.

KRITIK MEDIA ALA GRABAG-TV.


Oleh: Yudha Hadiningrat.

Borobudurlinks, 19 Januari 2012. Diawali dengan minimnya penerimaan saluran pemancar televisi di wilayah Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tahun 2004, membuat Hartanto yang telah pensiun dari kesibuannya bergabung dengan sebuah rumah produksi film di Jakarta, berkeinginan mengembangkan televisi Komunitas di Grabag yang merupakan kampung halamannya.
Ide tersebut langsung ia kembangkan sendiri di tengah kesibukannya menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), baik dari proses shooting, reportase hingga editing digarap sendiri. Bahkan penyiarannya pun ia kerjakan sendiri.
Laki-laki yang pernah memperoleh penghargaan berupa penata suara film terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) ini mengatakan, memang saat awal mengudara sempat mengalamikendala perijinan di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng karena juklak dan juknis tentang perundang-undangan TV komunitas saat itu belum ada. “Akhirnya kita dipersilakan mengudara namun jangan sampai mengganggu siaran lain,” ujarnya.
Kebetulan, lanjutnya, di kantor kecamatan Grabag terdapat pemancar yang bisa menerima mareley stasiun TVRI. Sehingga kita diberikan ijin pihak kecamatan untuk memanfaatkannya,” kata Hartanto.
Setelah siaran perdana di tahun 2004, kata Hartanto, secara terus menerus setiap hari dari pukul 06.00 hingga 07.00 ternyata banyak warga yang tertarik dan ikut bergabung dengan Grabag TV. Namun karena banyaknya kesibukan, akhirnya dilakukan evaluasi bahwa siaran hanya dilakukan dua jam pada pukul 15.00-17.00.
Penentuan jam tersebut juga didasarkan pada jadwal aktifitas masyarakat. Yakni memberikan hiburan sekaligus pengetahuan yang mendidik di tengah kerinduan masyarakat akan oase, kesenian dan nuansa bebas dari komersil, dan murni dari masyarakat.
Dalam jangkauannya, lanjutnya, Grabag TV memang hanya mampu memancar jernih hingga radius 2,5 kilometer. Namun, setidaknya pancaran tersebut mampu menyerap sekitar 50 persen dari wilayah Kecamatan Grabag.
Hartanto mengatakan, bahwa tujuan didirikannya Grabag TV adalah memiliki tiga kepentingan. Pertama sebagai literasi media atau memberikan sikap kritis pada media televisi, kedua untuk memberikan hiburan dan edukasi yang bermutu pada masyarakat , dan ketiga untuk membatasi waktu menonton TV yang cenderung membuang waktu untuk hiburan yang kurang mendidik dan mengurangi waktu untuk sosialisasi.


Memang, lanjutnya, kenyataannya saat ini pemerintah pusat kurang menyetujui keberadaan TV komunitas dengan alasan memboroskan frekuensi. Dan dihawatirkan TV ini menjadi media yang mampu menimbulkan provokasi dan kerusuhan di tengah masyarakat.
“Yang menjadi masalah adalah masyarakat masih menganggap bahwa TV komunitas tidak memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, padahal TV ini adalah milik warga,” katanya.
Kemudian pada tahun 2008, telah dialihkan dari saluran VHF ke UHF, karena VHF akan digunakan untuk TV digital. Setahun kemudian, tepatnya tahun 2009, digelarlah kongres Asosiasi Televisi Komunitas yang dihadiri sebanyak 27 komunitas dari Jawa dan Aceh dan tokoh-tokoh dunia broadcasting di Indonesia.
Secara bersamaan, ia juga mendapatkan bantuan secara swadaya dari masyarakat berupa bangunan studio yang terbuat dari bambu seluas 6x9 meter beserta control room seluas 3x6 meter yang berdiri di atas tanah pribadi miliknya di Dusun Ponggol, Desa Grabag, Kecamatan Grabag. Peralatan broadcasting juga mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Ia juga ditetapkan sebagai Komisiaris Utama atau Ketua Dewan Penyiaran Grabag TV.
Dalam reportasenya, kata Hartanto, Grabag TV menitik beratkan pada bidang kearifan lokal di sekitar Grabag berupa kesenian, pendidikan, dan pertanian. Pada tahun 2009, Grabag TV juga masuk nominator dalam ajang Eagle Awards dengan judul Dunia Kecil Dalam Kotak yang diselenggarakan Metro TV.
Memang sejak tahun 2011, mengalami kendala penyiaran karena ada pembatasan dari pemerintah. Untuk kegiatan perharinya, lebih diisi oleh para siswa SMK jurusan multimedia dari berbagai daerah di Indonesia yang melakukan Prakter Kerja Lapangan (PKL) dan belajar di studio tersebut.
“Namun mulai awal 2012, kita sudah mendapatkan ijin lagi, dan nanti akan kembali mengudara seperti sebelumnya. Kita juga memiliki agenda akan membuat video magazine agar masyarakat bisa melihat lebih luas tentang Grabag,” katanya.
Grabag TV, hampir seluruh crew yang berkecimpung di dalamnya adalah masyarakat sekitar yang bergabung dengan sukarela. Mereka berasal dari kalangan buruh, petani, dan pedagang. Hanya ada 10 orang yang menjadi crew tetap.
Ke depan, lanjutnya, ia berharap Grabag TV benar-benar mampu menyajikan hiburan yang mengandung edukasi yang diambil dari sekitar masyarakat Grabag dan dikemablikan lagi untuk masyarakat Grabag.
“Harapan utama saya sebenarnya ke depan adalah Grabag TV mampu mengimbangi TV swasta yang berkembang melalui komersialisasi dan cenderung minim nilai edukasi,” harap Hartanto.


BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT.

