.

STREET JAZZ DI MAGELANG.



Oleh MyAsa Poetika.

Borobudurlinks, 13 Mei 2012. Malam minggu (12/5) kemarin udara dingin di Magelang berubah lumayan hangat. Hal ini disebabkan oleh hadirnya kelompok music jazz ‘Swing Line’, yang menghibur khalayak dalam acara ‘Djarum MLD STREET JAZZ’. Hajatan yang tergolong ‘mini-concert’ itu berlangsung pukul 19.00 – 21.00, di jalanan samping Mapolres Alun-alun Selatan Kota Magelang. Beberapa lagu jazz standard seperti ‘Girl From  Ipanema’ dan ‘Fly to The Moon’, serta sekitar sepuluh lagu lainnya dinyanyikan oleh duet penyanyi Sherly dan Itok.
Acara yang pertama kalinya diadakan di Magelang, ini adalah bagian dari empat pertunjukan serupa setiap Sabtu malam. Selain di Magelang, acara serupa juga diadakan di Alun-alun Temanggung. Hanya selang waktu, Di Temanggung berlangsung jam 16.00-18.00, sementara di Magelang satu jam kemudian.
Upaya Djarum MLD menghadirkan hiburan ini pantas diapresiasi. Jazz tampil lebih membumi, tak membedakan kelas penontonnya. Sebagian besar pengunjung adalah warga yang hanya mampu berekreasi menikmati malam minggu sambil menikmati hidangan angkringan di Alun-alun.
Tapi penempatan panggung dengan penonton yang  dipisahkan oleh jalanan dengan lalulintas yang lumayan padat rasanya pantas dipertanyakan. Apa yang mau dicapai ?
Penonton yang berdiri atau duduk di antara sesaknya warung angkringan dan parkir motor di sebrang Mapolres, sebetulnya merasa kurang nyaman dengan kondisi ini. Selain pandangan terganggu oleh lalu lalang kendaraan dan klakson yang kadang-kadang melengking, juga asap kenalpot pastilah kurang oke bagi kesehatan.
Bisa dibayangkan, saat solo flute mengalun lembut, tiba-tiba ditimpa lengkingan klakson. Atau saat penyanyi mulai bergoyang, pandangan penonton terhalang deretan mobil dan motor yang tersendat karena lampu merah menyala. Apa boleh buat,….di tengah situasi Magelang yang miskin hiburan kondisi seperti ini sudah lumayan menghibur.
Sesungguhnya masyarakat Magelang pernah memiliki gelaran jazz  yang lebih nyaman, yakni ketika acara rutin yang digelar MJC (Masyarakat Jazz Community) dan warung ‘Kucing Gunung’ masih berlangsung setiap Jumat dan Sabtu malam. Namun entah kenapa tontonan yang mengasyikkan itu terhenti. Dengar-dengar ada larangan dari Pemkot Magelang, karena dianggap berpotensi terjadinya kerusuhan.
Kalau benar, alasan itu tentu mengada-ada. Sebab kendati ditonton hingga ratusan orang, sebagian besar anak muda, tapi pertunjukannya relative berlangsung tertib. Tak ada alcohol dan narkoba yang bisa ditemukan pada anak-anak muda itu, yang biasanya mudah memancing emosi dan kerusuhan. Yang ada adalah kegembiraan karena bisa berekspresi serta saling menghibur.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa tontonan ini bisa mendapat ijin dan berlangsung lancar ? Sementara gelaran  di ‘Kucing Gunung’ (depan Gedung Wanita, jalan Veteran)  dilarang ? Apakah karena tontonan ini diusung Djarum MLD yang pasti punya duit dan bisa membayar pungutan, sementara acara di ‘Kucing Gunung ‘ pasti gratisan karena murni swadaya komunitas music ? Siapa yang bisa memberi jawaban ? (bolinks@2012).

.

HUT Kota Magelang 2012: MASIH SEKEDAR ASAL RAME.





Oleh Mualim M Sukethi.

Borobudurlinks, 22 April 2012. Dua tahun lalu saya membuat catatan tentang HUT Kota Magelang 2010 yang memuat kritik cukup keras terhadap perhelatan itu. Tahun 2011 saya tidak membuat catatan karena tak sempat menonton hajat tahunan itu. Rupanya hal itu mengundang protes Gepeng Nugroho, yang menjadi pengarah program HUT tahun 2010.
“Tidak adil. Karena karya saya dikritik habis, sementara karya pengganti saya tidak dikritik, “ kata seniman produktif itu. Untuk itu, maka catatan ini saya anggap sebagai jawaban atas permintaan Gepeng.
Namun saya harus meminta maaf kepada Gepeng karena saya telah melewatkan suguhan utama acara HUT Kota Magelang, yaitu garapan sendratari yang mengangkat kisah terjadinya kota Magelang. Saya sendiri berusaha nonton acara itu. Tapi karena situasi alun-alun yang tidak pro rakyat,  membuat saya malas untuk terus  menikmati seremoni tahunan itu.
Yang saya maksud tontonan tidak pro rakyat adalah adanya pagar barikade di sebelah kiri panggung, yang memisahkan rakyat dengan pejabat atau tamu kehormatan lainnya, dan menempatkan rakyat sebagai manusia pinggiran yang tak berhak menikmati tontonan secara layak. Apa enaknya nonton pertunjukan dari samping panggung, panas, berjubelan lagi ?
Padahal seingat saya, mBilung Sarawita (Ketum DKKM, Dewan Kesenian Kota Magelang), sebelum menjabat Ketum DKKM adalah orang yang terobsesi untuk menghilangkan pagar pembatas yang menjadi sekat antara pejabat dan rakyat, khususnya dalam pagelaran wayang kulit yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari HUT Kota Magelang. Apakah kritik terhadap adanya pagar pembatas itu tak berlaku untuk acara utama atau acara selain wayang kulit ? Atau kritik terhadap masalah itu hanya berlaku ketika yang bersangkutan dalam posisi sebagai rakyat ? Begitu menjadi pejabat lupa bahwa rakyat yang paling berhak menikmati suguhan hiburan itu justru terpinggirkan oleh barikade itu ?
Saya hanya membaca Koran keesokan harinya, yang seperti biasa tidak mengulas esensi pertunjukan itu. Tapi lebih mengedepankan pernyataan mBilung Sarawita, yang menyatakan kalau ia ingin meluruskan sejarah Magelang berdasarkan situs Mantyasih, bukan legenda Syeh Subakir. Ia juga mengaku berusaha menghilangkan gaya kratonan, dengan meniadakan parade kereta kencana dan kostum raja-raja saat upacara berlangsung. Dengan alasan Magelang tidak pernah ada tradisi kerajaan.

