat film. “Selain teori yang canggih, kami juga mendapat petunjuk praktis yang pasti sudah teruji karena berasal dari pakarnya, “ kata Nisa, pembuat film ‘Langit Merah Bulan Juni’, mengutarakan kesannya bertemu dengan pembuat film professional seperti hartanto, Mualim M Sukethi, dan Johanes Aditya.&lt;br /&gt;Sementara Agung Nugroho, aktivis petani dari Blabak, kabupaten Magelang, yang 2 kali datang menonton dan berdiskusi, mengatakan: “Saya memetik manfaat acara ini. Saya tergerak untuk membuat film bagi pemberdayaan petani. Dari sini saya belajar bagaimana memulainya “.&lt;br /&gt;Selain pujian dan harapan yang muncul mengiringi acara pekan film ini, tentu ada juga kritik dan pendapat berbeda. Seperti kesan Sutanto Mendut dalam sambutannya. “Saya menyayangkan kenapa tak ada dari para film-maker ini yang tertarik mengangkat tragedy Merapi. Apa kurang dramatisnya ratusan ibu-ibu yang berlarian dari desa-desa di lereng Merapi, menyelamatkan diri dan keluarganya ke kota-kota yang dianggap aman, “ sindir  penggerak budaya Magelangan itu.&lt;br /&gt;Kaji Habib, perupa Magelang Art pop-pourri melihat indikasi ‘politisasi’ acara pecan film ini. “Acara ini sudah dipolitikkan, “ katanya mengomentari acara pembukaan yang sarat dengan nuansa gugatan dan keprihatinan terhadap masalah pasar Rejowinangun.&lt;br /&gt;Mualim, penanggungjawab acara ini, dengan santai menjawab kritik itu. “Soal film tentang Merapi mungkin sudah ada yang membuat. Tapi proses membuat film kan tidak semudah membalik telapak tangan. Mungkin nanti akan muncul film-film itu. Kita tunggu saja….” Ujar Mualim, yang berniat membuat film tentang Merapi, tapi bukan letusan Merapi yang menurutnya sudah over-expose. Tapi tentang tragedy politik tahun 65 yang terjadi di desa lereng Merapi.&lt;br /&gt;Sedangkan menjawab kritik Kaji habib, Mualim mengatakan: “kalau berpolitik diartikan secara partisan, atau ingin mengejar kekuasaan seperti layaknya politikus, tentu kami jauh dari interest semacam itu”. Menurut produser film dokumenter yang banyak bekerjasama dengan LSM itu, seniman berrpolitik tujuannya mempengaruhi elite politik agar melahirkan politik yang beretika, yang memihak kepentingan rakyat. “Kami hanya menghimbau agar elite politik kota Magelang lebih serius memperhatikan penderitaan pedagang pasar Rejowinangun. Tentu appeal itu kami sampaikan dengan bahasa kami, bahasa seni. Bukankah itu salah satu kewajiban seniman ‘menyuarakan realitas jamannya’, “ papar Mualim sembari mengutip penggalan sajak Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku mendengar suara, jerit hewan yang terluka.&lt;br /&gt;Ada orang memanah rembulan, anak burung terjatuh dari sarangnya,&lt;br /&gt;Orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan.&lt;br /&gt;Agar kehidupan tetap terjaga….! “.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Rosa, penyair terkemuka, itu dengan santai menukas: “Yang pasti dengan adanya acara semacam ini kehidupan senibudaya di Magelang makin rame “. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1832680447883695358?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1832680447883695358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/menuju-kota-film-laporan-dari-pekan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1832680447883695358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1832680447883695358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/menuju-kota-film-laporan-dari-pekan.html' title='MENUJU KOTA FILM (Laporan dari ‘Pekan Film Dokumenter Magelang 2011’).'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TK0LM2P2K7k/TbVuDGjAfOI/AAAAAAAABFg/rqGZkJaxxjQ/s72-c/Nonton%2Bfilm%2B08.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1399730441534963228</id><published>2011-04-25T19:04:00.018+07:00</published><updated>2011-04-25T20:10:26.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>PEKAN FILM DALAM RANGKAIAN FOTO.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 25 April 2011.&lt;/span&gt; Selama 3 hari ‘PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011’ telah berlangsung dengan baik dan lancar. Banyak pihak terlibat dan mendukung acara yang untuk pertama kalinya berlangsung di kota Magelang ini.&lt;br /&gt;Berikut adalah rangkaian foto-foto yang menggambarkan suasana pekan film. Foto2 ini hasil jepretan Mualim M Sukethi, Gilang UTM, Fatikh Smuda, dan Mbilung Sarawita. Terimakasih atas sumbangan fotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-93Jk0GnyOqA/TbVkqLKgEqI/AAAAAAAABEw/t5JrMfjxLQE/s1600/Eka%2Bperforms%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-93Jk0GnyOqA/TbVkqLKgEqI/AAAAAAAABEw/t5JrMfjxLQE/s320/Eka%2Bperforms%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599492387419198114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;01.&lt;br /&gt;TARI. Eka Pradaning, seorang penari dr Candimulyo kab Magelang, mengisi acara di mlm pembukaan. Ia juga mendedikasikan tariannya untuk pedagang pasar Rejowinangun yg terlalu lama menderita. Bukti kongkrit kepedulian seniman thd masalah sosial di lingkungannya, tentu dgn caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0rfxoWu1Fus/TbVlZjU2AuI/AAAAAAAABE4/Z6u-cBl6xbo/s1600/Acara%2Bpembukaan%2B03.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0rfxoWu1Fus/TbVlZjU2AuI/AAAAAAAABE4/Z6u-cBl6xbo/s320/Acara%2Bpembukaan%2B03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599493201358881506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;DUKUNGAN. Teman2 perupa yg tergabung dlm 'Magelang Art pot-pourri yg menjadi pendukung utama acara ini. Trims dab !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KmShnfR02tI/TbVlyHEfQhI/AAAAAAAABFA/ZUuDEwah8tw/s1600/Nisa%2BMC.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KmShnfR02tI/TbVlyHEfQhI/AAAAAAAABFA/ZUuDEwah8tw/s320/Nisa%2BMC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599493623270818322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;DARAH MUDA. Nisa, siswi SMU yg menjadi MC pd malam pembukaan. Ia tampil cerdas dan percaya diri. Sebagian besar panitia acara ini memang siswa/i SMU. Darah segar bagi kehidupan senibudaya Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-LEZ2-QpKVOc/TbVqwQHyEBI/AAAAAAAABFI/or01Ot-B7K8/s1600/Hartanto%2Bdi%2Bdiskusi%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-LEZ2-QpKVOc/TbVqwQHyEBI/AAAAAAAABFI/or01Ot-B7K8/s320/Hartanto%2Bdi%2Bdiskusi%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599499088898953234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;PAKAR. Diskusi dgn menghadirkan pakar &amp; praktisi film, selain secara kongkrit bisa melihat karya2 mereka, juga bisa 'ngangsu kawruh' secara langsung. Sesuatu yg langka terjadi di Magelang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-kmv0LMavjwU/TbVrgMvWAEI/AAAAAAAABFQ/VSKs_k_9usQ/s1600/Nonton%2Bfilm%2B03.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-kmv0LMavjwU/TbVrgMvWAEI/AAAAAAAABFQ/VSKs_k_9usQ/s320/Nonton%2Bfilm%2B03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599499912624865346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;ATMOSFIR. Suasana pemutaran film di tengah2 pameran lukisan. Kental dgn atmosfer budaya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yPywgZZpIUk/TbVxVbNTtNI/AAAAAAAABGA/9EHaHewZKY4/s1600/Diskusi%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yPywgZZpIUk/TbVxVbNTtNI/AAAAAAAABGA/9EHaHewZKY4/s320/Diskusi%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599506324599846098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;BERIMBANG. Mas Widoyoko, yg ternyata staf pemkot, dgn semangat mengkritisi film ttg pasar. Ia menilai film itu tdk menampilkan pendapat dr kalangan eksekutif sehingga informasinya kurang.berimbang. 'Trims Pak masukannya, ' kata Nisa pembuat filmnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-XHfFLGaFg6s/TbVyKRp7itI/AAAAAAAABGI/nrKvhkXh23k/s1600/Nonton%2Bfilm%2B06.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XHfFLGaFg6s/TbVyKRp7itI/AAAAAAAABGI/nrKvhkXh23k/s320/Nonton%2Bfilm%2B06.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599507232568609490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;GRABAG-TV. Tim GrabagTV secara sukarela mendokumentasikan seluruh acara pekan film. Suatu dedikasi luarbiasa thd pengembangan perfilman MGL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Myasa Poetika/bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1399730441534963228?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1399730441534963228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/pekan-film-dalam-rangkaian-foto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1399730441534963228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1399730441534963228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/pekan-film-dalam-rangkaian-foto.html' title='PEKAN FILM DALAM RANGKAIAN FOTO.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-93Jk0GnyOqA/TbVkqLKgEqI/AAAAAAAABEw/t5JrMfjxLQE/s72-c/Eka%2Bperforms%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3386321809442911824</id><published>2011-04-20T22:22:00.007+07:00</published><updated>2011-04-21T03:31:10.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011. (Penghargaan Untuk Ki Sambi &amp; Pedagang Pasar Rejowinangun).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-oV2PdGJVFmw/Ta7664zOAUI/AAAAAAAABEY/LYue_ZR3_RQ/s1600/poster%2Bpekanfilmdokumenter%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 208px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-oV2PdGJVFmw/Ta7664zOAUI/AAAAAAAABEY/LYue_ZR3_RQ/s320/poster%2Bpekanfilmdokumenter%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597687276454674754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 19 April 2011.&lt;/span&gt; Sekarang ini hampir semua warga masyarakat, termasuk warga Magelang, bisa dengan mudah membuat film. Gejala menggembirakan ini tentu tak lepas dari perkembangan teknologi komunikasi digital. Dengan demikian masyarakat kini bisa berekspresi melalui film yang dianggap sebagai media komunikasi dan ekspresi paling efektif.&lt;br /&gt;Agar film-film yang dibuat itu dapat tersosialisasi dengan baik, perlu adanya suatu forum yang bisa difungsikan sebagai jembatan komunikasi antara pembuat, pemerhati, dan masyarakat luas yang bisa memanfaatkan film-film itu. Lewat forum ini para pemangku kepentingan di bidang film bisa saling belajar tentang berbagai persoalan film secara lebih baik.&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman ‘Festival Film Pendek Tidar Magelang 2010’, serta pertemuan pembentukan ‘Forum Komunikasi Komunitas Film Magelang Raya’, tanggal 3 April 2011 lalu, borobudurlinks.com memberanikan diri mengadakan ‘PEKAN FILM DOKUMENTER 2011’. Pekan film yang pertama kalinya diadakan di Magelang ini rencananya akan diadakan pada tanggal 22-24 April 2011, bertempat di ‘Trio Art Space’, Hotel TRIO, Jalan Jend.Sudirman 72, Kota Magelang.&lt;br /&gt;“Jumlah pembuat film di Magelang ternyata cukup banyak. Beberapa bahkan eksis di kancah nasional. Rasanya memang tepat kalau saat ini, di Magelang, mulai digerakkan kegiatan atau program film, “ kata Mualim M Sukethi, pendiri dan pengelola borobudurlinks.com, menjelaskan tujuan diadakannya acara film ini.&lt;br /&gt;Selain dirinya yang dikenal sebagai produser film dan program TV nasional, Mualim kemudian menyebut beberapa nama. “Hartanto, mantan Dekan FFTV-IKJ, kini tinggal di Grabag dan mendirikan GrabagTV, yang sempat mengudara beberapa waktu lalu”. &lt;br /&gt;“Dari segi jumlah memang lumayan banyak pembuat film di Magelang. Yang menggembirakan, keberadaan mereka tak hanya di kota, tapi menyebar hingga ke desa-desa di luar kota Magelang, “ kata Hartanto, yang menggagas dibentuknya Forum Komunikasi Komunitas Film Magelang Raya. “Kata Magelang Raya itu untuk mencairkan wilayah budaya Magelang. Supaya tak terkotak-kotak oleh wilayah administrasi kota dan kabupaten Magelang, “ lanjut pria yang dianggap master di bidang tatasuara film itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8oUJatCG8-o/Ta771K2AwJI/AAAAAAAABEo/XMokr5LJlts/s1600/Pasar%2Bkini%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 98px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8oUJatCG8-o/Ta771K2AwJI/AAAAAAAABEo/XMokr5LJlts/s320/Pasar%2Bkini%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597688277730640018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ginanjar Teguh Iman, Mahasiswa UTM, adalah finalis Eagle Award 2009 (penghargaan bergengsi di bidang film documenter yang diadakan MetroTV) lewat filmnya ‘Dunia Kecil Dalam Kotak’. “Saya mau terlibat dalam acara ini karena forum seperti ini sudah saatnya ada di Magelang. Mungkin lewat forum seperti ini bisa dirintis adanya festival film yang bergengsi di Magelang, “ alasan Ginanjar, yang dalam acara ini bertindak sebagai coordinator acara.&lt;br /&gt;Pemenang ‘Festival Film Dokumenter Jogyakarta’, Johanes Aditya, yang lahir dan besar di Muntilan, beralasan lain lagi. “Ini menjadi alternative dari bioskop. Lewat forum seperti ini masyarakat bisa menonton film-film yang ngga mungkin diputar di bioskop, seperti film documenter yang pernah saya buat, “ ujar pria yang kini bekerja sebagai program director di PH ‘DreamLight’ ini.&lt;br /&gt;Selain beberapa nama di atas, tentu pembaca telah mengenal nama-nama seperti Suzanna, Dicky Suprapto, Kris Biantoro, Nurnaningsih, Marlia Hardy, Nafa Urbah, yang malang melintang di jagad film dan sinetron sebagai artis-artis pemeran papan atas.  Sedangkan nama-nama Frans Totok, Rako Priyatno, dan Harry Dagoe adalah sutradara yang pernah mengecap udara sejuk ‘kota gethuk’ ini.&lt;br /&gt;Selain dokumenter apakah jenis film lain juga akan diputar ?  “Sementara ini film documenter dulu. Bulan depan film pendek/klip, lalu film-film yang diangkat dari karya sastra dengan tema ‘Sastra Versus  Film’, seterusnya ‘Perempuan Dalam Film Indonesia’, dan lain-lain ,” kata Mualim menjelaskan rencana program film dari borobudurlinks.com di masa datang.&lt;br /&gt;Mualim, yang pernah memproduksi ‘Parmin’ – sinetron terbaik pemenang 5 Piala Vidia dalam Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1994 (pengganti FFI yang kala itu vakum), menganggap keberagaman jenis dan tema itu diharapkan mampu menempatkan film sebagai media pembelajaran. “Jadi nanti penonton pekan film yang kami adakan tak hanya terhibur, tapi juga mendapatkan pencerahan terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan lainnya “.&lt;br /&gt;Seperti dalam pekan film kali ini penonton bisa melihat seberapa jauh pencapaian sineas Magelang. Selain itu juga bagaimana pandangan mereka tentang kotanya sendiri. Beberapa film yang akan diputar memang mengangkat persoalan kota Magelang, seperti ‘ Langit Merah Bulan Juni’, karya Komunitas Jeda, yang mengangkat masalah Pasar Rejowinangun, yang terbakar hampir 3 tahun lalu dan hingga kini tak ada kejelasan akan dibangun kembali.&lt;br /&gt;“Untuk itulah pekan film kali ini juga kami persembahkan buat Ki Sambi, penemu wayang gethuk dan pedagang keris dan barang antic pasar Rejowinangun, yang hampir 3 tahun menderita karena harus berdagang di pasar penampungan yang kondisinya memprihatinkan ,” lanjut Mualim, yang kini banyak mengerjakan film documenter bersama sejumlah LSM itu.&lt;br /&gt;Soal tempat, kenapa di Hotel TRIO ? “Ini hanya salah satu alternative ruang private yang bisa dijadikan ruang public bernuansa budaya. Kebetulan Hotel TRIO memulainya. Tentu kami berterimakasih, “ kata Hartanto, yang juga menyediakan studio GrabagTV untuk acara semacam ini. Beberapa tempat yang sudah menawarkan diri antara lain: Skylight, Studio Deddy PAW, Padepokan Eka Pradaning di Candimulyo, Komunitas Matahari Muntilan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;“Kami tak berhenti di satu ruang. Ruang ekspresi ada di mana-mana. Selain secara strategis mampu menyebarkan ideology film, kami juga mencoba mendobrak kebekuan kreatif karena ketiadaan ruang semacam gedung kesenian di Magelang, “ lanjut Ginanjar, menjelaskan alasan pemilihan tempat-tempat pekan film selanjutnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Myasa Poetika/bolinks@2011).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-3386321809442911824?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/3386321809442911824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/pekan-film-dokumenter-magelang-tribute.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3386321809442911824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/3386321809442911824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/pekan-film-dokumenter-magelang-tribute.html' title='PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011. (Penghargaan Untuk Ki Sambi &amp; Pedagang Pasar Rejowinangun).'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oV2PdGJVFmw/Ta7664zOAUI/AAAAAAAABEY/LYue_ZR3_RQ/s72-c/poster%2Bpekanfilmdokumenter%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4937105610224067168</id><published>2011-04-20T21:55:00.007+07:00</published><updated>2011-04-21T07:15:57.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>JADWAL &amp; SINOPSIS ‘PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011’.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-RNMF-a8Qh9I/Ta72izn1jfI/AAAAAAAABEI/U2EQwRQIwKg/s1600/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RNMF-a8Qh9I/Ta72izn1jfI/AAAAAAAABEI/U2EQwRQIwKg/s320/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597682464701386226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 20 April 2011. Selama 3 hari akan diputar sedikitnya 3-4 film dan dilanjutkan diskusi. Pada saat pembukaan, yang akan dilangsungkan tanggal 22 April 2011, jam 19.30, juga akan dipentaskan satu tarian tunggal karya dan dimainkan sendiri oleh Eka Pradaning. Sedangkan pembukaannya sendiri akan dilakukan oleh Ki Sambi, pemain  kethoprak/wayang orang, penemu wayang gethuk, sekaligus pedagang keris/antic.&lt;br /&gt;Selain seniman tradisional yang gigih, Ki Sambi adalah salah satu wujud nyata penderitaan pedagang pasar Rejowinangun yang terbakar 3 tahun lalu, dan hingga kini tak jelas nasibnya. “Selain penghargaan atas dedikasinya sebagai seniman, upacara pembukaan ini juga menjadi semacam renungan bagi penderitaan pedagang pasar yang tiada habisnya, “ kata Mualim menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal acara secara lengkap adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 22 April 2011.&lt;br /&gt;Jam 15.00 s/d  Jam 18.00i.&lt;br /&gt;•Film ‘Dunia Kecil Dalam Kotak’, karya Ginanjar Teguh Iman/Herlina Ratnafuri.&lt;br /&gt; Finalis Eagle Award MetroTV 2009.&lt;br /&gt;•Film ‘Langit Merah Bulan Juni’, Karya Komunitas Jeda&lt;br /&gt;•Film ‘Kotaku Kota Patung’, karya  Kukuh Ugie.&lt;br /&gt; Pemenang  Panasonics Kids Witness News.&lt;br /&gt;•Review oleh Mualim M Sukethi (Alumni FFTV-IKJ, Produser Film/TV). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 19.30.&lt;br /&gt;Pembukaan:&lt;br /&gt;Sambutan-sambutan.&lt;br /&gt;Seni Pertunjukan oleh Eka Pradaning.&lt;br /&gt;Pembukaan oleh Ki Sambi (seniman kethoprak dan penemu wayang gethuk).&lt;br /&gt;Pemutaran film ‘Langit Merah Bulan Juni’ (film tentang Pasar Rejowinangun yang      terbakar hampir 3 th lalu, dan hingga kini tak jelas nasibnya. Karya Komunitas Jeda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 23 April 2011, jam 15.00 – 21.00.&lt;br /&gt;•Film ‘Againts Incapable’, karya Johanes Aditya.&lt;br /&gt;Pemenang ‘Festival Film Dokumenter Jogyakarta 2005’.&lt;br /&gt;•Film ‘ECOFISH, Case From Buleleng’, karya Mualim M Sukethi/Srikaton Mindarwanto.&lt;br /&gt;•Film ‘Menari Di Atas Angin’, karya Ginanjar Teguh Iman.&lt;br /&gt;•Review oleh Hartanto (Mantan Dekan FFTV-IKJ, pendiri GrabagTV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 24 April 2011, jam 15.00 – 21.00.&lt;br /&gt;•Diskusi ’FILM DOKUMENTER &amp; PERMASALAHANNYA’, pembicara: Hartanto, Mualim M Sukethi, Johanes Aditya, Ginanjar Teguh Iman, Herlina Ratnafuri, Komunitas Jeda, Komunitas Matahari, dll.&lt;br /&gt;•Dilanjutkan pemutaran film sesuai keinginan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINOPSIS  FILM2 PESERTA ‘PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.“DUNIA KECIL DALAM KOTAK”.&lt;br /&gt;“Dunia Kecil dalam Kotak” adalah satu dari 5 Finalis dari Eagle Awards Documentary Competition 2009, yakni ajang kompetisi dokumenter memperebutkan beasiswa produksi dari METRO TV. Film ini bercerita tentang keberadaan ‘Grabag TV’. Stasiun TV Komunitas yang keberadaannya berawal dari kreativitas masyarakat Grabag, Magelang, yang memanfaatkan sebuah tower untuk me-relai siaran TV swasta, untuk kepentingan media komunikasi televisi yang mereka produksi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  :  GINANJAR TEGUH IMAN dan HERLINA RATNAFURI.&lt;br /&gt;Produksi : Metro-TV. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-XwCXiMpiQ5I/Ta7256l63SI/AAAAAAAABEQ/pVvd9KMt4yg/s1600/Foto%2Badit%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-XwCXiMpiQ5I/Ta7256l63SI/AAAAAAAABEQ/pVvd9KMt4yg/s320/Foto%2Badit%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597682861709384994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2.“AGAINTS INCAPABLE”.&lt;br /&gt;Film yang memenangkan predikat film terbaik dalam ‘Festival Film Dokumenter Yogyakarta’, ini bercerita tentang tunanetra bernama Tri, penghuni asrama tunanetra Yakatunis. Kehidupan yang senantiasa berada di kegelapan, itu tidak membuat Tri dan teman-teman senasibnya menyerah. Mereka merasa seperti anak-anak normal lainnya.&lt;br /&gt;Mereka bisa bermain bola, memanjat pohon, dan bersekolah. Kadang-kadang tumbuh perasaan minder, memang. Karena masyarakat sekitar seringkali memandang sebelah mata keberadaan mereka. Tapi hal itu tak mematahkan semangat mereka, karena mereka punya impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  : J. Aditia&lt;br /&gt;Produksi : Komunitas Matahati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.“LANGIT MERAH BULAN JUNI”.&lt;br /&gt;Kamis, 26 Juni 2008 Pasar Rejowinangun terbakar. Api melalap pasar yang konon merupakan pasar induk terbesar se-eks Karesidenan Kedu. Dalam sekejap, Pasar Rejowinangun sebagai sentra ekonomi Kota Magelang hangus jadi abu. 1700an pedagang kehilangan lapak, kios, berikut barang dagangan mereka.&lt;br /&gt;Dua setengah tahun lamanya mereka terkatung-katung dalam nasib yang tak menentu. Janji-janji pembangunan pasar berulang kali didengungkan tapi kenyataannya, tak lebih dari sekedar kebohongan. Sengsara makin akrab dengan kehidupan para pedagang. Satu demi satu pihak mulai menceburkan diri dalam polemik Pasar Rejowinangun. Masing-masing dengan cara masing-masing. Apakah hal ini mampu menyelesaikan masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  : Komunitas Jeda&lt;br /&gt;Produksi : LKIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.“ECOFISH, Case From Buleleng”.&lt;br /&gt;Sebagai Negara kepulauan, Indonesia adalah surga terumbu karang. Namun keindahan terumbu karang itu terancam punah. Sebagian besar dikarenakan potas dan bom yang digunakan nelayan menangkap ikan hias.&lt;br /&gt; Film ini berusaha mengangkat upaya sebuah LSM (Lead Indonesia) memberdayakan nelayan di Buleleng, Bali Utara, mengatasi kerusakan terumbu karang di perairan mereka. Serta mengatasi problem ekonomi karena berkurangnya penghasilan para nelayan itu setelah menangkap ikan dengan cara ramah lingkungan (ecofish).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  : Mualim M Sukethi/Srikaton Mindarwanto&lt;br /&gt;Produksi : Lead Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.“Menari Dengan Angin”.&lt;br /&gt;Film ini menampilkan sosok lelaki tua pengajar tari tradisional di kampong Kliwonan, Kota Magelang. Diceritakan bagaimana perjuangan lelaki itu dari mulai belajar menari kala remaja, hingga menapak usia tua sebagai pengajar tari. Semangatnya, sukadukanya, hingga kepedihannya menghadapi kenyataan semakin berkurangnya perhatian generasi masakini terhadap seni tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya  : Ginanjar Teguh Iman&lt;br /&gt;Produksi : TVRI Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. 'Kotaku Kota Patung'.&lt;br /&gt;Film ini adalah pemenang ke 2 'Kids Witness News', lomba film bagi siswa/i SMP yang diadakan Panasonic. Film ini menceritakan kota kecamatan Muntilan yang dihuni banyak&lt;br /&gt;pengrajin patung batu. Mereka, pengrajin itu menggunakan batu-batu di sungai yang berasal dari Gunung Merapi. &lt;br /&gt;Pada awalnya ada anggapan bahwa pengambilan batu dari Merapi bisa merusak lingkungan. Tapi perajin berkilah, justru mereka menyelamatkan lingkungan. Karena dengan diambilnya batu-batu itu aliran sungai menjadi lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya : Kukuh Ugie S&lt;br /&gt;Produksi :SMPN ! Muntilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa film lain yang datanya menyusul &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini merupakan kerjasama www.borobudurlinks.com  dengan  ‘Forum Komunikasi Komunitas Film Magelang Raya’ dan ‘Magelang Art pot-pourri’.&lt;br /&gt;Mualim M Sukethi, koord/penanggungjawab.&lt;br /&gt;Untung Laluna, mitra/penghubung.&lt;br /&gt;Ginanjar, Koord Panitia.&lt;br /&gt;Fatikh, humas/pelaksana pemutaran film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat:&lt;br /&gt;www.borobudurlinks.com, Jalan Sarwo Edi Wibowo No 112, Magelang 56172.&lt;br /&gt;Email: bronidog@yahoo.com, Phone: 0293-311682 / 081586756889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Myasa Poetika/bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4937105610224067168?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4937105610224067168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/jadwal-sinopsis-pekan-film-dokumenter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4937105610224067168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4937105610224067168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/jadwal-sinopsis-pekan-film-dokumenter.html' title='JADWAL &amp; SINOPSIS ‘PEKAN FILM DOKUMENTER MAGELANG 2011’.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RNMF-a8Qh9I/Ta72izn1jfI/AAAAAAAABEI/U2EQwRQIwKg/s72-c/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4464959620723173996</id><published>2011-04-05T17:20:00.005+07:00</published><updated>2011-04-05T17:37:03.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='networking'/><title type='text'>Tentang DEWAN KESENIAN KOTA MAGELANG (DKKM).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-14xsXcD3Ob0/TZrtfOK3XtI/AAAAAAAABDw/X3wqotPcjb4/s1600/Foto%2BMbilung%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-14xsXcD3Ob0/TZrtfOK3XtI/AAAAAAAABDw/X3wqotPcjb4/s320/Foto%2BMbilung%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592043007969287890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 5 April 2011.&lt;/span&gt; Beberapa waktu yang lalu, telah dilantik pengurus Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM) periode 2011-2014, yang diketuai Condro Bawono alias mBilung Sarawita. Sebelumnya, saat menjelang pemilihan ketua DKKM, saya dihubungi  wartawan Magelang Ekspres (ME) yang mencalonkan saya jadi pengurus atau ketua lembaga kebudayaan tingkat Magelang itu. Kendati dianggap memiliki kapabilitas, karena berpengalaman cukup lama sebagai aktivis di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), namun saya menolak untuk terlibat dalam lembaga birokrasi senibudaya semacam itu. &lt;br /&gt;Penolakan semacam ini bukan pertama kalinya. Setidaknya saya dua kali menolak tawaran untuk jadi pengurus DKJ, ketika masih aktif berkiprah di IKJ dan TIM Jakarta. Saya pribadi merasa cukup nyaman bekerja dan berkarya di luar struktur. Namun tetap membuka diri untuk kemungkinan bekerjasama dengan siapa pun, termasuk dengan DKJ atau DKKM.&lt;br /&gt;Saya juga dimintai pendapat tentang kapasitas seorang Ketua Umum (Ketum) DKKM yang kemudian dimuat di koran local Magelang itu. Tentu saya menyebut berbagai hal ideal sebagai syarat menjadi Ketum DKKM. Ia haruslah seorang seniman, penggiat dan pemerhati seni, atau akademisi yang memiliki wawasan kesenian/budaya memadai. Ketum DKKM harus memiliki integritas yang tinggi, karena bermodal integritas itulah lembaga semacam DKKM tak mudah terkooptasi oleh kepentingan lain di luar senibudaya. &lt;br /&gt;Wawasan tentang sejarah budaya Magelang juga harus dimiliki Ketum DKKM, selain wawasan senibudaya secara umum. Dengan demikian ia mampu memetakan segenap potensi senibudaya yang dimiliki Magelang, serta membuat skala prioritas untuk mengembangkan sesuai visinya ke depan. Seorang Ketum DKKM  juga harus memiliki jaringan yang memadai, tentunya jaringan yang berkaitan dan bermanfaat bagi organisasi kesenian itu. &lt;br /&gt;Etos profesionalitas juga harus dimiliki Ketum DKKM. Sebab selama ini kerja pengabdian pada lembaga semacam ini sekedar dianggap kerja social tanpa imbalan yang jelas dan memadai alias non-profesional.. Sehingga suatu ketika apabila sang ketum dianggap gagal, maka dengan enteng akan beralasan “Lha saya kan sekedar mbantu …dst”.&lt;br /&gt;Yang tak kalah pentingnya, Ketum DKKM harus memiliki  jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Hal ini mengingat minimnya dukungan pemda/pemkot di seluruh Indonesia terhadap pengembangan senibudayanya, terkecuali pemprov DKI Jakarta. Ketum DKKM harus mampu ‘menjual’, agar  program-program yang disusunnya ‘laku’ dan mendapat dukungan pemkot dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk sponsor.&lt;br /&gt;Tentu saya memiliki referensi menyebut beberapa karakter kepemimpinan semacam itu. Referensi itu  saya lihat pada sosok Ayip Rosidi, Trisno Soemardjo, Ramadhan KH, Umar Khayam, ‘Iravati M Sudiarso, hingga Farida Oetoyo. Sosok-sosok itulah yang memimpin DKJ pada masa jayanya, dari mulai berdirinya akhir 60-an hingga sekitar pertengahan 80-an.&lt;br /&gt;Peran Ayip Rosidi dan budayawan Sunda lainnya juga tergolong unik. Selain mumpuni sebagai sastrawan, Ayip dkk juga menjalankan misi khusus yang disebut ‘lobi Sunda’, yakni ‘menaklukan’ Ali Sadikin, sesama ‘urang sunda’ yang saat itu menjadi gubernur DKI Jakarta. Seperti diketahui, Ali Sadikin – Jenderal Marinir, dikenal keras dan tegas dalam memimpin DKI. Ayip juga dikenal sebagai manajer yang piawai. Terbukti lewat eksistensi penerbit ‘Pustaka Jaya’ yang mengalami kejayaan saat dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOKAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak fair membandingkan DKKM dengan DKJ. Kendati otoritas DKJ juga terbatas di wilayah DKI Jakarta, tapi wibawanya menasional. Bahkan pada masa jayanya, DKJ dan TIM merupakan barometer senibudaya nasional. Untuk ukuran Magelang, mungkin tak harus seniman nasional/internasional sekaliber Ayip Rosidi dkk. Cukup seniman atau penggiat seni yang mampu menembus batas lokalitas Magelang. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-OpFem4RzmD4/TZrt2qO9xmI/AAAAAAAABD4/hlO5clMiyyM/s1600/Foto%2BHUT%2BMGL%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-OpFem4RzmD4/TZrt2qO9xmI/AAAAAAAABD4/hlO5clMiyyM/s320/Foto%2BHUT%2BMGL%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592043410639668834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang saya amati di kota magelang hanya dari kalangan senirupa yang memenuhi kriteria ini. Nama-nama seperti Oei Hong Djien (OHD, kolektor seni), Deddy Irianto (Langgeng Gallery), Ridwan Mulyosudarmo (Syang-art Space), dan Deddy PAW (perupa), menurut saya cukup memenuhi kriteria itu. Kiprah mereka tidak terbatas local/regional/nasional, bahkan internasional. Saya tak tahu persis apakah nama-nama itu sudah diapproach untuk dicalonkan jadi ketum DKKM. &lt;br /&gt;Okelah persoalan proses pemilihan sudah lewat. Kita harus menerima ’realitas politik’, dengan terpilihnya Condro Bawono alias Mbilung Sarawita. Condro Bawono adalah seorang fotografer, yang dengan ‘rendah hati’ mengaku dirinya sekedar ‘tukang potret’. Karirnya sebagai fotografer relative baru, masih berada di wilayah ‘fotografer kawinan’ atau istilah kerennya ‘wedding photography’. &lt;br /&gt;Tanpa bermaksud mengecilkan eksistensi Condro, sebagai fotografer bobot keseniannya belum teruji dan terpuji. Ia belum pernah berpameran atau memperoleh penghargaan sebagai ukuran prestasinya. Kecuali memamerkan karya-karyanya di dinding facebooknya. Dan kemudian menuai puja-puji basa-basi dari sesama fotografer Magelang, layaknya pertemanan ala facebook.&lt;br /&gt;Tapi memang seperti itulah perkembangan terakhir ‘dunia fotografi’ Magelang. Para fotografer cukup puas meng-upload karyanya di dinding facebook. Sepanjang pengamatan yang saya lakukan, dalam 5-6 tahun terakhir, belum pernah terdengar ada pameran foto di Magelang atau di luar Magelang yang memamerkan foto-foto karya fotografer Magelang secara representatif. &lt;br /&gt;Saya sempat menonton pameran foto dalam rangka ‘Festival 5 Gunung’, pameran ‘HUT Kota Magelang’ di alun-alun, dan pameran foto ‘Sedulur Merapi’ dalam rangka ulang tahun Romo Kirjito, pastur yang kebetulan berhobi fotografi. Tentu ketiga pameran itu tak bisa dijadikan tolok ukur prestasi. Karena memang tak ada proses kurasi, penilaian juri yang kredibel, atau pun kritik yang memadai, menyertai pameran-pameran itu. Padahal ketika era salon foto, Magelang pernah menorehkan karya-karya penting sebagai pemenang kontes foto bergengsi di tingkat nasional itu.&lt;br /&gt;Sejauh yang saya dengar, Condro dipilih karena beberapa kelebihan yang dimilikinya. Ia dianggap ‘tak punya musuh’, dekat dengan elite birokrasi kota magelang, dan wawasannya cukup memadai. &lt;br /&gt;Soal wawasan, mungkin penilaian itu relatif tepat. Dalam pengalaman saya berwacana di facebook, hanya Condro yang relative mampu menanggapi persoalan-persoalan politik/ekonomi/kemasyarakatan  yang seringkali saya angkat di facebook. Tentang label ‘tak punya musuh’, ini tentu berkaitan dengan iklim berkesenian ‘terkotak-kotak’ yang cenderung kurang sehat  yang tumbuh di Magelang. “Iklim berkesenian di Magelang itu aneh mas. Kalau salah satu pentas, maka kelompok lain nggak mau nonton. Nggak tahu itu karena apa ? Apakah konflik atau terkotak-kotak ? ‘ kata drs. Budiono, mantan ketum DKKM.&lt;br /&gt;Atau seperti yang diungkap Haris Kertorahardjo, seorang penggiat seni, “Dunia senibudaya di Magelang itu dipenuhi raja-raja kecil. Ego masing-masing seniman terlalu tinggi “.&lt;br /&gt;Mungkin benar kalau Condro dianggap ‘tak punya musuh’, karena kiprah keseniannya relative baru. Namun dalam posisinya sebagai ketum DKKM yang berfungsi melahirkan atau menjalankan kebijakan publik di bidang senibudaya kota Magelang, maka label ‘tak punya musuh itu’ akan teruji. Karena memuaskan atau menyenangkan semua pihak adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan.  ‘Dunia tak bebas nilai’ demikian ujaran sebuah filsafat klasik.&lt;br /&gt;Dalam hal wayang gethuk yang akan dipatenkan, misalnya, bisa jadi ujian untuk menilai kepemimpinan Condro. Apakah ia akan bersikap netral tapi mengambangkan persoalan, untuk menjaga label ‘tak punya musuh’, sehingga potensial menjadi bom waktu di kemudian hari ?  Atau akan bertindak ‘tak mau melukai teman’, tapi menafikan dan melukai teman lainnya, seperti yang dilakukan seniman Magelang selama ini ? Atau akan bersikap ‘katakanlah yang benar itu benar, yang salah itu salah, walau pun pahit’, demi kebenaran itu sendiri ? &lt;br /&gt;Sebagai pribadi yang seringkali mempromosikan senibudaya dan pariwisata Magelang, kasus wayang gethuk itu tentulah membuat saya  malu. Ternyata identitas budaya kota Magelang itu dibangun atas dasar kebohongan.&lt;br /&gt;Tentang kedekatan Condro dengan elite politik Magelang, apabila dimanfaatkan secara produktif tentu akan menguntungkan pengembangan senibudaya Magelang. Setidaknya masalah komunikasi antara seniman dan birokrat dapat terjembatani dengan lebih baik. Demikian pula masalah dukungan prasarana hingga dana dari pemkot Magelang untuk menunjang kegiatan dan program senibudaya kemungkinan akan lebih mudah didapat.&lt;br /&gt;Namun kedekatan itu, dalam konteks patron-client,  bisa  berarti sebaliknya.  DKKM bisa terjerat menjadi sekedar client bagi kepentingan patron-nya. DKKM akan kehilangan independensinya. Karena kendati DKKM dibentuk dan berada di bawah otoritas pemkot lewat Disporabudpar, DKKM tidak boleh terkooptasi sekedar menjadi kepanjangan tangan atau pelaksana proyek-proyek pemkot Magelang.&lt;br /&gt;Dalam pengalaman DKJ, hubungan yang tidak sehat itu bisa dihindari oleh kewibawaan dan karisma seniman yang menjadi pengurusnya, yang memiliki reputasi dan integritas yang tak bisa ditundukkan oleh kekuasaan.  Sesudah era Ali Sadikin, banyak cara dilakukan oleh Pemprov DKI untuk ‘menundukkan’ DKJ, namun hingga kini cara-cara itu bisa dikatakan tidak berhasil.&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat, Kota Magelang akan merayakan HUT-nya. Hajat senibudaya tahunan ini bisa jadi barometer independensi Condro dan pengurus DKKM lainnya. Apakah akan terus melanjutkan gelaran senibudaya yang berbau feodal-borjuis-birokratis seperti yang selama ini berlangsung ? Atau akan melakukan ‘pembaruan’, dengan menyajikan tontonan yang populis-egaliter-kerakyatan seperti yang selama ini menjadi ‘semangat’ tulisan-tulisan Condro ?&lt;br /&gt;Memang Condro tidak sendirian. Membebankan semua masalah ke pundak Condro tentu tidak fair. DKKM adalah organisasi dengan sekian jumlah pengurus. Masing-masing diharapkan saling melengkapi. Demikian pula kalau kita melihat DKJ sebagai contoh.&lt;br /&gt;Di antara pengurus DKJ yang kondang sebagai seniman hebat, tersebutlah Wahyu Sihombing. Sebagai dramawan prestasinya tidak terlalu menonjol. Tapi sebagai organisator (+dosen) prestasinya diakui segala kalangan. Salah satu tonggak prestasinya adalah ‘Festival Teater Remaja’, yang dibidani dan bertahun-tahun dikelola oleh Wahyu Sihombing. &lt;br /&gt;Gelaran tahunan yang kini bernama ‘Festival Teater Jakarta’ itu diakui sebagai ajang pembinaan prestasi yang paling berhasil di bidang senibudaya. Dari ajang inilah lahir seniman teater/film berkualitas, seperti Deddy Mizwar, Norca dan Adhie Massardi, Nasri Cheppy, Budi Otong, Dindon WS, Renny Jayusman, Zaenal Abidin Domba, dll. Mungkin, Condro bisa mengambil peran seperti halnya Wahyu Sihombing. Tentu dalam format dan kegiatan yang tak harus sama.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Kqb3ZIbTsNA/TZruHDlgukI/AAAAAAAABEA/5hsu8HM2Q04/s1600/Pentas%2BGepeng%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Kqb3ZIbTsNA/TZruHDlgukI/AAAAAAAABEA/5hsu8HM2Q04/s320/Pentas%2BGepeng%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592043692323027522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPURUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertemu dengan penulis sesudah terpilih, Condro mengemukakan beberapa gagasannya. Ia ingin mengubah format, prosedur, dan pengelolaan organisasi DKKM. Dari yang semula hirarkis-struktural menjadi collective-collegial. Menurut Condro semua  pengurus adalah ketua yang memiliki kewenangan yang sama. &lt;br /&gt;Condro ingin DKKM memfasilitasi semua seniman dan komunitas senibudaya di Magelang untuk tampil unjuk kebolehan. Fotografer yang sering tampil dengan blangkon sebagai atributnya, itu juga ingin organisasi yang dipimpinnya itu menjadi tak popular, karena popularitas adalah hak seniman dan komunitasnya. &lt;br /&gt;Gagasan itu mungkin menarik, karena beraroma demokrasi. Namun tidak semua hal bisa dijalankan sesuai prinsip-prinsip demokrasi. Karena semua pengurus DKKM diberi kewenangan yang sama, maka setiap keputusan harus melalui persetujuan bersama, sesuai prinsip collective-collegial. Namun ketika harus memutuskan sesuatu yang mendesak apa harus nunggu rapat pengurus ? Jangan sampai ‘jalan demokrasi’ itu justru melanggar prinsip efisiensi. &lt;br /&gt;Keinginan untuk menampilkan semua seniman dan komunitas seni secara adil dan merata, juga bisa berarti kontra-produktif. Karena tidak semua seniman dan komunitas layak tampil. Jangan sampai dana atau bantuan fasilitas yang diberikan pemkot  (kalau ada) ‘dihambur-hamburkan’ untuk memuaskan ‘semangat demokrasi’ itu.&lt;br /&gt;Fungsi dewan kesenian yang cukup penting adalah kuratorial. Pengertian ‘membina’ juga berarti memilih dan menyeleksi seniman dan komunitas seni yang layak ‘dibina’ dan ditampilkan, lewat mekanisme pendidikan, pameran, pementasan, festival, dll. DKKM-lah yang memiliki otoritas untuk menentukan siapa yang pantas dididik, layak pentas/pamer, dan penjenjangan festival.&lt;br /&gt;Sebab cukup banyak orang di Magelang yang mengaku seniman, padahal kesenian yang dihasilkannya tak jelas atau tak pantas disebut kesenian. Hanya bermodal kumis baplang, cambuk, kostum warok, dan kemenyan, lalu ritual. Dan bla bla….jadilah kesenian.  Kesenian masih jadi barang mainan, sekedar bagian dari proses mencari jati diri ,atau daripada dianggap pengangguran. Bagi anak muda hal itu bisa dimaklumi. Tapi kalau dilakukan oleh orang berusia 40-50 tahun, tentu ada yang keliru dengan pribadi semacam itu.&lt;br /&gt;Tidak banyak yang menyadari kalau ‘jalan kesenian’ adalah proses panjang dalam waktu bertahun-tahun. Lewat kerjakeras, memeras keringat (dan darah)., untuk mengolah tubuh, olah pikir, dan olah rasa, dalam membentuk plastisitas serta menemukan ‘bahasa ungkap’ yang khas milik seniman itu.&lt;br /&gt;Problem lain yang tak kurang seriusnya menyangkut iklim kesenian di Magelang adalah situasi psikologis ‘katak dalam tempurung’. Banyak seniman di Magelang yang merasa puas menampilkan karya seadanya di depan publik sendiri. Itupun jenis-jenis kesenian yang saya golongkan SDR alias ‘seni dalam rangka’: dalam rangka HUT Kota Magelang, dalam rangka 17 Agustusan, dalam rangka Suran, dalam rangka Pensi (pentas seni SMU atau kampus), dll. Tak pernah lahir seni sebagai ekspresi personal di kota yang adem ayem itu.&lt;br /&gt;Dalam pergaulan kesenian yang berlangsung di berbagai kota hampir tak pernah ditemui seniman Magelang unjuk kebolehan. Tak mesti menjadi penampil, sekedar menonton untuk memperluas wawasan pun jarang dilakukan seniman Magelang.&lt;br /&gt; Seniman Magelang relative terasing dari dinamika kebudayaan di tanah air. Pergesekan yang terjadi hanya mengandalkan pertunjukan seniman luar yang mampir di Magelang. Itu pun hanya satu-dua dalam setahun. Dunia maya yang kini  mudah diakses siapa pun, juga tak dilirik. Lalu lintas ‘seni On-Line’ yang gegap gempita jarang menghadirkan karya seniman Magelang. Sebagian besar seniman Magelang ternyata ‘buta IT’.&lt;br /&gt;Kita tak usah bicara program yang muluk-muluk. Cukup bagaimana mendobrak kondisi psikologis yang mirip ‘katak di bawah tempurung’ itu. Di tahun-tahun pertama kepengurusannya juga tidak bisa diharapkan terlalu banyak yang bisa dilakukan Condro dan DKKM. Karena memang tidak ada dana dari pemkot untuk mendukung kegiatannya. Selain masa penyusunan dan pembiayaan program lewat APBD sudah lewat waktunya, juga konsentrasi pemkot Magelang lebih dibutuhkan menyelesaikan percepatan pembangunan pasar Rejowinangun.&lt;br /&gt;Selain melaksanakan agenda tahunan HUT Kota Magelang, maka di tahun pertama ini saya berharap DKKM mampu menyusun dan menginventarisasi potensi seni-budaya yang tumbuhkembang di kota Magelang. Tahun-tahun selanjutnya, ketika program bisa direncanakan dengan baik dan peluang mendapatkan dana pembinaan dari pemkot bisa diwujudkan, kita baru bisa menilai seberapa berhasil kepengurusan DKKM di bawah Condro ini. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4464959620723173996?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4464959620723173996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/tentang-dewan-kesenian-kota-magelang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4464959620723173996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4464959620723173996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/tentang-dewan-kesenian-kota-magelang.html' title='Tentang DEWAN KESENIAN KOTA MAGELANG (DKKM).'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-14xsXcD3Ob0/TZrtfOK3XtI/AAAAAAAABDw/X3wqotPcjb4/s72-c/Foto%2BMbilung%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8455102224243206092</id><published>2011-04-02T10:11:00.007+07:00</published><updated>2011-04-02T10:33:43.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>GETHUK SPIRITUAL.  (Visi Pembangunan Kota Magelang).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gyVZE6qY1i0/TZaUslPe-KI/AAAAAAAABDQ/K9xmIinopTM/s1600/Image%2Bgethuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 296px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gyVZE6qY1i0/TZaUslPe-KI/AAAAAAAABDQ/K9xmIinopTM/s320/Image%2Bgethuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590819481059260578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 2 April 2011.&lt;/span&gt; Bukan kebetulan kalau sarasehan ini diadakan di bulan April, bulan yang diistimewakan warga kota Magelang .  Di bulan ini setiap tahun warga kota Magelang merayakan HUT-nya. Tahun ini memasuki usia ke 1105 tahun. &lt;br /&gt;Kendati tergolong berusia tua, namun situasi ‘kegamangan budaya’ membebani kota yang dianggap ‘pusatnya Pulau Jawa’ ini. Berbagai kegiatan budaya yang diadakan dalam rangka HUT itu terasa diadakan sekedar seremoni belaka, tanpa didasari pemahaman budaya dan kejelasan visi tentang posisi dan arah pembangunan kota Magelang.&lt;br /&gt;Maka, sejauh yang saya amati, acara yang berpuncak dalam bentuk arak-arakan atau gerebeg gethuk, itu kurang berhasil sebagai agenda pariwisata seperti yang ditargetkan. Dalam kalender pariwisata nasional atau paket-paket biro wisata, HUT Kota Magelang itu tak pernah tercantum. Seperti halnya ‘Jember Fashion Carnival’ dalam rangka HUT Kota Jember, atau ‘Solo Batik Carnival’ dalam rangka HUT Kota Solo.&lt;br /&gt;Demikian pula, tak terjadi peningkatan aktivitas ekonomi pariwisata yang terjadi di Magelang. Paling banter, sebagian masyarakat dapat hiburan gratis nonton arak-arakan dan pentas teater bearoma feodal-borjuis serta rebutan gethuk di puncak acara. Atau sekedar ditulis seadanya di media-media local beberapa hari kemudian.&lt;br /&gt;Yang cukup berhasil adalah pemanfaatan gethuk sebagai identitas  grebeg, atau dikembangkan sebagai varian wayang (gethuk). Namun sayang pemanfaatan penganan khas Magelangan itu semata dimaknai secara fisik. Tak pernah ada upaya yang serius untuk memaknai produk ‘local genius’ itu, lebih jauh lagi, secara spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NILAI TAMBAH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya progress dari proses kebudayaan (dan peradaban) adalah persoalan nilai tambah. Sesuatu yang tak ada menjadi ada. Sesuatu yang lemah diperkuat atau diberdayakan. Sesuatu yang lama diperbarui atau diaktualisasi.&lt;br /&gt;Saat berdiri di depan candi Borobudur, seringkali saya merasa merinding. Saya berkeyakinan peradaban dan kebudayaan (bangsa) kita bisa dikatakan berhenti di candi kebanggaan masyarakat Magelang Raya ini. Sesudah Borobudur rasanya tak ada lagi produk kebudayaan bangsa Indonesia yang layak dibanggakan.&lt;br /&gt;Namun dalam skala kecil masyarakat Magelang menemukan gethuk, penganan yang dibuat dari singkong dan kemudian popular sebagai oleh-oleh khas Magelang. Kendati seringkali dianggap sepele, menurut saya keberadaan gethuk itu tergolong penemuan  jenial di bidang (budaya) kuliner. Merubah singkong yang nilai atau harganya tak seberapa (Rp 1000,- - Rp 2000,-per kg), menjadi penganan berkelas yang harganya lumayan mahal (Rp 14.000,-/dus, kurang dari 1 kg). &lt;br /&gt;Terjadi transformasi kelas, dari penganan rakyat jelata, menjadi penganan bergengsi yang jadi buah tangan kalangan menengah atas apabila berkunjung ke kota Magelang.. Ada nilai tambah yang luar biasa dari perubahan singkong menjadi gethuk itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zXaIljhr-b8/TZaU8zOM0_I/AAAAAAAABDY/SMQyXB8YNg0/s1600/Image%2Bmobil%2Bkaroseri.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zXaIljhr-b8/TZaU8zOM0_I/AAAAAAAABDY/SMQyXB8YNg0/s320/Image%2Bmobil%2Bkaroseri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590819759689880562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan berdirinya New Armada. Sebelumnya Magelang hanya dikenal sebagai wilayah berbudaya agraris. Namun setelah industry karoseri mobil ini berdiri, Magelang mulai dikenal dan mengenal budaya industry.&lt;br /&gt;Yang mengherankan, kedua produk kebudayaan yang untuk ukuran Magelang cukup spektakular itu, ternyata kurang berhasil menjadi lokomotif pergerakan bagi kemajuan dan pembangunan masyarakat Magelang. Setelah gethuk relative tidak muncul ikon kuliner lain dari Magelang. Padahal wilayah Magelang Raya sebagai lembah yang terkenal kesuburannya, menghasilkan berbagai produk pertanian yang apabila diolahmestinya akan menghasilkan berbagai macam varian penganan. Dari salak pondoh yang melimpah  ternyata tak pernah lahir keripik salak. Rambutan yang saat panen raya hanya dihargai Rp 500,-/kg, tak memancing lahirnya industry manisan (kaleng) rambutan. Demikian juga dengan papaya, pisang, dan aneka produk hortikultura lainnya, yang hanya dijual sebagai komoditas pertanian belaka. Tanpa diolah lebih lanjut sehingga menghasilkan nilai tambah seperti halnya gethuk.&lt;br /&gt;Kalau di beberapa Negara seperti Jepang, Taiwan/China, Korea, industry otomotif sebesar New Armada biasanya akan diikuti lahirnya industry kecil atau skala rumahan yang menghasilkan berbagai komponen penunjang seperti industry sekrup/baut/mur, kampas, cetakan fiber, dan asesoris otomotif lainnya. Industri seperti itu tak ada yang lahir di sekitar New Armada. Kalau toh tumbuh usaha perbengkelan, tak lebih hanya bengkel las ketok cat, seperti yang berderet di sekitar jalan Panca Arga.&lt;br /&gt;Kalau kita menengok tumbuhnya industry berbasis rekayasa teknik di Indonesia juga tak lepas dari adanya industry besar seperti pabrik gula dan pabrik perkakas militer. Cikal bakal industry karoseri di Malang tumbuh di sekitar pabrik gula Gondanglegi. Tumbuhnya industry logam di Klaten juga tak lepas dari keberadaan pabrik gula di sekitarnya. Atau industry peralatan militer/dirgantara/kereta api di Bandung yang mampu melahirkan berbagai ketrampilan yang bersifat rekayasa teknik masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;Kegagalan industry gethuk dan New Armada menginspirasi masyarakat warga juga berimbas pada situasi ekonomi Magelang yang stagnan. 30 tahun terakhir tak ada ikon baru di bidang ekonomi yang lahir dari Magelang. Secara angka pun juga tak ada lonjakan berarti. Ekonomi tumbuh sekitar 5-6%. Tapi angka pertumbuhan yang dicapai tak berarti apa-apa karena laju inflasi juga berkisar di angka itu. Sekedar aman tapi stagnan.&lt;br /&gt;Situasi stagnan, bahkan involutif, itu tak hanya terjadi di bidang ekonomi, industry, atau ketenaga-kerjaan. Di bidang-bidang lain juga relative tak terjadi kemajuan atau pencapaian yang cukup signifikan di Magelang. &lt;br /&gt;Tahun 1948, di Magelang diadakan ‘Kongres Kebudayaan Indonesia’ yang ke 1. Saat itu hampir seluruh tokoh politik nasional atau founding-father hadir di Magelang. Sukarno, Hatta, Sudirman, Natsir, Muhamad Yamin, Ki Hajar Dewantara, dan puluhan tokoh lain hadir di kota sejuk ini.  Kejadian ini setidaknya mengisyaratkan dua hal. Magelang diakui sebagai kota budaya dan (wisata) konvensi yang penting di awal kemerdekaan republic ini.&lt;br /&gt;Setelah itu tak ada lagi peristiwa budaya berskala nasional yang terjadi di Magelang. Ada riak-riak kecil pada tahun 60-70an saat Lisda (Lingkar Seni Drama) dan radio RSPD berkiprah. Atau akhir-akhir ini dengan kemunculan beberapa seniman muda yang cukup produktif tapi terasa ‘salah arah’. Catatan penting justru ditorehkan oleh seniman-seniman di wilayah kabupaten Magelang, yang kehidupan kebudayaannya terasa gegap gempita lewat revitalisasi kesenian rakyat.&lt;br /&gt;Di bidang pendidikan, praktis tak terjadi lompatan prestasi yang berarti. Memang ada Akademi Militer (Akmil) dan SMU Taruna Nusantara, tapi kedua institusi pendidikan ‘militer’ itu relative tak menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi prestasi pendidikan di kota Magelang. Demikian pula dengan kehadiran UMM dan UTM, yang hanya berkonsentrasi mengembangkan jurusan atau bidang yang terlalu umum, yang hanya menempatkan kedua universitas itu di level medioker.  &lt;br /&gt;Saya heran, keberadaan candi Borobudur yang tergolong monument dunia tak menggerakkan pemangku kepentingan pendidikan di Magelang membangun institusi pendidikan di bidang pariwisata. Dengan jumlah pengunjung lebih 3 juta setiap tahun, seharusnya Borobudur bisa menjadi semacam laboratorium hidup bagi pengembangan pendidikan pariwisata.&lt;br /&gt;Yang menyedihkan adalah degradasi yang terjadi di bidang lingkungan dan tata ruang kota Magelang. Dulu ketika saya kecil-remaja, tahun 70-80an, di Magelang masih bertebaran ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus berfungsi sebagai ruang public. Tapi kini RTH itu telah berubah bentuk dan fungsi.&lt;br /&gt;Lapangan di sekitar kelahiran saya, Kampung Magersari, kini berubah menjadi lapangan golf yang tak sembarang orang bisa mengaksesnya. Lapangan gladiol kini berubah jadi perumahan mewah. Ruang public di bekas 2 (dua) terminal bus, kini ‘mlangkrak’ menjadi deretan ruko kusam yang tak menyiratkan denyut ekonomi. Sebentar lagi stadion Abu Bakrin dan bekas stasiun Kebonpolo juga akan menyusul menjadi sentra ekonomi baru (Semoga nasibnya tak seperti bekas standplat itu).&lt;br /&gt;RTH dan ruang public juga tak bisa kita temui lagi di kampung-kampung seperti Magersari, Karang Gading, Kliwonan, Jaranan, Panjang, Kemirirejo, Wates, hingga Menowo. Jangankan main sepakbola, sekedar bermain pingpong saja rasanya susah di kantung-kantung urban itu. &lt;br /&gt;Sekarang ini praktis tinggal Alun-alun, Taman Badakan, dan Gunung Tidar, RTH yang tersisa sebagai asset kota Magelang. Khusus untuk Gunung Tidar kita mesti berterimakasih kepada Akmil yang telah berhasil menyulap bukit gundul itu menjadi hutan kota yang rimbun kaya O2 (oksigen). Beruntung, beberapa institusi militer yang ada di Magelang masih mempertahankan dan merawat prasarananya berupa lapangan dan RTH yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;Degradasi lingkungan itu juga terasa dengan maraknya pedagang kaki lima (PKL) dan reklame luar ruang (outdoor ads) yang tak terkendali. Keberadaan PKL yang hampir memenuhi sudut kota itu juga secara langsung merupakan imbas dari terbengkelainya pasar Rejowinangun, sejak terbakar hampir 3 tahun lalu. Saya juga menyimpan keheranan, kota yang gagal membangun pasar dan dipenuhi PKL seperti Magelang bisa memperoleh ‘Penghargaan Adipura’. Bagaimana criteria penilaiannya ?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REPOSISI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin paparan di atas menjadikan kita semua pesimis memandang masadepan kota Magelang. Seharusnya tidak begitu. Karena dengan segenap potensi yang dimiliki Magelang, seharusnya situasi stagnan itu bisa dipecahkan dan dikembangkan.&lt;br /&gt;Potensi apa yang dimiliki Magelang ? Kalau dulu sebagai hinterland wilayah Magelang Raya terkenal kesuburannya, sehingga menjadi lumbung pangan bagi keraton Mataram. Maka kini kita bisa menempatkan pariwisata sebagai potensi yang pantas dikembangkan kota Magelang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-W0kUa8G8Vrc/TZaYwnCM2TI/AAAAAAAABDo/MQ9vMOWJ95I/s1600/Koleksi%2BMuseum%2BKontemporer%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-W0kUa8G8Vrc/TZaYwnCM2TI/AAAAAAAABDo/MQ9vMOWJ95I/s320/Koleksi%2BMuseum%2BKontemporer%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590823948306405682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggambarkan kekayaan potensi wisata wilayah Magelang, berikut saya kutipkan keterangan sebuah grup atau komunitas di facebook yang menempatkan Magelang sebagai focus kegiatannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“MAGELANG, adalah suatu wilayah yang terdiri Kotamadya dan Kabupaten Magelang. Wilayah itu, sesungguhnya, memiliki potensi wisata yang luar biasa. Alamnya elok indah bestari. Sedikitnya ada 8 (delapan) gunung mengelilingi wilayah itu (Merapi, Merbabu, Andhong, Telomoyo, Sumbing, Sindoro, Menoreh, dan Tidar), serta 2 (dua) sungai legendaris membelah lembahnya (Elo dan Progo) yang tergolong subur nan permai. Berbagai komoditas pertanian tumbuh berkembang, antara lain: padi, buah-buahan, sayuran (hortikultura), tembakao, panili, kopi, teh, jamur, dll. Sehingga beragrowisata di daerah ini tentulah asyiiik... &lt;br /&gt;Warisan budaya (heritage), baik fisik mau pun non-fisik, sangat kaya dan bermacamragam.  Di Indonesia ini, mungkin hanya Magelang yang hampir di setiap kecamatan terdapat candi. Borobudur, Mendut, Pawon, tentu sudah Anda kenal. Tapi masih banyak lagi candi di wilayah itu: Ngawen, Sengi, Tikus, Umbul. Selogriyo, dll.  Selain itu, bangunan bersejarah peninggalan kolonial juga tak terhitung jumlahnya.&lt;br /&gt;Senibudaya, khususnya seni rakyat, tumbuh berkembang dengan baik di banyak desa hingga kini. Seorang pemerhati budaya berani mengklaim, mungkin di Asia Tenggara hanya Magelang yang paling banyak memiliki kesenian rakyat. Pendapat itu tak berlebihan, mengingat sekarang ini hampir tiap hari berlangsung acara senibudaya di daerah itu.&lt;br /&gt;Bahkan, kini Magelang mengukuhkan dirinya sebagai kota yang paling menentukan dinamika senirupa di Indonesia. Di kota berhawa sejuk ini kini berdiri museum senirupa modern/kontemporer terbesar di dunia. Suatu perkembangan yang mungkin Anda sekalian tak mengetahui dan menyadarinya. &lt;br /&gt;Hanya pantai dan laut yang tak dimiliki Magelang” (Grup “Sahabat Borobudur” on facebook).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita percaya bahwa masadepan perekonomian dunia ditentukan sedikitnya oleh 3 (tiga) factor, yakni: Pariwisata, IT (teknologi informatika), dan industry kreatif. Maka selayaknya masyarakat warga Magelang bersyukur atas karunia Allah SWT, karena dari ke tiga factor itu satu diantaranya dimiliki Magelang, yaitu pariwisata.&lt;br /&gt;Namun karena penanganannya kurang optimal atau kurang tepat, maka segenap karunia itu tak berarti membawa berkah kesejahteraan bagi masyarakat Magelang. Contohnya keberadaan candi Borobudur ternyata tak membuat warga sekitar Borobudur sejahtera. Kehadiran 3 juta turis setiap tahun yang mengunjungi candi terbesar di dunia itu ternyata relative tak berdampak positif bagi tingkat kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Data stastitik tingkat kesejahteraan menunjukkan posisi Kecamatan Borobudur yang berada di urutan ke 17 dari 22 kecamatan se Kabupaten Magelang.&lt;br /&gt;Untuk lebih mengoptimalkan potensi pariwisata yang dimiliki Magelang, seyogyanya para pemangku kepentingan di Magelang Raya, menyatukan langkah, mereposisi dan mengarahkan rencana pengembangan dan pembangunan di wilayah ini. Beberapa langkah yang pantas dipikirkan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ubah dan arahkan rencana dan kebijakan pembangunan ke arah pengembangan pariwisata.&lt;br /&gt;- Bangun insfrastruktur yang menunjang pengembangan pariwisata, termasuk pendidikannya.&lt;br /&gt;- Tarik investor dan mudahkanlah investasi di bidang pariwisata.&lt;br /&gt;- Kembangkan segenap potensi ekonomi, termasuk ekonomi kreatif, untuk menunjang pengembangan industry pariwisata.&lt;br /&gt;- Bangun dan perluas jaringan dengan pelaku industry pariwisata.&lt;br /&gt;- Susun dan buatlah system dan strategi promosi pariwisata yang tepat guna. Untuk kepentingan ini saya mengusulkan didirikannya Sekretariat Bersama Badan Promosi Pariwisata Magelang Raya (Kota dan Kabupaten).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang pengembangan pariwisata, sesungguhnya Kota Magelang telah mulai melakukan terobosan yaitu dengan dibangunnya wahana pariwisata ‘Taman Kyai Langgeng’.  Kendati terbukti menghasilkan pemasukan ke kas pemkot dalam jumlah yang tak sedikit (kalau tidak salah hingga 1/3 PAD Kota Magelang), namun wahana yang dipenuhi permainan anak-anak konvensional itu setelah sekian tahun relative tak berkembang, tak ada penambahan wahana baru. &lt;br /&gt;Salah satu yang saya rekomendasikan adalah pengembangan wisata seni di kota Magelang. Keberadaan museum senirupa kontemporer Indonesia yang terbesar di dunia, serta berbagai insfrastruktur seni lainnya, seperti  galeri dan komunitas seni, bisa dijadikan titik awal bagi pengembangan pariwisata seni. Bukan sesuatu yangt mustahil, suatu ketika Magelang menjadi kota seni sekaligus kota tujuan wisata penting di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Suatu malam di sebuah desa di sekitar candi Borobudur. Saat itu kami menikmati sajian bakmi goreng/rebus di warung Pak Parno yang legendaries. Di sudut lain, sepasang turis bule nampak menikmati sajian warung yang menempati emper rumah sederhana itu. Saya dengar kedua turis itu adalah tamu ‘Amanjiwa’, hotel eksklusif di selatan Borobudur.&lt;br /&gt;Saya kira tak ada yang istimewa melihat turis bule makan di suatu warung sekitar Borobudur. Yang istimewa ketika kita harus membayar. Kalau kami hanya membayar sebesar Rp 10,000,-/porsi, maka untuk sajian yang sama turis itu harus membayar Rp 250,000,-/porsi. Ada selisih harga berkali-kali lipat yang harus kami bayar. Itulah manfaat nilai tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mualim M Sukethi, adalah pemerhati budaya Magelangan. Pemilik dan pengelola www.borobudurlinks.com, portal SeniBudaya dan Pariwisata Magelang. Selain itu ia juga seorang penulis kreatif serta produser film/TV. Tulisan ini disajikan sebagai makalah utama dalam sarasehan Pramusda DPC PAN Kota Magelang&lt;/span&gt;).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8455102224243206092?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8455102224243206092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/gethuk-spiritual-visi-pembangunan-kota.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8455102224243206092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8455102224243206092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/04/gethuk-spiritual-visi-pembangunan-kota.html' title='GETHUK SPIRITUAL.  (Visi Pembangunan Kota Magelang).'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gyVZE6qY1i0/TZaUslPe-KI/AAAAAAAABDQ/K9xmIinopTM/s72-c/Image%2Bgethuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5707723009798564698</id><published>2011-01-18T22:31:00.006+07:00</published><updated>2011-01-18T22:48:44.