Sekdes Grabag, Ibnu Budi Sutopo mengatakan, keberadaan Grabag TV sudah dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat sejak lama. Dibuktikan pada tahun 2007 telah dimanfaatkan untuk media informasi pemilihan kepala desa (pilkades) secara langsung (Live). Mulai dari pendaftaran peserta, tes seleksi, masa kampanye, hingga saat pemilihan berlangsung.
Sehingga masyarakat sekitar Grabag sudah bisa melihat langsung siaran televisi tanpa mendatangi lokasi. Bahkan, para calon Kades juga tidak datang langgsung ke lokasi pemilihan, melainkan bisa menyaksikannya di rumah.
“Masyarakat tidak perlu berbondong-bondong melihat langsung, sehingga keamanan bisa terjamin. Karena pada saat pemilihan Kades sebelumnya sempat ada aksi masa hingga merusak gerbang Balai Desa Grabag,” katanya.
Sampai sekarang lanjutnya, juga setiap ada acara-acara desa dan di kecamatan juga disiarkan langsung, seperti upacara bendera, dan lain-lain. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan pengumuman pada warga tentang pemilu, pertanian, dan pembuatan KTP.
Ibnu mengatakan, saat ini untuk produksinya lebih dijalankan oleh para peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari berbagai SMK jurusan Multimedia dari berbagai daerah di Indonesia. Karena para peserta biasanya mengikuti PKL selama tiga hingga enam bulan, dan menginap di komplek Grabag TV yang memang telah disediakan penginapan.
“Biasanya juga sering anak-anak PKL yang lalu-lalang di sekitar kantor kecamatan dan balaidesa untuk melakukan praktek broadcasting,” ujarnya.
Untuk pengembangan Grabag TV, pihaknya juga pernah mengajukan ke pemerintah daerah untuk pengembangannnya. Namun tidak pernah ada respon.
“Pernah diusulkan ke pemerintah daerah agar diberi anggaran untuk pengembangan tapi tidak pernah ada tanggapan. Kebetulan yang ikut di sana atau crewnya adalah relawan yang tidak dibaya. Sehingga untuk produksi pastinya membutuhkan biaya,” kata Ibnu.(Dikutip dari http://www.reportaseoriginal.blogspot.com).

.

PASAR REJOWINANGUN: SEBUAH KISAH KLASIK*.


Oleh Khalimatu Nisa.

Borobudurlinks, 14 November 2011.
Ada banyak kenangan tentang masa lalu. Dari banyak kenangan yang saya miliki, ada satu kenangan yang belum bisa saya lupakan. Saya pernah tersesat di suatu pasar, di kota tempat saya tinggal. Menariknya kenangan itu tidak hanya terletak pada kejadian tersesatnya semata, tapi juga bahwa pasar tempat saya tersesat itu merupakan pasar yang memberi arti cukup besar baik bagi keluarga saya maupun masyarakat di kota saya tinggal. Kenangan itu menjadi semakin mahal tatkala pada tahun 2008 pasar itu terbakar dan selanjutnya tak bisa lagi dijumpai dalam wujud yang sama. Dalam tulisan ini saya akan mengurai memori saya dengan pasar itu, Pasar Rejowinangun namanya.
Saya masih mengenakan seragam TK saat tersesat di Pasar Rejowinangun Kota Magelang -kota di mana saya tinggal sebelum berhijrah ke Yogyakarta. Sebenarnya saat itu saya hanya perlu berjalan lurus dari kios ‘A’ ke kios ‘B’ yang jaraknya tak lebih dari lima puluh meter, tapi saya kehilangan arah. Saya yang masih berusia lima tahun merasa sangat ketakutan. Dalam benak saya, lorong-lorong pasar menjelma labirin yang membingungkan.
Hari itu, saya pergi ke pasar bersama ibu saya. Saya memang sering diajak beliau ke pasar untuk berbelanja atau sekedar menemui Nenek yang kebetulan juga berdagang di sana. Ketika itu, kami hendak pulang. Ibu meminta saya berpamitan dengan Nenek sementara beliau menunggu di kios Nenek yang lain (ada dua orang Nenek yang berjualan di Pasar Rejowinangun). Hanya dari kios roti ke kios gerabah yang bertetangga, saya tersesat sampai deretan kios ikan asin yang lumayan jauh jaraknya.
Cukup lama saya berputar-putar dalam pasar. Saya bingung harus bertanya pada siapa. Pun jika saya bertanya, saya yakin tak kan ada yang bisa membantu saya, sebab saya tidak tahu nama lengkap kedua Nenek saya itu, yang saya tahu, saya memanggilnya dengan sebutan Mbah Uti dan Mbah Ndut. Lama kelamaan, kaki saya letih berjalan tanpa arah. Saya ingin menangis, tapi syukurlah, sebelum itu terjadi, Mbah Ndut telah datang tergopoh-gopoh menemukan saya. Kami pun berpelukan.
Seperti banyak orang Magelang lainnya, sebagian keluarga saya menggantungkan hidupnya di Pasar Rejowinangun. Pasar Rejowinangun adalah pasar tradisional yang terbilang cukup besar. Ia dapat menampung ribuan pedagang berikut menjadi sarana transaksi yang selalu ramai tiap harinya. Lebih jauh lagi, saya akan bercerita tentang sejarah dan perkembangan Pasar Rejowinangun serta artinya bagi keluarga saya khususnya dan masyarakat Magelang pada umumnya.

Awal Berdiri

Dari obrolan dengan salah seorang anggota Komunitas Kota Toea, saya mendapatkan informasi bahwa pernah ada jalur kereta api di Magelang yang resmi dioperasikan oleh perusahaan kereta api Nederlansch Indische Spoorweg Maatshappij (NIS) pada tanggal 1 Juli 1899. Kereta tersebut mengangkut hasil-hasil bumi berupa tembakau, kopi, sayuran, jagung, beras dan ubi-ubian ke kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Semarang.
Berdirinya Pasar Rejowinangun berkaitan erat dengan keberadaan stasiun kereta di Kelurahan Rejowinangun. Saat itu, sambil menunggu ‘spoor kluthuk’ atau kereta api berbahan bakar jati datang, para penumpang yang membawa hasil bumi menjajakan dagangannya. Hal ini dilakukan karena mereka khawatir dagangan segera membusuk. Jual beli dilakukan baik dengan uang maupun barter. Lambat laun, moda-moda transportasi pun bermunculan di sana, membuat situasi semakin ramai. Stasiun kereta pun berkembang menjadi sebuah pasar.
Tidak ada data valid kapan secara resmi Pasar Rejowinangun dibentuk. Namun, dari peta kuno tahun 1923, tampak Rejowinangun telah berdiri sebagai pasar modern pada masanya. Barangkali gambarannya mirip pasar desa dengan konstruksi kayu, atap genting, dan lincak bambu sebagai tempat berjualan.
Perbaikan dan pengembangan fisik kota yang agak besar dimulai pada tahun 1964-1965. Kios-kios dan kantor pasar dibangun di Rejowinangun. Wujud Rejowinangun pun menjadi jauh lebih baik.