Saya pribadi berterimakasih terhadap upaya untuk membumikan HUT Kota Magelang. Sehingga kita berharap hajatan budaya itu lebih populis.  Namun seingat saya, gugatan terhadap konsep borjuis-feodal dalam upacara HUT Magelang sudah saya lakukan lewat tulisan 2 tahun lalu. Tentu gugatan saya itu didasari tinjauan sosio-historis dan filosofis terhadap sejarah dan perkembangan kebudayaan di Magelang. Rasanya belum pernah ada gugatan sejenis baik tertulis mau pun lisan sebelum tulisan saya itu (lihat ‘HUT KOTA MAGELANG: QUO VADIS ?’, di www.borobudurlinks.com).
 Selain tidak sempat menonton sendratari, saya juga tidak mengikuti semua rangkaian acara yang berlangsung sebulan penuh itu. Selain tak punya waktu, hampir semua acara itu juga sekedar acara ramai-ramai orang berultah, seperti lomba tenis, gerakjalan atau gowes bareng, atau parade mobil antiq,  dll. Saya menganggap semua itu bukanlah acara budaya yang mengkedepankan nilai. Apalagi dalam konteks pengembangan pariwisata.
Mungkin benar rangkaian acara HUT Kota Magelang kali ini, khususnya yang berlangsung tanggal 15 April 2012, di Alun-alun, berlangsung meriah. Ukurannya tentu jumlah penonton yang relative membludag, memenuhi alun-alun dan jalanan sekitarnya. Namun itu semua sekedar mencerminkan hausnya masyarakat Magelang terhadap hiburan. Apapun tontonan yang mengesankan riuh ramai meriah pasti akan ditonton.
Secara estetik ataupun dalam konteks pengembangan pariwisata belum ada terobosan yang berarti. Pada puncak acara tanggal 15 April, itu alun-alun sebagai ikon kota justru nampak sangat semrawut. Saya curiga tak ada konsep atau grand-design tentang penataan kembali ruang public seperti alun-alun bagi kepentingan hajat budaya, yang menyatukan kepentingan upacara, tontonan, pasar, parade, dll.
Seorang fotografer senior yang saya temui di hajatan itu juga mengeluhkan hal serupa. “Saya tak bisa mengambil gambar dengan bagus. Kamera diarahkan kemana saja, yang tertangkap kondisi yang semrawut, “ katanya sembari memberi contoh ikon-ikon alun-alun seperti patung Diponegoro dan watertoren yang tenggelam oleh panggung, bendera merah putih, dan umbul-umbul sponsor.
Pendapat itu ditimpali fotografer yang lebih muda, “Ketika gambar rencana tata letak  dipresentasikan, saya sudah bilang kalau akan menyulitkan fotografer mendapatkan gambar bagus “.
Saya juga perlu mengkritisi adanya panggung megah di tengah alun-alun. Selain dari segi estetika agak norak, panggung itu hanya berfungsi untuk kepentingan upacara (jam 09-11 pagi). Sesudahnya langsung dibongkar.
Apakah tidak lebih baik seandainya panggung dan peralatan soundsystem yang sudah disewa, tentu dengan harga mahal itu, dimanfaatkan seoptimal mungkin ? Bukan sekedar 2-3 jam. Toh harga sewanya dihitung sehari. Apabila panggung itu bisa dimanfaatkan sehari-semalam, tentu gairah ekspresi senibudaya masyarakat muda Magelang bisa terwadahi. Kalau iya, maka puluhan band indie dan seni modern lainnya akan merasa terwadahi ekspresinya lewat hajatan setahun sekali ini.
Seperti kita ketahui betapa menyedihkan nasib band-band indie yang tergabung dalam Magma (Magelang Music Mania) atau MJC (Magelang Jazz Community), yang hingga kini tak memiliki tempat memadai sekedar berekspresi, setelah dilarang manggung di area Kucing Gunung setiap sabtu-minggu malam. Saya rasa Magelang tak hanya berisi grup atau komunitas kelurahan seni tradisional semata. Seperti yang diberi kesempatan bermain dan memenuhi jadwal HUT, baik di -kelurahan atau pun pada parade budaya.
Tentang parade budaya sendiri, kiranya perlu klarifikasi apakah yang dimaksud parade budaya atau pawai pembangunan ? Memang selama ini tak ada batasan ketat antara dua hajatan yang biasa diadakan saat HUT Kota atau ’17 Agustusan’. Parade budaya, seperti yang sudah berlangsung selama ini, menempatkan karya-karya senibudaya seperti tari, music, busana, dan adat istiadat sebagai sajian utama. Sedangkan pawai pembangunan, yang lahir sebagai glorifikasi hasil pembangunan di masa ordebaru, lebih mengkedepankan hasil-hasil pembangunan sebagai materi utamanya.
Kerancuan arak-arakan yang disebut parade budaya saat HUT Kota Magelang kemarin adalah mencampuradukkan dua materi di atas. Jadi jangan heran kalau penonton disuguhi keanggunan mobil hias yang ditumpangi ‘Putri Pariwisata Indonesia 1011’, disusul putri-putri cantik ber’batik carnival’, kemudian diakhiri mobil hias yang memajang motor Suzuki dengan SPG nangkring di atasnya.
Pelaksanaan parade budaya juga tergolong amatiran. Rute parade yang membingungkan penonton, juga terkesan sekedar suguhan bagi elit Magelang yang mendapat hak duduk manis di ‘panggung walikota’ (istilah panitia). Panggung itu didirikan di sisi timur alun-alun, sementara rakyat dibiarkan mengokupasi trotoar dan jalanan sekitar panggung itu.
Selain menutup instalasi huruf baja berbunyi Magelang, yang kini menjadi ikon baru melengkapi  watertoren dan patung Diponegoro, panggung itu juga  nampak overlapping dengan deretan tiang bendera dan spanduk sponsor. Maka konfigurasi yang indah antara patung Diponegoro, beringin, watertoren, dan masjid Agung, bisa dikatakan hancur total.
Mestinya kalau panggung itu harus ada, untuk memenuhi ego elite Magelang yang masih butuh panggung kehormatan, maka bisa didirikan di jalur lambat depan eks ‘Magelang Theatre’. Dengan demikian para tamu terhormat itu bisa menikmati parade dengan latar alun-alun dan segenap ikon-ikonnya.