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>SEJARAH WAYANG GETHUK MAGELANG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWz2zXyOyI/AAAAAAAABC0/ZlGRRfvNdQE/s1600/Pentas%2BWyg%2BGetuk%2BDKKM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWz2zXyOyI/AAAAAAAABC0/ZlGRRfvNdQE/s320/Pentas%2BWyg%2BGetuk%2BDKKM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563550668770392866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 18 Januari 2011.&lt;/span&gt; JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan Sukarno, presiden RI ke 1, itu menegaskan pentingnya sejarah bagi perjalanan suatu bangsa. Dengan memahami sejarah, suatu kaum atau bangsa, bisa mengenali (identitas) dirinya, serta menata dan mengarahkan orientasi kehidupannya di masa depan.&lt;br /&gt;Magelang, sebuah kota yang usianya cukup tua. Lebih 1000 tahun, kalau dihitung dari prasasti Mantyasih (907 M). Namun dalam usia setua itu, kota yang dianggap pusatnya pulau Jawa, ini sedang direpotkan masalah pencarian identitas budayanya. Bahkan, wayang gethuk, salah satu ikon budaya kota itu, sedang dipersoalkan asal usulnya.&lt;br /&gt;Sebuah Koran local mengangkat polemic seputar asal usul wayang yang merupakan varian wayang kulit itu. Polemik bermula dari Ki Ardi Gunawan, dalang wayang gethuk, yang mengaku sebagai pencipta wayang dari gethuk itu. Pengakuan itu menuai protes seniman lain yang mengetahui bahwa pencipta sesungguhnya bukan Ki Ardi . Polemic berkembang melibatkan birokrasi dari Disporabudpar Kota Magelang. Bahkan Joko Prasetyo, Wakil Walikota Magelang, menulis tanggapan via jejaring social facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masih Hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri sejarah wayang gethuk bukanlah sesuatu yang sulit. Eksistensinya  masih tergolong muda. Pelaku yang terlibat dalam proses penciptaannya juga masih ada, hidup secara lengkap dan sehat di Magelang.&lt;br /&gt;Tersebutlah nama Untung Laluna (perupa) dan Ki Sambi (seniman kethoprak) yang dianggap sebagai pencipta wayang gethuk. Ide yang muncul tahun 2004, itu merupakan kelanjutan dari kisah sukses mereka saat menampilkan ‘wayang geber’ di Bandung. Sukses ‘wayang geber’ itu mengilhami Untung untuk mencipta ikon budaya Kota Magelang. &lt;br /&gt;Ketika ide itu dilontarkan, Pak Sambi dengan antusias mendukung.  Seniman kethoprak itu mengingatkan keberadaan makanan anak-anak berupa sosok wayang yang dibuat dari adonan singkong (gethuk) pipih yang dibakar. Mungkin generasi yang lahir tahun 50-60an ingat terhadap makanan murah meriah yang saat itu banyak ditemui di Magelang.&lt;br /&gt;Dari kreatifitas kedua seniman ini lahirlah wayang gethuk yang pertama kalinya dipentaskan oleh Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM), di gedung Kyai Sepanjang Magelang, mengangkat lakon ‘Dumadine Kutho Magelang’ (sejarah berdirinya kota Magelang). Karena mengangkat khasanah cerita local, maka karakter dan bentuk wayang pun relative baru.&lt;br /&gt;Selanjutnya, tahun 2005,  difasilitasi DKKM pula, wayang gethuk dipentaskan dalam festival wayang internasional di Jogyakarta. “DKKM dapat undangan dari panitia festival, kami lalu mengirimkan wayang gethuk yang khas Magelang itu, “ kata Drs Budiono, Mantan Ketua DKKM. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTW024P4boI/AAAAAAAABC8/HVcgo79hjuc/s1600/Piagam%2Bto%2BUntung.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTW024P4boI/AAAAAAAABC8/HVcgo79hjuc/s320/Piagam%2Bto%2BUntung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563551769591049858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari hajatan di kota gudheg itulah wayang gethuk eksis sebagai varian wayang kulit. Kreativitas Untung dkk ini mendapat penghargaan berupa sertifikat dari Hamengku Buwono X, yang menyebutkan Untung sebagai penemu/pencipta Wayang Gethuk.&lt;br /&gt;Sejak itu beberapa seniman mendatangi Untung minta ijin  mementaskan wayang kreasi perupa lulusan UNS Solo, termasuk Ardi Gunawan. Kepada Ki Sambi, Gunawan juga meminta contoh wayang bikinan mantan pemain grup kethoprak Sapto Budoyo itu. Kedua seniman itu tak keberatan   dengan harapan semakin banyak dipentaskan wayang kreasinya itu semakin dikenal masyarakat. &lt;br /&gt;Terbukti kemudian, wayang gethuk terkenal sebagai ikon budaya Kota Magelang. Gunawan juga dikenal sebagai dalang wayang gethuk, dan menambahkan sebutan ‘Ki’ di depan namanya. Menjadi ‘Ki Ardi Gunawan’, layaknya sebutan dalang wayang kondang. Sampai di sini sebetulnya tak ada masalah. &lt;br /&gt;Persoalannya muncul ketika kemudian Gunawan menyatakan proses penciptaan wayang gethuk versinya dimulai sejak tahun 1991, dan dimainkannya pada tahun 1999, yang berarti menafikan upaya kreatif Untung dan Ki Sambi. Gunawan juga mengakui kalau kasanah cerita wayang gethuk yang berusaha mengangkat cerita seputar sejarah kota dan wilayah Magelang itu sebagai idenya. &lt;br /&gt;Ini yang disayangkan seniman lain di Magelang.  Termasuk Untung dan Ki Sambi, yang sejak awal dengan sadar mengangkat ‘Babad Mantyasih’ dan sejarah wilayah Magelang lainnya, untuk memperkuat identitas wayang gethuk sebagai ikon budaya Kota Magelang yang khas milik kota gethuk itu.&lt;br /&gt;Keprihatinan lain terhadap kiprah Ardi Gunawan adalah kemampuannya sebagai dalang yang relatif kurang memadai. Pemahamannya tentang seni pedalangan juga tergolong cethek. Terbukti dalam pentas wayang yang tergolong serius, ia tak berani tampil mendalangi wayang-wayangnya. Misalnya ketika dikirim oleh DKKM ikut dalam pentas wayang internasional di Jogya, menggantikan Untung dkk. Ia membawa dalang lain (Ki Yanto) yang memang memiliki kemampuan dalang lumayan komplit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inventarisasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya polemic tak akan terjadi kalau seniman lain yang paham sejarah wayang gethuk menyebut  Untung Laluna dan Ki Sambi sebagai penciptanya, dan membantah pengakuan Ardi Gunawan. Dengan alasan tak enak ‘melukai teman seniman lain’, mereka justru melempar masalah itu ke Disporabudpar yang seharusnya menginventarisasi dan memberi pengakuan resmi seputar aset kebudayaan di Kota Magelang.&lt;br /&gt;Namun sikap para seniman itu bisa dimaklumi. Inventarisasi dan formalitas pengakuan memang bukan wewenang mereka, tapi tanggung jawab lembaga terkait, seperti Disporabudpar dan DKKM.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTW1Th-XnYI/AAAAAAAABDE/QeafRahJfkQ/s1600/Foto%2BWyg%2BGetuk%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTW1Th-XnYI/AAAAAAAABDE/QeafRahJfkQ/s320/Foto%2BWyg%2BGetuk%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563552261828222338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masalah inventarisasi asset senibudaya Magelang memang memprihatinkan.  Saya pernah berniat menulis masalah wisata kota pusaka (heritage) Kota Magelang. Namun data dan foto-foto dari Disporabudpar terasa kurang memadai dan banyak yang salah.&lt;br /&gt;Contohnya tentang keberadaan ‘Gedung Bundar’, gedung berarsitektur unik yang terletak di Jalan Sriwijaya Magelang. Data Disporabudpar yang hanya terdiri 2 kalimat itu menyebutkan kalau bangunan itu didirikan oleh pemerintah Belanda. Padahal setelah saya selusuri dan ketemu ahli warisnya, gedung yang meniru Vila Isola Bandung itu didirikan oleh Tan Gwat Ling, seorang pengusaha hasil bumi, pada tahun 1934. &lt;br /&gt;Untuk mendapat data akurat tentang gedung unik itu juga bukan persoalan yang sukar. Tinggal datangi gedung yang masih megah terawat itu, tanyakan siapakah ahli warisnya. Tinggal diwawancarai, plus informasi dari pihak-pihak lain yang dianggap mengetahui, jadilah sebuah tulisan  yang cukup memadai secara jurnalistik serta valid sebagai data. &lt;br /&gt;Demikian pula dalam hal Wayang Gethuk. Setelah mendengar Untung Laluna sebagai pencipta, saya langsung menemuinya. Dari Untung diketahui kronologi sejarah serta orang-orang yang punya kontribusi terciptanya wayang unik itu. Kemudian saya korek pengakuan orang-orang yang disebut Untung, dan saya yakini cukup kompeten dengan masalah ini, seperti Ki Sambi dan Drs. Budiono. Jadilah uraian atau data sejarah sederhana seperti yang saya tulis ini. &lt;br /&gt;Namun kerja sederhana itu nampaknya masih enggan dilakukan. Bukan hanya Disporabudpar, tapi DKKM juga. Coba buka blog Disporabudpar dan website DKKM. Hampir tak ada informasi secuil pun yang  bisa kita dapat tentang senibudaya Magelang. &lt;br /&gt;Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri pejabat terkait, saya mengusulkan agar pemerintah kota/kabupaten Magelang membuat database asset budaya yang dimilikinya. Database semacam itu tentu sangat bermanfaat bagi kepentingan sosialisasi dan promosi budaya dan pariwisata. &lt;br /&gt;Untuk melakukan segenap upaya sosialisasi dan promosi itu, saya juga mengusulkan agar dibentuk ‘Sekretariat Bersama Promosi Pariwisata Magelang Raya (Kota/Kabupaten)’. Saya pikir lewat sekber ini kerja sosialisasi dan promosi menjadi lebih terintegrasi dan efektif. &lt;br /&gt;Saya pribadi senang terjadinya polemic ini. Bukan berarti saya mencintai kegaduhan. Karena  lewat polemic semacam ini semakin jelas peta persoalan senibudaya di Magelang. Sehingga pihak-pihak berkepentingan: Pemkot, Disporabudpar, DKKM, dan teman-teman seniman lainnya, akan lebih mudah memahami dan membenahinya. Semoga catatan Joko Prasetyo mengawali langkah  Pemkot Magelang memulai sejarah baru, seperti semboyan penutup catatannya: “Satukan Hati demi Kemajuan Kesenian Magelang !”. Bravo &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-5707723009798564698?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/5707723009798564698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/01/sejarah-wayang-gethuk-magelang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5707723009798564698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5707723009798564698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/01/sejarah-wayang-gethuk-magelang.html' title='SEJARAH WAYANG GETHUK MAGELANG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWz2zXyOyI/AAAAAAAABC0/ZlGRRfvNdQE/s72-c/Pentas%2BWyg%2BGetuk%2BDKKM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4457292009333560986</id><published>2011-01-18T22:19:00.007+07:00</published><updated>2011-01-18T22:30:58.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='creative people'/><title type='text'>DUO PENCIPTA WAYANG GETHUK DARI MAGERSARI (Asli Lho...).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWwYC524zI/AAAAAAAABCY/uLbTJNVcz84/s1600/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWwYC524zI/AAAAAAAABCY/uLbTJNVcz84/s320/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563546841829008178" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ki Sambi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 18 Januari 2011.&lt;/span&gt; Kendati berusia 65 tahun, fisiknya masih nampak kekar dan sehat. Itulah sosok Sambianto, atau lebih popular dipanggil Ki Sambi, ketika ditemui di kios keris dan barang antic di pasar penampungan Magelang. Saat disampaikan tentang ribut-ribut siapa penemu wayang gethuk, ayah 4 anak ini dengan tegas mengatakan, “Saya yang pertama membuat wayang gethuk pada tahun 2004. Saat itu Mas Untung  Laluna mengajukan ide untuk membuat seni yang khas Magelang. Lalu saya tawarkan ide wayang gethuk”.&lt;br /&gt;Ki Sambi mengajukan ide wayang gethuk karena teringat makanan kesukaan anak-anak ketika ia masih kecil, berupa tokoh-tokoh wayang terbuat dari lempengan gethuk yang dibakar. “Makanan itu sering dibawa ayah saya sepulang dari pasar, “ kenang Ki Sambi tentang masa kecilnya sekitar tahun 50-an, di kampung Magersari, Magelang Selatan.&lt;br /&gt;Sementara Untung Laluna (40 th), yang juga kelahiran Magersari, menyetujui untuk mengangkat karya seni berbahan gethuk, karena makanan itu terkenal dan identik dengan kota Magelang sebagai ‘kota gethuk’. “Selain itu saya juga terilhami wayang suket kreasi Slamet Gendono, yang sering saya tonton ketika saya kuliah di Solo, “ imbuh Untung, lulusan Fakultas Senirupa UNS Surakarta.&lt;br /&gt;Kemudian kedua seniman itu membuat wayang dari gethuk seberat 2 kg yang dibeli dari tetangga Ki Sambi, yang biasa berjualan gethuk di pasar Rejowinangun Magelang. Untung membuat sketsa tokoh-tokohnya, sementara Ki Sambi  mencetak dan membentuknya menjadi wayang gethuk. Tokoh dan karakter wayang gethuk relative baru karena berasal dari khasanah cerita local babad Magelangan, seperti ‘Dumadine Kutho Magelang’, “Madheging Gunung Tidar”,  dll. Khasanah cerita kethoprak tahun 60-an, itu dikisahkan kembali oleh Ki Sambi, seorang pemain kethoprak yang kondang pada jamannya.&lt;br /&gt;“Ketika aktif main kethoprak dulu saya biasa memainkan cerita-cerita itu, “ kata Ki Sambi, yang pernah menjadi anggota grup kethoprak Pancamurni, Pancabakti, hingga Sapto Budoyo, yang berjaya di Magelang era tahun 60-70an.  Untung dan anak-anak seusianya sekitar tahun 80-an di Magersari masih mengenal Ki Sambi sebagai pemain kethoprak idola yang sering berperan sebagai jagoan alias hero.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWxJ-YoQiI/AAAAAAAABCs/NB8SHKXjKaw/s1600/Foto%2BUntung%2BLaluna%2B01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWxJ-YoQiI/AAAAAAAABCs/NB8SHKXjKaw/s320/Foto%2BUntung%2BLaluna%2B01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563547699609354786" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untung Laluna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang gethuk dipentaskan pertama kalinya, awal tahun 2005, di Gedung Kyai Sepanjang, Magelang. Saat itu Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM) baru terbentuk. “Kami merasa surprise disuguhi wayang gethuk, kesenian yang sebelumnya tidak pernah terdengar ada di Magelang, “ kata Drs. Budiono, Ketua DKKM.&lt;br /&gt;Tahun 2005, ketika diundang panitia Festival Wayang Internasional di Jogya, Budiono menawarkan wayang gethuk mewakili DKKM. “Pementasan di Jogya cukup sukses. Sejak itu wayang gethuk eksis sebagai varian wayang khas Magelang, “ tambah Budiono. “Bahkan Sri Sultan HB X menganugrahkan penghargaan kepada untung sebagai penemu/pencipta wayang gethuk”.&lt;br /&gt;Ketika ditemui di rumah yang kini ditempatinya di kampung Boton, Magelang Tengah, Untung memperlihat penghargaan dari HB X, itu bersama beberapa sketsa tokoh dan karakter wayang gethuk bikinannya. “Di rumah ini, dulu Ardi Gunawan sering datang. Ia juga meminta ijin untuk mementaskan wayang gethuk, “ kenang Untung, tentang temannya yang kini dikenal sebagai dalang wayang gethuk itu.&lt;br /&gt;Ki Sambi juga ingat, dulu Ardi Gunawan mendatanginya di rumah usai pentas di Kyai Sepanjang. "Ia meminta satu wayang gethuk yang saya bikin. Buat contoh katanya, “ cerita kakek 4 cucu ini. Ki Sambi juga tak bisa menolak permintaan sesama seniman. “Pak Ardi itu kan juga sering ngajak anak saya pentas tari dan jathilan ”.&lt;br /&gt;Intinya kedua seniman asli Magersari itu tak mencurigai itikad Ardi Gunawan. Mereka merasa semakin banyak orang mementaskan wayang gethuk akan bermanfaat bagi eksistensi buah kreasi mereka itu. Selain Ardi, seniman teater Gepeng Nugroho juga datang meminta ijin untuk mementaskan wayang gethuk dalam bentuk teater kontemporer.&lt;br /&gt;Terbukti kemudian wayang gethuk diterima masyarakat Magelang, bahkan menjadi ikon budaya kota di lembah Tidar itu. Ardi Gunawan pun  semakin teguh sebagai dalang wayang gethuk, dan menambahkan sebutan ‘Ki’ di depan namanya menjadi Ki Ardi Gunawan, layaknya dalang kondang.&lt;br /&gt;Yang menggundahkan Ki Sambi adalah sejak pentas di Kyai Sepanjang itu ia tidak pernah diajak pentas lagi oleh Untung dkk. Bahkan pentas di Jogya itu dalangnya juga bukan dirinya. “Kami nggak ngajak Ki Sambi. Kemampuan dalangnya kurang kuat buat pementasan skala internasional itu, “ terang Untung memberi alasan. “Kami mengajak Ki Yanto, dalang yang berasal dari desa Tidar “.&lt;br /&gt;Ki Sambi hanya melihat teman-temannya itu diwawancarai TV atau masuk Koran karena wayang gethuk. Ia juga nonton ketika di sebuah TV nasional, seorang turis bule belajar wayang gethuk pada Ardi Gunawan. Ia tak risau. Ia tetap menjalani kehidupannya sebagai pedagang keris dan barang antic. “Sesekali masih diundang pentas wayang gethuk. Tapi kecil-kecilan..di kampung, “ imbuhnya. &lt;br /&gt;Selain berdagang keris, kakek yang nampak memiliki bermacam bakat seni ini juga membuat patung-patung kayu. “Patung-patung ini diambil seorang pedagang dan dijual ke Bali, “ katanya memperlihatkan contoh patung kayu bermotif primitive karyanya.&lt;br /&gt;Mengenai pengakuan Ardi Gunawan sebagai pencipta wayang gethuk, apa tanggapan kedua seniman itu  ? Untung sendiri tidak terlalu risau. Sebagai seniman kreatif ia terus berkarya, dan berpameran di berbagai kota. Ia hanya menyesalkan ulah temannya itu.&lt;br /&gt;Sedangkan bagi Ki Sambi ? Tentu ia merasa kecewa, kok ada orang setega itu terhadap sesama seniman. Buat seniman sederhana seperti dirinya, pengakuan itu cukup penting. “Tapi sebagai orang kecil…saya bisa apa mas, “ keluhnya dengan lirih. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Mualim M Sukethi/bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4457292009333560986?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4457292009333560986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/01/duo-pencipta-wayang-gethuk-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4457292009333560986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4457292009333560986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2011/01/duo-pencipta-wayang-gethuk-dari.html' title='DUO PENCIPTA WAYANG GETHUK DARI MAGERSARI (Asli Lho...).'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TTWwYC524zI/AAAAAAAABCY/uLbTJNVcz84/s72-c/Foto%2BKi%2BSambi%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8872958448100231074</id><published>2010-12-11T10:42:00.005+07:00</published><updated>2010-12-11T10:54:30.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>PROGRAM PERDANA DUNIA TERA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQL1ynLarDI/AAAAAAAABCM/vBGLDM8DUPQ/s1600/Poster%2BReading%2BTour.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQL1ynLarDI/AAAAAAAABCM/vBGLDM8DUPQ/s320/Poster%2BReading%2BTour.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549267940733004850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 11 Desember 2010.&lt;/span&gt; Rumah Baca DUNIA TERA, yang secara fisik  keberadaannya sedang dalam tahap persiapan, justru akan memulai programnya lewat sebuah diskusi bedah buku “RABET: Runtuhnya Jerman Timur”. Bedah buku yang akan menghadirkan penulisnya, Martin Jankowski, itu akan diadakan pada hari Minggu, 12 Desember 2010, bertempat di ‘DUNIA TERA’, Jalan Balaputra Dewa 99, Borobudur, Kabupaten Magelang (samping hotel Pondok Tingal).&lt;br /&gt;Selain menghadirkan penulisnya secara langsung, pada bedah buku yang akan dimoderatori Sutanto Mendut, itu juga akan dimeriahkan oleh Sosiawan Leak (sastrawan), yang akan membacakan fragmen (penggalan) novelnya. Diskusi yang akan berlangsung antara jam 10.00 s/d 13.00, ini merupakan penutup dari ‘Reading Tours’ yang berlangsung di berbagai kota (Banda Aceh, Jakarta, Bandung, Surabaya, Biak, Bali). Acara ini merupakan kerjasama partner local dengan ‘Goethe Institut’ Jakarta.&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Martin Jankowski menceritakan perspektif seorang pemuda Jerman Timur yang mengalami kejadian dan suasana di tahun 1989, pada saat-saat terakhir keberadaan Republik Demokrasi Jerman.  Secara tidak sengaja dan demi mencari kehidupan karir untuk terlepas dari “jeruji” masyarakat sosialis, pemeran utama, Benjamin Grasmann terlibat pusaran kejadian pada saat-saat terakhir negara Jerman Timur; Dia melibatkan kita, pembaca, ke dalam revolusi, yang disebut dengan nama revolusi damai, yang dengan kejadian tersebut telah melenyapkan pemerintah negara Jerman Timur.&lt;br /&gt;Mengingat banyak persamaan antara peristiwa politik yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin yang mengemparkan dunia pada tahun 1989, itu dengan runtuhnya kekuasaan rezim otoriter Soeharto di Indonesia tahun 1998, dalam kesempatan diskusi nanti Martin akan mendiskusikan kesejajaran dan perbedaan antara sejarah kebangsaan Jerman dengan  Indonesia. &lt;br /&gt;“Buku ini diharap bisa menjadi jembatan dialog antara Jerman dan Indonesia dan membuat dua negara ini menjadi lebih dekat dan bersahabat. Buku ini bisa menjadi ajang diskusi antar budaya yang melibatkan siswa dan guru, kelompok pemuda, wartawan, seniman, aktivis politik atau kelompok-kelompok lainnya, “ kata Dorothea Rosa Herliany, pendiri ‘Dunia Tera”. &lt;br /&gt;Selanjutnya, penyair Magelang yang akrab dipanggil Rosa,itu menambahkan: “Bagi kita di Indonesia, buku ini akan mampu menjadi gerbang pembuka sebuah diskusi  mengenai hubungan antara Jerman dan Indonesia, mengenai perbedaan budaya, agama, cara hidup yang berbeda. Ini bisa menjadi langkah berikutnya dalam proses memahami satu sama lain yang akan berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan sejumlah besar orang”. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Beberapa komentar penting tentang buku Rabet, antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jankowski merupakan suara yang paling menarik  dari generasi baru  penulis Jerman Timur..." &lt;/span&gt; (Caroline Wyatt, BBC)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;....catatan puitik perlawatan Jankowski bukan sebuah catatan harian seorang pelancong. Ada gairah, haru, humor, yang menyebabkan puisi ini menyentuh kita dengan hangat. &lt;/span&gt;(Goenawan Mohammad, dalam catatan untuk buku puisi Detik-Detik Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk novel ini sampai bisa dituliskan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Thomas Meyer, Leipziger Volkszeitung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jarang ada kisah berakhirnya sejarah Jerman Timur bisa diuraikan sedemikian realistis dan pada saat yang sama juga dengan cara yang lucu.”&lt;br /&gt;(Wolfgang Engler, Sociologist, author of “The East-Germans”)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Martin Jankowski sedang membuat jalannya sendiri memasuki sastra Jerman...”&lt;br /&gt;(Sabine Neubert, ND-Kultur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salah satu novel yang mengungkapkan sudut pandang revolusi Eropa....cerita tentang demonstran yang ingin keluar dan yang ingin tetap tinggal di Jerman Timur digambarkan tidak dengan cara sama ....buku Jankowski memperlihatkan sejarah tentang sebuah revolusi yang berbeda yang tidak diungkapkan oleh siapa pun....... Jankowski adalah sedikit dari pengarang yang bisa memberi kupasan tak hanya secara kritis tapi juga ironis.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Frank Thomas Grub, “Revolution and Reunification in German Literature” 2003, de Gruyter Berlin – New York).&lt;br /&gt;Bagi yang berminat menghadiri diskusi harap konfirmasi ke Hana/DuniaTera (085643764114).  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Mualim M Sukethi/bolinks@2010)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8872958448100231074?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8872958448100231074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/program-perdana-dunia-tera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8872958448100231074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8872958448100231074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/program-perdana-dunia-tera.html' title='PROGRAM PERDANA DUNIA TERA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQL1ynLarDI/AAAAAAAABCM/vBGLDM8DUPQ/s72-c/Poster%2BReading%2BTour.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1797453627904329551</id><published>2010-12-11T10:33:00.005+07:00</published><updated>2010-12-11T10:38:44.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='creative people'/><title type='text'>BIODATA MARTIN JANKOWSKI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQLx_uoLMOI/AAAAAAAABCE/nk4PMSqMHdk/s1600/martin%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 175px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQLx_uoLMOI/AAAAAAAABCE/nk4PMSqMHdk/s320/martin%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549263768024461538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 11 Desember 2010.&lt;/span&gt; Martin adalah penulis dan penyair kelahiran Greifswald di wilayah laut Baltic, pada tahun 60 an. Ia memulai karir sebagai penyanyi, penulis lirik lagu pada gerakan  bawah tanah kaum oposisi Leipzig. Tulisannya dilarang oleh polisi rahasia Jerman Timur (Stasi) namun lagu dan puisinya menjadi populer dalam masa yang dikenal sebagai “demonstrasi Senin” (setiap Senin setelah pelayanan di gereja Protestan di Leipzig, penduduk berkumpul di luar menuntut perubahan di Jerman Timur. Sebuah gerakan yang merupakan salah satu yang kemudian menjadi babak akhir dari Republik Demokratik Jerman dan jatuhnya tembok Berlin). &lt;br /&gt; Setelah itu, ia menerbitkan esai, cerpen, novel dan non fiksi dalam 5 buku. Buku puisinya sudah terbit dalam bahasa Indonesia “Detik-Detik Indonesia” (Indonesiatera, 2005). Tulisannya diterbitkan di banyak majalah dan antologi internasional. Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa dan mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya penghargaan Sastra dan Filsafat tahunan Jerman  1998, beasiswa Alfred Doeblin dari Akademi Seni Jerman pada tahun 2006 .&lt;br /&gt;Kesibukan Martin saat ini adalah sebagai kurator Festival Sastra Internasional Berlin dan penanggungjawab Program “Seni dan Budaya di Penjara” pada Proyek Uni Eropa, dan merupakan direktur "Jakarta Berlin Arts Festival " 2011. (info lebih lengap: http://www.martin-jankowski.de)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(MMS/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1797453627904329551?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1797453627904329551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/biodata-martin-jankowski.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1797453627904329551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1797453627904329551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/biodata-martin-jankowski.html' title='BIODATA MARTIN JANKOWSKI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TQLx_uoLMOI/AAAAAAAABCE/nk4PMSqMHdk/s72-c/martin%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4913731324706124576</id><published>2010-12-01T05:16:00.002+07:00</published><updated>2010-12-01T05:19:26.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='creative people'/><title type='text'>ENIYA, 'WONG MAGELANG' PENERIMA HABIBIE AWARD TERMUDA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV4X_DwEQI/AAAAAAAABB0/jyZ6kBMUeaw/s1600/Foto%2BEniya.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV4X_DwEQI/AAAAAAAABB0/jyZ6kBMUeaw/s320/Foto%2BEniya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545470869636124930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Nawa Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 1 Desember 2010.&lt;/span&gt; Di antara 4 orang penerima Habibie Award 2010, salah satunya adalah Dr-Eng Eniya Listiani Dewi, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia merupakan penerima Habibie Award termuda. &lt;br /&gt;Karya perempuan kelahiran 14 Juni 1974 tersebut berkisar pada lingkup elektrokimia, suatu cabang ilmu kimia yang berkaitan dengan potensi listrik dan energi. Penelitiannya adalah tentang sel bahan bakar berbasis hidrogen yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan. a&lt;br /&gt;Salah satu karya yang mengawali kiprahnya di bidang sel bahan bakar adalah penemuan katalis baru untuk sel bahan bakar. Penemuan tersebut menurutnya adalah sebuah inovasi yang ditemukan secara kebetulan. &lt;br /&gt;"Saya kan kalau sedang ekaasperimen suka saya tinggal waktu makan siang. Saya pikir kan tidak masalah. Nah, waktu itu ketika saya melihat hasil eksperimen setelah saya tinggal, kok jadinya berbeda, ternyata perbedaan malah jadi inovasi," terang Eniya. Polimer yang terbentuk menjadi terdiri dari 10 penyusun, padahal harusnya ada 2 penyusun. &lt;br /&gt;Dari hasil karya yang kebetulan tersebut, perempuan yang menyelesaikan gelar doktor dari Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis dan Sel Bahan Bakar Waseda University ini meraih beragam penghargaan, termasuk Mizuno Awards dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada tahun 2003. &lt;br /&gt;Karya terbarunya adalah ThamriON, sebuah membran sel bahan bakar temuannya yang baru saja mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. "Prinsipnya, ThamriON tersebut adalah membran sel bahan bakar yang terbuat dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, maka plastik bisa menghantarkan listrik," ungkapnya.&lt;br /&gt;Nama ThamriON sendiri punya sejarah tersendiri. "Saya kan bekerja di Jalan MH Thamrin Jakarta jadi nama itu saya ambil untuk nama karya saya. Kalau ON sendiri berasal dari kata ion, karena plastiknya bisa jadi menghasilkan ion," terangnya sambil tertawa mengenang penamaan hasil karyanya.&lt;br /&gt;Teknologi sel bahan bakar dan bahan pendukung lain hasil risetnya di kembangkan 80 persen dari material lokal, sehingga biayanya lebih murah. Dengan proses manufaktur secara mandiri, sel bahan bakar yang tersebut telah diterapkan untuk menyalakan perangkat elektronik dan sepeda motor dengan kapasitas 500 Watt. &lt;br /&gt;Untuk mengembangkan proses produksi dan penyimpanan bahan bakar, Eniya bekerja sama dengan berbagai pihak. "Ada Teknik Kimia UGM, Pusat Teknologi Bioindustri, industri polimer dan baterai," ungkap perempuan yang kini menjadi Kepala Perekayasaan Sel Bahan Bakar di BPPT.&lt;br /&gt;Eniya adalah putri pertama dari pasangan Hariyono (alm) dan Sri Ningsih, berasal dari kota Magelang, Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia teknologi dan lingkungan sudah ada sejak ia masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Magelang. &lt;br /&gt;"Sejak saya SMA, saya sudah tertarik pada hal-hal yang berbau sains dan ramah lingkungan. Waktu itu, kalau mengarang, saya selalu menulis tema-tema teknologi dan isu ramah lingkungan," ujarnya yang sebenarnya lebih menyukai ilmu fisika daripada kimia. &lt;br /&gt;Setelah lulus SMA, ia beruntung dapat memperoleh beasiswa lewat program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S-1 ke Waseda University. &lt;br /&gt;Pendidikan strata dua dan tiga ia lanjutkan dengan beasiswa dari lembaga lain. Total masa pendidikan yang ia butuhkan untuk mencapai gelar doktor adalah 10 tahun, berawal dari tahun 1993 hingga tahun 2003. &lt;br /&gt;Salah satu ambisi terbesarnya adalah mewujudkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dari bahan hidrogen. "Bahan hidrogen ini sangat berpotensi, bisa diproduksi dari berbagai macam sumber, termasuk biomassa," terangnya. Ambisi tersebut diperoleh setelah melihat pengembangan kota Fukuoka, Jepang yang mengaplikasikan hidrogen sebagai sumber energi. &lt;br /&gt;Hidrogen bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, bahan bakar kendaraan dan lainnya. "Dengan bahan bakar hidrogen, motor tidak mengeluarkan asap, tapi air murni," jelas Eniya. &lt;br /&gt;Ide Eniya dalam pemakaian hidrogen sebagai sumber bahan bakar juga dipresentasikan dalam 7th Biomass Asia Workshop yang berlangsung di gedung BPPT, Senin 29/11/2010 &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(KOMPAS. Com/bolinks@2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4913731324706124576?