Arti Rejowinangun

Berawal dari rutinitas membantu orang tuanya di pasar, tahun 1930-an kakek buyut saya mendirikan usaha sendiri berupa kios buah di Pasar Rejowinangun. Karena pertimbangan mudah busuk dan seringnya terjadi paceklik, pada tahun 1965 beliau melakukan manuver mengganti komoditas dagangnya dengan tembakau, roti kering dan berbagai macam emping.
Tahun 1979, adik nenek saya, Musyarofi Zarkasyi dan istrinya Mulyati Musyarofi -yang selanjutnya saya panggil Mbah Ndut, mewarisi kios kakek buyut saya. Tak jauh dari kios mereka, nenek kandung saya, Munirah Zarkasyi –yang biasa saya sebut Mbah Uti, membeli sebuah kios dan berjualan gerabah serta peralatan rumah tangga. Dari kios itulah beliau menghidupi sembilan anaknya, salah satunya Nur Hasanah, ibu saya.
Tahun 1993 saya lahir. Di masa kecil, saya sering sekali berkunjung ke pasar. Di antara kunjungan-kunjungan ke pasar itulah kemudian terjadi peristiwa tersesat yang hingga kini masih membekas dalam ingatan.

Seiring saya tumbuh besar, semakin jarang saya pergi ke pasar. Hingga suatu hari, di suatu malam akhir bulan Juni 2008 (saat itu saya berusia 15 tahun), langit Magelang tampak membara. Api melahap pasar yang konon terbesar se-eks Karesidenan Kedu itu. Kota Magelang yang tenang pun gempar.
Berbagai usaha memadamkan api dilakukan, mulai dari menggunakan jasa pemadam kebakaran hingga cara konservatif dengan bergotong royong mengambil air dari selokan terdekat. Tapi hampir tak ada yang bisa diselamatkan. Dalam sekejap, 1500-an pedagang kehilangan kios berikut barang dagangan mereka. Sebuah musibah yang luar biasa. Melihat kejadian itu, Nenek dan keluarga besar saya hanya bisa ikhlas.
Beberapa hari kemudian, relokasi pasar ke Sentra Ekonomi Lembah Tidar (kaki Bukit Tidar Magelang) dilakukan. Namun agaknya relokasi itu gagal lantaran lokasinya kurang strategis dan tidak didukung dengan sarana transportasi yang memadai.
Dua tahun kemudian, tahun 2010, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam sebuah komunitas pelajar berinsiatif membuat suatu video dokumenter tentang Pasar Rejowinangun. Kami melakukan survei langsung ke pasar, wawancara dengan para pedagang dan pihak-pihak terkait. Dari situlah saya bisa merasakan betapa berartinya Pasar Rejowinangun bagi masyarakat Magelang.
Menurut data yang berhasil kami kumpulkan, hampir semua unsur masyarakat Magelang mengharapkan Pasar Rejowinangun segera dibangun kembali. Para pedagang mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah atas ketidaksigapan mereka dalam membangun kembali Pasar Rejowinangun. Pemerintah dianggap lamban dan membiarkan para pedagang terkatung-katung dalam nasib tak tentu dengan kerugian yang tak mampu diatasi.
Para pedagang pun berasosiasi dalam kelompok-kelompok kepentingan yang melakukan upaya mempercepat pembangunan pasar. P3RM (Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang) salah satunya. Mereka melakukan berbagai usaha diplomasi dengan pemerintah untuk mencari solusi percepatan pembangunan pasar. Tak ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa lokal juga tergerak untuk melakukan aksi. Beberapa kali sudah mereka melakukan demonstrasi. Para seniman menunjukkan kepedulian mereka dengan melakukan ritual yang mereka sebut sebagai ‘Ruwatan Pasar’ dengan tujuan untuk membersihkan Rejowinangun dari anasir-anasir negatif.
Namun hingga tiga tahun pasca terbakarnya, Rejowinangun tak kunjung dibangun. Janji-janji pembangunan pasar yang digunakan sebagai slogan politik dalam kampanye pemilihan Walikota Juli 2010 lalu, tak lebih dari sekedar retorika belaka. Tuan Walikota Terpilih yang menjanjikan pembangunan pasar di 100 hari pemerintahannya ingkar janji. Hingga kini, para pedagang terus berusaha secara mandiri untuk tetap bertahan hidup di atas semua polemik itu.
Kehilangan Rejowinangun adalah kehilangan satu mata rantai penting dari roda perekonomian Magelang yang telah mapan selama seratusan tahun. Kini, masyarakat harus menghadapi pola-pola ekonomi baru dengan segala konsekuensinya. Di sisi lain, Rejowinangun sebagai bagian hidup yang tumbuh berkembang bersama masyarakat menorehkan arti tersendiri bagi tiap-tiap wong Magelang. Bagi saya, kenangan serta emosi yang tercipta dari sana akan senantiasa menjadi sebuah kisah klasik yang tak mudah dilupa.

Krapyak, 11 November 2011.

(*Penulis anggota ‘borobudur MOVIE links’, unit kegiatan film borobudurlinks.com. Tulisan ini adalah tugas MK Sejarah Sospol Indonesia, Jurusan Sospol UGM).

.

BERIKAN YANG TERBAIK, RESEP ROY GENGGAM.



Oleh: Sakya Suu Kyi.