Rakyat juga bisa menikmati parade dengan nyaman, tak harus berjubelan saling berebut tempat di depan. Karena bisa duduk nyaman di trotoar pinggir alun-alun yang lebih tinggi dari jalanan. Sementara penonton yang sederet dengan panggung walikota juga terbatasi oleh jalur lambat, dan memungklinkan masyarakat lebih tertib dalam menonton. Sebab ketertiban itu syarat mutlak agar para kontingen parade bisa secara leluasa menampilkan atraksinya.
Pada parade budaya kemarin atraksi masing-masing kontingen memang diadakan di depan panggung walikota ini. Jadi kontingen yang sudah menyiapkan diri sejak pagi dari mulai di depan gedung Wanita (jalan Veteran) hanya unjuk kebolehan di area sepanjang 30 meter ini. Itu pun tidak semua kontingen. Sebab banyak juga kontingen yang tidak menyiapkan atraksi, seperti rombongan PNS Kota Magelang yang tampil seadanya, sekedar menampilkan baju batiknya dengan gaya yang letoy.
Atau penampilan Putri Pariwisata yang sekedar berdiri menangkupkan tangan di dada, atau melambai-lambaikan tangan ke arah penonton. Sayang mobil hias bertabur bunga plastic itu tak dilengkapi sound system atau music yang memadai. Maka penampilan putri cantik itu terasa dingin tak ada pesona atau gebyar layaknya putri yang dielu-elukan massa.
“Kok garing banget penampilannya, “ kata Hartono (49 th), warga Keplekan,  yang sore itu menonton parade bersama istri dan anaknya. Ungkapan ‘garing’ yang dilontarkan bapak itu terasa tepat dalam menggambarkan jalannya parade secara keseluruhan.
Penampilan atraksi masing-masing peserta terasa seadanya. Tak ada unsur-unsur spektakel  atau pembesaran layaknya sebuah pertunjukan jalanan (street performance). Mungkin tak ada seorang pengarah pertunjukan (show director- SD) yang mengarahkan parade ini. Atau kalau toh ada, bisa dipastikan SD yang dipakai  bukanlah yang tergolong professional.
Sekedar diketahui, ketika ‘Parade Budaya Nusantara’ diadakan pertama kalinya, di awal pemerintahan SBY, panitia menggunakan SD sekaliber Sardono Kusumo, art-director dan penata tari terkemuka. Baru 2-3 tahun kemudian, setelah polanya terbentuk, jabatan SD itu bisa dipegang seniman lain yang lebih muda. Setahu saya, jabatan SD itu kemudian diteruskan oleh teman-teman dari Teater Koma, Jakarta.
Ketiadaan pengarahan itu juga terjadi pada rute yang ditempuh peserta. Ada yang meneruskan parade dan atraksinya kearah jalan Pemuda. Tapi banyak juga yang langsung berbelok kanan ke arah Mapolres. Seperti rombongan ‘Batik Carnival’ yang rombonganya berjalan tak beraturan dan kemudian bubar serta beristirahat di depan kantor polisi itu. Mungkin kecapean setelah dari pagi menyiapkan diri.
Banyak warga masyarakat yang menunggu parade di sepanjang jalan pemuda harus menelan kekecewaan, karena hanya satu-dua kontingen yang melewati jalan utama kota itu. Ini juga bukti bahwa hajatan ini sebenarnya ditujukan untuk siapa ? Sekedar untuk elite Magelang yang duduk nyaman di panggung walikota, atau bagi rakyat yang menyemut di sekitar alun-alun dan jalan Pemuda ?
Untuk itu kita harus berterimakasih pada kontingen drum-band Akademi Militer (Akmil). Drum-band legendaries itu dengan gagah an indah berkeliling Alun-alun, jalan Pemuda, jalan Tidar, jalan Tentara Pelajar (Bayeman), hingga kembali ke Alun-alun. Masyarakat sedikit terhibur oleh kehadiran drum-band yang anggotanya banyak menggunakan kostum harimau itu.
Yang menyedihkan, tentu, tiadanya ciri khas, keunikan, atau sesuatu yang pantas ditonjolkan  dari acara tahunan Kota Magelang ini. Atau menurut pakar komunikasi pemasaran, tiada branding yang ditawarkan. Kalau Jember Carnival terkenal dengan street-fashion-nya, atau Solo termasyur dengan ‘Batik Carnival’nya, lalu Magelang apa ?
Kalau kini Magelang mau mengangkat batik sebagai brand bagi parade kotanya, tentu harus memperhitungkan bahwa ‘batik carnival’ sudah dimiliki atau identik dengan Solo. Hal ini yang sempat diperhitungkan oleh Jogya, yang juga merasa batik sebagai identitas budayanya. Namun karena malu dicap sebagai epigon alias pengekor, kemudian Jogya menanggalkan batik dan memilih karnaval malam (nite-carnival) dengan tema ‘bhineka tunggal ika’. Karnaval malam itu dinilai cukup berhasil. Bahkan pada pelaksanaannya yang pertama kali tahun lalu, telah menobatkan kontingen Borobudur (PT Taman Wisata Borobudur) sebagai penampil terbaiknya.
Okelah…kalau Magelang tidak malu dicap menjadi pengekor, maka sebagai pengekor yang baik mestinya harus bisa menampilkan sajian yang mengungguli Solo. Untuk itu pastilah diperlukan kiat, kaidah, garapan yang rancak dan profesional. Tidak mustahil, kalau branding  itu berhasil, serta diimbangi pengembangan pariwisata lainnya, Magelang akan dikenang sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata yang penting selaras potensi yang dimilikinya.
Tapi kalau sekedar asal rame seperti kesan yang saya tangkap, paling banter hajatan budaya dan pariwisata itu akan ditulis di koran-koran local, lalu dengan mudah dilupakan. Tak akan tercatat sebagai agenda budaya yang penting. Kunjungan wisata juga tak akan meningkat sesudahnya. Wuss…wuss..bablas angine, kata (alm) Basuki dalam sebuah iklan obat masuk angin…. lewat begitu saja…he he (bolinks@2012).