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4913731324706124576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/eniya-wong-magelang-penerima-habibie.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4913731324706124576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4913731324706124576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/eniya-wong-magelang-penerima-habibie.html' title='ENIYA, &apos;WONG MAGELANG&apos; PENERIMA HABIBIE AWARD TERMUDA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV4X_DwEQI/AAAAAAAABB0/jyZ6kBMUeaw/s72-c/Foto%2BEniya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-6840512173209436349</id><published>2010-12-01T05:01:00.003+07:00</published><updated>2010-12-01T05:16:34.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>ENIYA, MEMBUKA JALAN KE KOTA HIDROGEN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV2dvNX9VI/AAAAAAAABBs/ht5KDyZiV98/s1600/FUKUOKA%2BFUTURE.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV2dvNX9VI/AAAAAAAABBs/ht5KDyZiV98/s400/FUKUOKA%2BFUTURE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545468769437480274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Nawa Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 1 Desember 2010.&lt;/span&gt; Selama belajar 10 tahun hingga memperoleh gelar doktor di Jepang, 1993-2003, inspirasi puncak Eniya Listiani Dewi meretas jalan menuju ”kota hidrogen” di Indonesia, seperti tahun 2003 saat Jepang mulai mewujudkannya di kota industri otomotif, Fukuoka.&lt;br /&gt;Eniya berhasil membuka jalan ke kota hidrogen setelah memproduksi ”jantung” sel bahan bakar hidrogen dengan komponen lokal 80 persen sehingga harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pasaran di Asia kini. Masyarakat Ilmu Polimer Jepang memberinya penghargaan atas temuan tersebut dalam simposium internasional di Kobe, 29 Mei 2009 lalu. Sebanyak 4.000 ahli polimer dari berbagai penjuru dunia diundang menghadiri kegiatan itu.&lt;br /&gt;Namun, pemberangkatan Eniya dan semua peserta yang lain kemudian dicegah karena saat itu Kobe terserang pandemi flu A-H1N1. Simposium dibatalkan. Simbol anugerah dikirimkan ke Indonesia dan diterima Eniya akhir Juni 2009.&lt;br /&gt;”Justru masyarakat Jepang lebih dulu menghargai temuan hasil riset tim kami,” ujar Eniya, Kepala Perekayasaan Fuel Cell atau Sel Bahan Bakar pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Eniya, putri pertama dari dua bersaudara pasangan Hariyono (almarhum) dan Sri Ningsih, asal Magelang, Jawa Tengah, ini meraih banyak penghargaan di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memulai dari Akhir. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memahami kota hidrogen mencakup pemenuhan kebutuhan energi masyarakat kota secara ramah lingkungan. Tujuannya, melanggengkan kehidupan kota tanpa risiko pencemaran karena sel bahan bakar hidrogen menghasilkan energi tanpa mengemisi karbon dan limbahnya hanya air dan panas.&lt;br /&gt;Aplikasi sel bahan bakar untuk kota hidrogen bertujuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari penerangan, memasak, sampai kendaraan. Jadi, knalpot kendaraan tak mengepulkan asap, tetapi mengucurkan air murni.&lt;br /&gt;Menurut Eniya, Jepang membuat simulasi kota hidrogen dengan membagikan generator sel bahan bakar berkapasitas 1.000 watt-2.000 watt kepada 2.000 keluarga di Fukuoka untuk penggunaan cuma-cuma selama lima tahun. Disediakan pula angkutan umum bus dengan bahan bakar hidrogen yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;Keinginannya mewujudkan kota hidrogen di Indonesia memang terkesan tak mungkin. Di balik itu Eniya mengungkap spirit dari teknokrat BJ Habibie dalam teknik berinovasi, yaitu start from the end atau memulai dari yang terakhir.&lt;br /&gt;Kenangan akan Habibie terus mengendap karena Eniya berhasil mewujudkan keinginannya sejak kecil untuk studi di luar negeri berkat kebijakan Habibie era 1990-an. Saat itu, Kementerian Negara Riset dan Teknologi di bawah Habibie memberi beasiswa bagi lulusan SMA berprestasi untuk melanjutkan studi ke berbagai negara industri. Ia terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa dalam program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi.&lt;br /&gt;Eniya menyelesaikan S-1 di Universitas Waseda, Tokyo, hingga memperoleh gelar doktor (S-3) pada Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis, dan Sel Bahan Bakar. Teknologi sel bahan bakar termasuk the end atau bagian akhir pengembangan teknologi mutakhir menyongsong peradaban ramah lingkungan dalam pemenuhan energi dengan sumber energi tak terbatas, seperti air sebagai sumber hidrogen.&lt;br /&gt;Menurut Eniya, metode produksi hidrogen, selain proses elektrolisis dari air, dapat pula ditempuh seperti di Fukuoka, yakni mengubah metana dari berbagai bahan bakar gas, termasuk biogas menjadi hidrogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memupuk Harapan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti para periset dan perekayasa lain, Eniya berharap ada investor yang mampu mengaplikasikan temuannya untuk pengembangan sel bahan bakar secara kompetitif. Ia membuka secara transparan, bagaimana mengganti komponen ”jantung” sel bahan bakar impor dari AS atau Jepang dengan komponen-komponen lokal.&lt;br /&gt;Manufaktur generator sel bahan bakar dengan komponen lokal sudah diuji menurunkan 80 persen harga dari pasaran Asia. Substitusinya antara lain pada material katalis elektrode sel bahan bakar impor dengan logam platina, yang berharga jauh lebih mahal, diganti komponen lokal vanadium yang fungsi dan keandalannya tak jauh beda.&lt;br /&gt;Penggunaan nafion pada polimer elektrolit sel bahan bakar impor seharga 1.000 dollar AS (sekitar Rp 10 juta) per meter persegi disubstitusi proses sintesis hidrokarbon polimer nanosilika berharga Rp 1,5 juta per meter persegi, atau berkurang 85 persen. Substitusi material impor juga untuk komponen lain sel bahan bakar yang dirangkai berurutan membentuk lapisan stack fuel cell atau generator sel bahan bakar.&lt;br /&gt;Komponen itu meliputi end-plate, current collector, graphite bipolar-plate, dan membrane electrode assembly (MEA) sebagai ”jantung” sel bahan bakar. Rangkaian stack fuel cell impor (tanpa MEA) senilai Rp 23,95 juta bisa diturunkan menjadi Rp 5 juta.&lt;br /&gt;”Untuk mengaplikasikan temuan ini, saya berpijak pada upaya memproduksi listrik permukiman dengan sumber hidrogen yang menyesuaikan sumber daya setempat. Aplikasi untuk sistem transportasi bisa menyesuaikan kemudian,” ujar Eniya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(KOMPAS.Com/bolinks@2010)..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-6840512173209436349?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/6840512173209436349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/eniya-membuka-jalan-ke-kota-hidrogen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6840512173209436349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6840512173209436349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/12/eniya-membuka-jalan-ke-kota-hidrogen.html' title='ENIYA, MEMBUKA JALAN KE KOTA HIDROGEN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TPV2dvNX9VI/AAAAAAAABBs/ht5KDyZiV98/s72-c/FUKUOKA%2BFUTURE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-6238384238591458786</id><published>2010-10-26T22:25:00.005+07:00</published><updated>2010-10-26T22:37:46.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>AKSI SENIMAN MAGELANG PEDULI PEMBANGUNAN PASAR.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbzYBTDcCI/AAAAAAAABBE/uQLyYZ1Ikrk/s1600/Andre+menahan+gilasan+bola+uang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbzYBTDcCI/AAAAAAAABBE/uQLyYZ1Ikrk/s320/Andre+menahan+gilasan+bola+uang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532376786261995554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 26 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Sekelompok orang nampak mendorong sebuah bola besar dari kertas yang terbalut tempelan uang kertas, di suatu pagi, Minggu 24 Oktober 2010. Mereka mendorong bola itu menyusuri jalanan dari arah SMP 8 ke arah Pasar Penampungan, Magelang.  Sesampainya di antara Pasar Burung dan Pasar Loak, di sebuah kios yang tak terpakai, rombongan itu berhenti. Mereka, dipimpin Andri Topo, langsung melucuti pakaian yang mereka kenakan dan menggantinya dengan kostum berupa lilitan kain warna merah.  Tak lupa enam orang seniman itu juga melumuri wajahnya dengan lumpur, sehingga nampak seperti mahluk aneh dari dunia antah berantah.&lt;br /&gt;Oh ya…pagi itu sekitar jam 10.00, sekelompok seniman Magelang sedang menyiapkan aksi kepedulian terhadap kondisi Pasar Rejowinangun yang tak kunjung dibangun. Kali ini mereka bergerak di bawah koordinasi grup “RAKYAT PEDULI PEMBANGUNAN PASAR REJOWINANGUN MAGELANG” (on facebook). Selain kelompok ‘Lagrangan’ pimpinan Andri Topo, tak lama kemudian juga bergabung rombongan ‘Sanggar Wonoseni’ pimpinan Ki Ipang Wonolelo, dan grup music Trunthung pimpinan Handoko Sudro. Sedangkan ‘Komunitas Jeda’ yang terdiri empat remaja SMU ikut bergabung sambil membawa spanduk aksi.&lt;br /&gt;Setelah semua terkumpul, sekitar 50 seniman, aksipun dimulai. Diawali bentangan spanduk bertuliskan ‘Seniman Magelang Peduli Pembangunan Pasar Rejowinangun’ dan music trunthung yang bertalu-talu dinamis. Kelompok Lagrangan berjalan di depan sambil melakukan gerak-gerak teatrikal. Bola dunia berbalut uang yang mereka bawa didorong dengan cepat, kadang menekan, sehingga terkesan menghantam atau menggilas orang-orang yg ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;Adegan itu diulang-ulang sepanjang jalan prosesi, dari pasar penampungan hingga pasar Rejowinangun.&lt;br /&gt;Andri Topo, si penggagas, mengartikan bola itu sebagai kekuatan ekonomi yang cenderung menggilas siapa saja. Seperti halnya pedagang pasar yang tergilas kekuatan modal dan pemilik kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbzuNl9mKI/AAAAAAAABBM/76FDZavKnak/s1600/Ruwatan+seniman+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbzuNl9mKI/AAAAAAAABBM/76FDZavKnak/s320/Ruwatan+seniman+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532377167519652002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ipang dkk berekspresi lain lagi. Mereka yang berbalut kain putih dan wajahnya juga dicat warna putih, menandu sebuah maket bangunan bertuliskan Pasar Rejowinangun. Sepanjang jalan Ipang, bak bagawan utama, menaburkan bunga mengelilingi maket. Kadang-kadang bunga juga ditaburkan ke seniman lain. Ruwatan ala Ipang dkk ini mencapai puncaknya di depan Tugu Adipura yang berdiri di depan eks Pasar Rejowinangun.&lt;br /&gt;Sementara di belakang, Handoko dan 20 orang rombongannya mengiringi lewat irama music Trunthung yang menghentak dinamis. Gerak dan irama yang terkesan ‘riang gembira’ ini seakan-akan mewakili harapan semua pedagang pasar, yang akan merasakan kegembiraan hidup kembali bisa pasar secepatnya dibangun seperti halnya maket yang dipandu Ipang dkk.&lt;br /&gt;Selain para seniman dan panitia, yang nampak sibuk adalah sekelompok fotografer, yang mondar-mandir mengabadikan aksi-aksi teatrikal para seniman. Kelompok GUFI (Guyub Fotografi) pimpinan Bambang Bro dan Mbilung Sarawita, itu memang  sejak awal mendukung berlangsungnya aksi ini.&lt;br /&gt;Di beberapa titik para seniman itu berhenti dan melakukan performance. Bahkan di depan Bank Mandiri rombongan seniman melakukan aksi khusus. Kelompok trunthung berdiri berjajar di jalur hijau, sementara Ipang dan Andri cs meresponnya dengan rangkaian gerak teatrikal.&lt;br /&gt;Beberapa pedagang di Pasar Penampungan dan di Jalan Kahendran yg menyaksikan aksi ini juga antusias mendukung. Apalagi setelah mengetahui tujuan aksi seniman ini. “Terimakasih atas dukungan para seniman. Kini kami merasa tidak berjuang sendiri, “ kata seorang ibu penjual pakaian mengomentari.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMb1m25Jj7I/AAAAAAAABBk/2hmf_a0El2k/s1600/Trunthung+performing+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMb1m25Jj7I/AAAAAAAABBk/2hmf_a0El2k/s200/Trunthung+performing+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532379240190283698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMb00k1AD7I/AAAAAAAABBc/M3SfSYUOBmM/s1600/Aksi+seniman+di+lorong+pasar+08.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMb00k1AD7I/AAAAAAAABBc/M3SfSYUOBmM/s200/Aksi+seniman+di+lorong+pasar+08.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532378376347586482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang hujan deras mengguyur, justru ketika ritual ruwatan akan dimulai di depan tugu Adipura yg terletak di perempatan Pasar Rejowinangun. Namun hujan deras itu tak menyurutkan semangat para seniman. Ritual yang merupakan puncak prosesi tetap dijalankan.&lt;br /&gt;Rombongan Ipang dan Handoko duduk menempatkan diri di depan tugu, sementara Andri cs melakukan gerak teatrikal di sekeliling mereka. Ipang memimpin doa dan menaburkan bunga ke sekeliling lokasi yang dianggap pancer dari gerak ekonomi kota Magelang itu.&lt;br /&gt;Selesai ruwatan para seniman bergerak memasuki bekas lokasi pasar yang kini berupa lahan kosong penuh semak belukar. Setelah sebentar melakukan aksi sebentar di ruas jalan Mataram, mereka kembali ke depan tugu Adipura. Selain melakukan aksi dan pose-pose untuk para fotografer, mereka juga mengedarkan kardus-kardus mengumpulkan koin dari pengguna jalan dan para pedagang.&lt;br /&gt;Dalam rilis yang dibagikan oleh Mbilung Sarawita, Humas aksi, ruwatan ini merupakan ujud keprihatinan para seniman Magelang terhadap berlarut-larutnya pembangunan pasar yang terbakar 2,5 tahun lalu. Lewat ruwatan yang merupakan wujud tradisi Jawa, seniman berniat membebaskan pasar dari anasir negative yang mengungkung. Sehingga diharapkan setelah bersih dari anasir negative, pembangunan pasar secepatnya bisa terlaksana.&lt;br /&gt;“Semangat para seniman ini pantas diteladani. Kendati hujan deras mereka tak surut menyuarakan aspirasi masyarakatnya. Untuk masalah pasar, Anda benar bung , “ pesan sms dari seorang mantan ketua dinas di lingkungan Pemkab Magelang kepada Mualim M Sukethi, penggagas sekaligus penanggungjawab aksi.&lt;br /&gt;Sementara ulama karismatik asal Ponpes Tegalrejo, Gus Yusuf, menyambut positif aksi seniman ini. Dalam suatu kesempatan ketika bertemu dengan Mualim M Sukethi, setelah aksi berlangsung kyai gaul itu berkomentar: “Terimakasih mas, sudah mau ikut memikirkan masalah warga Magelang. Memang masalah ini harus ‘dikepung’ dari segala sisi “.&lt;br /&gt;Masalahnya, sementara ini, yang terketuk hatinya untuk ‘mengepung’ problematika pasar ini sebagian besar justru seniman dari wilayah Kabupaten Magelang. “Masalah pasar kobong ini kan bukan urusannya seniman kota saja. Kami petani gunung juga merasakan akibatnya, karena hasil tani kita kan juga dijualnya ke pasar Magelang, “ kata Handoko, yang berasal dari Warangan, Pakis, Kabupaten Magelang.&lt;br /&gt;Seniman kota sendiri kelihatannya masih ‘wait and see’, alias menunggu kemana arah angin berhembus. Malahan sempat beredar sms di kalangan seniman yang isinya menuduh kalau aksi seniman ini tidak murni, tapi ditunggangi kelompok kepentingan tertentu, tanpa memberikan bukti-bukti berdasar apa tuduhan itu terlontar.&lt;br /&gt;“Biarkan saja mas. Saya dan mas Tanto (Mendut) selama ini justru sepakat, biarkan kita ditunggangi pihak-pihak lain. Selagi pihak-pihak lain itu juga mempunyai tujuan yang sama, membela rakyat dan membela kebenaran itu sendiri, “ komentar Gus Yusuf ketika mengetahui isu sms itu. “Waktu dan sejarah yang nanti akan membuktikan apakah aksi seniman ini murni atau ditunggangi, “ tambahnya. Wallahualam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Myasa Poetika/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-6238384238591458786?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/6238384238591458786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/aksi-seniman-magelang-peduli.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6238384238591458786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6238384238591458786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/aksi-seniman-magelang-peduli.html' title='AKSI SENIMAN MAGELANG PEDULI PEMBANGUNAN PASAR.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbzYBTDcCI/AAAAAAAABBE/uQLyYZ1Ikrk/s72-c/Andre+menahan+gilasan+bola+uang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4002387112384271877</id><published>2010-10-26T20:16:00.001+07:00</published><updated>2010-10-26T20:19:19.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>MERAPI MELETUS EMPAT KALI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbVGsVgaZI/AAAAAAAABA8/bJBkiksbDzA/s1600/Bibir+Merapi+01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbVGsVgaZI/AAAAAAAABA8/bJBkiksbDzA/s400/Bibir+Merapi+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532343503228529042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kondisi puncak Gunung Merapi terus mengeluarkan asap solfatara saat terekam dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/10/2010). Selain asap solfatara yang terus keluar juga terjadi peningkatan guguran material vulkanik berupa batuan berasap yang disertai suara gemuruh (Foto: Iwan Setyawan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 26 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Setelah dinyatakan berstatus "Awas" sejak Senin kemarin, Gunung Merapi akhirnya memulai fase erupsi, Selasa (26/10/2010) sore. Luncuran awan panas atau yang biasa disebut wedhus gembel, terjadi hingga empat kali.&lt;br /&gt;Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), menyebutkan awan panas pertama terjadi pada pukul 17.02 dan lebih mengarah ke barat.Luncuran kedua terjadi pada pukul 17.19, 17.24, dan 17.34. Namun, pantauan luncuran-luncuran berikut itu tidak bisa terpantau karena terhalang kabut tebal dan diduga tersebar ke segala arah. Hingga pukul 18.33, awan panas terus meluncur dan alat seismograf di kantor BPPTK masih terus mencatat pergerakan awan panas.&lt;br /&gt;BPPTK pun memerintahkan seluruh petugas di lima pos pemantau gunung Merapi untuk turun dan mengevakuasi diri pada pukul 18.05. Pada saat bersamaan, terdengar 3 kali letusan besar dari pos Jrakah dan Selo di Magelang. &lt;br /&gt;Sementara di wilayah Sleman, Yogyakarta, ribuan warga kini dalam proses evakuasi menyusul semburan material vulkanik dari perut Gunung Merapi, Senin (26/10/2010) pukul 17.50 WIB. Kepanikan terjadi ketika dari arah puncak meluncur gumpalan pekat bergulung-gulung ke arah wilayah Samburejo dan Kinahrejo, atau ke arah kediaman Mbah Maridjan.&lt;br /&gt;Pengendara sepeda motor memacu kendaraannya sembari terus-menerus membunyikan klakson. Begitu juga mobil roda empat yang tadinya bersiaga di titik kumpul pertigaan Kinahrejo dan wilayah-wilayah tertinggi di lereng selatan. Sebagian besar warga dievakuasi ke barak pengungsi Umbulharjo dan Hargobinangun yang tadi siang dikunjungi Wapres Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hujan abu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan abu sampai saat ini masih terjadi di seputar wilayah Kinahrejo. Cuaca di lereng selatan mendung tebal dan gelap, tetapi belum turun hujan. Di Yogyakarta, hujan rintik-rintik terjadi secara sporadis. Dari laporan warga yang bertahan di Samburejo dan Kinahrejo, saat ini puncak Merapi berselimut awan tebal dan belum terdengar gemuruh guguran material vulkanik lagi.&lt;br /&gt;Debu vulkanik akibat luncuran material dari puncak Merapi pukul 17.50 WIB berjatuhan ke wilayah selatan, seperti Turgo, Kinahrejo, Ngrangkah, dan Samburejo. Warga di Samburejo di lereng selatan Merapi panik hebat ketika sekitar pukul 17.50 WIB terlihat ada luncuran besar yang diduga awan panas mengarah ke wilayah Samburejo dan Kinahrejo. Warga langsung dievakuasi ke barak pengungsian yang disiapkan. Muncul laporan juga bahwa sejumlah armada mobil pengangkut malah ketakutan dan kalang kabut meninggalkan desa.&lt;br /&gt;Suasana yang terekam lewat radio komunikasi warga, peringatan bahaya dan teriakan agar warga turun ke wilayah yang aman terdengar bersahut-sahutan. Guguran dan luncuran material vulkanik dari puncak Gunung Merapi memang terus termonitor hingga Selasa (26/10/2010) petang. Jumlahnya mencapai ratusan kali. Sekitar pukul 17.15 WIB, terjadi guguran besar yang sempat terlihat dari arah tenggara dan timur. &lt;br /&gt;Di Turgo, sejumlah warga mencium bau belerang dan melihat abu vulkanik melayang. Kacung, warga di Samburejo, memperkirakan jarak luncuran material sudah lebih dari 2.000 meter, atau 2 kilometer dari puncak. Umumnya mengarah ke hulu Kali Senowo, Kali Boyong, Kali Kuning, dan Kali Gendol. Informasi ini berdasarkan pengamatan visual langsung dari warga di Turgo, Kinahrejo, Samburejo, Tunggularum, dan Deles. Kawasan puncak Merapi sendiri tertutup awan sangat tebal, tetapi sesekali kubah di puncak terlihat dari pertigaan Kinahrejo, yang jadi pusat titik kumpul pengungsi.&lt;br /&gt;Titik api sejauh ini belum terlihat meski deformasi kubah terus berlangsung dan cukup ekstrem pertumbuhannya. Aktivitas Merapi kali ini sangat berbeda dengan kejadian erupsi sebelumnya karena perubahan aktivitas vulkaniknya sangat radikal.&lt;br /&gt;Dalam tempo sebulan status Merapi berubah menjadi Awas, level tertinggi di fase erupsi. Data yang tercatat di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, laju inflasi kubah mencapai 42 cm/hari. Pengukuran dilakukan dengan electric distance measurement (EDM), dengan reflektor dipasang di sekitar puncak Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersiap evakuasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang berkabut tebal dan tidak terlihatnya kawasan puncak Merapi membuat kewaspadaan menjadi ekstra tinggi. Di Kaliadem, Kepuharjo, dan Cangkringan, Kabupaten Sleman, warga setempat siang tadi menyelesaikan bangunan pos pantau secara gotong royong.&lt;br /&gt;Pos pandang di desa-desa tertinggi di lereng selatan Merapi itu berupa pondok bambu setinggi 10 meter. Warga setempat menegaskan ingin memantau langsung pergerakan Merapi dengan keyakinan tinggi.&lt;br /&gt;"Bukan berarti kami tak percaya informasi dan keputusan pemerintah dan vulkanologi. Sebagian besar warga sudah turun mengungsi," kata Ronggo, warga di Kaliadem.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Kompas.com/Tribunnews.com/Muhamad F Daeng/Setya Krisna Sumargo)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4002387112384271877?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4002387112384271877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/merapi-meletus-empat-kali.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4002387112384271877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4002387112384271877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/merapi-meletus-empat-kali.html' title='MERAPI MELETUS EMPAT KALI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMbVGsVgaZI/AAAAAAAABA8/bJBkiksbDzA/s72-c/Bibir+Merapi+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-9207243649174354086</id><published>2010-10-26T07:44:00.003+07:00</published><updated>2010-10-26T07:52:00.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>ELANG JAWA MULAI TINGGALKAN MERAPI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMYlQesyWoI/AAAAAAAABA0/LcE20iFQ7co/s1600/Foto+Merapi+01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMYlQesyWoI/AAAAAAAABA0/LcE20iFQ7co/s400/Foto+Merapi+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532150157320280706" /&gt;&lt;/a&gt;Foto: Wawan H Prabowo/Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 26 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Sekumpulan burung elang jawa (bido) telah terbang meninggalkan kawasan hutan di Gunung Merapi. Menurut kepercayaan penduduk, hal ini merupakan pertanda alam akan meningkatnya aktivitas vulkanik di gunung berapi itu.&lt;br /&gt;"Kami menandai, apa yang terlihat itu sebagai tanda kemungkinan udara di atas semakin panas sehingga bido itu turun," kata Sukisno (36), Ketua RT 02 RW 07 Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer dari barat puncak Gunung Merapi, di Magelang, Senin (25/10/2010) petang.&lt;br /&gt;Sekumpulan bido yang berjumlah sekitar 20 ekor tersebut terlihat oleh puluhan warga desa terakhir dari puncak Gunung Merapi. Kawanan burung ini terbang dari arah tenggara ke timur laut dari puncak Merapi. Warga setempat, katanya, melihat sekumpulan burung itu terbang sekitar pukul 16.00 WIB melintasi dusun setempat yang penduduknya berjumlah 227 jiwa (66 KK).&lt;br /&gt;Burung itu, katanya, selama ini tinggal di kawasan Hutan Deles yang letaknya dekat dengan Dusun Gemer."Saat Merapi akan erupsi yang terakhir pada pertengahan 2006, kami tidak melihat kejadian seperti itu," katanya.&lt;br /&gt;Seorang warga setempat lainnya, Ratin (38), mengatakan, sekumpulan bido yang terbang saat Merapi berstatus "awas" itu sebagai peristiwa langka. "Biasanya kami melihat bido terbang tetapi hanya dua atau tiga ekor, kalau yang rombongan seperti tadi, kami baru melihatnya sekali ini," katanya.&lt;br /&gt;Sejumlah satwa lainnya yang selama ini tinggal di hutan setempat antara lain monyet, rusa, dan macan.Ia juga mengaku, melihat saat sekumpulan burung itu terbang melintas, meninggalkan hutan setempat.&lt;br /&gt;Seorang warga Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Yuswadi (25), juga mengaku, melihat sekumpulan burung tersebut terbang meninggalkan hutan setempat. "Langit di atas kawasan puncak Merapi terlihat bersih, tidak ada awan, terlihat jelas sekumpulan burung itu," katanya.&lt;br /&gt;Masyarakat setempat, katanya, selain memperhatikan berbagai tanda peningkatan aktivitas vulkanik Merapi yang disampaikan oleh pemerintah, juga melalui sejumlah tanda alam setempat termasuk pergerakan satwa.&lt;br /&gt;Pada Senin hingga sekitar pukul 17.30 WIB puncak Merapi tidak tampak secara visual karena tertutup awan tebal, sedangkan sejumlah kawasan di desa setempat sempat gerimis selama beberapa saat.&lt;br /&gt;Badan Geologi Kementerian ESDM yang berkantor di Bandung telah mengumumkan bahwa pada 25 Oktober 2010 mulai pukul 06.00 WIB status Merapi naik dari "siaga" menjadi "awas". Status tersebut merupakan level tertinggi atas status aktivitas vukanik gunung berapi di perbatasan antara Jateng dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Status Merapi meliputi "aktif normal", "waspada", "siaga", dan "awas". Fase erupsi Merapi terakhir pada pertengahan 2006 antara lain ditandai dengan semburan awan panas, luncuran lava pijar, dan hujan abu secara intensif &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA News/bolinks@2010).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-9207243649174354086?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/9207243649174354086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/elang-jawa-mulai-tinggalkan-merapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/9207243649174354086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/9207243649174354086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/elang-jawa-mulai-tinggalkan-merapi.html' title='ELANG JAWA MULAI TINGGALKAN MERAPI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TMYlQesyWoI/AAAAAAAABA0/LcE20iFQ7co/s72-c/Foto+Merapi+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-347528440390203901</id><published>2010-10-21T09:35:00.003+07:00</published><updated>2010-10-21T09:40:48.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='networking'/><title type='text'>"DUNIA TERA' BAGI MASYARAKAT GEMAR MEMBACA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TL-oH59c88I/AAAAAAAABAs/a31Uoj5p0Lk/s1600/Wedangan+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TL-oH59c88I/AAAAAAAABAs/a31Uoj5p0Lk/s320/Wedangan+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530323721205380034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 21 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Pendiri "Rumah Baca Duniatera" Borobudur, Dorothea Rosa Herlyani, mengemukakan, fasilitas edukasi itu dibangun sebagai suatu terminal untuk upaya mendorong pengembangan maasyarakat gemar membaca secara cerdas dan kreatif.&lt;br /&gt;"Antara lain menjadi sarana untuk mewujudkan pengembangan masyarakat membaca yang cerdas dan kreatif," katanya saat sarasehan budaya bertajuk "Wedangan Di 20102010", di Magelang, Jateng, Rabu malam.&lt;br /&gt;Rosa yang juga penyair Magelang itu mengatakan, dirinya merintis pendirian RB Duniatera di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur di lokasi seluas 600 meter persegi.&lt;br /&gt;Menurut rencana, RB itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain internet dan ratusan buku koleksinya terutama bidang humaniora seperti sastra, sosial, filsafat, dan budaya.&lt;br /&gt;Selain itu, katanya pada sarasehan yang dihadiri kalangan seniman dan budayawan Magelang, berbagai buku bacaan edukatif untuk anak-anak, remaja dan pemuda.&lt;br /&gt;Ia menjelaskan tentang RB Duniatera sebagai komunitas buku, ruang baca, dan rumah penulisan buku.&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, tempat itu untuk membangun suatu komunitas belajar penerbitan dan komunitas belajar bahasa.&lt;br /&gt;"Untuk ruang belajar bersama mengembangkan berbagai komunitas, memberikan situasi konfusif bagi siapa saja yang ingin mengembangkan minta baca dan tulis, ruang diskusi di antara pembaca buku dan kaum muda dari berbagai tempat," katanya.&lt;br /&gt;Pihaknya membangun jejaring dengan masyarakat umum terutama kaum muda, institusi kampus, kelompok, dan komunitas seni budaya, penulis, seniman, dan pihak lainnya yang memiliki perhatian terhadap dunia perbukuan, seni, budaya, dan kemanusian di berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TL-nte9IvMI/AAAAAAAABAk/aY1MqLCFYL0/s1600/Rosa+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TL-nte9IvMI/AAAAAAAABAk/aY1MqLCFYL0/s320/Rosa+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530323267279699138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia menyatakan telah merencanakan sejumlah program RB Duniatera seperti pelatihan secara gratis menyangkut menulis buku, menerbitkan buku, mendistribusikan buku, dan mengelola situs internet.&lt;br /&gt;"Mereka yang tertarik bisa menjadi anggota Duniatera, kami akan mendorong anak-anak muda untuk mempunyai komunitas baik di dunia maya dan dunia nyata untuk kepentingan pengembangan potensi diri," katanya.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, peletakan batu pertama pembangunan RB Duniatera telah dilaksanakan pada Rabu (20/10) siang bertepatan dengan HUT ke-47 dirinya.&lt;br /&gt;"Rencananya pada Desember 2010 akan kami resmikan dan Januari 2011 diharapkan sudah bisa dimulai berbagai program pelatihan dan tindak lanjut atas kegiatan itu," katanya.&lt;br /&gt;Budayawan Kota Magelang, Soetrisman, menyebut, pembangunan RB Duniatera sebagai nafas baru dunia perbukuan.&lt;br /&gt;"Tempat itu akan menjadi terminal gagasan kreatif, tempatnya yang di Borobudur akan menjadikan nilai baru kawasan peninggalan peradaban dunia itu," kata Soetrisman yang juga pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar Magelang itu.