Borobudurlinks, 8 November 2011.
Roy Genggam nampak terpana di depan beberapa lukisan Affandy. Dengan serius sambil sesekali memotret, fotografer kondang, itu mengamati ratusan koleksi senirupa di Museum OHD (Oei Hong Djien) Magelang. “Saya sampai keluar keringat dingin menyaksikan lukisan-lukisan ini, “ katanya. Yang pasti fotografer yang dulu bercita-cita menjadi pelukis ini sangat terkesan oleh karya senirupa koleksi Museum OHD yang dianggap terbaik di Indonesia itu.
Memang sebelum memulai acara ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’, 29 Oktober 2011, panitia dari ‘borobudur MOVIE links’ (BML) sempat membawa rombongan Roy bersama tim Nikon mengunjungi museum yang bisa jadi ikon baru kota Magelang itu. “Kami sengaja membawanya ke Museum OHD. Untuk menunjukkan bahwa Magelang layak disebut kota kebudayaan, bukan hanya kota militer, “ kata Mualim Sukethi, Pembina BML, yang pagi itu berfungsi sebagai pemandu.
Kekaguman yang sama nampak pada wajah sekitar 100 hadirin yang memenuhi lantai 2 Syang ArtSpace, Magelang, yang jadi lokasi ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’. Khususnya saat fotografer jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menampilkan karya-karyanya lewat proyeksi OHP.
“Ternyata hampir semua iklan yang terpampang di media cetak mau pun out-door itu hasil jepretan Roy Genggam, “ kata Kusumawardhani, interior-designer, yang khusus datang dari Bandung untuk mengikuti acara ini. Terlihat di layar OHP deretan produk dan bintang iklan terkenal tampil satu persatu.
Tak hanya terhadap karya-karyanya, peserta juga sangat terkesan terhadap penampilan Roy sebagai seminaris. Ia membeber banyak persoalan fotografi dan menjawab pertanyaan dengan fasih. “Roy sangat menguasai masalah fotografi hingga ke detailnya, baik teknik mau pun estetik, “ tambah Kusumawardhani, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah belajar fotografi pada seorang fotografer terkenal di Bandung.
Dalam sarasehan sepanjang 5 jam (13.30-18-30) itu berbagai persoalan fotografi dibahas secara tuntas, dari masalah teknis, estetik, manajemen, hingga personalitas, yang dianggap sebagai factor yang harus dikuasai bagi seseorang yang ingin berkarir sebagai fotografer professional. Sungkono, fotografer senior Magelang, misalnya, mempertanyakan teknik pemotretan high-light. Ia menunjuk contoh foto-art ‘Mercy C-300’ karya Roy, dimana semua obyek, latar belakang, serta asesorisnya berwarna putih. Roy pun menjelaskan teknik pemotretan ‘white on white’ dengan gamblang dan detail.
“Sebetulnya saya sudah lama mengenal nama Roy Genggam, sejak ia banyak memotret interior. Tapi baru kali ini bisa jumpa secara langsung. Dan saya puas atas penjelasannya yang gamblang tadi, “ kata fotografer berambut perak itu. “Yang pasti, saya berterimakasih pada borobudurlinks yang telah mendatangkan fotografer sekelas Roy ke Magelang, “ sambungnya.

Bahkan untuk kasus sebaliknya, ‘black on black’, Roy memeragakannya lewat workshop. Ia dibantu Solihin dan Eko, 2 asistennya, membuat ruang sedehana lewat sekat-sekat kain hitam-puitih. Di tengahnya di atas meja yang juga dialasi kain hitam diletakkan beberapa botol berbagai jenis, yang juga dicat hitam. Dengan hanya menggunakan dua lampu flash sederhana, maka bisa dihasilkan foto konfigurasi berbagai botol hitam yang bentuk botolnya tergaris melalui cahaya tipis. Sederhana namun tetap artistic.
“Kuncinya pada light-meter. Kendati kamera digital saat ini banyak menawarkan menu pengaturan cahaya, tapi aku lebih percaya pada akurasi yang dihasilkan light-meter, “ kata Roy sembari mengukur beberapa sudut cahaya menggunakan pengukur intensitas cahaya itu. “Sekarang ini setiap seminar selalu kutanya siapa peserta yang memiliki lightmeter. Jawabnya hanya satu-dua. Padahal semestinya fotografer professional memiliki alat ini “.

PORTOFOLIO.

Roy juga berbagi lewat pengalamannya dari mulai sebagai fotografer majalah hingga menduduki posisi sebagai fotografer papan atas. Selepas menempuh studi di IKJ, Roy sempat menjadi fotografer tetap di majalah ASRI dan Laras, keduanya majalah interior. Masing-masing selama 2 tahun.
“Setelah cukup dikenal, saya memutuskan keluar dari dunia press, dan membangun karir sebagai fotografer professional, “ cerita Roy, yang terkenal perfeksionis ini. Roy memulainya lewat studio kecil "Genggam Photography' yang dikelolanya di rumah kontrakan di daerah Tebet, Jakarta Selatan.
Kehadiran Roy di dunia fotografi komersial cukup mengejutkan. Dibantu seorang desainer grafis yang cukup ternama, Roy menerbitkan sebuah kalender 6 halaman yang menampilkan karya-karya awalnya, baik berupa foto produk mau pun art-foto. Mengejutkan karena saat itu belum pernah ada seorang fotografer membuat kalender pribadi. Apalagi karya-karya yang terpampang cukup meyakinkan sebagai fotografer professional.