.

BERHARAP PADA SAUDARA CHINA.


(Dari 'Magelang Night Carnival').



Oleh Mualim M Sukethi.

Borobudurlinks, 30 April 2012. Tidak semua sajian acara HUT Kota Magelang 2012 berujung pada pesimisme. Setidaknya masih ada “Magelang Night Carnival” (MNC), yang berlangsung pada Sabtu malam,  21 April 2012, di sepanjang jalan Pemuda, Magelang.
Merujuk pada judulnya kita pantas curiga acara ini juga sekedar mengekor ‘Jogya Nite Carnival 2011’ (JNC). Namun kalau kita menarik sejarah pada awal 1960-an, permainan barongsay atau liong samsy seringkali diselenggarakan malam hari di sepanjang Pecinan, yang kini disebut jalan Pemuda itu. Apalagi kalau melihat materi utama MNC yang dipenuhi unsur atau sajian budaya China, maka kecurigaan sekedar mengekor JNC pantas dikesampingkan.
Mungkin lebih tepat kalau MNC adalah revitalisasi tradisi budaya China di Magelang. Hal ini sesuai dengan pengakuan Jimmy Lo, Ketua Panitia MNC, yang mengakui kalau acara ini merupakan inisiatif warga keturunan China Magelang. Inisiatif ini sebagai respon atas permintaan Walikota Sigit Widyonindito agar warga keturunan ikut memeriahkan HUT kota di mana mereka tinggal.
Secara obyektif hajatan MNC tergolong sukses. Pesertanya cukup banyak memenuhi sepanjang jalan Pemuda yang menjadi rute karnaval. Bahkan barongsay yang katanya panjangnya 100 meter ikut menjadi peserta. Penontonnya pun berjubel memenuhi trotoar hingga meluber ke jalanan sepanjang jalan utama Kota Magelang itu.
Namun secara subyektif, dari kacamata saya, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi untuk bisa dikatakan sukses. Atraksi jalanan (street-performance) yang menjadi sajian utama berlangsung kurang optimal. Tiga titik arena yang menjadi arena atraksi, yakni di sekitar patung Adipura, pertigaan Tengkon, dan jalan Alun-alun Timur terlalu banyak dijubeli penonton, sehingga peserta tak leluasa unjuk kebolehannya.
Di tiga titik itu juga tak dipersiapkan sarana teknik sebagai pendukung atraksi. Tak ada tata-lampu atau pengeras suara tambahan yang disediakan panitia untuk memberikan efek keindahan dan pembesaran yang dibutuhkan atraksi jalanan.
Hanya beberapa peserta, khususnya yang bertumpu pada mobil hias, yang telah memperhitungkan sarana teknis itu. Mereka memenuhi mobil itu dengan lampu warna-warni sehingga terlihat indah dan menarik perhatian.  Tata suaranya pun tergolong bagus dan berkapasitas besar sehingga mampu mengimbangi riuh rendah penonton, bahkan memancing penonton untuk mendatangi mobil hias itu.
Namun kalau didekati keindahan mobil hias itu nampak semu. Karena bunga yang digunakan untuk menghias bodi mobil ternyata hanya bunga plastic atau kertas. Hal ini tentu tak sejalan dengan slogan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ yang dicanangkan Pemkot Magelang. Tentang hal ini akan saya tulis secara khusus.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, hajatan MNC ini pantas menjadi harapan. Kalau dikembangkan secara tepat maka MNC bisa menjadi hajat budaya yang mampu menjadi branding bagi Kota Magelang, dan bersaing dengan kota-kota lain seperti Jember Carnival dan Solo Batik Carnival.