&lt;br /&gt;Ia mengharapkan, berbagai kalangan terutama anak dan pemuda setempat memanfaatkan RB itu untuk pengembangan potensi diri dan wawasannya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA Jateng News/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-347528440390203901?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/347528440390203901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/dunia-tera-bagi-masyarakat-gemar.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/347528440390203901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/347528440390203901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/dunia-tera-bagi-masyarakat-gemar.html' title='&quot;DUNIA TERA&apos; BAGI MASYARAKAT GEMAR MEMBACA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TL-oH59c88I/AAAAAAAABAs/a31Uoj5p0Lk/s72-c/Wedangan+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1301717176105489089</id><published>2010-10-15T06:35:00.004+07:00</published><updated>2010-10-15T06:41:18.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>ASYIKNYA RAFTING DI SUNGAI PROGO MAGELANG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLeUXxXYX2I/AAAAAAAABAU/rhEno11rnBU/s1600/Rafting+Progo+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLeUXxXYX2I/AAAAAAAABAU/rhEno11rnBU/s400/Rafting+Progo+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528050203729878882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Ima-EP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 15 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Tak jauh dari Yogyakarta, kurang lebih 2 jam perjalanan atau 10 liter bensin dengan "Swica" (Swiftku Cayang) kita sudah sampai di kota Magelang. Selain objek wisata Candi Borobudur dan wisata alam Ketep &amp; Kopeng, kita juga disuguhi wisata petualangan bagi yang ingin membuang penat rutinitas kerja dengan "Rafting" di sungai Progo.&lt;br /&gt;Tanpa rencana, kami pengantin muda membuang waktu di hari Minggu dengan rencana "rafting" di Hotel Puri Asri. Ternyata, untuk ber-rafting ria kita harus booking terlebih dahulu ke (0293) 365115 ext. 106 agar tidak kecewa sesampainya di sana. Wisata Rafting (arung jeram) disediakan oleh Hotel Puri Asri dengan trainer kawan-kawan dari Progo Xventours yang sudah 15 tahun menaklukkan sungai Progo. Rafting sungai Progo termasuk kategori grade II, lebih menantang dari sungai Elo tapi tidak seberat di sungai Serayu dan Progo Bawah. &lt;br /&gt;Perjalanan kami dari Yogyakarta jam 11 siang dan sampai di tempat tujuan jam 12.30. Karena kami hanya booking via telepon maka kami harus menunggu apabila ada team yang masih kurang anggota, he3x ... Alhamdulillah, ada team dari Kalimantan yang beranggota 3 orang sehingga kita jadi satu team untuk menikmati keindahan sepanjang sungai Progo. Sebagai bahan informasi, satu perahu karet berisi 6 orang (termasuk 1 guide/trainer) dengan merogoh kocek 145 ribu kita sudah mendapat fasilitas: alat pengaman, dayung, air mineral, transportasi dan makan siang. Sekali perjalanan menempuh jarak 9 km (jalur sungai) dan 17 km (jalur darat) dan memakan waktu 2,5 jam sehingga waktu pemberangkatan yang disediakan adalah 8.30, 11.00, dan 13.00. Oh iya, karena ini wisata air, jangan lupa menyiapkan pakaian ganti lengkap ya?&lt;br /&gt;Berikut beberapa tips untuk menaklukkan rasa takut terhadap air yang melimpah: Anggap aja ini kolam renang yang besar. Ikuti short instruction yang diberikan trainer. Pakai alat pengamanan yang disediakan. Ikat sendal dan kacamata dengan tali yang bisa diminta dari trainer. Percaya pada trainer yang sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun dan Selamat menikmati ... &lt;br /&gt;Sekali pemberangkatan, ada 5 tim perahu karet. Bersama Mr. Kopral, kita ber-5 akan mengarungi sungai Progo sepanjang 9 km. Awalnya perasaan "deg-deg"an dan was was akan muncul, namun lama kelamaan dijamin kalian akan segera mnikmatinya karena pemandangan sawah, tebing dan air sungai menghipnotis rasa takut kita menjadi rasa penasaran akan ciptaanNya. Kelokan sungai dengan bebatuannya membuat perjalanan kita menjadi sangat menakjubkan. &lt;br /&gt;Guide memberikan aba-aba : dayung maju, stop, dayung mundur dan kita hanya tinggal mengikutinya saja. Kebetulan kami mendapat guide yang siiippp, Mr. Kopral menawarkan pada kami banyak permainan yang kami lakukan di atas perahu. Di awal perjalanan, kami bermain ciprat-cipratan air dengan tim lain dan bisa dipastikan bahwa seluruh baju kami basah. Jeram pertama yang kami lewati masih tegang untuk menikmati, namun kita akan rindu dengan jeram-jeram berikutnya yang lebih menegangkan. Permainan berikutnya, meluncur di jeram besar dengan perahu yang berputar. Sisi kiri dari perahu mendayung maju dan sisi kanan perahu mendayung mundur, itulah teknik untuk membuat perahu berjalan berputar. Dan, WOW ... ternyata mengasyikkan sekali dengan kecepatan perahu menjadi lebih cepat dan menantang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLeUmQLBkiI/AAAAAAAABAc/SdpqOLYMYIE/s1600/Rafting+Progo+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLeUmQLBkiI/AAAAAAAABAc/SdpqOLYMYIE/s320/Rafting+Progo+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528050452517720610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan bidangnya, Pak Kopral tidak lelah untuk membagi ilmunya kepada kita tentang titik-titik rawan sungai dan cara penyelamatan ketika kita rafting di sungai yang lebih besar. Setelah melewati kelokan besar dengan arus sungai yang deras, Pak Kopral mengajak kita bermain sambil mempraktekkan ilmunya tentang tikungan dalam yang tidak berarus. Kita ber-5 disuruh berdiri di samping perahu karet dan saling berpegangan untuk keseimbangan. Alhamdulillah, kita ber-5 berhasil berdiri di atas perahu karet yang berjalan selama kurang lebih 2 menit, he3x ... Mengagumkan, ternyata teori tentang bagian dalam sungai di kelokan besar tidak berarus, terbukti.&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 4 km mengarungi sungai Progo, kita semua beristirahat. Walaupun baru pertama kali ketemu tapi rasanya sudah akrab seperti menemukan keluarga besar. Kami berfoto-foto bak pre-wedding, he he he ... Setelah kurang lebih 10 menit beristirahat dan menikmati air mineral, kami pun melanjutkan petualangan.&lt;br /&gt;Petualangan kami selanjutnya adalah atraksi membalikkan perahu sehingga seluruh penumpang bisa merasakan dinginnya air sungai Progo dan meluncur di sungai. Namun karena ada banyak pemancing, kami mengurungkan niat untuk itu sebagai etika ber-arung jeram dengan warga sekitar sungai Progo. Tibalah waktunya melewati jeram-jeram sungai Progo yang tentunya lebih menantang dengan keberanian yang levelnya cukup untuk pemula. Waktu berjalan cepat hingga akhirnya kita mencapai garis finish dan seluruh perahu dinaikkan di atas angkutan darat yang membawa kita kembali ke Hotel Puri Asri.&lt;br /&gt;Sesampainya di Puri Asri, kita segera berganti pakaian dan memilih foto-foto yang dijepret pada waktu kita rafting dalam bentuk CD dan cukup dengan merogoh kantong 10 ribu per foto. Selanjutnya, makan siang TIPTOP dengan menu rames yang enaaak untuk perut yang dingin. Perjalanan ini sungguh mengasyikkan, menikmati kebesaranNya dari sungai dan kembali ke Jogja bak petualang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih suamiku, bersamamu aku semakin bersyukur akan kuasaNya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Diangkat dari blog ‘ima-ep’/created by: EP /bolinks@2010).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1301717176105489089?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1301717176105489089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/asyiknya-rafting-sungai-progo-magelang.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1301717176105489089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1301717176105489089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/asyiknya-rafting-sungai-progo-magelang.html' title='ASYIKNYA RAFTING DI SUNGAI PROGO MAGELANG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLeUXxXYX2I/AAAAAAAABAU/rhEno11rnBU/s72-c/Rafting+Progo+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8096381757681934912</id><published>2010-10-14T07:06:00.002+07:00</published><updated>2010-10-14T07:09:59.520+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>BOROBUDUR DALAM LOGIKA KEKUASAAN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLZKCLv__TI/AAAAAAAABAM/2L4mnzG3hnM/s1600/+Borobudur+by+Affandy+02.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 346px; height: 255px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLZKCLv__TI/AAAAAAAABAM/2L4mnzG3hnM/s400/+Borobudur+by+Affandy+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527686994018172210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Purnawan Andra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borobudurlinks, 14 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Hari Sabtu (25/9/10) lalu Kompas menurunkan artikel mengenai Candi Borobudur sebagai salah satu bagian penting dari sejarah peradaban kebudayaan Indonesia. Borobudur, bangunan batu yang dibuat dengan perhitungan arsitektur matang dan ragam hiasan seni tingkat tinggi itu menjadi representasi kemajuan teknologi, tingginya pencapaian ekspresi seni budaya serta kehidupan komunal yang berkualitas.&lt;br /&gt;Prasasti Kayumwungan menyebut bahwa Borobudur diselesaikan pada masa kekuasaan Ratu Pramudawardhani dari Wangsa Syailendra pada 26 Mei 824 M. Nama Borobudur berasal dari kata Sanskerta bara (berarti candi atau biara) dan beduhur (tinggi. Dalam bahasa Bali kata itu mempunyai arti “di atas”) (Zainudin, 2009).&lt;br /&gt;Candi Borobudur mempunyai arti menyeluruh, baik sebagai situs sejarah peradaban manusia dan catatan reflektif nilai-nilai kehidupan. Namun kini, bangunan karya leluhur masyarakat Jawa modern itu bisa dilihat sebagai sebuah mata rantai yang hilang dari sejarah masa kini.&lt;br /&gt;Borobudur hanya menjadi simbol peradaban lain yang memutus silsilah orang Jawa masa kini sehingga asing dengan nilai-nilai spiritual yang terkandung didalamnya. Peranan bangunan bersejarah itu kini menjadi sekuler, menjadi barang dagangan kepentingan pariwisata semata.&lt;br /&gt;Sangat kontradiktif dengan kenyataan bahwa Borobudur mempunyai sederetan makna yang sangat bertalian erat dengan dimensi kehidupan manusia baik dalam interaksi sosial maupun dalam wujud pengalaman transendental. Secara simplifikatif candi tersebut tidak semata-mata mengandung nilai-nilai kemegahan namun juga sarat dengan ajaran-ajaran bijak Sang Budha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Reduksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memandang Borobudur sebagai elemen pariwisata menjadi respon yang naif, sporadis dan sangat tidak visioner. Sikap ini telah mereduksi pemahaman dan kepemilikan publik atas jejak historis, proses transformasi identitas kultural, dan konsepsi nilai spiritualitas atasnya. Terbukti, Borobudur dikeluarkan dari tujuh keajaiban dunia, sebagai bukti kegagalan masyarakat dalam merawat dan meruwat kehidupan kulturalnya, baik dalam bentuk fisik maupun konsepsi nilai yang ada di baliknya.&lt;br /&gt;Borobudur menjadi bagian industri kebudayaan yang juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri, dan sudah tentu komoditas. Hal ini memaksakan penyembahan, pemujaan, pengkultusan, eksostisme tertentu yang disebut Peter L. Berger sebagai "semesta simbolisme modernitas" dengan bawah sadar kapitalisasi kultural.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, seturut logika Bourdieu (dalam Antariksa, 2002), pemerintah tidak mempunyai 'kemelek-hurufan budaya' (cultural literacy), yaitu pengetahuan akan sistem-sistem makna dan kemampuannya untuk menegosiasikan sistem-sistem itu dalam berbagai konteks budaya.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, konsepsi ajaran Budha di candi Borobudur adalah medan budaya sebagai institusi, nilai, kategori, perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki objektif, yang kemudian memproduksi dan memberi "wewenang" pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas (dalam hal ini religi). Justru pada titik pemahaman ini, pemerintah memakai logika terbalik dan menganggap Borobudur semata ”modal”, untuk menentukan apa dan bagaimana ia harus didistribusikan.&lt;br /&gt;Dalam logika budaya yang terhegemoni semacam ini, pemerintah berkuasa menciptakan ide-ide dominan. Relasi kekuasaan dan kekerasan menjadi tidak kentara, dalam artian kekerasan yang ada tertutupi oleh kekuasaan yang bekerja secara halus melalui representasi simbol-simbol.&lt;br /&gt;Aturan memakai sarung di candi Borobudur dan pentas rutin sendratari sejarah pembangunan candi menjadi semacam proyek imperatif negara yang dengan vulgar mengesampingkan keraifan lokal yang tersirat pada Borobudur sebagai simbol sejarah peradaban manusia. Agenda eksotis sarung dan pentas kesenian hanya mementingkan permukaan, penampakan, penampilan, hiburan, dan permainan tanda-tanda tanpa kedalaman makna dan tidak mengacu kepada realitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah modus operandi kekuasaan yang terselubung di dalam praktik simbolik bahasa/wacana sehingga melahirkan  kekerasan simbolik  sebagai sebuah mekanisme sosial untuk mereproduksi kekuasaan.&lt;br /&gt;Seturut Gramsci, problematika semacam ini adalah dominasi mutlak kapitalisme sebagai suatu sistem sosial dalam masyarakat yang gagal mengatasi berbagai permasalahan mendasar dalam hal ketidakseimbangan politik, ekonomi dan sosial budaya.&lt;br /&gt;Secara sistematis ideologi hegemoni ”mencekoki” individu dan masyarakat dengan pikiran-pikiran, bias-bias, dan sistem-sistem preferensi  tertentu dimana kekuasaan cenderung melakukan hegemoni makna terhadap kenyataan sosial (Ibrahim, dkk, 1997). Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap nilai-nilai reflektif Borobudur semakin lama semakin melemah karena adanya dorongan yang sangat kuat dari kapitalisme global. Akibatnya, kita lebih bangga menumpuk simbol kultural yang tak komunikatif dan justru menghamba pada kepentingan kapitalisasi kekinian.&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, pendidikan nilai dan visi baru melalui pendidikan karakter bangsa dapat menjadi suatu upaya dan langkah yang amat mendasar untuk melakukan counter hegemony. Dengan mengembangkan nilai lama menjadi lebih adaptif terhadap lingkungan baru yang positif, produktif dan melestarikan, memanfaatkan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal, dengan tetap mempertimbangkan fenomena produk kebudayaan lain yakni kebudayaan umum (massa, komersial), kebudayaan alternatif (seni, invensi) dan kebudayaan klasik yang mengandung dimensi kesejarahan, maka akan mendorong penemuan identitas bangsa yang sejati dan adaptif terhadap laju jaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Purnawan Andra, &lt;br /&gt;peserta Malaysia-Indonesia-Thailand (MIT) Exchange Program 2010 di Universiti Sains Malaysia (USM) Penang, Malaysia. Lahir dan besar di Magelang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini diambil dari Harian KOMPAS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8096381757681934912?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8096381757681934912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/borobudur-dalam-logika-kekuasaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8096381757681934912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8096381757681934912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/borobudur-dalam-logika-kekuasaan.html' title='BOROBUDUR DALAM LOGIKA KEKUASAAN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLZKCLv__TI/AAAAAAAABAM/2L4mnzG3hnM/s72-c/+Borobudur+by+Affandy+02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4663600118670491477</id><published>2010-10-13T08:42:00.007+07:00</published><updated>2010-10-13T08:58:38.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>SEHARI BERSAMA IKRANEGARA  DKK.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUO8LuLfzI/AAAAAAAAA_s/5fgt7ReaYbA/s1600/Ikra+cs+n+Asa+di+OHD+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUO8LuLfzI/AAAAAAAAA_s/5fgt7ReaYbA/s320/Ikra+cs+n+Asa+di+OHD+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527340544768573234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: MyAsa Puitika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 11 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Di sela-sela waktunya yang terbatas, selain pentas di Studio Mendut, Ikranegara dkk sempat jalan-jalan di kota Magelang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Borobudurlinks.com &lt;/span&gt;mendapat kesempatan menemani mereka. Karena waktunya memang tak banyak, Ikranegara yang ditemani beberapa anggota ‘Teater Saja’, seperti Mamok Pratomo, Winda Daniel, dan Iran Baduy, hanya sempat mengunjungi Museum Senirupa OHD dan Warung Makan ‘A&amp;A’.&lt;br /&gt;Setelah sarapan, di penginapannya, Hotel Pondok Tingal Borobudur, Magelang, Ikra dkk bersantai menunggu Yefta Tandio yang akan mengantar.  Mereka masih sempat memetik dua buah papaya dari pohon yang tumbuh di halaman hotel. Ikra, yang merasa memiliki keahlian mengupas buah, langsung berinisiatif meminjam pisau dari dapur hotel dan dengan cekatan mengupas buah yang banyak tumbuh di sekitar Borobudur itu.&lt;br /&gt;Pepaya itu terasa manis. “Ini matang di pohon, “ kata Ikra menyilakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;borobudurlinks&lt;/span&gt; menyicipi. Dengan cepat dua pepaya tak terlalu besar itu tandas. Winda masih sempat memesan jus jambu dan alpukat, yang kemudian juga tandas diminumnya bersama Ikra.&lt;br /&gt;Jam 12.00 rombongan meninggalkan hotel. Kurang dari setengah jam rombongan sampai di Museum OHD. Sayang siang itu Oei Hong Djien (OHD), pemilik museum dan kolektor senirupa terkenal, tak ada di rumah merangkap museumnya itu. Kami pun menikmati karya seni koleksi OHD ditemani Apin, staf museum.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUPMoNSxAI/AAAAAAAAA_0/q5lGv0Cg6IU/s1600/Iran+mengagumi+instalasi+pesawat.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUPMoNSxAI/AAAAAAAAA_0/q5lGv0Cg6IU/s200/Iran+mengagumi+instalasi+pesawat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527340827293172738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikra, yang pernah mengunjungi museum ini bersama Putu Wijaya dan Niniek L Karim, Desember tahun lalu, nampak masih antusias menikmati koleksi museum. Mungkin karena banyak lukisan dan instalasi baru yang terpajang. Sementara ketiga temannya menunjukkan kekagumannya menikmati ratusan karya perupa papan atas yang terpajang di museum senirupa Indonesia yang diklaim terbesar di dunia itu. Klaim itu memang bukan omong-kosong, mengingat museum ini memilki 2000 karya perupa penting di Indonesia.&lt;br /&gt;“Saya tak pernah membayangkan ada tempat seperti ini di Indonesia, “ kata Winda menyampaikan kekagumannya. Ia yang cukup mengenal karya-karya perupa yang tergolong old-master berusaha mengenali kembali karya-karya itu ketika memasuki Museum of Modern-Art, salah satu bagian Museum OHD. “karya-karya ini mengingatkan saya di TIM di tahun 70-an, “ katanya sembari berfoto di samping  karya Affandy, Rusli, Soedjojono, Nashar, Hendra Gunawan, Lee Man Fong, dll.&lt;br /&gt;Sedangkan ketika memasuki Museum of Contemporary Art, giliran Iran Baduy yang terbengong-bengong. Ia meminta borobudurlinks untuk memotret posenya berdampingan dengan beberapa patung atau instalasi tiga dimensi karya perupa muda Indonesia. Ketika melihat ‘onggo’an’ pesawat kecil yang terkesan berantakan seakan habis terjatuh dari ketinggian, Iran takjub dan tak percaya kalau yang dilihatnya itu hanyalah karya instalasi yang terbuat dari kertas. Ia minta ijin untuk memegang dan mengetuk badan pesawat, memastikan bahwa karya itu memang terbuat dari kertas bukan besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuliner baru di Magelang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 13.30, Ikra dkk selesai menikmati museum OHD. Rupanya perut juga sudah mengisyaratkan keroncongan. Yefta berinisiatif membawa kami ke kawasan Magelang Selatan, tepatnya di Jalan Sarwo Edi Wibowo 112, Panca Arga. Ternyata tujuannya adalah Warung Makan ‘A&amp;A’, yang akhir-akhir ini popular di kalangan seniman Magelang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUQA4KlqfI/AAAAAAAAA_8/t9x1a1l0WUs/s1600/Ikra+menikmati+sop+ayam.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUQA4KlqfI/AAAAAAAAA_8/t9x1a1l0WUs/s200/Ikra+menikmati+sop+ayam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527341724929993202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di warung sederhana itu, Ikra memesan sop ayam dan nasi gurih sekaligus. Rupanya ia sedang menjalani diet kolesterol, sehingga menolak sop sumsum yang menjadi menu special di warung itu. Untuk daging, ia hanya diperbolehkan makan daging ayam. Itu pun tidak boleh digoreng, hanya dibakar atau direbus. Sedangkan tiga rekannya memilih sop sumsum. Hanya Yefta yang memesan nasi gurih dengan lauk empal goreng.&lt;br /&gt;Mereka juga sepakat memesan jeruk panas. “Di sini jeruknya juga istimewa. Kalau di warung lain hanya satu jeruk nyang diperas, di sini minimal dua, jadi rasanya lebih manis dan segar, “ kata Yefta, yang sudah beberapa kali menyambangi warung yang kini jadi ikon kuliner baru di Magelang ini.&lt;br /&gt;Benar juga, ketika jeruk panas itu dihidangkan, dilihat dari warnanya yang kuning cerah mengisyaratkan kandungan jeruk  yang kental. “Memang enak. Yang pasti manisnya bukan rasa gula, “ kata Winda spontan.&lt;br /&gt;Begitu mencicipi nasi gurih, tersirat rona Tanya pada wajah Ikra. “Bener-bener gurih. Rasa gurih dan wangi ini darimana, padahal nggak pakai santan kan ? “. Menurut  Antie (30), pemilik warung, rasa gurih itu muncul dari perpaduan beberapa rempah serta ikan jambal yang dihaluskan. Sedang aroma wangi  berasal dari daun kemangi yang ikut dimasak bersama nasi itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUQYAoCW3I/AAAAAAAABAE/iRlM6aoVPfM/s1600/Ikra+cs+di+warung+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUQYAoCW3I/AAAAAAAABAE/iRlM6aoVPfM/s320/Ikra+cs+di+warung+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527342122337983346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Winda yang nampak lahap menikmati sop sumsum berkomentar, “Suegerr banget. Apalagi dinikmati di tengah panas seperti  sekarang ini. Di Jakarta pasti cocok ini “. Siang itu udara Magelang memang cerah dan cukup panas.&lt;br /&gt;“Selain nikmat, cara makan sumsum ini juga unik. Agak primitive tapi oke juga, “ timpal Mamok yang asyik menggerogoti daging yang menempel di antara tulang-tulang sumsum itu. Yefta langsung memberi  petunjuk cara memakan sumsum, yaitu dengan mengisapnya lewat sedotan yang sudah tersedia.&lt;br /&gt;Sementara Iran mengekspresikan kepuasannya dengan cara lain. Ia mencoba mencicipi semua menu yang dipesan temannya. Kendati sudah makan sop sumsum dengan nasi putih, ia juga mencicipi nasi gurih dari piring Winda dan sedikit daging ayam yang ada pada sop pesanan Ikra.&lt;br /&gt;Sudah tentu suasana makan siang itu semakin riuh oleh obrolan khas seniman, yang terbuka dalam membicarakan banyak hal. Apalagi mereka juga harus sedikit mengeraskan suara, menimpali crowded suara kendaraan yang melintas di depan warung. Tentang hal ini, Ikra mengusulkan agar pemilik warung memasang sound-system dengan musik-musik yang asyik untuk sedikit mengimbangi suara kendaraan itu.&lt;br /&gt;Terkesan oleh nikmatnya masakan yang disajikan, Ikra dkk tak lupa minta dibungkuskan untuk oleh-oleh. “Istri saya pasti suka nasi seperti ini, karena nggak pakai santan, “ alasan Ikra yang memesan 2 bungkus . &lt;br /&gt;Tadinya Winda dan Mamok ingin membawa sop sumsum, tapi urung karena warung itu belum menyediakan kemasan yang memadai untuk dibawa jauh, apalagi harus naik pesawat ke Jakarta. Akhirnya semua sepakat untuk membawa oleh-oleh nasi gurih. “Wah…ternyata nasi gurih bisa jadi oleh-oleh baru khas Magelang nih, “ celetuk Winda ketika pamit meninggalkan warung itu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2010).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4663600118670491477?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4663600118670491477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/sehari-bersama-ikranegara-dkk.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4663600118670491477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4663600118670491477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/sehari-bersama-ikranegara-dkk.html' title='SEHARI BERSAMA IKRANEGARA  DKK.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLUO8LuLfzI/AAAAAAAAA_s/5fgt7ReaYbA/s72-c/Ikra+cs+n+Asa+di+OHD+02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5343508002537684276</id><published>2010-10-12T15:16:00.003+07:00</published><updated>2010-10-12T15:21:37.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>IKRANEGARA BER-DRAMATIC-READING DI MAGELANG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLQaCGS5aFI/AAAAAAAAA_c/HUdza3-yPik/s1600/Dramatic+Reading+Ikra+Cs+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLQaCGS5aFI/AAAAAAAAA_c/HUdza3-yPik/s320/Dramatic+Reading+Ikra+Cs+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527071266042374226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 11 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Setelah Desember tahun lalu memukau public Magelang bersama Putu Wijaya dan Niniek L Karim, actor dan dramawan senior Ikranegara kembali unjuk kebolehannya di Magelang.  Kalau dulu mereka mementaskan naskah ‘Kereta Kencana’, saduran Rendra, kini Ikranegara memainkan naskah Putu Wijaya bertajuk ‘Nyaris’.&lt;br /&gt;Selain Ikra, pementasan bertempat di Studio Mendut, itu juga dimeriahkan oleh pemain-pemain ‘Teater Saja’ Jakarta, seperti Mamok Pratomo, Winda Daniel, dan pemusik Iran Baduy. Naskah yang sedianya dimainkan dalam bentuk ‘drama pendek’ itu, di Magelang, berubah menjadi ‘dramatic reading’.&lt;br /&gt;“Saya terpaksa merubah format penampilan kami, soalnya set yang tersedia kurang tepat untuk pementasan teater  sesuai dengan yang kami inginkan, “ kilah Ikra sebelum pementasan dimulai. Yefta Tandio dari Komunitas Teplok, penyelenggara acara, memang tidak menyediakan set khusus untuk pementasan ini. Set yang ada berbentuk instalasi batang-batang dan kandang bambu, dedaunan, hingga tali berukuran besar adalah kreasi Bambang Bro dari Gufi (Guyub Fotografi Indonesia). Komunitas fotografi yang baru berdiri di Magelang,  sore itu juga mengadakan klinik fotografi dengan sesi pemotretan body-painting model di tempat yang sama.&lt;br /&gt;Maka malam itu, Minggu 10 Oktober 2010, sekitar jam 20.30, Ikra bersama 3 rekannya memulai pertunjukannya dengan hanya duduk di kursi yang berada di tengah arena atau halaman belakang studio milik Sutanto Mendut itu. Ikra, Mamok, dan Winda, duduk di tengah arena. Sementara Iran agak di belakang ditemani perkusi yang ditepuknya pelahan sebagai ilustrasi adegan. Praktis selama pertunjukan mereka berempat tak beranjak dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLQaYk8O8cI/AAAAAAAAA_k/7V9vf3I_9NQ/s1600/Myfams+nonton+Ikra+cs.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLQaYk8O8cI/AAAAAAAAA_k/7V9vf3I_9NQ/s320/Myfams+nonton+Ikra+cs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527071652225937858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mati Lampu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan dimulai oleh suara erangan Ikra yang memerankan Putu Dia, lelaki tua yang sedang sekarat mendekati ajalnya. Dilanjutkan dengan semacam monolog tentang banyak hal. Mempertanyakan segala perbuatannya semasa hidup, fenomena social saat ini, hingga menawar agar diberi kesempatan memperpanjang hidupnya.&lt;br /&gt;Monolog panjang Putu Dia itu kemudian disambut dialog seru ketika ketika dua tokoh yang berada di samping Ikra, Mamok sebagai Avatar Macan, dan Winda yang memerankan Avatar Gagak, meresponnya. Perbincangan berat, cenderung filosofis, yang berlangsung unlinier itu menunjukkan kualitas keaktoran mereka. Lenguhan, erangan, bahkan teriakan dan bentakan mewarnai dialog sepanjang hampir 1,5 jam itu. Sementara ketukan perkusi yang pelan dan lambat secara ritmis mengiringi dialog ketiganya.&lt;br /&gt;Dialog yang mengalir lancar, serta kualitas vocal yang prima, menunjukan bahwa Ikra dkk adalah actor/aktris handal yang telah malang melintang hampir 50 tahun di jagad teater Indonesia. Dalam hal diksi, karena ini seni pembacaan,  mereka telah teruji. Penonton pun cukup jernih mencerna isi pementasan.&lt;br /&gt;Bahkan ketika lampu beberapa kali mati, hanya menyisakan satu lampu halogen kecil di belakang Ikra, mereka bertiga tetap bisa menjaga kelangsungan pertunjukan. “Kami tak terganggu oleh matinya lampu. Mungkin bagi penonton bermasalah. Sebenarnya untuk dramatic-reading yang dijadikan sasaran adalah telinga penonton. Padamnya lampu tidak mengganggu telinga, mestinya. Karena itulah kami masih bisa  jalan terus melanjutkannya, “ kata Ikra mengomentari hambatan teknis yang banyak dikeluhkan penonton.&lt;br /&gt;Namun kelancaran yang tidak memberikan jeda sepanjang pertunjukan, justru merupakan titik lemah pertunjukan ini. Irama dan tempo yang tak tergarap menyebabkan situasi dramatic tak terbangun dengan baik. Mestinya hal teknis semacam itu tak terjadi pada Ikra dkk. Mungkin hal ini terjadi karena mereka secara mendadak terpaksa memindahkan format teater menjadi dramatic reading. “Kami tak bisa memainkan adegan atau properties seperti teater biasa, “ kilah Winda, dalam dialog yang berlangsung sesudah pertunjukan usai.&lt;br /&gt;Sementara Sutanto Mendut, pemilik tempat, sempat menyayangkan persiapan panitia yang dianggap kurang professional, sehingga banyak kekurangan selama pertunjukan. Mati lampu dan ketiadaan set hanya sebagian dari ketidaksiapan panitia. Secara khusus Tanto mengkritik Yefta, yang kali ini bertindak ‘one man show’, semua ditangani sendiri sehingga banyak hal terbengkelai. Bahkan Tanto sendiri yang terpaksa turun tangan mengatur parkir mobil dan motor para tamu.&lt;br /&gt;“Ini adalah gambaran khas manajemen ala seniman kota Magelang, bukan seniman gunung.  Kerja melibatkan banyak pihak, kok ndak pernah rapat sama sekali, “ kritik Tanto. Sedangkan tentang pementasannya sendiri Tanto berpendapat, penampilan pemain kurang maksimal karena kurang didasari rasa gembira dalam hatinya. “Basis kesenian adalah kebahagiaan jiwa,” imbuhnya.&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai kekurangan itu, kehadiran Ikranegara dkk ini pantas diapresiasi kalangan seniman Magelang. Bagaimana pun, masyarakat Magelang pantas berterimakasih kepada Yefta Tandio dan Komunitas Teplok-nya yang mampu menghadirkan seniman-seniman papan atas seperti Ikranegara, Putu Wijaya, Niniek L Karim, Teater Koma, Ananda Sukarlan, Jubing Kristanto, Punakawan (Jaya Suprana dkk), dll. Selain Tanto Mendut, orang-orang seperti Yefta-lah yang mampu menghidupkan gairah senibudaya di kota tercinta ini. BRAVO !!! &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-5343508002537684276?