Cukup banyak creative dan art-director biro iklan yang menyambut kehadiran Roy. Order memotret pun mengalir. “Tapi mereka juga kaget. Ternyata karya-karya fotografi itu dihasilkan dari studio kecil yang terletak di gang sempit, “ kenangnya. Bahkan, cerita Roy, para pelanggan di awal karirnya itu mau berjalan kaki masuk gang menuju studionya, karena mobil mereka harus parkir di pinggir jalan raya.
Sejak itu Roy merasa PD untuk ‘menawarkan’ dirinya lewat portofolio. Maka setiap tahun mengalirlah portofolio dirinya, yang selalu dikerjakannya bersama desainer ternama. Setiap tahun nama dan karyanya juga selalu tercantum dalam ‘Art Director Index of Photography’, sebuah buku yang berisi nama-nama fotografer komersial kelas dunia.
Beberapa karya fotonya dimuat dalam buku-buku ‘Pro Lighting’ terbitan Rotovisio Switzerland. Foto-foto karya Roy juga digunakan untuk presentasi ‘Hasselblad 50 th’, di Cologne Fotokina 1998. Pada tahun yang sama pula, salah satu fotonya memenangkan sayembara foto Hasselblad International, yang memberinya hadiah berupa kamera medium Hasselblad berlapis emas.
“Tanpa banyak bicara, lewat portofolio atau buku semacam itu, client mengetahui kualitas karya kita, “ tegas Roy. Selain itu agar namanya tetap berkibar, sesekali Roy juga masih bersedia memotret untuk kepentingan media cetak. Terutama majalah interior, gaya hidup, dan kuliner, dengan alasan media-media itu masih mengandalkan foto-foto bagus sebagai kekuatan visualnya.
Beberapa grup media besar seperti KKG (Kelompok Kompas Gramedia) juga memanfaatkan Roy untuk memberikan pembekalan bagi para fotografer muda yang baru bergabung. Dan kini Nikon, salah satu merk yang mengendalikan pasar kamera di Indonesia, tak mau ketinggalan memanfaatkan keahliannya untuk memberikan seminar di beberapa kota.
Pencapaian Roy itu ternyata tak mengagetkan bagi Mualim Sukethi, sahabat karibnya sejak kuliah di IKJ. Menurut Pembina BML ini, Roy sudah menunjukkan bakatnya yang kuat di bidang fotografi. “Ketika kuliah dulu Garin Nugroho selalu memercayai Roy sebagai cameraman film-filmnya, “ kata Mualim, yang dulu juga satu kelompok kerja praktek dengan Roy dan Garin.
Roy juga dikenal sebagai fotografer yang tak gampang puas. Upayanya untuk mengembangkan diri kiranya pantas menjadi suri tauladan. "Saya pernah nonton pameran yang diadakan APPI (Asosiasi Photographer Profesional Indonesia), yang anggotanya fotografer top di Jakarta seperti Darwis Triadi, Artli, Kayus Mulia, dll. Ketika yang lain masih asyik motret model atau lanskap, Roy sudah memamerkan art-foto dengan teknik air-brush. Sesuatu yang baru bagi dunia fotografi di Indonesia. Karena saat itu belum ada teknik digital, masih analog, " ungkap Mualim tentang kelebihan sahabatnya itu.
Dan ketika teknologi digital masuk Indonesia, Roy berusaha mempelajarinya secara otodidak. "Hampir tiap pagi saya mendahului datang ke studio. Sedikitnya 1-2 jam saya mempelajari photoshop dan lain-lain teknologi digital photography, " cerita Roy tentang kerja kerasnya saat itu.
Bagi Mualim, pencapaian yang pantas diketahui dari seorang Roy Genggam adalah posisinya sebagai satu diantara fotografer komersial termahal dan terlaris di Indonesia. Yang unik, banyak produk atau brand besar yang sebenarnya satu jenis usaha, tapi mereka bisa mempercayai pemotretan iklannya pada satu fotografer.
"Tak ada conflict of interest di situ, " papar Mualim, semebari menyebut beberapa contoh brand atau produk seperti: Bank Mandiri, Bank BNI, hingga Citibank.
Apalagi yang harus dimiliki dan disiapkan seorang fotografer agar bisa mencapai kelas professional seperti Roy Genggam ?
“Dukungan tim manajemen yang juga professional, “ jawab Roy yakin, sembari menyebut istrinya yang bernama Artie R Genggam sebagai manajernya yang handal. Selain istrinya, di dalam tim manajemen ‘Genggam Photography’ juga bergabung beberapa tenaga kerja yang professional di bidangnya, seperti desainer grafis, art-director, hair stylish, penata busana, asisten, dll. Dengan jajaran tim pendukung yang professional itu Roy bisa lebih focus dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas.
Selain itu pencapaian Roy juga didukung oleh perangkat fotografi terbaik yang ia gunakan. Beberapa distributor kamera atau lighting-system merk terkemuka berlomba-lomba mendekati Roy agar menggunakan perangkat yang mereka pasarkan. Ada yang sekedar meminjami agar mendapat kesan bahwa produknya sudah digunakan Roy Genggam, dan imej perangkat itu diharapkan terangkat di mata fotografer lainnya. Ada juga yang memberikan diskon besar agar Roy membelinya.
“Sekarang ini di Jakarta studio kami dianggap yang terbesar dan terlengkap untuk keperluan foto komersial, “ jelas Roy ketika memperlihatkan beberapa kesibukan ‘behind the camera’ di studionya kepada peserta sarasehan. Beberapa peserta sempat terhenyak mendengar kehebatan perangkat yang dimiliki Roy serta berapa harganya.
“Dengan semua ini kami bisa memberikan kualitas karya terbaik, sekaligus juga pelayanan terbaik, “ tegas Roy tentang resep terpenting keberhasilannya sebagai fotografer professional. Kualitas karya terbaik, menurut ayah 3 anak, ini tidak hanya meningkatkan tarif dirinya sebagai fotografer. Tapi juga kebanggan dan kehormatan. “Saya termasuk sedikit fotografer yang tak mau menurunkan harga, di tengah persaingan harga dengan banyaknya fotografer muda yang pasang harga murah, “ imbuh Roy.
Tentang pelayanan ‘Genggam Photography’, seorang AE (Account Executive) dari agensi iklan terkemuka yang tak mau disebut namanya memberikan kesaksian “Bekerja di studio Roy bagi saya terasa berekreasi atau bermain-main. Selain tempatnya nyaman, di situ tersedia berbagai permainan seperti meja bilyar, mini-soccer, dan mainan anak-anak. Jadi selama menunggu camera set-up, kami bisa memuaskan naluri rekreasi kami, “ kata perempuan manis, yang kebetulan juga dibesarkan di Magelang itu.
Masalahnya bagi fotografer di daerah, perangkat terbaik itu tidak tersedia. Apakah dengan perangkat sederhana bisa menghasilkan karya berkualitas ?
“Bisa ! Kuncinya yaitu prinsip untuk memberikan yang terbaik bagi client, “ tegas Roy. Hal itu diperlihatkan lewat workshop sederhana yang diberikan Roy menjelang akhir sarasehan (bolinks@2011).

.

DIBALIK MITOS PARA MAESTRO.


Oleh: MyAsa Poetika.