Beberapa nilai positif yang menjadi asset MNC antara lain:

·  * Partisipasi warga keturunan China Magelang sebagai penyelenggara dan peserta utama MNC. Seperti kita ketahui, selama rezim Soeharto berkuasa  32 tahun, warga keturunan China bisa dibilang pasif dalam segala hal, khususnya dalam bidang politik social kebudayaan. Keikutsertaan itu tentu tak hanya sebagai peserta, tapi juga dalam hal pendanaan yang selama ini menjadi masalah bagi komunitas senibudaya di Magelang. Praktis tak pernah ada dana bantuan pemkot bagi kelangsungan dan pengembangan senibudaya di kota gethuk itu.
Jadi dengan ‘turun gunungnya’ saudara-saudara China ini kita bisa berharap kelangsungan MNC akan terjamin.

·  * Partisipasi warga dan komunitas senibudaya yang cukup beragam, khususnya beberapa satuan TNI seperti Armed dan Kostrad yang menurunkan tim barongsay-nya. Ini menarik. Selama ini militer dianggap hanya berurusan dengan budaya kekerasan. Maka dengan terjunnya mereka bersenibudaya maka diharapkan hati nurani para tentara itu menjadi lebih lembut, dan bisa lebih mengkedepankan aspek kemanusiaan dalam menangani masalah keamanan/pertahanan, khususnya ketika harus berhadapan dengan rakyatnya sendiri.
Suatu ketika saya berharap, sedulur-sedulur serdadu itu tak hanya memainkan barongsay. Tapi juga sigap dalam menarikan Topeng Ireng atau Soreng. Sebaliknya, saudara CVhina kita itu tak hanya jadi panitia atau menyediakan dana, tapi juga turun langsung sebagai peserta atau penari barongsaynya. Tidak seperti sekarang ini, sebagian besar penari barongsay-nya adalah pribumi termasuk para serdadu itu.
Fenomena ini menarik dicermati. Bagaimana kebudayaan China bangkit kembali di Indonesia, tapi pelakunya justru para pribumi. Jangan-jangan suatu ketika, saudara-saudara China itu harus belajar pada para pribumi kalau mau menari barongsay atau bermain ‘Opera Beijing’.
Saya jadi teringat suatu kelompok wayang orang di Solo, yang anggotanya justru China semua. Pembauran itu sungguh-sungguh terjadi lewat jalur kebudayaan. Kalau itu terjadi….wah batapa indahnya hidup berkeberagaman di Magelang.
·  * Ribuan penonton yang memenuhi jalan Pemuda ketika MNC berlangsung. Dalam konteks komunikasi pemasaran, ribuan atau berjubelnya penonton adalah potensi untuk menjaring sponsor. Apabila banyak sponsor terjaring alias dana terkumpul secara memadai, maka hajatan ini bisa diadakan secara kontinyu dan professional.
Dengan demikian pendanaan yang mengandalkan kelompok tertentu, dalam hal MNC adalah warga keturunan China, bisa dikurangi kalau tak bisa dihilangkan. Penyelenggaraan MNC nantinya bisa lebih independen.

Setelah segenap potensi itu dikembangkan dan dikelola secara baik, maka beberapa pengembangan yang semestinya dilakukan antara lain;

·  * Pembenahan sarana teknis seperti tata-lampu dan tata-suara, setidaknya di tiga titik yang digunakan peserta beratraksi.
·* Dekorasi bernuansa China di sepanjang jalan Pemuda. Saya masih ingat, dulu awal th 60-an, toko-toko di Jalan Pemuda memasang lampion saat pesta barongsay berlangsung. Di antara lampion itu juga tergantung angpao (bingkisan, biasanya berisi uang). Lalu dalam atraksinya para barongsay itu mencaplok angpao itu. Sungguh…kenangan yang indah.
· * Tiga titik arena beratraksi harus dibenahi, khususnya dari serbuan penonton. Kalau perlu dipagari agar peserta bisa beratraksi secara optimal.
Pagar ini tentu fungsinya berbeda dengan pagar saat sendratari atau wayang kulit berlangsung di alun-alun, yang membatasi atau membedakan (hak menonton) antara elit dan rakyat.
· * Hajatan ini akan semakin komplit kalau unsur-unsur budaya China yang lain juga ditampilkan. Seperti parade kuliner China. Mungkin bisa memanfaatkan jalanan sepanjang Tengkon atau jalan Jenggala menjadi semacam ‘Kya-Kya’ di Surabaya, atau gang Lombok di Semarang. Dua tempat itu menjadi ikon kuliner apabila wisatawan mengunjungi kedua kota itu.
·      Budaya China yang juga pantas dihidupkan kembali adalah pementasaran ‘Wayang Po Te Hi’ dan tari-tarian China di klentheng Liong Hok Bio. Pementasan wayang golek China dan taria-tarian  itu dulu rutin dipentaskan, sebelum dilarang oleh rezim orde-baru yang melarang unsur-unsur budaya China berkembang di Indonesia.
· * Promosi yang efektif dan murah, yang tak hanya ditujukan bagi warga Magelang sendiri. Tapi juga bagi masyarakat luas, bahkan hingga ke luar negeri. Toh saat ini, kita bisa melakukan promosi dan sosialisasi secara tepat guna lewat berbagai media social (online) yang terbukti murah dan efektif.