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/5343508002537684276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/ikranegara-ber-dramatic-reading-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5343508002537684276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/5343508002537684276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/ikranegara-ber-dramatic-reading-di.html' title='IKRANEGARA BER-DRAMATIC-READING DI MAGELANG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLQaCGS5aFI/AAAAAAAAA_c/HUdza3-yPik/s72-c/Dramatic+Reading+Ikra+Cs+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-851120794611830786</id><published>2010-10-12T05:46:00.006+07:00</published><updated>2010-10-12T06:05:22.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>JAZZ RASA GETHUK DI MAGELANG.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOU1GKomuI/AAAAAAAAA-8/C1JCG2S2FrI/s1600/Ubay+solosax.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOU1GKomuI/AAAAAAAAA-8/C1JCG2S2FrI/s320/Ubay+solosax.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526924807622925026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Mualim M Sukethi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 10 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Jangan dikira music jazz yang cenderung eksklusif hanya tampil di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Jogyakarta. Kini pertunjukan music jazz juga bisa dinikmati warga kota Magelang. Setelah sebelumnya saudara-saudaranya di wilayah kabupaten bisa nonton music ‘bawaan Paman Sam’ itu di Studio Mendut, di panggung Candi Borobudur, atau di desa-desa sekitar Merapi-Merbabu. &lt;br /&gt;Sejak 6 (enam) bulan lalu secara embrional telah lahir kelompok pecinta music jazz di kota Magelang. Kelompok yang menamakan ‘Magelang Jazz Community’ atau Komunitas Musik Jazz Magelang itu secara rutin berkumpul dan menggelar pertunjukan setiap sabtu malam. Selain kumpul-kumpul komunitas itu juga tak lupa menggelar pertunjukan, yang kemudian popular disebut ‘Jazz Ngisor Asem’. Julukan itu mengacu pada arena pertunjukan yang tepat berada di bawah pohon asem, di samping warung Kucing Gunung, Jalan Veteran Magelang.&lt;br /&gt;Bermula dari Darmadi yang membuka warung angkringan di kaki lima Jl. Veteran, atau tepatnya di samping pintu belakang kantor Diklat Keuangan. Warung yang popular disebut Kucing Gunung itu kemudian menjadi tempat tongkrongan favorit kalangan ‘gaul’ Magelang.  Di antara pelanggan setianya antara lain Rudy JetVoice - musisi veteran, dan Randy – pemilik sound-system.&lt;br /&gt;Ketiga orang itu lalu sepakat untuk membuat pertunjukan music sederhana, mengambil tempat halaman kantor Diklat Keuangan menghadap jalan Veteran, persis di samping warung Kucing Gunung. Gelaran rutin setiap sabtu malam itu menampilkan sajian music jazz, sesuatu yang relatif anyar bagi warga Magelang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOVOgOtyJI/AAAAAAAAA_E/0tBOOaUEfzk/s1600/Suasana+show+wides+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOVOgOtyJI/AAAAAAAAA_E/0tBOOaUEfzk/s320/Suasana+show+wides+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526925244116093074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya Randy nyediain sound-systemnya. Lalu Rudy dan musisi lainnya bawa alat-alat sendiri …jreng, jadilah pertunjukan setiap malam minggu, “ kata Darmadi menggambarkan kesederhanaan gelaran seni yang ia kelola itu.&lt;br /&gt;Ternyata gelaran music sederhana itu mendapat sambutan dari warga Magelang. Setiap malam minggu, halaman kantor yang tak begitu luas, itu dipadati sekitar 40-50 peminat music jazz. Tua muda, bahkan anak-anak, berkumpul di arena lesehan dengan panggung yang terkesan seadanya itu. Tak lupa mereka menikmati sajian makanan murah meriah khas angkringan yang disajikan Darmadi dan keluarganya.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, peminat jazz dari kota-kota lain pun berdatangan, khususnya warga Magelang yang telah merantau di berbagai kota. Dari Jakarta, Bandung, Jogyakarta, Semarang, Bali, dan lain-lain menyempatkan diri mengunjungi komunitas itu selagi di Magelang. Selain itu beberapa musisi jazz mapan juga rela menjadi ‘bintang tamu’, seperti BJ (Jogya) atau Yoyok (Bali), yang pada gelaran tanggal 9 Oktober 2010, tampil menunjukkan kebolehannya. Mereka juga tak segan berbagi ilmu dalam acara dialog atau klinik music yang menjadi selingan acara.&lt;br /&gt;“Ini perkembangan menarik. Buat kota Magelang acara-acara semacam ini harus ada dan dipertahankan, “ kata Gagah M Adi, penyiar radio senior yang akrab dipanggil Gerry. Kalau sedang berada di Magelang, Gerry setia menyambangi komunitas itu, dan tentunya menyediakan diri berdialog dengan anggota komunitas. Mengingat Gerry, selain sebagai penyiar, adalah mantan bassist sebuah band rock pada jamannya, sehingga tak heran kalau memiliki wawasan memadai tentang music jazz.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOV5PpghdI/AAAAAAAAA_M/mZp40WfLw3Y/s1600/Penyanyi+cilik+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOV5PpghdI/AAAAAAAAA_M/mZp40WfLw3Y/s320/Penyanyi+cilik+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526925978399442386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dukungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 6 bulan gelaran rutin itu diadakan, praktis para aktivisnya mengeluarkan duit dari kantong sendiri untuk menjamin acara itu tetap berjalan. Sumbangan sekedarnya juga datang dari penonton dalam bentuk saweran.&lt;br /&gt;Eksistensi komunitas yang berjalan konsisten selama 6 bulan itu kini berhasil menarik sponsor sebuah merk rokok ternama, seperti yang terlihat pada gelaran Sabtu, 9 Oktober 2010, lalu. Tapi jumlah sponsornya masih terbatas. Selain menyediakan 2 tenda dengan merk rokok serta background bertuliskan nama acara, sponsor itu juga memberi sedikit dana.  &lt;br /&gt;“Tapi dananya sekedar cukup untuk sewa sound-system yang lebih baik dari biasanya, “ ujar Darmadi. Maka ia mengharapkan uluran sponsor lain, agar gelaran ini semakin sempurna dan menjadi alternative hiburan bagi warga Magelang. &lt;br /&gt;Mestinya dukungan bukan hanya dari sponsor atau saweran seadanya dari penonton. Pihak-pihak yang berkompeten dengan pengembangan senibudaya juga diharapkan memberi perhatian, taruhlah pihak Disporabudpar (Dinas Pemuda Olahraga Budaya Pariwisata) Kota Magelang, atau DKKM (Dewan Kesenian Kota Magelang).&lt;br /&gt;Ternyata selama 6 bulan ini, pihak atau orang-orang dari kedua lembaga itu belum pernah hadir sekedar jadi penonton. “Tadi ada pejabat Pemkot yang datang. Tapi setelah tahu kami hanya menyediakan lesehan bersama penonton lain, ia langsung kabur nggak nongol lagi, “ cerita Darmadi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOWnUG7kNI/AAAAAAAAA_U/j3FZ7gB5dr4/s1600/Wwcr+dg+Gagah+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOWnUG7kNI/AAAAAAAAA_U/j3FZ7gB5dr4/s320/Wwcr+dg+Gagah+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526926769870573778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bakat Muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik gelaran music jazz ini tak hanya memunculkan kembali nama-nama musisi veteran yang sekian puluh tahun malang melintang di dunia hiburan Magelang, seperti Rudy JetVoice, Sujud, Ririen, Aura, dll. Tapi juga banyak bakat muda yang ikut meramaikannya. Sebut saja Ubay, remaja SMP yang fasih meniup saxophone, yang bisa disebut bintang dalam setiap gelaran music ini. Atau Jovita, siswi klas 5 SD, yang malam itu mencuri perhatian penonton lewat kua-vokalnya yang ‘mendekati jadi’.&lt;br /&gt;“Yang menggembirakan adalah munculnya banyak bakat muda di Magelang, “ tulis Tanto Mendut lewat sms ketika dimintai pendapat. Tanto sendiri, sebagai budayawan yang berpengaruh di Magelang, belum sempat hadir pada gelaran ini. “Tapi saya selalu mengintip dari jauh lho…” tambahnya.&lt;br /&gt;Memang para jazzers muda itu belum semuanya tampil memadai. Banyak kelemahan mendasar untuk bisa memainkan jenis music jazz, yang menuntut penguasaan teknik serta improvisasi tinggi. &lt;br /&gt;“Selain tekniknya masih lemah, mereka juga sering kebablasan dalam berimprovisasi, “ kata BJ, seorang instruktur drum di sekolah music The Rock pimpinan Achmad Dani, yang malam itu hadir untuk memberikan klinik atau pelatihan music secara spontan. Selain BJ juga ada Yoyok, pemusik jazz dari Bali, yang khusus memberi arahan teknik memainkan bass pada music jazz. &lt;br /&gt;“Klinik music atau bincang-bincang sederhana (talk-show) akan menjadi menu tetap dalam setiap gelaran selanjutnya, “ kata Rudy, yang menjadi host setiap pertunjukan ini digelar. Seperti malam itu, yang tampil sebagai pembicara dalam talkshow adalah Gerry M Adi dan Mualim Sukethi.&lt;br /&gt;Makin komplitlah gelaran jazz ini. Ada pertunjukan yang menghibur, sajian makanan murah meriah, klinik dan talkshow yang bergizi rohani, serta silaturahmi sesama penikmat jazz dan kalangan senibudaya lainnya. Apalagi ? Jadi bukan hanya gethuk yang eksis sebagai ikon Magelang. Suatu ketika akan lahir jazz rasa gethuk dari kota tercinta ini. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-851120794611830786?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/851120794611830786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/jazz-rasa-gethuk-di-magelang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/851120794611830786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/851120794611830786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/jazz-rasa-gethuk-di-magelang.html' title='JAZZ RASA GETHUK DI MAGELANG.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TLOU1GKomuI/AAAAAAAAA-8/C1JCG2S2FrI/s72-c/Ubay+solosax.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8661330941425104868</id><published>2010-10-09T09:21:00.005+07:00</published><updated>2010-10-09T09:28:25.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>MEREKA MENGGALI KEARIFAN MERAPI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TK_TNMnfsCI/AAAAAAAAA-0/4tnqYbyxWks/s1600/Merapi+01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TK_TNMnfsCI/AAAAAAAAA-0/4tnqYbyxWks/s400/Merapi+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525867491485528098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 9 Oktober 2010.&lt;/span&gt; Puluhan pimpinan Sekolah Tinggi Teologi dari beberapa daerah di Indonesia dan Belanda berkunjung ke kawasan Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk menggali kearifan lokal masyarakat dalam menyikapi berbagai perbedaan kelompok sosial setempat.&lt;br /&gt;"Kehidupan masyarakat di sini sebagai contoh yang baik, kebudayaan lokal menyatu dengan gereja, terjadi pertemuan persaudaraan antarumat berbagai agama," kata Direktur Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Pendeta Robert Setio, di Magelang, Kamis petang.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Robert mendampingi 45 peserta "Konsultasi Pendidikan Teologi Para Pimpinan Sekolah Tinggi Teologi se-Indonesia dan Belanda" berdialog dengan sekelompok masyarakat kawasan Merapi di gedung yang mereka sebut sebagai "Gubug Selo Merapi (GSPi), di Dusun Grogol, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, sekitar tujuh kilometer barat puncak Gunung Merapi.&lt;br /&gt;Ia mengakui, konflik antarkelompok masyarakat di Indonesia hingga saat ini masih sering muncul sebagai dampak suasana kehidupan masa lalu yang tertutup bagi peluang untuk berbicara masalah perbedaan.&lt;br /&gt;"Masa lalu tidak boleh membicarakan perbedaan sehingga yang terjadi apa yang tampak di muka terlihat baik-baik saja, tetapi di belakang terjadi konflik," katanya.&lt;br /&gt;Pada era saat ini, katanya, justru kesadaran atas perbedaan kelompok sosial itu harus dibicarakan supaya saling memahami sehingga bisa mencairkan ketegangan.&lt;br /&gt;Ia mengemukakan tentang perlunya tinjauan ulang terhadap kajian teologi. "Misi yang dibawa para pemimpin agama harus disesuaikan dengan kondisi sekarang," katanya.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu ia menjelaskan tentang kehadiran peserta di GSPi yang sebagai salah satu agenda pertemuan mereka membicarakan berbagai isu aktual yang akan diserap untuk penyusunan kurikulum pendidikan teologi. Pertemuan mereka dipusatkan di Yogyakarta 6-8 Oktober 2010.&lt;br /&gt;Sejumlah isu yang mereka bicarakan, katanya, antara lain dialog Islam-Kristen, kebudayaan lokal, dan krisis lingkungan.&lt;br /&gt;Pengelola GSPi, Romo V. Kirjito Pr, mengatakan, kerukunan antarmasyarakat di kawasan Merapi terbangun secara mantap antara lain karena para pemuka agama setempat tak sekadar mengurus umat masing-masing.&lt;br /&gt;Tetapi, katanya, mereka bergaul dengan umat yang lain dalam suasana persaudaraan. Pemuka agama setempat turut dalam keprihatinan yang dialami masyarakat dan berkiprah kesenian serta kebudayaan.&lt;br /&gt;"Masyarakat memiliki semangat persaudaraan, bergaul, dan saling menghargai sebagai bagian kemanusiaan. Teologi harus menjadi ungkapan tanggung jawab iman yang berbasis kemanusiaan," katanya.&lt;br /&gt;Pimpinan padepokan kesenian petani Merapi "Tjipto Boedojo Tutup Ngisor" Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Sitras Anjilin, mengatakan, komunitasnya tidak hanya beranggota orang Islam tetapi juga umat beragama lainnya.&lt;br /&gt;Padepokan yang didirikan pada 1937 oleh almarhum Romo Yososudarmo itu, katanya, menjadi tempat pertemuan antaranggota masyarakat dalam semangat menjunjung nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;"Tempat kami tempat bertemu nilai-nilai kemanusiaan. Orang berolahseni bisa dekat dengan Tuhan dan alam, lebih konsentrasi mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi menabuh gamelan di tempat kami seminggu sekali sebagai ritual sajian kepada leluhur dan Tuhan," katanya.&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu mereka mendapat suguhan tarian kesenian tradisional setempat "Topeng Ireng" dan menyantap sajian nasi yang oleh komunitas setempat disebut sebagai "Nasi Doa" &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Hari Atmoko/ANTARA/bolinks@2010).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8661330941425104868?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8661330941425104868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/mereka-menggali-kearifan-merapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8661330941425104868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8661330941425104868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/10/mereka-menggali-kearifan-merapi.html' title='MEREKA MENGGALI KEARIFAN MERAPI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TK_TNMnfsCI/AAAAAAAAA-0/4tnqYbyxWks/s72-c/Merapi+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-6026568046536145486</id><published>2010-09-27T11:29:00.001+07:00</published><updated>2010-09-27T11:31:01.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>220 BHIKKU UPACARA DI BOROBUDUR.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TKAd_CI36VI/AAAAAAAAA-U/lWaKvze4mEI/s1600/Biksu+di+Budur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TKAd_CI36VI/AAAAAAAAA-U/lWaKvze4mEI/s400/Biksu+di+Budur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521446111899281746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 28 September 2010.&lt;/span&gt; Sebanyak 220 bhikku yang tergabung dalam World Buddhist Shangha Council (WBSC) melakukan upacara pradaksina di Candi Borobudur. Para bhikku dari 44 negara ini, di antaranya dari Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia. Mereka merupakan peserta konferensi bhikku sangha tingkat tinggi di Vihara Mahavira Graha, Semarang.&lt;br /&gt;Upacara pradaksina ini digelar mulai dari lantai tiga candi peninggalan Dinasty Syalilendra tersebut. Mereka berkeliling candi sambil membacakan sejumlah parrita atau doa.&lt;br /&gt;’’Ini merupakan candi warisan umat Buddha. Jadi ketika para bhikku se-dunia datang ke Indonesia mereka saya bawa ke Borobudur untuk berdoa,’’ kata Suhu Prajnavira Mahasthavira, Kepala Vihara Mahavira Graha, Semarang.&lt;br /&gt;Dijelaskan Prajnavira, konferensi ini untuk membahas sejumlah agenda penting di antaranya antisipasi global warning dan krisis energi dan perselisihan antarumat beragama di dunia. ’’Kami menyesalkan adanya krisis kerukunan umat beragama. Tidak hanya di Amerika, perselisihan antara jemaat HKBP dan warga di Bekasi juga sangat meresahkan. Ini harus dicarikan jalan keluar,’’kata dia.&lt;br /&gt;Menurut Suhu Prajnavira, konferensi ini juga menyinggung tentang bagaimana melakukan pembinaan terhadap generasi muda agar tidak terjebak pada paham yang sempit dan menganggap dirinya paling benar. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(SuaraMerdeka.Com/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-6026568046536145486?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/6026568046536145486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/220-bhikku-upacara-di-borobudur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6026568046536145486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/6026568046536145486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/220-bhikku-upacara-di-borobudur.html' title='220 BHIKKU UPACARA DI BOROBUDUR.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TKAd_CI36VI/AAAAAAAAA-U/lWaKvze4mEI/s72-c/Biksu+di+Budur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7254885410093519901</id><published>2010-09-26T20:16:00.001+07:00</published><updated>2010-09-26T20:17:57.272+07:00</updated><title type='text'>Di Bawah Pohon Bodhi, Wisatawan Mencari Energi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9H_xTk8II/AAAAAAAAA-M/5twqTZ4WY_8/s1600/IMG_0323.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9H_xTk8II/AAAAAAAAA-M/5twqTZ4WY_8/s320/IMG_0323.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521210829072298114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BOROBUDUR - Pohon Bodhi yang berada di halaman belakang Hotel Manohara, Borobudur, terlihat dikelilingi sekelompok orang, Sabtu siang (18/9). Kebanyakan diantara mereka sepertinya bukan warga Indonesia. Orang-orang itu melakukan beberapa jenis gerakan yang hampir mirip dengan tarian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka wisatawan mancanegara yang sedang menggelar ritual untuk mencari energi Jawa," tutur Kanwa Adhi Kusuma, seorang Indonesia yang ikut dalam kelompok itu. Kanwa adalah seniman pematung Indonesia, lulusan Institut Teknologi Bandung, yang selama ini bermukim di Belgia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyebutkan, ada sebanyak 28 wisatawan mancanegara dalam kelompk itu. Mereka datang dari Belgia, Belanda, Perancis, dan Spanyol.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka mengenal Jawa sebagai suatu bentuk kepasrahan, penyerahan diri total dan penjernihan jiwa. Jawa yang mereka kenal lebih bersifat filosofis, bukan sebuah identitas kesukuan," tutur Kanwa, yang berperan sebagai juru bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wisatawan tersebut kebanyakan berprofesi sebagai seniman. Mereka justru mengenal budaya Jawa dari para pekerja seni Indonesia yang bermukim di Belgia, termasuk Kanwa. Di Belgia, namanya tidak asing lagi di kalangan seniman setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya komunitas dengan anggota ribuan orang dari berbagai negara," terangnya. Dalam setiap kegiatan ritualnya, yang selalu mereka cari adalah energi Jawa. Menurut Kanwa, energi ini bukan hanya ada di Pulau Jawa, melainkan di mana saja, selama ada ketenangan dan kekuatan yang tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ritual di bawah pohon Bodhi ini, mereka menggelar prosesi selama sekitar 2 (dua) jam, dengan iringan petikan siter dan kecapi. Mereka seperti menari, namun dengan mata terpejam sambil mengelilingi pohon besar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menamai kegiatan ini sebagai "Kosmologi Hidup". Ini merupakan sebuah upaya untuk membangun kesegaran spiritual, dengan cara "berdialog" dengan alam, menggunakan kata hati untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permain kecapi dan siter mengenakan pakaian berikut ikat kepala warna putih. Mereka duduk bersila, memainkan musik dengan irama khas Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, sebagian peserta lainnya menaburkan bunga mawar pada tumpukan kelapa muda yang disusun di bawah pohon Bodhi. Setelah itu, mereka melakukan gerakan secara bebas namun tetap selaras dengan alunan irama kecapi dan siter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gerakan mereka sebenarnya mengikuti kehendak hati masing-masing," imbuh Kanwa. Kelapa muda digunakan sebagai simbol "pintu gerbang" masuknya energi Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanwa sendiri mengaku sudah sekitar 10 tahun mengembangkan laku tersebut. Selama ini, para peserta tidak dibatasi identitas negara. Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan di Belgia itu, kini sudah merambah di banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menggelar acara di kompleks Candi Borobudur, ia lebih dulu mengadakan acara serupa di Candi Sukuh. Acara yang sama akan berlanjut Candi Angkor Watt di Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah mengikuti acara ini, mereka biasanya mengaku merasa sehat dan bugar. Mereka memeroleh kesegaran spiritual, sebagai landasan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Kegiatan seperti ini sangat disukai warga Eropa,” tutur Kanwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7254885410093519901?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7254885410093519901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/di-bawah-pohon-bodhi-wisatawan-mencari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7254885410093519901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7254885410093519901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/di-bawah-pohon-bodhi-wisatawan-mencari.html' title='Di Bawah Pohon Bodhi, Wisatawan Mencari Energi'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9H_xTk8II/AAAAAAAAA-M/5twqTZ4WY_8/s72-c/IMG_0323.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7685690451987010258</id><published>2010-09-26T20:12:00.001+07:00</published><updated>2010-09-26T20:15:01.351+07:00</updated><title type='text'>Candi Perlu Istirahat dari Pengunjung.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9HRGwdtfI/AAAAAAAAA-E/48y2Cf_DiF0/s1600/IMG_0256.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9HRGwdtfI/AAAAAAAAA-E/48y2Cf_DiF0/s320/IMG_0256.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521210027376752114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BOROBUDUR – Untuk melakukan pendataan dan pengecekan kondisi candi Borobudur, maka aktivitas kunjungan wisatawan di Candi peningalan Wangsa Syailendra tersebut perlu dihentikan sejenak,” Selama ini, pengecekan tidak pernah bisa dilakukan secara total karena candi tidak pernah sepi pengunjung, untuk itu kiranya untuk sementara melakukan mengistirahatkan candi dari aktivitas manusia,”ujar Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Yunus Satrio Atmodjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan selama ini tumpukan batu peninggalan abad kedelapan ini tidak pernah berhenti dinaiki oleh wisatawan. Setiap hari ada ratusan wisatawan dan menaiki candi tersebut "Perilaku mereka juga macam-macam, ada yang memanjat, buang sampah sembarangan dan masih banyak lagi,” jelasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski istirahat, lanjut Yunus, bukan berarti menutup lokasi wisata Candi Borobudur, namun hanya melarang sementara waktu wisatawan untuk naik ke Candi. Wisatawan tetap bisa menikmati keagungan candi tetapi namun dari bawah. Untuk tujuan ini harus diinformasikan sejak beberapa bulan sebelumnya. Jika pada saat pengunjung dilarang naik, semua ahli yang terkait konservasi seperti ahli geologi, arkeologi dan lingkungan.&lt;br /&gt;candi harus bekerja serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut disambut baik oleh Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo. Dia mengungkapkan istirahat Candi Borobudur ini bagus untuk pelestarian benda purbakala ini, namun dilain pihak juga harus dipertimbangkan banyaknya pengunjung wisata yang datang setiap hari. Informasi mengenai hari istirahatpun harus benar-benar disosialisasikan dengan baik."Jangan sampai sudah terlanjur banyak yang datang apalagi dari jauh dan turis mancanegara yang tidak tahu, sampai disini kebetulan pas diberlakukan istirahat. Nanti mereka akan kecewa," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membenarkan saat ini memang pemeriksaan kondisi candi belum bisa dilakukan secara maksimal karena kondisi candi yang selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, menurutnya pemeriksaancandi tidak mungkin dilakukan pada malam hari. Jika candi ini bisa dibebaskan dari wisatawan, tentu pemeriksaan kondisi bisa dilakukan maksimal. "Kami masih membahasnya, dan sampai saat ini belum ada keputusan," terangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7685690451987010258?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7685690451987010258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/candi-perlu-istirahat-dari-pengunjung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7685690451987010258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7685690451987010258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/candi-perlu-istirahat-dari-pengunjung.html' title='Candi Perlu Istirahat dari Pengunjung.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9HRGwdtfI/AAAAAAAAA-E/48y2Cf_DiF0/s72-c/IMG_0256.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2077166144082905077</id><published>2010-09-26T20:08:00.001+07:00</published><updated>2010-09-26T20:11:58.150+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>Pengunjung Museum Haji Widayat Sepi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9GigDS5tI/AAAAAAAAA98/y8qENfY5FYE/s1600/HAJI+WIDAYAT+(1).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9GigDS5tI/AAAAAAAAA98/y8qENfY5FYE/s320/HAJI+WIDAYAT+(1).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521209226712770258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MUNGKID - Ditetapkannya tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, seperti tak ada gaungnya. Museum-museum dengan koleksi benda berharga dan bersejarah, sekalipun sudah punya nama besar, tetap saja terlihat sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Haji Widayat, contohnya. Hingga mendekati penghujung Bulan September, jumlah pengunjungnya hanya 6 orang. Sebagaimana tercatat pada buku tamu museum tersebut, dalam sepekan jumlah pengunjung seringkali tidak pernah lebih dari 2 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tentunya belum sesuai harapan pengelola museum yang baru. Meski begitu, pihak pengelola masih terus melakukan pembenahan agar keberadaan museum menjadi lebih menarik sehingga bisa merasang mesyarakat untuk mengunjungi museum yang terletak di pertigaan Borobudur-Kota Mungkid tersebut. "Kami berharap keberadaan museum itu dapat memberikan sumbangsih terhadap kemajuan seni budaya Indonesia, khususnya Kabupaten Magelang," ujar Ary Purnomo Sidi,salah seorang putra almarhum Haji Widayat yang juga mengelola museum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepengelolaan yang baru ini, museum Haji Widayat memiliki lima orang Kurator, mereka adalah Oeng Hoe Djien, Ayip Rosyidi, Suwarno, Hermanu dan Rektor Istitut Seni Indonesia (ISI),"Siapapun yang menjadi Rektor ISI akan menjadi kurator di museum kami," jelas Ipunk, panggilan pria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Haji Widayat adalah salah satu museum yang didirikan dengan jerih payah Haji Widayat. Dia adalah seorang maestro pelukis, dengan perjuangan dan keringatnyalah museum tersebut bisa berdiri seperti sekarang. Dengan adanya sebuah pergantian pengelolaan diharapkan museum ini akan semakin berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suprayitno, salah seorang pekerja di Museum Haji Widayat menuturkan jumlah pengunjung memang tak pernah banyak, sekalipun pada hari-hari libur. Kecuali, jika ada rombongan pelajar yang datang pada setiap tahun ajaran baru."Mereka dapat tugas dari sekolah, berkunjung ke sini, didampingi guru mereka," terang Suprayitno, Minggu (26/9). Tiap kali ada kunjungan, baik wisatawan lokal maupun turis asing, Suprayitno yang bertugas mendampingi mereka. Jika ia sedang ada pekerjaan lain, tugasnya akan digantikan Nurrodin, juga pekerja di Museum Haji Widayat. "Dulu ada teman kami yang lebih tahu soal benda seni, yaitu Pak Abrori. Tapi sekarang beliau masih istirahat," ucap Suprayitno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa disalahkan mengapa museum yang berdiri di atas tanah seluas 7 ribu meter persegi itu sering sepi pengunjung. Padahal dari segi lokasi, kondisi bangunan dan beragam fasilitas penunjang serta lingkungannya, semua serba ideal, bersih dan nyaman. Pengelola pun telah melakukan banyak terobosan agar museum tersebut bisa lebih memikat wisatawan.&lt;br /&gt;"Misalnya, menganti lukisan yang sudah lama dipajang di museum dengan lukisan lain yang masih tersimpan dalam kurun waktu tertentu," ungkap Suprayitno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari manapun, Museum Haji Widayat selalu terlihat bersih dan rapi. Mulai dari halaman depan, ruangan-ruangan museum, halaman belakang, hingga galeri dan artshopnya. Puluhan koleksi tanaman hias, bunga dan buah-buahan ada di sana, berdampingan dengan kolam-kolam ikan dan patung-patung koleksi alm. Haji Widayat."Mungkin kultur masyarakat kita saja yang belum terbiasa berwisata ke museum," ucap Suprayitno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2077166144082905077?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2077166144082905077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/pengunjung-museum-haji-widayat-sepi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2077166144082905077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2077166144082905077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/pengunjung-museum-haji-widayat-sepi.html' title='Pengunjung Museum Haji Widayat Sepi'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ9GigDS5tI/AAAAAAAAA98/y8qENfY5FYE/s72-c/HAJI+WIDAYAT+(1).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1720743223468975699</id><published>2010-09-26T00:17:00.002+07:00</published><updated>2010-09-26T00:23:28.961+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>BOROBUDUR MANDALA KEHIDUPAN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4vY080YdI/AAAAAAAAA9s/6EVMFmF3soo/s1600/Stupa+Borobudur+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4vY080YdI/AAAAAAAAA9s/6EVMFmF3soo/s320/Stupa+Borobudur+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520902296779907538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh M Burhanudin dan Regina Rukmorini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 September 2010.