Borobudurlinks.com, 6 November 2011.
Anton Larenz merasa terganggu oleh beberapa film para maestro senirupa yang lebih banyak dibumbui dengan mitos-mitos sehingga bisa menyesatkan penontonnya. Sementara Deddy PAW meminta pada pihak-pihak yang berkompetan untuk secepatnya mendokumentasikan para maestro senirupa Indonesia yang kini sudah mendekati uzur. Sedangkan Ridwan Muljosudarmo meminta agar perupa muda di Magelang tak hanya meniru gaya hidup eksentrik para maestro, tapi lebih mengutamakan untuk meniru perjuangan para maestro itu.
Demikian pokok-pokok pikiran yang mengemuka selama diskusi ‘Menyimak Maestro’, yang berlangsung sebagai penutup ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’, 28 Oktober 2011, di Syang ArtSpace, Magelang. Diskusi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu dihadiri oleh sekitar 20 orang. Hadirin yang mengikuti berasal dari kalangan yang cukup beragam: guru, fotografer, ibu rumah tangga, pelajar dan mahasiswa. Dari kalangan senirupa Magelang sendiri tak banyak yang hadir.
“Teman-teman KSBI (Komunitas Seni Borobudur Indonesia, yang anggotanya kebanyakan perupa, Red.) tak bisa datang karena sedang mengerjakan borongan ratusan lukisan pesanan hotel, “ kata Serli, salah satu anggota KSBI, yang datang ke acara diskusi bersama Piyu, onthelis yang juga hobi menggambar. “Soalnya ‘kejar tayang’ mas, akhir bulan ini mesti kelar…he he, “ tambah Serli.
Pekan film yang berlangsung sejak 25 Oktober 2011, itu memutar beberapa film tentang kehidupan para maestro senirupa dunia, seperti Picasso, Rembrant, Frida Kahlo, Mondigliani, dan Basquiat. “Sebetulnya kami juga ingin menyaksikan film tentang maestro dari Indonesia. Tapi setahu kami belum ada film maestro senirupa Indonesia, “ kata Gilang Riski Habibullah, koordinator acara, dengan nada menyesal.
Tentang acara pekan film ini, Anton Larenz memuji. “Acara ini cukup menarik. Apalagi diadakan di kota kecil Magelang. Setahuku acara semacam ini bahkan belum pernah diadakan di Indonesia, “ kata kurator berkebangsaan Jerman itu.
Menurut Larenz, belajar dari film tentulah menarik. Karena lewat film kehidupan para maestro itu bisa dilihat secara utuh. Tak hanya ketika para maestro itu berada di panggung sukses, tapi juga ketika mengawali kehidupannya sebagai perupa tak dikenal yang penuh penderitaan. Namun kurator sekaligus anthropolog itu memperingatkan agar para penonton mencermati sejauh mana film-film itu menyodorkan fakta-fakta seputar kehidupan para maestro.
“Karena disajikan lewat film secara dramatic, maka bumbu-bumbu dan mitos-mitos seringkali menjadi lebih penting dari fakta kehidupan para maestro itu, “ kata anthropolog yang lama bermukim di Sumatera Barat itu, sehingga cukup fasih berbahasa Indonesia. Larenz menunjuk pada film cerita tentang Basquiat dan Frida Kahlo, yang cukup banyak mengungkap kehidupan di luar karir ke dua perupa itu. Khususnya kehidupan liar kedua perupa, seperti pengungkapan kehidupan seks dan keterlibatan mereka dengan narkoba.
Tentang film Picasso, Larenz justru memuji keterlibatan pelukis itu dalam pergolakan politik Spanyol. Film documenter tentang Picasso yang diputar memang mengungkap keterlibatan pelukis yang terkenal dengan gaya kubisme itu sebagai anggota partai komunis. Picasso juga terlibat dalam berbagai gerakan perdamaian dunia. Karya-karyanya yang terkenal seperti ‘Guernica’, ‘’Pembantaian di Korea’, hingga ‘Dove of Peace’, dengan jelas memperlihatkan sikap Picasso dalam mengangkat problem kemasyarakatan dan politik.

“Di awal kemerdekaan dulu, banyak pelukis Indonesia yang terlibat dalam politik. Bukan kebetulan kalau mereka juga memilih bergabung dengan partai komunisatau gerakan sosialis, karena keberpihakan mereka pada penderitaan rakyat, “ kata Larenz sembari menyebut nama-nama pelukis terkenal seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandy, hingga Joko Pekik. Sedangkan Mualim Sukethi, Pembina BML, yang saat itu menjadi moderator diskusi, menambahkan nama Semsar Siahaan, perupa yang aktif dalam gerakan politik jalanan saat orde baru berkuasa.
Namun banyak juga perupa yang sekedar meniru gaya hidup nyentrik seniman dunia itu. “Misalnya sekedar berambut gondrong, bertato, berpakaian aneh-aneh, atau memakai narkoba, “ kata Ridwan Muljosudarmo, kolektor dan pemilik Syang ArtSpace.
Ridwan menceritakan pengalamannya bergaul dengan berbagai kalangan senirupa, khususnya di Jogyakarta. Para perupa itu seringkali menemui dirinya dan mengeluh kalau tidak punya uang buat beli cat atau kanvas saat ditanya mana karyanya. “Tapi kalau diberi uang, bukannya dibelikan kanvas atau cat untuk melukis. Justru buat mabuk-mabukan, “ kisah pengusaha konstruksi itu lebih lanjut.

YAYASAN.