Sesungguhnya keterlibatan saudara China Magelang dalam pengembangan kebudayaan sudah berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Salah satu lokomotif kebangkitan senirupa Indonesia, khususnya di tahun 2000-an, adalah China-China Magelang. Selain Oei Hong Djien (OHD) yang mendirikan ‘Museum Senirupa Indonesia’ yang dianggap terbesar di dunia, puluhan kolektor dan kolekdol (art-dealer) yang notabene adalah China Magelang, yang memiliki peran penting dalam bisnis senirupa Indonesia sekarang ini.
Kebetulan, dalam di bulan April 2012, ini para kolektor dan kolekdol itu ikut ‘merayakannya’ HUT OHD dan peresmian museum ke 3-nya, dalam bentuk ‘Magelang Arts Event’ (MAE). Event senirupa besar-besaran itu mewujud dalam bentuk pameran bersama yang berlangsung di sekitar 10 museum dan galeri yang ada di kota dan kabupaten Magelang. Lebih 200 karya dan perupa ikut meramaikan hajat budaya yang tergolong terbesar di Indonesia itu. Wah….
Jadi kalau seluruh acara yang berlangsung di bulan April bisa terintegrasi secara kompak, pastilah ‘April Extravaganza’ ini akan mengangkat pamor Magelang di bidang kebudayaan di level nasional. Demikian pula, dalam konteks pengembangan pariwisata, tak mustahil Magelang akan mendapat brand sebagai ‘Kota Wisata Senibudaya’. Dan kita pantas berharap turis-turis local mau pun manca akan berbondong-bondong menyambangi kota tercinta ini.
Namun, yang perlu diingatkan, kita juga jangan sampai terlena, atau keenakan karena kegiatan kebudayaan di Magelang terus-menerus mengandalkan saudara China. Jangan sampai kita dicap hanya pinter ‘nadah’, dan kemudian secara kebudayaan dikendalikan oleh saudara-saudara kita itu. Seperti yang terjadi dengan elite politik, termasuk pemkot Magelang, yang banyak disinyalir dikendalikan ‘lima naga’ (bolinks@2012).







.

YANG UTAMA YANG TERABAIKAN.


(dari pameran ‘Magelang Tempo Doeloe 2012’).

 Oleh Mualim M Sukethi.

Borobudurlinks, 30 April 2012. Rasanya kita semua pantas memberikan apresiasi kepada rekan Bagus Priyana alias Agung Dragon, pemuda Magelang yang terobsesi dengan hal-hal berbau heritage menyangkut kota Magelang. Selain menjadi ketua VOC (Komunitas Sepeda Tua), Agung juga menjadi aktivis komunitas ‘Magelang Kota Toea’, yang setiap tahun mengadakan pameran ‘Magelang Tempo Doeloe’.
Atas kerja keras yang dilakukan Agung Cs, pameran ‘Magelang Tempo Doeloe’ yang sudah berlangsung sejak 2009 itu dapat terlaksana secara kontinyu. Kali ini pameran yang selalu mengambil lokasi sekitar watertoren, alias menara air yang menjadi ikon alun-alun Kota Magelang, berlangsung dari tanggal 26-29 April 2012.

Selain foto-foto bangunan dan situs lainnya yang pernah ada atau didirikan di Magelang, pameran itu juga menampilkan berbagai barang antic seperti sepeda dan alat transportasi kuno lainnya, mesin-mesin jahit, wayang onthel, dan lain-lain. Tentu, tak ketinggalan berbagai kerajinan dan kuliner mewarnai pameran itu.
Yang sangat disayangkan, gethuk sebagai ikon kuliner Magelang yang paling fenomenal justru tak mendapat tempat. Gethuk juga tak nampak pada pameran produk yang diadakan selama  perayaan HUT Kota Magelang di Alun-alun sepanjang April 2012. Padahal kalau kita menengok kota-kota lain, mereka sangat bangga untuk memamerkan makanan khas atau unggulan daerahnya di setiap hajatan yang diadakan di kota-kota itu.
Tak lupa, selain pameran, acara ini juga menampilkan berbagai kesenian tradisi dan kesenian lain yang dianggap ‘tempo doeloe’. Seni tradisi seperti Topeng Ireng dan music keroncong itu ditampilkan lewat panggung yang cukup megah di samping pohon beringin yang berada di tengah Alun-alun. Panggung itu juga dimanfaatkan untuk acara pendukung lain seperti ‘Remboeg Kota Toea’, dll.
Selain apresiasi tentu saya tak akan lupa menyampaikan kritik, suatu peran yang dengan sadar saya lakukan, agar pameran semacam ini semakin baik pelaksanaannya di masa depan. Secara umum pameran ini cukup berhasil. Mampu mengundang berbagai kalangan untuk menyaksikannya. Kita juga pantas berharap pengunjung memperoleh manfaat dalam mengenal sejarah kotanya.