&lt;/span&gt; Pada suatu hari terjadi kebakaran hebat di hutan. Si burung pipit yang tinggal di hutan itu lalu berinisiatif memadamkan api meski sadar kemampuannya terbatas. Hari itulah sepuluh abad lampau ”altruisme”—kosakata yang menyeruak kembali dua tahun terakhir di sini—dipahat di batu. &lt;br /&gt;Burung itu terbang ke telaga, membasahi tubuhnya, lalu terbang kembali menuju lokasi kebakaran, dan mengibaskan tubuhnya agar air bisa sedikit membantu memadamkan api. Upaya tersebut dilakukan bolak-balik, sampai akhirnya burung itu mati lemas dan diangkat menjadi Buddha.&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kisah Jantaka dalam salah satu panel relief Candi Borobudur. Jantaka merupakan cerita tentang perjalanan titisan Bodhisattva yang menjadi berbagai macam hewan.&lt;br /&gt;Kisah si burung pipit merefleksikan betapa berharganya sikap altruistik, rela berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, dan solidaritas. Melepaskan ego pribadi demi kepentingan bersama dengan pengorbanan.&lt;br /&gt;Sebuah sikap hidup yang dalam kehidupan nyata saat ini terasa mahal. Keikhlasan sering kali hanya indah terucap, tetapi kosong dalam kenyataan.&lt;br /&gt;Ya, Candi Borobudur memang kaya akan pesan kebajikan. Semuanya terpampang pada bagian dinding dan langkan bangunan candi yang panjangnya jika direntangkan akan mencapai 3.000 meter. Pada permukaan dinding-dinding batu yang membujur di bangunan candi terbesar kedua di dunia ini dipahat sebanyak 2.670 panel relief tebal. Sebanyak 1.212 panel berupa relief dekoratif dan 1.460 yang lain adalah panel relief naratif (relief berupa cerita).&lt;br /&gt;Dibangun oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 824, Candi Borobudur memang diarahkan sebagai monumen atas intisari kehidupan. Intisari itu tertutur dari dasar hingga puncak bangunan. Maknanya tersurat dan tersirat dari bentuk fisik candi, relief, serta kosmologi tempatnya.&lt;br /&gt;Candi Borobudur terbuat dari dua juta potongan batu berukuran rata-rata 25 x 10 x 15 cm dengan tinggi 35,29 meter. Bangunannya bertingkat. Setiap tingkatnya melambangkan tahapan kehidupan manusia. Tahapan yang mengandung nilai universal tentang petunjuk hidup bagi manusia menuju kebajikan. Setiap tahapan itu diuraikan lewat ribuan panel relief candi.&lt;br /&gt;Bagian kaki candi bernama Kamadhatu, lambang dunia yang masih dikuasai oleh ”kama” atau nafsu. Bagian yang tertutup struktur tambahan, berisi 160 panil cerita Karmawibhangga, cerita tentang segala perbuatan manusia soal ganjarannya.&lt;br /&gt;Empat tingkat di atas kaki candi bernama Rupadhatu—artinya manusia yang telah dapat melepaskan diri dari hawa nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.&lt;br /&gt;Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief dan lantainya berbentuk lingkaran. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu—yang tak berwujud—melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk sehingga siap mencapai nirwana.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4vzunZDYI/AAAAAAAAA90/FsAI0wXLQIc/s1600/Sendratari+Borobudur+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4vzunZDYI/AAAAAAAAA90/FsAI0wXLQIc/s320/Sendratari+Borobudur+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520902758935891330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mandala.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Borobudur tak sekadar syarat makna kebajikan. Ia juga merupakan mandala atas bentuk tiga dimensinya sendiri, dan juga bangunan percandian di sekelilingnya (Muhammad Taufik dalam jurnal Balai Konservasi Purbakala Borobudur, 2008). Borobudur adalah totalitas, suatu tanda kesempurnaan dan kemuliaan. Pusat dunia yang berupa arca dan bangunan yang batas-batasnya telah ditentukan atau semacam ”pagar suci”.&lt;br /&gt;Menurut Dr Sukmono dalam buku Chandi Borobudur (1976), sinergi dalam pengembangan peribadatan Borobudur dan percandian semasanya adalah bukti situasi damai masa itu. Posisi mandala ini segaris lurus dengan dua mandala Buddha lain di dekatnya, yaitu Candi Pawon, Mendut, dan Gunung Merapi.&lt;br /&gt;Menurut Taufik, mengacu pada pengertian bahwa bentuk mandala berupa garis lurus geometris, Candi Mendut, Pawon, dan Borobudur yang dibangun pada satu garis lurus. Ketiga bangunan tersebut dianggap sebagai superstruktur. Candi-candi Hindu yang ada di sekitarnya dapat dianggap sebagai substrukturnya, seperti Candi Ngawen dan Kali Tengah.&lt;br /&gt;Hampir satu milenium Borobudur ”tidur” dalam timbunan tanah dan debu vulkanik letusan Merapi. Sejak ditemukan dan dipugar oleh Pemerintah Kolonial Belanda antara abad XIX dan awal abad XX serta kemudian dilanjutkan dengan renovasi pada masa kemerdekaan, Borobudur terlihat kembali segar. Borobudur menjelma sebagai salah satu bangunan yang diakui sebagai warisan keajaiban dunia.&lt;br /&gt;Kini, Borobudur lebih dikenal sebagai obyek wisata. Namun, kurang dibarengi dengan sosialisasi sebagai monumen warisan peradaban dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Kantor Pusat Studi Borobudur yang dulu diharapkan menjadi arena transformasi nilai luhur ke generasi masa kini telah lama berubah sebagai Hotel Manohara.&lt;br /&gt;Namun, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Menempatkan Borobudur kembali sebagai mandala kehidupan sangat relevan pada masa gegar nilai seperti sekarang ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(KOMPAS.Com/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1720743223468975699?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1720743223468975699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/borobudur-mandala-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1720743223468975699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1720743223468975699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/borobudur-mandala-kehidupan.html' title='BOROBUDUR MANDALA KEHIDUPAN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4vY080YdI/AAAAAAAAA9s/6EVMFmF3soo/s72-c/Stupa+Borobudur+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7435218427332630138</id><published>2010-09-26T00:04:00.003+07:00</published><updated>2010-09-26T00:11:59.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>MENCARI KESEMPURNAAN HIDUP DI BOROBUDUR.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4sPrW8FII/AAAAAAAAA9k/0mcYqL_zmSo/s1600/Foto+Borobudur+01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 251px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4sPrW8FII/AAAAAAAAA9k/0mcYqL_zmSo/s400/Foto+Borobudur+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520898841051403394" /&gt;&lt;/a&gt;Foto Raditya Mahendra Yasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 25 September 2010.&lt;/span&gt; Bettina Casimir-Clark (50), menyeka air mata bahagia yang tak dapat dibendungnya. Baginya, bermeditasi di Candi Borobudur mendatangkan kebahagiaan, mengikuti makna dari tingkatan lantai yang baru saja diinjaknya, Arupadhatu, yang berarti "selangkah lagi menuju surga".&lt;br /&gt;Saat bermeditasi sekitar 10 menit, warga negara Jerman yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat, mengaku dapat merasakan dirinya menyatu dengan alam. Dalam penyatuan itulah ia dapat merasakan energi positif dari candi.&lt;br /&gt;"Benda-benda yang ada di alam tidak pernah mengeluarkan energi negatif. Di Candi Borobudur, saya merasakan energi positif berupa energi cinta yang menggelora begitu kuatnya," ujar wanita yang sehari-hari bekerja sebagai psycho therapist ini.&lt;br /&gt;Candi Borobudur terdiri atas empat tingkatan, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu, dan Arupa, yang masing-masing menjadi simbol tahapan kehidupan manusia. Arupadhatu, sebagai salah satunya, adalah simbol kondisi manusia yang sudah terbebas dari segala nafsu, bentuk, dan rupa.&lt;br /&gt;Sesuai dengan simbol itu, Bettina pun mengaku tidak lagi merasakan emosi, rasa perasaan yang berlebihan. Seluruh jiwa dan pikirannya hanya terfokus pada relasi antara dirinya dan candi.&lt;br /&gt;Kekuatan energi serupa juga pernah dirasakan 28 warga asing di bawah pimpinan seniman perupa Toni Kanwa. Dengan adanya kekuatan besar dari candi, mereka pun meyakini, energi itu juga tersebar di seluruh benda lain di lingkungan candi, seperti pohon bodhi, kelapa hijau, dan rerumputan. Keseluruhan lingkungan candi dianggap sakral dan berkekuatan agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikatan spiritual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyoto, pemilik Penginapan Lotus I di Jalan Medangkamulan, Kecamatan Borobudur, mengatakan, ikatan spiritual Candi Borobudur dengan wisatawan asing, terutama mereka yang berasal dari Eropa dan Amerika, sudah ada sejak lama. Laku spiritual biasanya dijalankan dengan rutin bermeditasi dan melakukan pradaksina, berjalan mengelilingi Candi Borobudur.&lt;br /&gt;Meditasi dilakukan dengan berbagai cara. Ketika ingin bermeditasi saat malam hari dan tak bisa memasuki candi, meditasi cukup dilakukan di atas atap Penginapan Lotus. "Mereka biasanya berkonsentrasi dengan memandang Candi Borobudur dari kejauhan," ujarnya.&lt;br /&gt;Meditasi ini kerap dilakukan para pengunjung yang berusia di atas 40 tahun. Selain Buddha, ritual ini juga dilakukan mereka yang memiliki beragam agama lain. Meditasi ini dilakukan sebagai ritual untuk menenangkan jiwa dan bukan menjadi salah satu kegiatan keagamaan.&lt;br /&gt;Tamu-tamu Penginapan Lotus yang sudah pernah melakukan ritual ini, mengungkapkan bahwa meditasi di Candi Borobudur mendatangkan kekuatan yang luar biasa. "Energi yang didapat, menurut mereka, akan terus terasa setiap hari yang kemudian berdampak membawa ketenangan jiwa dan pencerahan pikiran dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.&lt;br /&gt;Ikatan batin yang demikian kuat antara candi dan manusia, menurut Priyoto, pernah dilihatnya dari pengalaman seorang warga negara Kanada yang menjadi tamu penginapannya. Sang tamu bercerita bahwa dia mendapatkan wasiat dari ibunya sebelum meninggal, bahwa abu kremasi si ibu harus dibuang ke candi. Hal ini terjadi karena ibu tamu tersebut memang sudah beberapa kali datang dan berdoa di Candi Borobudur.&lt;br /&gt;Mengacu pada pengalaman tersebut, Priyoto meyakini Candi Borobudur bukanlah bangunan mati. Candi ini adalah monumen hidup, yang terus-menerus memberikan pengaruh dan energi spiritual yang tak ada habisnya bagi siapa saja yang peka untuk menangkapnya.&lt;br /&gt;Setidaknya bagi kita yang tidak memiliki keahlian spiritual, Candi Borobudur tetap berupaya memberikan energi kebaikan dengan memberikan arahan dan petunjuk kehidupan dalam relief-relief cerita di dinding candi. Jika itu dipelajari secara mendalam, arahan itu akan memberikan energi positif yang tak kalah membara. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Regina Rukmorini/M Burhanudin/KOMPAS.Com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-7435218427332630138?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/7435218427332630138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/mencari-kesempurnaan-hidup-di-borobudur.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7435218427332630138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/7435218427332630138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/mencari-kesempurnaan-hidup-di-borobudur.html' title='MENCARI KESEMPURNAAN HIDUP DI BOROBUDUR.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4sPrW8FII/AAAAAAAAA9k/0mcYqL_zmSo/s72-c/Foto+Borobudur+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2858311546469238561</id><published>2010-09-25T23:51:00.003+07:00</published><updated>2010-09-25T23:58:21.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>TINDAK LANJUT KSN BOROBUDUR.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4phcme_xI/AAAAAAAAA9U/ZbNmYoPZ8qM/s1600/Sunrise+Menoreh..jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4phcme_xI/AAAAAAAAA9U/ZbNmYoPZ8qM/s320/Sunrise+Menoreh..jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520895847792836370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 25 September 2010.&lt;/span&gt; Program kawasan strategis nasional (KSN) yang melingkupi wilayah Candi Borobudur dan Candi Mendut, Magelang, akan ditindaklanjuti dengan program kawasan strategis kabupaten (KSK). Upaya ini dilakukan agar pembangunan kawasan dapat dilaksanakan secara lebih menyeluruh dan terintegrasi.&lt;br /&gt;Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo mengatakan, KSK diharapkan nantinya segera disusun oleh Pemerintah Kabupaten Magelang, setelah pedoman pelaksanaan dan peraturan presiden (perpres) tentang KSN selesai dibuat.&lt;br /&gt;"Pedoman dari KSN nantinya juga akan menjadi pedoman untuk merancang pedoman pelaksanaan KSK," ujar Junus saat ditemui di sela-sela kunjungannya ke Balai Konservasi Peninggalan Borobudur beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Luas wilayah yang ditetapkan menjadi KSN mencapai 1.176 hektar. KSK nantinya akan meliputi wilayah yang lebih luas dan berada di luar KSN.&lt;br /&gt;Perpres tentang KSN sendiri diperkirakan akan terbit selambat-lambatnya pada Desember 2010. Tahun 2011, diharapkan pedoman pelaksanaan KSN sudah selesai dibuat dan siap direalisasikan di lapangan.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaannya nanti, KSN akan melibatkan banyak kementerian karena selain untuk melestarikan candi, program ini bertujuan untuk menggali potensi lingkungan sekitar candi, serta meningkatkan kesejahteraan warga di Kecamatan Borobudur.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4p231OzmI/AAAAAAAAA9c/SH2FduVHk0Y/s1600/Home+Stay+Desa+Wisata..jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4p231OzmI/AAAAAAAAA9c/SH2FduVHk0Y/s320/Home+Stay+Desa+Wisata..jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520896215879700066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Libatkan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Junus mengakui, beberapa waktu sebelumnya, banyak rencana dibuat untuk Candi Borobudur namun akhirnya gagal direalisasikan karena ditolak warga sekitar. Rencana atau program-program tersebut antara lain Pasar Seni Jagad Jawa (PSJJ) dan shopping street pada tahun 2002 dan 2003. Kendatipun demikian, dirinya cukup optimistis akan KSN dan KSK akan berhasil dilaksanakan karena sosialisasi kepada masyarakat sudah berlangsung sejak lama.&lt;br /&gt;KSN di Candi Borobudur dan Mendut ini menjadi proyek percontohan KSN di Indonesia. Setelah ini berhasil, KSN juga akan dikembangkan di Candi Prambanan dan Sangiran.&lt;br /&gt;Camat Borobudur Ari Widi Nugroho mengatakan, apa pun bentuk proyek atau program yang ditawarkan, pemerintah diharapkan mau melibatkan warga. Dengan cara ini, masyarakat pun akan senang karena mendapatkan kontribusi dari pengembangan wisata Candi Borobudur. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan pemerintah dengan menggairahkan wisata di desa-desa dan mendorong wisatawan untuk berkunjung ke desa-desa sekitar candi. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Kompas.Com/EGI/HAN)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2858311546469238561?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2858311546469238561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/tindak-lanjut-ksn-borobudur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2858311546469238561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2858311546469238561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/tindak-lanjut-ksn-borobudur.html' title='TINDAK LANJUT KSN BOROBUDUR.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ4phcme_xI/AAAAAAAAA9U/ZbNmYoPZ8qM/s72-c/Sunrise+Menoreh..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1926607733230713905</id><published>2010-09-25T17:20:00.005+07:00</published><updated>2010-09-25T17:30:04.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>KEMANDIRIAN DI TENGAH SEPI PERHATIAN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ3OPSTOc1I/AAAAAAAAA9M/Lyo1lXOucAo/s1600/Suasana+desa+Borobudur+01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ3OPSTOc1I/AAAAAAAAA9M/Lyo1lXOucAo/s400/Suasana+desa+Borobudur+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520795480231932754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh M Burhanudin dan Regina Rukmorini.&lt;br /&gt;Foto Raditya Mahendra Yasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 September 2010.&lt;/span&gt; Ibarat aliran sungai, hilir dan ”turunan” dari keberadaan Borobudur adalah potensi daya cipta manusia di sekelilingnya saat ini. Di tengah gempita wisata candi dan di sisi lain minimnya perhatian dari pemerintah, komunitas-komunitas di sekitar Borobudur terus berkarya dan memupuk inisiatif kemandirian. &lt;br /&gt;Jauhari (48), warga Desa Ringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini kian mantap membuat gula kelapa. Harga jualnya setahun terakhir ini membaik. Apabila sebelumnya 1 kilogram gula kelapa di pasar hanya laku Rp 5.000-Rp 6.000, kini kelompok Jauhari bisa menjual Rp 8.500-Rp 10.000.&lt;br /&gt;Hal yang sama dialami 46 perajin gula kelapa di Ringinputih lainnya yang tergabung dalam klaster usaha gula semut, Ngudi Utomo. Tak tanggung-tanggung, kelompok ini bahkan menjadi satu-satunya kelompok usaha gula kelapa yang mampu menembus pasar Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Semuanya bermula dari sekolah lapangan perajin itu bersama 116 warga Borobudur lainnya setahun silam yang diadakan Warung Info Borobudur. Dari sekolah lapangan itu, mereka belajar cara bertani, membuat gula, hingga konservasi lingkungan.&lt;br /&gt;”Kami belajar dari petani di desa lain bersama-sama, atau perajin gula lain. Khusus gula kelapa, kami belajar dari warga Desa Bidaran. Ternyata, setelah mempraktikkan sendiri, gula kelapa kami yang kemudian jadi gula semut kualitasnya dianggap lebih bagus sehingga layak ekspor,” kata Sugeng, Ketua Klaster Gula Semut Ngudi Utomo.&lt;br /&gt;Ide sekolah lapangan itu muncul dari keprihatinan kian terdegradasinya ekonomi masyarakat di sekitar Borobudur beberapa tahun belakangan ini. Lahan pertanian kian sulit diusahakan sebab banyak sumber irigasi mengering, yang diduga akibat eksploitasi penyelenggaraan wisata Candi Borobudur. Sebelum wisata Candi Borobudur berkembang, Kecamatan Borobudur dikenal sebagai daerah pertanian yang subur dan makmur karena banyak saluran irigasi peninggalan Belanda.&lt;br /&gt;Banyak petani yang kemudian memilih mengadu nasib di lokasi wisata Borobudur. Ada yang menjadi pedagang asongan, penyemir sepatu, tukang parkir, dan ada pula yang menjadi pedagang di kios.&lt;br /&gt;Tak heran jika tahun 1990-an jumlah pedagang di lokasi wisata candi yang tergabung dalam paguyuban pedagang itu hanya 1.150 orang kini mencapai 3.700 orang. Dampaknya, lokasi wisata tersebut kian semrawut.&lt;br /&gt;Pedagang dan tukang parkir ataupun penyemir sepatu yang berlatar belakang petani tersebut umumnya belum memahami konsep kepariwisataan. Pembinaan dari pengelola kawasan wisata Candi Borobudur pun nyaris tak ada.&lt;br /&gt;Selain gula kelapa, kawasan Borobudur juga menyimpan potensi pengembangan ekonomi yang tinggi. Di Desa Kebonsari, misalnya, terdapat usaha kerajinan pensil bambu. Ada 10 perajin yang aktif di sana. Selain itu, ada pula perajin alat-alat rumah tangga dari bambu.&lt;br /&gt;Kerajinan bambu di desa tersebut sudah turun-temurun. Sayangnya, belum ada perhatian dari pemerintah untuk pengembangan dan pemasarannya sebagaimana diharapkan masyarakat. Pihak pengelola kawasan wisata Candi Borobudur pun belum melirik usaha itu sebagai mata rantai wisata Borobudur.&lt;br /&gt;”Kalau wisata sudah menyebar ke desa, jumlah asongan yang membuat Borobudur semrawut bisa dikurangi,” demikian pendapat Benny Sobirin, pegiat usaha mikro kecil dan menengah di Desa Kebonsari.&lt;br /&gt;Di Desa Wanurejo, sejak lama berkembang usaha kerajinan bambu untuk tirai. Ada juga klaster usaha gipsum yang sudah menembus pasar internasional. Sebagian perajin mencoba memasarkan produksi mereka ke lokasi wisata, tetapi banyaknya pesaing produk serupa dari luar daerah membuat upaya mereka terkendala.&lt;br /&gt;”Tapi, itu tak membuat usaha-usaha tersebut surut. Mereka tetap bertahan dengan mencari pasar yang lain,” kata Umidah, Kepala Desa Wanurejo.&lt;br /&gt;Wanurejo juga potensial untuk pengembangan wisata budaya, khususnya Dusun Jowahan. Sejak tahun 2004, pemuda dusun membentuk sanggar karawitan yang dipusatkan di rumah Ny Tatik, berupa rumah tua berbentuk joglo. Rumah tersebut sebagian besar kondisinya masih asli dan merupakan rumah tertua di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sisa peradaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu potensi unik di sekitar Borobudur yang patut dikedepankan adalah kerajinan batu di Desa Prumpung, Kecamatan Muntilan, Magelang. Banyak orang meyakini, inilah sisa peninggalan peradaban megalitik Borobudur abad ke-9.&lt;br /&gt;Di Prumpung kini terdapat 150 perajin batu. Mereka umumnya membuat miniatur candi, patung, dan kijingan makam. Usaha pembuatan miniatur candi dan patung itu bisa dibilang baru berkembang tahun 1961 saat Dulkamid Joyoprono (71), perajin senior di desa itu, memulai pembuatan miniatur Candi Borobudur.&lt;br /&gt;Sebelum kerajinan patung dan miniatur candi berkembang, secara turun-temurun, perajin di desa tersebut membuat alat-alat rumah tangga dari batu, seperti cobek/ulekan, pasah, dan kijing makam. ”Mungkin saja kami ini adalah keturunan orang-orang Borobudur walau tinggalnya tidak di sana,” kata Joyoprono.&lt;br /&gt;Meski sejak lama telah menjadi ikon, tak pernah ada kebijakan yang menjadikan Prumpung sebagai bagian dari paket kunjungan wisata Borobudur. Padahal, keberadaan Prumpung sudah mendunia. Hasil karya mereka pun sudah diekspor ke Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;Minimnya pengembangan tujuan wisata di Borobudur juga menimbulkan persoalan bagi usaha-usaha akomodasi sekitar candi, seperti hotel, rumah makan, dan pedagang. Menurut Anton, staf Humas Hotel Amanjiwo Borobudur, rata-rata lama kunjungan turis ke Borobudur dua jam. Ini karena terbatasnya obyek wisata yang bisa dinikmati wisatawan, selain candi.&lt;br /&gt;Sikap pengelola wisata dan pemerintah yang statis dan miskin kreativitas menimbulkan keprihatinan mendalam sejumlah elemen masyarakat. Dalam pertemuan hari Rabu (22/9) di Hotel Pondok Tingal, Borobudur, yang melibatkan 30 perwakilan berbagai elemen masyarakat, mereka mengeluhkan tak seimbangnya upaya pengembangan wisata Borobudur ketimbang eksploitasinya.&lt;br /&gt;Solusi-solusi dari pemerintah untuk mengatasi hal itu hanya sekadar wacana. Kalaupun ada, kurang memberdayakan masyarakat lokal. Padahal, potensi pengembangan wisata di mana pun kuncinya adalah terberdayanya manusia di sekitarnya.&lt;br /&gt;Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Yunus Satrio Atmodjo mengaku, pemerintah cukup memahami keprihatinan itu. Ke depan, katanya, akan diupayakan terwujudnya kawasan strategis nasional (KSN).&lt;br /&gt;Dalam KSN akan ditata, antara lain, pembatasan tinggi dan arsitektur bangunan baru di sekitar candi, selain akan adanya dukungan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kecamatan Borobudur yang mayoritas petani.&lt;br /&gt;Namun, Camat Borobudur Ari Widi Nugroho mengingatkan pentingnya melibatkan masyarakat setempat dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan proyek tertentu.&lt;br /&gt;”Borobudur tidak hanya candi, tetapi juga segenap potensi masyarakat di sekitarnya. Itu semua sudah ada. Geliat itu ada. Tinggal bagaimana yang terkait bisa mengelolanya,” ujar Widi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Kompas.Com/bolinks@2010).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-1926607733230713905?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/1926607733230713905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/kemandirian-di-tengah-sepi-perhatian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1926607733230713905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/1926607733230713905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/kemandirian-di-tengah-sepi-perhatian.html' title='KEMANDIRIAN DI TENGAH SEPI PERHATIAN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TJ3OPSTOc1I/AAAAAAAAA9M/Lyo1lXOucAo/s72-c/Suasana+desa+Borobudur+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2856624354658243014</id><published>2010-09-10T22:40:00.008+07:00</published><updated>2010-09-10T23:24:57.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>LEBARAN BER-NASI GURIH…NIKMAT RASANYA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpSxBkEnAI/AAAAAAAAA8s/msrpS5jvztc/s1600/Warung+tampak+dpn+02B.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpSxBkEnAI/AAAAAAAAA8s/msrpS5jvztc/s320/Warung+tampak+dpn+02B.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515311695855393794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudurlinks, 11 September 2010. &lt;/span&gt;Ragam kuliner Magelang bertambah variasinya. Selama ini makanan yang mencuat sebagai ikon kuliner Magelang hanya itu-itu saja, yakni Gethuk Trio, Senerek, dan Tahu Kupat. Maka kini hadir warung makan yang menyajikan menu yang diramalkan jadi ikon baru kuliner Magelang.&lt;br /&gt;Warung sederhana itu terletak di Jalan Sarwo Edi Wibowo 112 Panca Arga, Magelang Selatan.  Menu baru yang dimaksud adalah Nasi Gurih. Berbeda dengan nasi uduk yang menggunakan santan, nasi gurih yang satu ini mengandalkan rempah-rempah untuk menciptakan aroma dan rasa gurih yang menggigit.&lt;br /&gt;“Selain rempah-rempah kami juga mencampurkan ikan asin jambal yang sudah dihaluskan, “ kata Antie, pemilik warung.  Sebagai pelengkap tersedia empal, ayam, jeroan, dan tahu/tempe goreng. Tentu tak ketinggalan irisan mentimun dan sambel pete yang menambah nikmatnya nasi unik ini. &lt;br /&gt;“Selain nasinya, sambelnya ini uenak tenan, “ Ujar Tanto Mendut, budayawan sekaligus Presiden Lima Gunung, yang ikut menikmati saat warung dibuka perdana. Sedangkan Rosa, penyair  Magelang berkelas internasional, tadinya mengira kalau nasi itu adalah nasi megono dari Pekalongan.  &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpTngjzuBI/AAAAAAAAA80/9P1RrjinTBE/s1600/Suasana+warung.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpTngjzuBI/AAAAAAAAA80/9P1RrjinTBE/s320/Suasana+warung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515312631888721938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Bukan nasi megono, “ sergah Antie. “Nasi gurih ini kami kembangkan sendiri. Di Jakarta baru kami perkenalkan lewat catering ibu saya, “ tambah ibu dua anak itu. &lt;br /&gt;Sedangkan Pak Catur dari Kantor Disporabudpar, berjanji akan memperkenalkan menu baru itu kepada sejawatnya sesama pejabat Pemkot Magelang. “Ini bisa jadi ikon baru wisata kuliner. Warga Magelang wajib mencobanya, khususnya di saat libur lebaran ini, “  tambah bapak yang dikenal akrab dengan kalangan seniman Magelang ini.&lt;br /&gt;Selain nasi gurih, warung makan berada di depan pintu I Komp. Akmil, ini juga menyediakan menu special yang masih jarang dikenal di Magelang, yakni Sop Sumsum. “Sebenarnya Sop Sumsum hanya salah satu dari beberapa sop yang kami sediakan. Ada sop kaki, iga, lidah, tulang muda, daging kambing, dll, “ kata Antie menjelaskan. “Tapi sengaja kami populerkan Sop Sumsumnya, karena unik dan ada sensasi  ketika menikmatinya “.&lt;br /&gt;Deddy PAW, pelukis nasional yang juga asli Magelang, suatu malam nampak mengunjungi warung makan itu bersama keluarganya.  “Saya memang penggemar masakan sumsum.  Sop sumsum di sini, menurut saya, lebih enak dan segar dibanding yang ada di Magelang lainnya, “ puji Deddy, yang malam itu menghabiskan 1,5 porsi Sop Sumsum. &lt;br /&gt;Sementara, Wahyu Atmaji, wartawan yang tinggal di Jakarta, juga mengamini pendapat Deddy. Bahkan istrinya mengatakan, “Kalau di Jakarta makanan seperti ini pasti diserbu pembeli”.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpUAfNz1rI/AAAAAAAAA88/acqZLjxpJdU/s1600/Tya+PAW+menikmati+nasi+gurih+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpUAfNz1rI/AAAAAAAAA88/acqZLjxpJdU/s200/Tya+PAW+menikmati+nasi+gurih+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515313061024749234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpUlTiJ0eI/AAAAAAAAA9E/lgw3gx3yhZM/s1600/Bunda+melayani+tamu+warung+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpUlTiJ0eI/AAAAAAAAA9E/lgw3gx3yhZM/s200/Bunda+melayani+tamu+warung+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515313693544010210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati beberapa sajian itu, Anda tak perlu merogoh saku terlalu dalam. Cukup Rp 10.000,- untuk paket Nasi Gurih (plus ayam/jeroan goring, tahu/tempe, sambel pete, dan air mineral). Sedangkan untu paket Sop Sumsum (plus nasi putih dan air mineral) dihargai  Rp 13.000,- saja. Ndak mahal kan ? &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Sakya Suu Kyi/bolinks@2010). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-2856624354658243014?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/2856624354658243014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/lebaran-ber-nasi-gurihnikmat-rasanya.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2856624354658243014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/2856624354658243014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/09/lebaran-ber-nasi-gurihnikmat-rasanya.html' title='LEBARAN BER-NASI GURIH…NIKMAT RASANYA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TIpSxBkEnAI/AAAAAAAAA8s/msrpS5jvztc/s72-c/Warung+tampak+dpn+02B.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4306421321450985504</id><published>2010-08-05T07:23:00.002+07:00</published><updated>2010-08-05T07:26:49.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event and News'/><title type='text'>KHATAMAN KESENIAN JELANG RAMADHAN.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFoE73b-ntI/AAAAAAAAA8U/m-X8oU4-miY/s1600/Jaran+Papat+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFoE73b-ntI/AAAAAAAAA8U/m-X8oU4-miY/s320/Jaran+Papat+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501715321326575314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: M Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 5 Agustus 2010.&lt;/span&gt; Masyarakat lereng Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar tradisi Khataman Kesenian sebagai penutup kegiatan mereka berkesenian untuk selanjutnya menyiapkan diri memasuki puasa pada Ramadhan. Tradisi berupa pementasan berbagai kesenian setempat dengan diiringi tabuhan gamelan itu digelar sejak Rabu (4/8) sekitar pukul 15.00 dan direncanakan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB antara lain berupa tarian kuda kepang, soreng putri, dan "kuda kepang papat".&lt;br /&gt;"Setiap Rabu Wage atau Rabu Pahing (kalender Jawa, red.) tradisi ini harus kami selenggarakan, sudah turun temurun, ini warisan cikal bakal dusun kami," kata Ketua Grup "Bekso Turonggo Mudo", komunitas seniman petani Mantran Wetan, Supadi Haryono (40), di Magelang, Rabu sore.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, seniman setempat yang juga salah satu anggota Komunitas Lima Gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) secara intensif menggelar berbagai pementasan kesenian rakyatnya baik di desa setempat maupun di luar wilayah itu. Selama Juli 2010 saja, katanya, sudah enam kali grup itu menggelar pementasan, sedangkan selama setahun terakhir (Sejak Lebaran 2009 hingga menjelang Ramadhan 2010, red.) sekitar 25 kali pementasan.