Kebutuhan untuk mendokumentasikan maestro senirupa Indonesia dirasakan sangat mendesak. Hal itu diungkapkan oleh perupa Magelang yang eksis secara nasional, Deddy PAW. “Saat ini ada beberapa perupa Indonesia yang usianya di atas 70 th, seperti Edi Sunarso (pematung, red) dan Srihadi Sudarsono. Peranan mereka yang cukup penting dalam sejarah senirupa Indonesia mestinya mendapat perhatian pemerintah dan kalangan senirupa dengan mendokumentasikannya dalam bentuk film, “ ujar perupa lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.
Sementara Mualim menambahkan, tak hanya dari kalangan perupa yang pantas didokumentasikan. Pribadi atau orang-orang yang berjasa bagi pengembangan senirupa Indonesia juga layak didokumentasikan. “Seperti Oei Hong Djien (OHD) yang usianya juga melebihi 70 th kiranya pantas didokumentasikan, mengingat peranannya yang penting bagi dunia senirupa. Khusus untuk OHD, pemerintah kota Magelang layak untuk member ipenghargaan dalam bentuk pendokumentasian itu, “ usul Mualim.
Nurfuad, perupa Magelang, mengusulkan agar para kolektor besar dan perupa yang sudah mapan mempelopori upaya pendokumentasian itu. “Orang-orang seperti Pak Ridwan atau Mas Deddy mungkin bisa memulai untuk memulai pembuatan proyek dokumentasi itu, “ kata perupa yang kini juga terlibat dalam proyek borongan pesanan hotel itu.
Menanggapi hal itu, Mualim mengusulkan untuk membuat sebuah lembaga berbentuk yayasan yang khusus bertugas melakukan proyek pendokumentasian itu. Menurut produser film/TV yang dulu pernah membuat dokumentasi video perupa Hardi dan salah satu instalasi Semsar Siahaan, melalui yayasan bisa dilakukan penggalangan dana bagi keperluan itu.
“Yayasan bisa melakukan pameran atau lelang senirupa karya perupa yang bersimpati dengan upaya ini. Hasilnya bisa digunakan untuk membiayai proyek pendokumentasian ini, “ tambah Mualim. Mantan aktivis Dewan Kesenian Jakarta, itu juga menambahkan kalau kalangan perupa juga bisa membiayai pendokumentasian dirinya. Caranya ?
“Saya dulu mendokumentasikan Hardi dan Semsar. Saya tidak dibayar dalam bentuk uang, tapi dibayar dengan lukisan, “ cerita Mualim, yang merasa menyesal proyek idealis itu tak dilanjutkan. Di akhir diskusi, Mualim mengusulkan agar kalangan senirupa Magelang memulai upaya itu, dengan proyek awal pendokumentasian OHD. Semoga ! (bolinks@2011).

.

OHD: “JADIKAN MAGELANG KOTA KEBUDAYAAN !”.


Oleh: MyAsa Poetika

Borobudurlinks, 6 November 2011.
“Pekan Film Senirupa Magelang 2011” telah terlaksana dengan baik dan lancar. Hajatan budaya yang berlangsung antara tanggal 25-28 Oktober 2011, itu relative menarik banyak kalangan. Pada malam pembukaan misalnya, sekitar 100 pengunjung memenuhi lantai atas Syang Art Space Magelang, tempat berlangsungnya acara yang diadakan oleh ‘borobudur MOVIE links’ (BML) ini. Tampak seniman dan tokoh-tokoh masyarakat menikmati jalannya acara, antara lain: Oey Hong Djien (kolektor), Sutrisman (Akademi Magelang), Tanto Mendut (K5G), Deddy PAW (perupa), Umar Khusaini (KSBI), Edi Wahyanto (Ka.Disporabudpar), serta Mualim Sukethi (borobudurlinks.com).
Dalam sambutannya Oey Hong Djien alias OHD kembali mengingatkan tentang posisi Magelang sebagai kekuatan yang diperhitungkan kalangan senirupa Indonesia, bahkan dunia. “Tahun depan, sekitar 70 kolektor dunia akan mengunjungi Magelang, khususnya ke museum saya, “ kata pemilik ‘Museum OHD’, sebuah museum senirupa Indonesia yang dianggap terbesar dan terbaik di dunia.
OHD juga bercerita, ia pernah mengunjungi beberapa museum di Amerika dan memborong beberapa kaset video/film senirupa. Tapi ketika diputar di Indonesia ternyata tidak bisa. “Ternyata kasest-kaset itu tidak bisa diputar karena beda system antara Amerika (NTSC) dan Indonesia (PAL), “ tambah dokter yang hampir tak pernah berpraktek itu.
Tentang penyelenggaraan pekan film senirupa, OHD sempat memuji. Selain bermanfaat sebagai media pembelajaran bagi kalangan senirupa Magelang, acara semacam ini juga bisa jadi alternative hiburan bagi masyarakat. “Mualim itu kreatif. Saat Magelang tidak punya gedung bioskop, ia mengadakan pekan film. Penonton yang rindu nonton film bisa nonton di sini. Sekaligus nonton film bagus dan menikmati lukisan bagus…gratis pula, “ imbuhnya.
Bagi Mualim Sukethi, produser film/TV nasional yang jadi pembina BML, pekan film kali ini memiliki arti lain karena diadakan sebagai rangkaian 4 program dalam satu bulan. Seperti diketahui, selain ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011”, di bulan September-Oktober 2011, ini BML juga mengadakan ‘Workshop dan Diskusi Film Bersama Mustafa Davis’, “Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam”, dan ‘Pameran Fotografi oleh Fotografer Magelang’.

“Saya perlu memberikan apresiasi khusus kepada teman-teman muda Magelang yang bergabung di BML. Komunitas yang sebagian besar siswa/I SMU itu telah berhasil menyelenggarakan beberapa event bertaraf nasional, bahkan internasional, “ kata jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang kini sedang mempersiapkan seri documenter sejarah Islam di Indonesia berjudul ‘Wali Songo’ dan ‘Para Kyai’ itu.

RUWATAN.

Acara pembukaan yang berlangsung dari jam 19.30 hingga 23.30 itu juga dimeriahkan oleh ‘Lepizt Legits’, grup music reggae dari Magelang yang sedang naik daun. Kumpulan 8 pemuda/I yang dikomandani Fiena (vocal) itu mampu membius pengunjung hingga akhir acara. Bahkan, setelah tokoh-tokoh Magelang meninggalkan arena, sebagian besar penonton muda berjoget ala ‘anak pantai’ mengiringi lagu-lagu berirama reggae namun berlirik Indonesia dan Jawa itu.
“Anak-anak muda itu adalah penggemar fanatic kami. Mereka selalu hadir ke manapun kami manggung, “ kata Fiena, vokalis cewek yang juga laris sebagai MC di sekitar Magelang itu.
Keterlibatan grup music reggae itu merupakan salah satu bukti keberhasilan BML menyatukan berbagai potensi budaya yang dimiliki Magelang. Ketika pekan film pendek yang lalu, BML menampilkan sajian music jazz, sumbangan komunitas ‘Magelang Jazz Community’ (MJC). Sebelumnya Eka Pradaning menampilkan tarian tunggal saat pembukaan pekan film documenter.
“Dalam setiap event yang kami adakan, kami berusaha merangkul komunitas atau warga Magelang yang memiliki potensi. Mereka pun rela bergabung di acara kami, kendati tidak kami beri imbalan semestinya, “ kata Gilang Riski Habibullah, Koordinator Utama program pekan film ini.