Namun yang justru pantas disayangkan adalah perlakuan panitia terhadap materi utama pameran, yakni penampilan foto-foto Magelang tempo dulu, yang disajikan secara apa adanya. Sangat jauh dari kaidah pameran umumnya. Foto-foto yang berjumlah ratusan itu hanya ditempel pada panel-panel berlatar gedheg (anyaman bambu), yang kemudian ditutup plastic murahan.
Mungkin penggunaan panel gedheg itu dimaksudkan agar pameran ini terkesan akrab lingkungan. Itu boleh saja. Namun perlakuan terhadap foto tetap harus memenuhi standard pameran. Mestinya foto-foto itu dibingkai secara layak. Cropping sembarangan berbentuk segitiga di sudut kiri foto, sekedar menempatkan stempel ‘Magelang Kota Toea’, juga sangat mengganggu. Komposisi foto jadi rusak.
Selain terkesan kumuh, tampilan foto itu juga tak disertai keterangan atau informasi tentang keberadaan bangunan atau situs yang berada di dalam foto. Ada satu-dua info memang, tapi jauh dari memadai untuk menjelaskan foto-foto itu berkaitan dengan sejarah kota Magelang.
Kalau tampilan yang seadanya itu dilakukan 3-4 tahun lalu, ketika Bagus cs memulai acara pameran ini, saya bisa memaklumi. Karena saat itu hampir tak ada dana dikucurkan oleh Panitia HUT Kota Magelang terhadap acara ini. Namun kini situasinya pasti berbeda. Kalau panitia bisa membangun panggung megah, mestinya bisa memperlakukan foto-foto itu lebih elegan, karena dana pasti ada.
Saya sendiri kurang tahu kenapa panitia abai terhadap kondisi foto-foto yang bisa dianggap obyek utama pameran ini. Mungkin karena sebagian besar panitia bukan seniman, sehingga penghargaan terhadap karya (seni) juga kurang. Bagi mereka lebih penting kesan gemebyar dari ramainya saung-saung dan panggung yang megah, daripada substansi pameran yaitu penampilan foto-foto itu sendiri. (Sore harinya, masih hari pertama pameran, ketika saya balik ke pameran karena harus menemui seseorang, salah satu panel foto itu telah berdiri doyong… nah lho ? ).
Saya sempat bertanya kepada Mbilung Sarawita, Ketum DKKM (Dewan Kesenian Kota Magelang), tentang hal ini. Namun tak mendapat jawaban semestinya. Ia hanya menjawab: “Kami juga kesulitan menampilkan foto-foto itu…mestinya bisa tampil lebih elegan “.
Saya juga sempat mempertanyakan, kenapa panggung megah itu tak diisi oleh kesenian yang lebih beragam ? Kenapa hanya Topeng Ireng atau music keroncong ? Kenapa teman-teman MJC (jazz) atau Magma (pop/rock) tak diberi kesempatan mengisi acara ? Pertanyaan ini sesungguhnya juga merujuk pada pemanfaatan panggung utama yang hanya digunakan saat upacara HUT berlangsung.
Mbilung menjawab, kesenian yang ditampilkan pada acara ini yang terkesan ‘tempo doeloe’ sesuai tema acara. Saya sempat menyanggah, ‘tempo doeloe’ itu berdasarkan ukuran apa ? Apakah Topeng Ireng berkostum Indian Amerika dengan syair-syair Islam, yang baru lahir awal 1960-an, itu lebih tua dari musik jazz ? Pak Ketum hanya menjawab dengan senyum kecilnya.
Dari senyum itu, saya menangkap kesan panitia HUT Kota Magelang telah terjebak pada pemahaman yang keliru tentang seni tradisi dan sejarah kesenian, atau lebih jauh lagi tentang pembinaan kesenian secara umum. Apakah sebuah kota semata-mata hanya perlu menghidupi seni tradisi (tradisi siapa dan yang mana) ? Apakah yang dianggap seni modern lalu pantas diabaikan ? Lalu ekspresi pendukung seni modern, yang sebagian besar anak-anak muda itu harus disalurkan ke mana ? Karena dalam keseharian mereka juga tak memiliki sarana untuk menyalurkan ekspresi itu ?
Kalau acara ini dianggap penting, dan akan diteruskan di tahun-tahun mendatang, saya berharap foto-foto itu diperlakukan semestinya. Diberi sentuhan grafis lebih baik, termasuk mencantumkan informasi yang memadai, dan label yang tak mengganggu. Dibingkai secara elegan. Disimpan dan dirawat dengan baik, karena saya yakin pemanfaatan foto-foto itu tak hanya untuk acara HUT Kota Magelang saja. Saya yakin banyak kesempatan lain di mana foto itu dibutuhkan.
Carikan sponsor atau beasiswa buat Bagus Priyana, yang memiliki obsesi terhadap masalah heritage Magelang, untuk melakukan penelitian sehingga mendapatkan informasi memadai tentang keberadaan foto-foto itu serta sejarah kota Magelang. Tentu informasi ini bisa dimanfaatkan pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk Disporabudpar Kota Magelang. Karena setahu saya, data tentang kota tua yang ada di Disporabudpar kurang memadai dan banyak yang salah.
Darimana dana untuk membingkai dan meneliti sejarah foto-foto itu ? Yang pasti dari Disporabudpar, pihak yang paling berkepentingan. Saya yakin dana untuk kepentingan itu bisa diusahakan dari APBD, kalau memang benar Kota Magelang akan diarahkan menjadi kota (jasa) wisata. Lha wong memberangkatkan grup Topeng Ireng ke Festival Bali dengan biaya lebih 100 juta rupiah saja bisa, kok membingkai foto dan membiayai riset tidak bisa.
Hal itu bisa menjadi program DKKM. Lembaga itulah yang seharusnya memfasilitasi adanya dana untuk kepentingan ‘Magelang Tempo Doleloe’. Jadi DKKM punya program kongkrit yang bermanfaat dan bisa dibanggakan. Bukan sekedar dana atau program yang parsial atau sekedar hajat tahunan…atau dang-kadang, kata tetangga saya yang orang Madura. (bolinks@2012).