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, pentas kesenian setempat yang bersifat wajib digelar oleh masyarakat di dusun itu adalah tradisi "Khataman Kesenian" dan "Merti Desa" atau bersih desa setiap Sapar (kalender Jawa,red) yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai "Saparan".&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFoFGxe94bI/AAAAAAAAA8c/J4ScZl3OHwM/s1600/Khatam+Kesenian.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFoFGxe94bI/AAAAAAAAA8c/J4ScZl3OHwM/s320/Khatam+Kesenian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501715508707058098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tarian khas milik masyarakat setempat adalah "kuda kepang papat" yang hanya dimainkan oleh empat penari keturunan cikap bakal desa itu yakni almarhum Kiai Kotik dan Nyai Kotik.&lt;br /&gt;Empat penari "kuda kepang papat" generasi saat ini adalah Sunoto (50), Yatno (50), Paidin (45), dan Sumarlan (45). Seniman petani setempat, katanya, selama bulan puasa tidak mementaskan keseniannya baik di desa setempat ataupun menerima permintaan masyarakat lainnya yang sedang memiliki hajat.&lt;br /&gt;"Nanti kami memulai pentas lagi pada H+5 Lebaran, sekaligus sebagai ajang halal bihalal warga," katanya.&lt;br /&gt;Pergelaran tradisi "Khataman Kesenian", Rabu (4/8) hingga sekitar pukul 17.30 WIB di halaman rumah Supadi, di kawasan selatan puncak Gunung Andong itu terlihat disaksikan oleh ratusan warga baik berasal dari dusun setempat maupun berbagai dusun lainnya. Meskipun hujan sempat turun agak deras, mereka tetap menggelar pementasan, sedangkan masyarakat tetap berkerumun menyaksikannya. Puluhan orang tampak menggelar berbagai dagangan seperti makanan, minuman, dan mainan anak-anak di sekitar arena pementasan itu.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA JatengNews).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4306421321450985504?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4306421321450985504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/khataman-kesenian-jelang-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4306421321450985504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4306421321450985504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/khataman-kesenian-jelang-ramadhan.html' title='KHATAMAN KESENIAN JELANG RAMADHAN.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFoE73b-ntI/AAAAAAAAA8U/m-X8oU4-miY/s72-c/Jaran+Papat+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8514527118954821457</id><published>2010-08-03T06:33:00.005+07:00</published><updated>2010-08-03T06:38:02.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='festival lima gunung'/><title type='text'>ENAM JAM SENIMAN GUNUNG DI PUNCAK EKSPRESI.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFdWEO183ZI/AAAAAAAAA8E/c19MGFVlyGA/s1600/Geculan+bocah+Gejayan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFdWEO183ZI/AAAAAAAAA8E/c19MGFVlyGA/s320/Geculan+bocah+Gejayan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500960100560199058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : M Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 3 Agustus 2010.&lt;/span&gt; Seorang penari lengger perempuan dari Gunung Sumbing tiba-tiba kesurupan. Tak berapa lama kemudian, dua penari laki-laki pun mengalami hal serupa, di tengah iringan tetabuhan gamelan bertalu-talu.&lt;br /&gt;Sejumlah orang menggiringnya ke depan patung Ganesha dengan aneka sesaji seperti air putih, teh, kopi, bunga mawar, melati, kantil, nasi putih dan ketan, serta kemenyan. Apa yang ditunjuk oleh penari lengger kesurupan itu diambilkan oleh salah seorang dukun untuk kemudian dimakannya, lalu mereka melanjutkan tariannya.&lt;br /&gt;Mereka adalah tiga di antara 24 penari lengger perempuan dan laki-laki grup "Cahyo Budoyo Sumbing" Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan dipimpin kepala dusun Sumarno menyajikan keseniannya pada sesi pamungkas pementasan pada Festival Lima Gunung IX Tahun 2010, Minggu (1/8) sore.&lt;br /&gt;Puluhan seniman petani berasal dari kawasan lima gunung di Kabupaten Magelang (Merapi, Merbabu, Anding, Sumbing, dan Menoreh) lainnya menimpali tarian "Lengger Lima Gunung" itu dengan gerakan mengikuti tabuhan gamelan itu secara kolaboratif di panggung terbuka Studio Mendut, sekitar tiga kilometer sebelah timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Ratusan penonton seakan tak beranjak dari tempatnya menyaksikan pergelaran puncak selama enam jam festival itu. Mereka umumnya adalah masyarakat petani berasal dari kawasan lima gunung setempat. Tidak terlihat pejabat penting ikut berbaur menyaksikan pergelaran itu, namun justru sejumlah wisatawan mancanegara terlihat menikmati tontonan itu.&lt;br /&gt;Festival yang diselenggarakan secara mandiri oleh seniman petani Komunitas Lima Gunung (KLG) Magelang itu berlangsung sejak 25 Juli hingga 1 Agustus 2010. Puncak festival itu berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB di Studio Mendut, milik pemimpin tertinggi KLG, Sutanto Mendut. Mereka menyuguhkan berbagai kesenian tradisional dan kontemporer, performa seni pada festival bertema "Sudro Satrio (Ngulandoro)" itu. Tema itu maksudnya menggambarkan hasil perjalanan atas gerakan kebudayaan KLG.&lt;br /&gt;Masyarakat petani gunung digambarkan melalui tema itu sebagai golongan sudra atau rendah namun telah secara satria atau berani berkiprah dalam gerakan kebudayaan di tingkat regional, nasional, dan internasional melalui berbagai pergelaran karya mereka yang sarat pesan kemasyarakatan, kemanusiaan, perdamaian, dan cinta alam baik di Magelang maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;Panggung terbuka Studio Mendut terlihat berhias instalasi belasan penjor dengan anyaman janur berbentuk bulat aneka ukuran yang diberi nama "Penjor Wahyu", ratusan instalasi ancak (anyaman bambu sebagai tempat sesaji), berbagai patung batu Merapi, taburan kembang mawar dan alas tanah yang terlihat digelar dengan instalasi jerami. Tabuhan musik antara lain gamelan, truntung, tambur, dan tiupan seruling seolah tidak pernah berhenti selama enam jam, tatkala mereka memasuki puncak pergelaran festival tahunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFdWXSJespI/AAAAAAAAA8M/lUSOoyQib2o/s1600/Wayang+bocah+Tutup+Ngisor.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFdWXSJespI/AAAAAAAAA8M/lUSOoyQib2o/s320/Wayang+bocah+Tutup+Ngisor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500960427864928914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ismanto bersama grupnya "Gadung Mlati" Dusun Ngampel, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di lereng barat Gunung Merapi menyajikan performa berjudul "Profesor Seni". Mereka terlihat mengecat tubuhnya dengan berbagai warna artistik dan menggunakan properti alam membawa aneka sesaji terutama jajan pasar dan palawija melakukan gerak performa berkolaborasi dengan jumlah seniman perempuan grup "Atas Bumi Bawah Langit" Muntilan pimpinan Wenti Nuryanto dan Waskito yang menyuguhkan tarian kontemporer "Nyemat" (Menganyam tikar).&lt;br /&gt;Aliran Sungai Pabelan Mati di belakang studio seni dan budaya itu pun menjadi arena mereka berolah performa. Mereka menceburkan diri di sungai itu dengan terus melakukan berbagai gerak teatrikal yang tampak menarik itu. Sejumlah seniman masing-masing membawa tampah berisi aneka jajanan dan palawija berjalan sambil menyilakan para penonton untuk mengambil makanan tradisional itu untuk disantap sebagai suguhan atas puncak FLG.&lt;br /&gt;Seniman petani grup "Bekso Turonggo Mudo" pimpinan Supadi, dari Desa Mantran, Kecamatan Ngablak, di lereng Gunung Andong, menyuguhkan tarian kuda lumping secara enerjik di panggung terbuka. Sementara itu, komunitas "Topeng Saujana" Desa Keron, Kecamatan Sawangan, pimpinan Sujono, di lereng Merapi menampilkan tarian kontemporer alam "Kukilo Gunung", tarian yang bertutur tentang kerusakan alam yang mengakibatkan aneka burung (Kukilo,red) punah. Pada kesempatan itu Sujono membacakan puisi berbahasa Jawa "Dos Pundi" (Bagaimana).&lt;br /&gt;Komunitas "Sekolah Gunung" yang dipimpin Endah Pertiwi menyajikan tarian "Gendro Yakso", grup perempuan "Fatma Budaya" kawasan Gunung Tidar, Kota Magelang menyuguhkan tarian "Solah Kiprah", komunitas Warangan Merbabu "Dhom Sonthil" pimpinan Handoko menampilkan tarian "Truntung Topeng Ireng", seniman petani Desa Petung, Kecamatan Candi Mulyo, lereng Gunung Merbabu, pimpinan Timbul menyuguhkan tarian kontemporer desa "Grasak Gemblung" beriring musik akapela dengan syair-syair terkesan menakjubkan dan lucu.&lt;br /&gt;Selain itu, seniman petani komunitas "Wargo Budoyo Gejayan" Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, di lereng barat Merbabu pimpinan Riyadi, secara berturut-turut menyuguhkan musik kontemporer "Truntung Sudro", tarian "Geculan Bocah", dan "Gupolo Gunung", sedangkan komunitas Padepokan "Tjipto Boedojo Tutup Ngisor" Desa Sumber, Kecamatan Dukun, di lereng Merapi pimpinan Sitras Anjilin menyuguhkan wayang bocah berjudul "Satrio Sudro" dengan mengambil kisah pewayangan "Arjunawiwaha".&lt;br /&gt;"Festival selama seminggu ini 'marem' (Memuaskan,red), semua turun gunung bersuka ria menggelar pementasan," kata budayawan Magelang yang juga salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chludori (Gus Yusuf). Sajian kesenian yang selama ini dikelola KLG, katanya, bukan sekadar pentas seni namun menggambarkan betapa kebudayaan lokal kental dalam kehidupan mereka berkesenian dan menjadi kekuatan mereka dalam merespons tantangan zaman.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, mereka tetap eksis berkesenian justru karena selalu berpijak kepada nilai-nilai tradisi masyarakat desa dan gunung. "Kekuatan budaya lokal itu telah membuat 'Lima Gunung' eksis. Mereka menari jatilan tidak mengandalkan duwit tetapi semangat bersama sebagai seniman petani lima gunung," katanya mencontohkan.&lt;br /&gt;Sujono mengaku, komunitasnya selalu mengikuti festival tahunan itu karena sebagai kesempatan puncak bertemu dan bergembira bersama komunitas seniman petani lainnya yang tergabung di KLG. "Kami membiayai sendiri, tidak minta-minta kepada pihak lain, kami ingin membuktikan bahwa kami mandiri dan terus berkarya, menjalani proses berkesenian dan berkebudayaan dengan mendasarkan kepada kearifan masyarakat kami," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival selama seminggu itu berlangsung di berbagai tempat antara lain pembukaan melalui prosesi tirakatan di Suroloyo, puncak tertinggi Pegunungan Menoreh, perbatasan antara Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan Kulon Progo, Yogyakarta, Minggu (25/7) dini hari, pameran instalasi "Karma Rasa" oleh grup "Gadung Mlati" (26-30 Juli 2010) ditutup dengan prosesi "Tebus Tresno" di aliran Kali Trising.&lt;br /&gt;Selain itu performa kolaborasi "Kontemplasi Sungai Malam" di tepi Sungai Pabelan Mati, Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, Selasa (28/7) pukul 00.00 hingga 05.00 WIB, pementasan tradisi "Kuda Kepang Papat" di Mantran, Gunung Andong, Selasa (28/5) pukul 15.00-24.00 WIB, pentas "Lengger Lima Gunung" di Krandegan, Sumbing, Jumat (30/7), pentas "Jatilan" di Desa Sewukan, Dukun, kawasan Merapi, Sabtu (31/7) pukul 16.00-24.00 WIB.&lt;br /&gt;Sutanto terkesan tak kuasa menumpahkan lebih banyak kata-kata budayanya seperti biasanya dia berpidato dengan diselingi "guyonannya" untuk mengekspresikan betapa seniman petani lima gunung berada di puncak silaturahmi kulturalnya itu. Tetesan air matanya setelah dirinya memotong tumpeng untuk diberikan kepada sejumlah petinggi komunitas itu, seakan mewakili ungkapan nilai budaya yang mengalir deras atas puncak ekspresi gerakan kebudayaan oleh KLG selama ini.&lt;br /&gt;Panas matahari makin tinggi sedangkan suasana menjadi hening, tanpa terdengar tetabuhan, ketika Sutanto melangkah mundur ke deretan berdiri para tokoh lima gunung itu, usai berpidato. Sekejab kemudian tepuk tangan riuh terdengar dari siapa saja yang mengelilingi panggung itu.&lt;br /&gt;"Sembilan tahun membuktikan kemandirian lima gunung, festival tahun ini bahkan tanpa sponsor baik dari penguasa maupun pengusaha, tanpa bicara uang. Semua mengalir melalui kekuatan masyarakat desa dan gunung, kekuatan budaya pertanian. Selanjutnya akan tetap mandiri bersama kearifan gunung," katanya.&lt;br /&gt;Sejumlah tokoh lima gunung menorehkan tanda tangan masing-masing di atas tanah panggung terbuka itu sebagai simbol komitmen mereka mengelola kemandirian dalam gerakan kebudayaannya. Para seniman petani itu kini telah kembali ke desa dan kawasan lima gunung masing-masing dengan mengusung puncak ekspresi Festival Lima Gunung yang tentunya bakal menjadi kekuatan mereka melanjutkan gerakan kebudayaanya.&lt;br /&gt;"Pada puncak festival ini mereka memperkuat baterai keseniannya supaya kearifan dan kebudayaan gunung makin 'gemebyar' (gemerlap,red.)," kata Gus Yusuf. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA JatengNews).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-8514527118954821457?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/8514527118954821457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/enam-jam-seniman-gunung-di-puncak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8514527118954821457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/8514527118954821457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/enam-jam-seniman-gunung-di-puncak.html' title='ENAM JAM SENIMAN GUNUNG DI PUNCAK EKSPRESI.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFdWEO183ZI/AAAAAAAAA8E/c19MGFVlyGA/s72-c/Geculan+bocah+Gejayan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4483373164246372073</id><published>2010-08-02T14:50:00.001+07:00</published><updated>2010-08-02T14:53:53.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='art and culture'/><title type='text'>KEINDAHAN NANI SAKRI DALAM ‘CONSERVE OUR HERITAGE’.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFZ5IveOifI/AAAAAAAAA7s/qfan21-mv2w/s1600/Nani+Sakri+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 316px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFZ5IveOifI/AAAAAAAAA7s/qfan21-mv2w/s320/Nani+Sakri+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500717185968802290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : M Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 2 Agustus 2010.&lt;/span&gt; Pelukis Nani Sakri menggelar pameran puluhan karya bertajuk "Conserve Our Heritage" atau "Melestarikan Warisan Kita" yang didominasi goresan motif batik dan figur perempuan sebagai gabungan atas keindahan ekspresi pribadi dengan warisan leluhur. "Tidak semata sebagai ekspresi pribadi melainkan upaya menjaga warisan nenek moyang (batik,red.) agar selalu dikenal dan disayang," katanya saat pembukaan Pameran Lukis "Conserve Our Heritage" di Limanjawi Art House Borobudur sekitar 700 meter timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah,  Sabtu malam.&lt;br /&gt;Pameran dibuka oleh kolektor lukisan Indonesia, dr. Oei Hong Djien, dihadiri antara lain kalangan pelaku seni, pemerhati seni, dan budayawan seperti Deddy Paw, Ingrid Widjanarko, Haris Kertaraharjo, Agus Merapi, Yeha, Fajar Purnomo Sidi, Damtoz Andreas, Ariswara Sutomo, dan Sutanto Mendut. Pembukaan pameran selama sebulan itu antara lain juga ditandai dengan performa "Melukis Tubuh Bermotif Batik" oleh anggota Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), tarian kontemporer "Topeng Saujana" pimpinan Sujono, dan pentas tunggal musik kendang oleh Sujud.&lt;br /&gt;Berbagai karya Nani Sakri yang dipamerkan di galeri milik Umar Chusaeni itu antara lain berjudul "Homage To My Mother", "The Grace Of Balance", "Tribute To My Grandmother", "Blooming Love", "Gentle Giant", "Prayer For A Child 1", "As Magical As Five Phoenix", The Race For Power", "Fluttering Butterflies", dan "Yin And Yang".&lt;br /&gt;Ia mengaku, akrab dengan batik sejak kecil karena almarhum nenek dan ibunya pengusaha dan pembuat batik di Yogyakarta pada era 1960-an. Filosofi atas motif batik, katanya, menjadi daya tarik tersendiri bagi dirinya seperti corak parang, kawung, sidamukti, sidamulya, dan sidaluhur karena memiliki pesan dan berbagai doa tentang kebaikan manusia.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFZ5bTUZ2eI/AAAAAAAAA70/7aaTkuNHMZM/s1600/Lukisan+Nanisakri+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 317px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFZ5bTUZ2eI/AAAAAAAAA70/7aaTkuNHMZM/s320/Lukisan+Nanisakri+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500717504828922338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Semua memiliki pesona keindahan tersendiri karena terciptanya warna dan motif selalu menyiratkan karakter dan budaya dari asal batik," katanya.&lt;br /&gt;Ia menyebut batik bagaikan mata air inspirasi berkarya yang tidak pernah kering. "Dan saya seolah menemukan sebuah 'kamus' bahasa baru di dalam batik," katanya.&lt;br /&gt;Ia menjelaskan tentang penyertaan figur perempuan dalam karyanya yang sebagai representasi atas pribadinya. Figur perempuan dalam lukisannya, katanya, untuk mempertajam pesan dan sekaligus mengemas menjadi karya yang berbeda dari sekadar memindahkan corak batik ke atas kanvas.&lt;br /&gt;Oei Hong Djien mengatakan, kecenderungan seni rupa kontemporer saat ini tidak melepaskan diri dari berbagai ikon lokal untuk memberikan nilai tambah atas suatu karya. "Mereka mengambil ikon lokal yang terkenal untuk membahasakan karyanya. Itu nilai tambah dan lebih dihargai karena mempunyai kesan budaya lokal, sehingga menjadi karya kontemporer dengan unsur budaya lokal," katanya.&lt;br /&gt;Ia mengemukakan, tren seni rupa saat ini telah mengalami pergeseran dari Barat ke Asia khususnya Asia Tenggara. Setiap bangsa, katanya, memiliki sejarah seni rupa masing-masing.&lt;br /&gt;"Mereka (Barat,red) sekarang mau mendengarkan bahwa sejarah seni rupa tidak hanya Barat, setiap bangsa memiliki sejarah seni rupa sendiri. Sekarang era Asia khususnya Asia Tenggara sehingga seniman-seniman Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini," katanya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA JatengNews).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4483373164246372073?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4483373164246372073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/keindahan-nani-sakri-dalam-conserve-our.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4483373164246372073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4483373164246372073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/keindahan-nani-sakri-dalam-conserve-our.html' title='KEINDAHAN NANI SAKRI DALAM ‘CONSERVE OUR HERITAGE’.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFZ5IveOifI/AAAAAAAAA7s/qfan21-mv2w/s72-c/Nani+Sakri+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4719008346596629650</id><published>2010-08-02T05:41:00.004+07:00</published><updated>2010-08-02T15:31:58.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='festival lima gunung'/><title type='text'>GAIRAH PETANI MENGOLAH FESTIVALNYA.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFaCbSu_jHI/AAAAAAAAA78/NDEUJzrdeTo/s1600/Lengger+Krandegan+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFaCbSu_jHI/AAAAAAAAA78/NDEUJzrdeTo/s320/Lengger+Krandegan+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500727400276659314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : M Hari Atmoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 2 Agustus 2010.&lt;/span&gt; ‘Mboten nginten nek dados gayeng ngaten' (Tak disangka kalau jadi meriah seperti ini)," kata Sumarno yang sejak usia 17 tahun hingga saat ini menduduki "tahta" kepala dusun di lereng Selatan Gunung Sumbing, di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Senyum mengembang dari wajah lelaki berumur 59 tahun, berpakaian batik dan bertutup kepala, peci, malam itu, ketika dia menerima secara santun para tamu yang antara lain berasal dari berbagai dusun di sekitar lereng Gunung Sumbing dan beberapa tempat di Magelang.&lt;br /&gt;Kegembiraan hatinya juga tak kurang ditumpahkan ketika bercengkerama dengan beberapa pegiat lembaga swadaya masyarakat berkantor pusat di Jakarta, Urban Poor Consorsium (UPC), yang berasal dari sejumlah kota di Indonesia seperti Pare-Pare, Palembang, Tasikmalaya, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta.&lt;br /&gt;"'Diaturi pinarak' (Maksudnya, semua tamu diminta pindah ke ruang makan,red)," katanya sambil meminta mereka yang diduduk di ruang tamu itu pindah ke ruang lain di dalam rumah itu untuk makan malam. Ratusan warga berkumpul di rumahnya di ketinggian sekitar 1.600 meter dari permukaan air laut dengan balutan tusukan udara dingin kawasan Gunung Sumbing malam itu untuk menyaksikan suguhan tarian "Lengger Lima Gunung" dalam rangkaian Festival Lima Gunung IX Tahun 2010 yang digelar dengan tema besar "Sudro Satrio (Ngulandoro)" oleh seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh).&lt;br /&gt;Hampir semua rumah di Dusun Krandegan dengan sekitar 380 kepala keluarga kosong ketika malam itu gamelan bertalu-talu ditabuh para pengrawit dan para penari lengger menyuguhkan tarian khas yang hingga saat ini masih mereka lestarikan. Mereka malam itu menyuguhkan lengger itu dalam dua babak yakni pukul 15.00-17.30 WIB dan 19.30-24.00 WIB. Juwahir Sarwo Edi (35) koordinator seniman petani setempat, "Cahyo Budoyo Sumbing" tampak dengan riang hati sibuk memimpin anggotanya mengatur pementasan.&lt;br /&gt;"Biasanya lengger dipentaskan setahun sekali saat Sapar bertepatan dengan Rabu Pahing (kalender Jawa,red.), kali ini kami sepakat menarik menjadi "Lengger Lima Gunung" bertepatan dengan FLG," kata Sarwo Edi.&lt;br /&gt;Seluruh penari yang terdiri atas empat penari perempuan Sumarsih (25), Sumirah (27), Sariyatun (23), dan Rusminah (24), serta 20 penari laki-laki seperti Pujianto (30), Misidi (29), Sugito (29), Mugo (30), Suyono (27), dan Sukidi (27) naik panggung secara bergantian malam itu. Mereka menyuguhkan 15 nomor tarian lengger yang dimiliki seperti Sontoloyo, Bribil, Kebogiro, Solasih, Criping Kuning, Jurang Jero, Sluku-Sluku Batok, Jentik Manis, Genggong Campur, Gondang Keli, Maheso Jenar, dan Gambuh.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFX6Zb4YN5I/AAAAAAAAA7k/4SgBZ9wAqGA/s1600/Ritual+TEBUS+TRESNO+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFX6Zb4YN5I/AAAAAAAAA7k/4SgBZ9wAqGA/s320/Ritual+TEBUS+TRESNO+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500577834790827922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Tarian dan syair tembang pengiringnya sarat dengan berbagai nasihat tentang kebijaksaan dan kearifan masyarakat. Kami memahami secara turun temurun dengan baik pesan-pesan itu karena menjadi nilai moral kehidupan kami," katanya.&lt;br /&gt;Warga setempat baik tua muda, anak-anak, baik lelaki maupun perempuan merangsek hingga menyentuh panggung pertunjukkan berukuran sembilan meter persegi dengan tinggi 30 centimeter di pendopo rumah kadus setempat. Sejumlah sesepuh desa setempat duduk bersila secara berjejer di sisi lain tempat pergelaran itu sambil bercengkerama. Sumarno pun terlihat melayani beberapa penari laki-laki yang kesurupan yang nampaknya sekadar ingin menyalami pimpinan formal tertinggi di dusun itu. Babak itu seakan menggambarkan betapa masyarakat, alam, kekuatan spiritual, kekayaan budaya, dan pemimpinnya sebagai suatu kesatuan yang terus mereka hidupi.&lt;br /&gt;Lain lagi dengan di lereng barat Gunung Merapi. Pagi itu, sejumlah seniman petani yang tergabung di grup teater "Gadung Mlati" pimpinan Ismanto, berjalan kaki sepanjang kira-kira 500 meter dari halaman rumahnya menuju tepian Kali Trising yang aliran airnya berhulu di kaki Merapi. Mereka antara lain mengusung penjor berhias anyaman janur berbentuk bulat beraneka ukuran yang mereka namai "Penjor Wahyu", bola dunia terbuat dari anyaman janur, sesaji antara lain berisi makanan, buah-buahan, dan jajan pasar.&lt;br /&gt;Dua seniman memikul ancak (tempat sesaji) berbentuk tandu dengan hiasan janur kuning yang di atasnya diletakkan beberapa bibit tanaman. Sejumlah seniman lainnya yang mengenakan pakaian ala petani Jawa dengan ikat kepala "iket", bercelana congklang warna hitam, dan berbalut kain batik di pinggangnya membawa kain warna kuning emas sepanjang sekitar 10 meter secara terbentang. &lt;br /&gt;Ismanto, seniman perupa setempat itu, membawa puluhan batang dupa memimpin prosesi ritual kontemporer yang mereka namai "Tebus Tresno". Mereka menanam bibit pohon itu di tepi Kali Trising untuk selanjutnya melarung aneka sesaji dan ancak tandu di sungai itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFX6HuFMgkI/AAAAAAAAA7c/NR4JbSRamqU/s1600/Performa+Tanto+02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFX6HuFMgkI/AAAAAAAAA7c/NR4JbSRamqU/s320/Performa+Tanto+02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500577530438779458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Ini simbol usaha untuk menebus kesalahan ulah manusia yang berakibat kerusakan alam," kata Anjar, salah seorang anggota Gadung Mlati.&lt;br /&gt;Tingkah laku manusia, katanya, cenderung merusak alam demi memenuhi kebutuhan materi. Terkadang manusia tidak sadar bahwa kerusakan alam berakibat fatal terhadap kelangsung hidup mereka. "Semoga ritual ini menumbuhkan kesadaran manusia bahwa dia tidak bisa hidup tanpa alam, karena manusia bagian dari alam," katanya.&lt;br /&gt;Puluhan orang yang berlalu lalang di jembatan Kali Trising yang menghubungkan Desa Sengi dengan Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang terlihat menyaksikan prosesi kontemporer itu.&lt;br /&gt;Sementara itu, di lereng Gunung Andong, seniman petani Desa Mantran, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang tergabung dalam "Gilar Andong Jinawi" dengan dipimpin Supadi, menggelar pentas tarian "Kuda Kepang Papat". Tarian sebagai pentas utama tradisi mereka yang disebut "Khataman Kesenian" di kawasan itu dikemas dengan sejumlah pergelaran lainnya seperti topeng ireng putri, kuda lumping, dan ritual kontemporer bertajuk "Sudro Satrio (Ngulandoro)" sejak sore hingga malam hari. &lt;br /&gt;Tradisi "Khataman Kesenian" mereka gelar setiap menjelang puasa Ramadhan. Hampir seribu orang menyaksikan pergelaran di halaman rumah Supadi yang setiap hari bekerja sebagai pedagang sayur-sayuran hasil panenan petani di kawasan itu.&lt;br /&gt;Sitras Anjilin, pemimpin padepokan "Tjipto Boedojo Tutup Ngisor" di lereng Merapi, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang menyampaikan kabar tentang pergelaran kesenian jatilan di Desa Sewukan yang disuguhkan kalangan seniman petani setempat yang dilatihnya sejak beberapa waktu terakhir ini.&lt;br /&gt;"Pada Festival Lima Gunung tahun ini, kami menandai dengan kirab dan pementasan itu. Prosesi budaya sore hari dan kemudian dilanjutkan pentas hingga malam hari," katanya.&lt;br /&gt;Selain itu, seniman padepokan yang dipimpinnya akan menyuguhkan karya terbaru saat puncak FLG bersama dengan anggota KLG lainnya di Studio Mendut, sekitar tiga kilometer timur Candi Borobudur pada Minggu (1/8).&lt;br /&gt;Festival selama seminggu (25 Juli-1 Agustus 2010) dimulai dengan performa "Ritus Ondo Gunung Syukur" di puncak Suroloyo, tempat tertinggi di Pegunungan Menoreh di perbatasan antara Magelang, Jateng dengan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Mereka juga berkolaborasi menyuguhkan performa "Kontemplasi Sungai Malam" di tepi aliran Kali Pabelan Mati, Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, selama lima jam (00.00-05.00 WIB) pada Rabu (28/7).&lt;br /&gt;Pementasan yang memang mereka kemas tanpa penonton itu nampaknya telah membuat jejaring sosial "facebook" anggota komunitas tersebut dari berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara lain secara heboh memberikan respons.&lt;br /&gt;Pada penghujung festival 1 Agustus 2010 di kawasan Studio Mendut, mereka yang tergabung dalam berbagai komunitas masing-masing seperti "Wargo Budoyo Gejayan", "Sanggar Warangan Merbabu", "Lumaras Budoyo Petung", "Komunitas Atas Bumi Bawah Langit Muntilan", "Fatma Budaya", dan "Sekolah Gunung" menyuguhkan berbagai karya selama kira-kira enam jam.&lt;br /&gt;"Ini 'passionate' (gairah) kami," kata Sutanto Mendut, pemimpin tertinggi Komunitas Lima Gunung. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ANTARA JatengNews).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3818790214649075724-4719008346596629650?l=www.borobudurlinks.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.borobudurlinks.com/feeds/4719008346596629650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/gairah-petani-mengolah-festivalnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4719008346596629650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3818790214649075724/posts/default/4719008346596629650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.borobudurlinks.com/2010/08/gairah-petani-mengolah-festivalnya.html' title='GAIRAH PETANI MENGOLAH FESTIVALNYA.'/><author><name>Borobudur Links</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12001135831852477184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/SkyK35vPjsI/AAAAAAAAABg/BXB_hgjlWvs/S220/r3cycle%5Bd%5D-wp+(60).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFaCbSu_jHI/AAAAAAAAA78/NDEUJzrdeTo/s72-c/Lengger+Krandegan+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5857524080197917302</id><published>2010-07-29T18:02:00.007+07:00</published><updated>2010-07-29T18:15:56.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='festival lima gunung'/><title type='text'>/KONTEMPLASI/SUNGAI/MALAM/ DALAM KEASYIKAN FACEBOOK.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFFg5oNwtSI/AAAAAAAAA68/uKSXeHbtYv0/s1600/Ismanto+mimpin+donga.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TLXkpC4r5-E/TFFg5oNwtSI/AAAAAAAAA68/uKSXeHbtYv0/s320/Ismanto+mimpin+donga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499283163160032546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;/KONTEMPLASI/SUNGAI/MALAM/ DALAM KEASYIKAN FACEBOOK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : M Hari Atmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 29 Juli 2010.&lt;/span&gt; "Mas, apa bener ada yang mau 'nyetop' pertunjukan 'Sungai Malam'," demikian tulisan di ruang komentar dari seseorang yang terhubung di jejaring sosial, "facebook", dengan Ari Kusuma, seorang penggiat seniman Komunitas Lima Gunung Magelang, dini hari. Kemungkinan orang itu telah membaca laman komentar lain dari anggota jejaringnya yang secara iseng menuliskan bahwa performa "Kontemplasi Sungai Malam", salah satu agenda pertunjukan Festival Lima Gunung IX, akan dibubarkan.&lt;br /&gt;Festival tahunan itu digelar 25 Juli hingga 1 Agustus 2010 oleh seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh). Seseorang yang ternyata menyatakan dalam jaringan di facebook sedang berada di Jakarta itu agaknya mengetahui bahwa komentar tersebut sekadar informasi liar yang mesti disaring secara cermat terlebih dahulu. Ia pun terkesan dengan nada gojek menuliskan "'Ubo rampene' (persyaratan, red.) kurang... njaluk jatah kuwi".&lt;br /&gt;Seorang lainnya pada pukul 04.00 WIB menuliskan di jejaring itu "Kontemplasi ruang tanpa massa memenuhi aliran sinyal. Meditasi