Menjelang program dibuka secara resmi, yang rencananya akan dilakukan oleh Widodo (79), seniman patung asli Magelang, penonton dikejutkan oleh bunyi semacam sangkakala. Bunyi lenguhan panjang itu menandai keluarnya dua orang performer dari pintu belakang Syang ArtSpace.
Seorang lelaki yang membunyikan terompet dari tanduk kerbau jantan, wajahnya beroles bedak warna hijau, mengenakan baju loreng tentara berselempang kain dan asesoris lainnya, bergerak melintas ruang acara. Di belakangnya, seorang perempuan berbalut kain putih dengan beberapa asesoris, berlenggang lenggok sambil mendendangkan bait-bait tembang Jawa.
Andri Topo dan Aning Purwa, sejoli performer, itu rupanya sedang memerankan kesatria dan dewi kebudayaan. Di tangan mereka juga tertenteng dua buku besar yang terbuka. Dari dalam buku, Andri dan Aning mengambil selebaran dan membagikannya kepada penonton. Selebaran itu berisi narasi tentang perjuangan para kesatria dalam menegakkan kebudayaan sebagai bagian paling penting sejarah kemanusiaan.
Dua performer itu seakan menjadi ‘pucuk lampah’, diiringi seluruh penonton keluar meninggalkan ruang acara. Rupanya mereka menuju taman tempat berdirinya patung Tentara Pelajar yang tepat berada di depan Syang ArtSpace. Sesampai di taman, kedua performer itu meneruskan gerak-gerak teateral di sekeliling patung. Tubuh mereka meliuk-liuk, memeluk dan memanjat tatakan dan tubuh patung. Kadang meloncat menghentak diiringi bunyi perkusi yang ditabuh satu-satu oleh seseorang.
Lampu taman dimatikan, sehingga cahaya beberapa obor yang mengelilingi patung menimbulkan bayangan yang bergerak membalut patung yang biasanya tampak berdiri angkuh dan mengesankan kekerasan itu. Sementara Andri menggeliat teateral sambil sesekali meniup terompetnya, Aning menaiki tatakan patung dan satu persatu menempelkan replica bunga pada sekujur patung yang bisa dijangkaunya. Sesekali Aning juga berteriak yang menyiratkan suatu puisi sedang dibacakan.
Setelah sekitar 10 menit gerak-gerak teateral itu dipersembahkan kedua performer, tibalah saatnya orasi budaya yang akan disampaikan oleh Widodo, sekaligus membuka secara resmi ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’. Namun setelah dipanggil berkali-kali, kakek yang mengaku sebagai kreator patung Tentara Pelajar itu tak muncul. Panitia pun sibuk mencari ke sekitar patung, tapi tak menemui sosok lelaki kurus berambut putih itu.
Akhirnya panitia memutuskan meminta OHD untuk memberikan orasi dan membuka program, menggantikan Widodo. OHD maju dan berdiri di bawah patung didampingi Andri dan Aning. “Aksi teateral ini menggambarkan bahwa kekerasan yang menjadi karakter tentara telah diperlembut dengan tempelan dan taburan bunga. Mari kita ubah kesan Magelang hanya sebagai kota tentara, tapi jadikan Magelang sebagai kota kebudayaan, “ teriak OHD menggunakan speaker TOA yang disediakan pantia.
Saat itu dari arah selatan muncul Widodo diiringi seorang panitia. Rupanya laki-laki tua itu ditemukan sedang menikmati gorengan di sebuah warung di dekat bekas bioskop Bayeman. Ia langsung digelandang ke depan patung, berdiri di samping OHD. Kolektor legendaries itu langsung meminta Widodo menceritakan proses pembuatan patung dan keterlibatan dirinya.
“Saya mau berkata jujur. Saya ingin membuat pengakuan. Saya bukan pembuat patung ini. Patung ini dibuat oleh tim dari Jogya. Saya hanya menyiapkan tatakannya, yang kini telah diubah, dan menyiapkan tamannya, “ kata Widodo dengan muka menunduk. Pengakuan ini sempat mengejutkan sebagian pengunjung yang mendengarnya.
Mualim Sukethi yang punya gagasan menampilkan sosok Widodo tak kurang terkejutnya. Pemilik portal borobudurlinks.com itu mengaku bertemu dengan Widodo sekitar 2 bulan sebelum program pekan film diadakan. “Ketika bertemu dengan Pak Widodo di rumah seorang guru SMK, ia diperkenalkan sebagai pembuat patung Tentara Pelajar. Ia juga menceritakan perjalanan karirnya sebagai seniman patung, hingga dipanggil oleh Bagus Panuntun (Walikota Magelang saat itu, red) untuk membuat patung ini, “ cerita Mualim.
Menurut produser Didi Kempot itu, cerita Widodo cukup dramatis sehingga memunculkan gagasan untuk mengangkat kisah patung itu serta memperkenalkan siapa pembuatnya bagi warga Magelang. “Tadinya kami bermaksud menjadikan acara ini semacam tribute buat seniman senior yang telah berjasa bagi Magelang, seperti ketika kami meminta Ki Sambi (pencipta wayang gethuk, Red) membuka pekan film documenter beberapa bulan lalu, “ lanjut Mualim dengan muka kecut menahan malu.
“Tapi hal ini cukup manusiawi. Bagian dari manusia yang berusaha menampilkan eksistensinya. Kendati dengan cara yang keliru….., “ lanjut pembina BML, sembari berjanji untuk menelusuri siapa sesungguhnya pembuat patung yang kini menjadi ikon jalan Tentara Pelajar (d/h. Bayeman) itu (bolinks@2001)..