.

KOTA SEJUTA BUNGA (PLASTIK).



Oleh Mualim M Sukethi.

Borobudurlinks, 30 April 2012. Sore itu, 14/4, Jalan Pemuda Magelang macet total. Ternyata di ujung jalan, mulai depan Toko Mustika hingga perempatan Tugu Adipura, jalanan diokupasi separo untuk hajatan menyambut Putri Indonesia Pariwisata. Tugu itu dihias berbagai macam bunga, sesuai dengan tulisan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ yg terpampang besar di samping tugu. Eiit..nanti dulu, ternyata slogan “Sejuta Bunga’ itu manipulative alias menipu. Karena hiasan ratusan kuntum bunga yang nampak indah itu sebagian besar adalah bunga plastic dan sejenisnya.
Terdorong rasa penasaran, saya mencoba menyusuri kota untuk menemukan kuntum bunga sebagai peneguh slogan yang terkesan gagah itu. Ternyata saya hanya menemukan beberapa gerumbul bunga kana dan bogenvil di taman (RTH) di pinggir jalan A.Yani (Menowo). Bunga kana juga saya temukan di taman kecil menuju rumah dinas walikota.
Soal bunga plastic dan kertas itu juga muncul saat ‘Parade Budaya’ dan ‘Magelang Nite Carnival’, beberapa hari kemudian. Hampir semua kendaraan hias dipenuhi bunga plastic atau kertas… Tentu dengan slogan ‘Kota Sejuta Bunga’ menolok mata tanpa rasa bersalah. Bahkan mobil hias Putri Pariwisata juga dipenuhi bunga plastic. Kecantikan putri itu jadi nampak semu karena bunga-bunga artificial itu.

Dari media local yang mewartakan HUT Kota Magelang 2012, ternyata bersamaan rangkaian acara ultah, itu pemkot Magelang mencanangkan “Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga’. Mungkin karena hanya pencanangan, pemkot dan lembaga pendukungnya tidak merasa bersalah kalau menampilkan bunga plastic dan sejenisnya. Padahal bagi pecinta lingkungan sejati, plastic yang tak bisa diurai adalah musuh utama lingkungan hidup. Tren masa kini bagi masyarakat yang akrab lingkungan adalah mengurangi pemakaian plastic dalam pola hidup sehari-hari. 
Mungkin bagi jajaran aparat yang tak paham makna lingkungan hidup itu, toh ada beberapa tahapan dari mulai penanaman, penyemaian, dan sebagainya hingga benar-benar kota itu bertabur bunga. Itu maunya……dan kita pantas berharap hal itu dapat terlaksana.
Saya sendiri sudah mendengar dan membaca tentang slogan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ itu. Paling tidak sejak Desember 2011, saat terakhir saya ke Magelang. Mestinya masih cukup waktu seandainya pemkot berniat mewujudkan tahapan awal realisasi slogan itu. Minimal mewarnai ruang public atau RTH, seperti Alun-alun, Taman Badakan, Taman Menowo, sebagai percontohan taman bunga.
Dengan cara itu masyarakat didorong untuk bergerak menanami halaman rumahnya atau ruang terbuka di sekitar lingkungannya dengan tanaman bunga. Sebab sekarang ini, secara umum,  budaya menanam bunga mungkin bukan budaya masyarakat dan pemkot Magelang.  Lihat saja, ruang terbuka hijau (RTH) yang semakin menipis di kota itu. Mungkin karena berada di ketinggian, sehingga iklimnya berhawa sejuk, maka masyarakat selama ini kurang memerlukan tanaman sebagai pelindung sengatan panas atau penghasil oksigen. 

Jadi jangan heran kalau sesungguhnya RTH yang ada di Kota Magelang tinggal Alun-alun, Badakan, dan Gunung Tidar. Itu pun bukan kreasi atau produk pemerintahan kota Magelang. Alun-alun dan Badakan adalah warisan pemerintah colonial Belanda. Sedangkan Gunung Tidar adalah hibah dari Akademi Militer (Akmil).
Beberapa ruang public justru ‘dijual’ kepada swasta dan jadi bangunan yang hanya bisa dinikmati elit Magelang, atau menjadi bangunan ekonomi yang gagal. Seperti Taman Gladiol yang berubah jadi komplek rumah mewah. Atau komplek shooping centre yang gagal mengundang warga untuk bershooping-ria. Atau bekas Terminal Tidar yang ‘ngonggrok’ karena gagal jadi komplek pertokoan. Kalau masyarakat Magelang, atau LSM-nya, cukup kritis, mestinya proses ‘penjualan’ atau pemindah- tanganan sarana public itu ke tangan swasta pantas dipertanyakan atau digugat.
Jadi bapak-ibu yang merasa mempunyai Magelang, bunga palstik bukan awalan yang mendidik. Itu artificial dan manipulative. Jangan-jangan nanti masyarakat berbondong-bondong menghiasi rumah dan halaman dengan bunga plastic meniru para pejabat dan elitenya (bolinks@2012).